My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kunjungan



Setelah pulang sekolah Nic, Evan dan Kevin berkunjung ke rumah sakit berasama Sofia, Rosse dan Lisa. Mereka sudah mendengar kabar tentang perihal Rin yang di operasi dan mengalami koma, hanya saja baru sempat berkunjung sekarang. Mereka juga sudah diberitahu soal Lisa yang sebenarnya adalah adik kandung Rin, walau mereka masih sulit mempercayainya.


"Bagaimana keadaan Rin?" tanya Evan.


"Seperti yang kau lihat. Ia masih belum siuman," lirik Lisa dari balik kaca.


"Hei, apa boleh kami masuk kesana?" tanya Nic.


"Boleh. Tapi cuman dua sampai tiga orang saja," jelas Sofia.


Mereka bergilir masuk dengan masing-masing dua orang. Disana sudah ada Zedna yang menemani. Cloey sekarang ini pergi ke perpustakaan untuk mengambil beberapa dokumen dan sebentar lagi akan kembali. Sedangakan Derek dan Carlos entah pergi kemana, katanya ada urusan yang mau dibahas bersama. Dua keluarga ini sudah mulai akrab. Zedna telah menerima keberadaan manusia serigala.


"Lisa, aku masih tidak percaya kalau kau itu adik kandung Rin," ujar Nic yang masih meragukan hal itu.


"Benar. Tidak ada mirip-miripnya sama sekali," sambung Kevin.


"Memang harus mirip dulu baru boleh jadi adik kakak? Kami bukan kembar seperti mu," tujuk Lisa pada Evan dan Kevin.


"Bukankah memang begitu? Setiap saudara pasti ada kemiripan, tidak itu dari wajah, rambut, kesukaan atau bahkan sifat. Sedangkan kalian..." Rosse mulai berpikir mencari apa yang sama di antara keduanya.


"Banyaklah yang tidak mirip," potong Sofia. "Terutama soal kecerdasaan. Kita tahu sendirikan Lisa itu salah satu murit tercerdas di sekolah kita, sedangkan Rin..."


"Kenapa aku yang merasa malu memiliki kakak bodoh?" kata Lisa bertanya pada diri sendiri.


"Tidak bisa dikatakan bodoh, cuman Rin itu pemalas. Apa kalian ingat, ia perna menjadi juara kedua antar sekolah dalam olimpiade matematika loh," kata Nic mengingatkan.


Lisa teringat saat olimpiade matematika hari itu. Waktu itu ia yang ditunjuk pihak sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba tapi tiba-tiba ia mala jatuh sakit dihari perlombaan dan tidak bisa hadir. Ia diberitahu ada seorang siswi yang menggantikannya tepat sebelum lomba dimulai, dan siswi itu adalah Sherina. Rin bisa mendapat juara kedua walau tidak ada persiapan sama sekali. Itu artinya Rin bisa saja menjadi salah satu murit terpintar jika ia mau. Sifat pemalasnya itu harus dibuang jauh-jauh. Lisa bertekat jika kakak sadar nanti ia akan mendisiplinkan jam belajarnya.


"Memang sih, kalau Rin lebih mau berusaha mungkin ia masih bisa masuk sepuluh besar," ujar Evan.


"Bagaimana bisa masuk sepuluh besar? Dia bahkan tidur saat jam pelajaran."


"Lisa, jaga kakak mu sebentar. Ibu mau keluar dulu," kata ibunya dari balik pintu sambil tersenyum.


"Baik ibu," Lisa berdiri melangkah pergi ke ruang sebelah.


"Lisa, ibu mu benar-benar cantik," puji Kevin.


"Pantas saja anak-anaknya cantik ibunya seperti dewi Yunani," kata Evan ikut-ikutan memuji.


"Kalian terlalu berlebihan," ujar Lisa yang sedikit merona. Melihat itu mereka tertawa tapi kembali diam ketika Lisa berkata. "Ibuku memang keturunan Yunani."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedang asik memainkan hpnya sambil duduk disebelah ranjang Rin, tiba-tiba Lisa dikagetkan dengan kehadiran Perchye yang menerobos begitu saja.


"Maaf aku salah kamar," teriak Perchye minta maaf pada seseorang diruangan lain. "Lisa?! Apa yang kau lakukan disini?" ia kembali dikejutkan dengan kehadiran Lisa di ruang rawat Rin. Maklum saja Perchye belum tahu kalau mereka bersaudara.


"Menunggunya," jawab Lisa datar.


"Bukankah kalian tidak perna akur?" Perchye berjalan perlahan mendekati Lisa.


"Memang tidak boleh? Lagi pula ia kakak ku."


"Tidak mungkin. Kalian tidak ada mirip-miripnya sama sekali," kata Perchye tidak percaya.


"Memang harus mirip dulu apa baru boleh diangap adik kakak?!!" kali ini Lisa mulai kesal selalu mendengar kalimat yang sama.


"Maaf, maksudku bukan begitu."


"Rin!"


Lagi-lagi Lisa dikejutkan dengan Mr. Li yang menerobos masuk. Perchye tesentak merinding ketika merasakan tatapan dingin tertuju padanya.


"Mr. Li ada apa?" tanya Lisa bingung dengan aura Mr. Li yang tidak biasanya seperti itu.


"Oh, saya hanya mengantar buku ini untukmu," Mr. Li menyodorkan sebuah buku pada Lisa.


"Terima kasih Mr. Li," Lisa menerima buku tersebut dengan perasaan masih kebingungan.


"Dan kau," pandangan Mr. Li beralih ke Perchye. "Ada perlu apa kau datang kesini?"


"Sa, sa... Saya..." tekanan yang begitu kuat membuat Perchye gugup bercampur takut. Bertemu dengan Mr. Li seperti berhadapan dengan ayahnya yang sedang serius.


"Mr. Li dia adalah temannya Rin. Dia datang kesini hanya sekedar berkunjung," bantu Lisa menjelaskan.


"Iya paman, saya datang ke sini cuman mau menjenguk Rin," kata Perchye menyakinkan.


"Saya akan tetap disini mengawasimu," Mr. Li berbalik hendak melangkah menuju sofa, tapi sebelum itu. "Oh iya, satu hal lagi. Panggil saya Mr. Li hanya Ririn yang boleh memanggilku dengan sebutan paman."


"Ba, baik Mr. Li."


"Aneh, biasanya Mr. Li tidak perna semendominasi seperti itu?" ujar Lisa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa jangan-jangan ia sangat tidak menyukaimu kak Perchye," batinnya.


Lisa membiarkan Perchye duduk di samping Rin sendirian. Terlihat Perchye menggegam erat tangan Rin menggunakan kedua tangannya. Diciumnya jari-jemari kecil itu sambil berbisik memohon untuk Rin membuka matanya. Tidak ada respon sama sekali. Perchye ingin sekali mencium kening Rin tapi punggungnya terlalu dingin untuk melakukan itu. Pemanas diruangan ini sepertinya tidak berkerja dengan baik. Lisa dan Mr. Li sedikit di sibukan dengan permainan pazel yang dibawanya. Walau begitu gerak-gerik Perchye terus di pantau Mr. Li. Ia tahu betul kalau Perchye merupakan manusia serigala klan Β (Beta). Fokus Mr. Li tiba-tiba terganggu saat ia menyadari kehadiran seseorang yang seharusnya tidak muncul disini.


"Kau lagi? Apa yang kau lakukan disini?" tunjuk Onoval ketika ia melihat Perchye.


"Apa yang aku lakukan? Seharusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan padamu."


"Kalian berdua ikut aku keluar," kata Mr. Li yang sejak kapan sudah ada di belakang mereka.


Mr. Li menarik krah baju dua orang itu dan menyeretnya keluar. Lisa yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam diri. Bagaimana bisa Mr. Li sudah ada dibelakang kedua orang itu? Pertanyaan itulah yang keluar dari kepalanya ketika melihat pemandangan tadi. Em... Bagaimana reaksi Rin jika ia tahu pacar dan salah satu temannya diseret keluar oleh paman Fang nya?


"Apa yang terjadi?" tanya Sofia yang melangkah masuk mendekati Lisa bersama Rosse.


"Aku juga tidak tahu. Eh? Kalian berdua. Dimana yang lain?" tanya Lisa yang baru menyadari kehadiran Sofia dan Rosse.


"Sudah pulang," jawab Rosse. Ia mengambil tempat duduk di samping Lisa.


"Apa Mr. Li memang tidak menyukai seorang pria terlalu dekat dengan Rin?" pertanyaan itu akhirnya ditanyakan Lisa.


"Tidak juga. Aku baru pertama kali melihat Mr. Li begitu. Dia orang yang ramah dan jarang sekali terlihat serius di depan kami," kata Sofia yang mulai ikut menyusun pazel.


Sementara itu kita lihat apa yang akan dilakukan Mr. Li kepada Onoval dan Perchye.


"Saya sudah tahu jati diri kalian berdua. Berhubung kalian adalah teman Rin jadi saya mengizinkan kalian menemuinya, dengan syarat... Jangan perna buat keributan di kamar Rin dan sebaiknya kalian jangan perna bertemu dengan ayah dan bibi nya Rin. Kenapa? Kalian tidak perlu tahu. Saya akan selalu mengawasi kalian setiap kali kalian berkunjung. Mengerti?" tegas Mr. Li dengan tekanan yang kuat.


"Baik," jawab mereka serempak dengan perasaan yang masih tidak mengerti apa-apa.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε