My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pertarungan Gladiator



"Ups. Hampir saja," kata Rosse yang berhasil menangkap kunci tersebut sebelum jatuh ke lantai dan menimbulkan suara nyaring, karna tepat dibawanya ada tumpukan plat besi.


"Apa yang kau lakukan disini Rosse?" tanya Sofia dengan tatapan tajam pada Rosse.


Rosse tidak menjawab. Ia berjalan mendekat ke sel Sofia dan Lisa lalu membuka jeruji besi itu. Sofia dan Lisa sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Rosse, mengingat Rosse telah berkhianat pada mereka. Apa yang mau ia lakukan?


"Berhentilah menatapku seperti itu. Ayok keluar, kita tidak punya banyak waktu lagi. Kita harus menyelamatkan Rin," kata Rosse yang membuat Sofia dan Lisa tersadar.


"Ta, tapi bukankah kau telah menjadi budak darah dari Lucas. Ba, bagaimana..."


"Aku tidak sungguh-sungguh menjadi budak darah dari vampire tua itu. Aku melapisi leher ku dengan sihir perlindungan dari ibumu. Jadi biarpun vampire tua itu menghisap darahku, aku tidak akan menjadi budak darahnya. Maafkan aku karna telah menipu kalian," Rosse tertunduk sedih.


"Lalu kenapa kau memberitahu Lucas titik kumpul rahasia kita di gua itu?" tanya Lisa.


"Itu bukan aku. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana ia bisa tahu tempat itu. Waktu itu aku cuman melanjutkan aktingku, karna aku tahu kita tidak akan dapat mengalahkan Lucas. Dengan masih memegang kepercayaan Lucas, aku mungkin bisa membantu kalian kabur dari penjara ini," jelas Rosse.


Dung! Dung!


Terdengar suara lonceng menggema di seluruh kawasan kastil dan sampai terdengar ke ruang bawah tanah tempat mereka berada. Hal itu membuat Rosse panik.


"Gawat! Itu lonceng pertanda pertandingan Gladiator dimulai. Kita harus bergegas ke Colosseum sekarang juga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Colosseum, dua penjaga itu mendorong ku masuk ke ruangan kecil. Ditutupnya pintu besi itu lalu di kunci. Ruangan kecil berukuran satu meter kali setengah meter ini langsung terhubung bagian utama Colosseum. Terdengar sorak-sorei dari para penonton. Salah satu penjaga kembali. Ia mendorongku agar aku melangkah ke bagian area pertarungan. Aku dengan terpaksa melangkah ke sana. Cahaya terang dari sorot lampu begitu menyilaukanku sesaat. Riuh penonton semakin terdengar kuat disaat mereka melihatku. Mereka melemparriku dengan batu seukuran bola golf sampai bola tenis. Hanya sebagian kecil dari lemparan itu yang menganai, aku dengan cepat menangkisnya. Kutatap mereka semua penuh kebencian. Belum perna aku di permalukan sampai seperti ini. Aku akan mengingat hari ini. Lihat saja nanti kerajaan vampire, aku mengembalikan penghinaan ini.


"Seperti yang kalian lihat. Jangan terkecoh dengan wajah cantik gadis ini. Dia adalah seorang manusia serigala yang berani datang dan menginjakkan kakinya ke pulan Vyden. Seperti peraturan yang telah lama ada, bagi seorang manusia serigala yang tertangkap masuk ke pulau Vyden akan mendapat hukuman berduel dengan hewan buas di Colosseum ini. Kita saksikan siapa yang lebih kuat. Gadis serigala ini atau singa yang menjadi lawannya," ujar Lucas pada seluruh orang yang hadir malam ini.


Aku melirik tajam pada Lucas yang duduk di kursi khusus untuk anggota kerajaan. Kulihat Onoval duduk di kursi disamping kakaknya. Ia hanya melirikku sekali lalu memalingkan pandangnya ke rakyat. Ia sepertinya marah padaku.


["Jangan pedulikan dia lagi. Dia seorang pangeran vampire. Lebih baik pikirkan cara untuk keluar dari tempat ini."]


["Aku tahu. Aku cuman tak menyangka identitas ku akan diketahui olehnya dalam keadaan seperti ini."]


"Lepaskan lawannya!" perintah Lucas.


Tiba-tiba pintu besi yang ada di sebrang ku terbuka. Ku dengar geraman berat dan langkah kaki melangkah masuk ke arena. Seekor singa bertubuh besar dengan bekas luka yang berbekas pada kulit tubuhnya menggeram ganas ke arahku. Aku mundur selangkah disaat singa tersebut semakin mendekat. Penonton tidak henti-hentinya bersorak-sorak. Singa tersebut meraum ganas sambil menatapku seperti mangsanya yang begitu lezat. Kemudian ia mulai berlari hendak menerkamku. Aku berusaha menghindar serangan cakar besar dari singa tersebut.


["Bagaimana ini Keyla? Apa kau sanggup mengalahkannya?"]


["Tidak."]


["Hah? Jangan becanda."]


["Aku tidak becanda. Mana mungkin aku bisa mengalahkannya dengan tangan kosong. Hosh... Hosh... Tenagaku masih lemah," aku berusaha untuk tetap berdiri tegap.]


["Kalau begitu, biar aku yang melawannya. Setidaknya aku memiliki cakar dan taring untuk menyerang singa itu."]


"Rin," Onoval terlihat tidak tega melihat temannya harus bertarung melawan hewan buas sampai salah satu dari mereka mati. Ia terus memalingkan wajahnya dari arena Gladiator. "Tidak Onoval. Dia seorang manusia serigala. Kau tak boleh menolongnya."


["Keyla!" nada Sherina terdengar sangat khawatir.]


["Aku tak apa Sherina. Fuuu... Nafasku sesak sekali," aku mencoba mengatur nafasku sambil menyekat keringat yang mengalir di dahi ku.]


["Bagaimana ini? Kau tidak bisa terus seperti ini, Keyla," nada suara Sherina kali ini berubah sedih.]


Aku mulai memikirkan cara bagaimana melawan singa ini sambil beristirahat sebentar. Singa itu juga masih berusaha bangkit dan mungkin kepalanya sedikit pusing. Semua penonton berteriak menyuruhku berubah. Tapi itu tidak akan mungkin aku lakukan.


["Em... Bagaimana kalau Kita bernegosiasi dengan singa ini agar tidak menyerang kita lagi?" kataku pada Sherina mengutarakan pikiranku.]


["Bisa tidak kebodohanmu tidak muncul sekarang," kata Sherina datar.]


["Tak ada cara lain," aku berusaha bangkit dan berjalan mendekati singa itu.] "Hai... Nama asliku Keyla, tapi semua temanku memanggilku Rin. Siapa namamu?"


["Tidak aku sangka kau benar-benar mencobanya!!"]


"Goarrr....!"


Singa itu masih mengeram ganas. Ia tidak mendengarkan ku dan menyerangku lagi. Aku tidak cukup cepat menghindari serangan tersebut. Ia berhasil melukai lenganku. Aku menutupi luka ku dengan tangan yang satunya untuk mengurangi darahku keluar lebih banyak lagi. Bau darahku seketika menyebar membuat para vampire itu mulai seperti terhipnotis. Tampa sadar mereka hendak turun ke arena untuk menyerang ku. Tapi tiba-tiba mereka tersadar kembali ke tempat duduk masing-masing. Aneh, apa yang terjadi? Aah, tidak perlu pedulikan hal itu, lebih baik aku mengurus kucing satu ini. Aku merobek bagian rok dari gaunku untuk membalut luka ku.


"Ada yang aneh disini," ujar Lucas yang merasa sedikit kebingungan. "Kenapa para vampire itu tidak menyerang gadis ini? Apalagi setelah mencium bau darah yang begitu tak tertahankan itu. Mereka seperti ketakutan untuk meminum darah gadis ini, seolah-olah..."


"Rin adalah budak darah dari seseorang," kata Sindy melanjutkan kalimat tuannya. Ia berdiri tepat di samping Lucas.


"Iya. Tapi siapa? Sangat sedikit vampire kuat yang bisa membuat budak darahnya sangat disegani oleh vampire lain. Bahkan akupun tiba-tiba merasa engan mencicip darah gadis ini."


"Mungkin itu cuman perasaan tuan saja. Mana ada vampire yang lebih kuat dari anda. Tuanku adalah keturunan vampire bangsawan dan merupakan sang putra mahkota. Pasti ada alasan lain kenapa para vampire itu terlihat engan untuk menyerang Rin."


"Mulutmu itu semakin pandai saja bicara kata-kata manis. Tapi kau mungkin ada benarnya juga."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε