My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Jebakan



Aku bergesas berlari dikoridor menuju kelas. Kebiasaanku, aku terlambat lagi. Sampai diambang pintu aku mendapati Mrs. Smith sudah ada dikelas sedang menggapsen murit-muritnya. Aku masih berdiri didepan pintu, terengah-engah kelelahan. Semua orang menatapku dengan tatapan sama.


"Sherina! Kenapa kau terlambat lagi?!" tanya Mrs. Smith dengan sorot mata tajam dari balik kacamatanya.


Tenanglah diriku. Mrs. Smith orangnya baik kok. Ia tidak akan membunuhmu. "Maaf, maaf Mrs. Smith saya kesiangan," kataku masih terengah-engah.


"Kebiasaanmu. Dan seperti biasa lagi tulis surat permohonan maaf sebanyak 2000 kata... Dua kali lipat!!"


"E!"


"Harus dikumpu hari ini," tambahnya


"Ha, Baiklah," aku pasra saja menerima hukuman.


"Silakan duduk."


"Terima kasih Mrs. Simth," aku berjalan pelan menuju kursiku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bell berbunyi, menandakan jam istirahat dimulai. Semuah murit keluar dari kelas, ada yang ke kantin, menemui teman di kelas sebelah atau sekedar berkeliling mengukur sekolah mungkin. Sedangkan aku terjebak disini dengan kertas dan pena.


"Hei Rin ayok ke kantin," ajak Sofia.


"Kau tidak lihat aku harus menyelesaikan ini," kataku dengan lemas. Tanganku sudah pegal menulis beberapa kata.


"Memang sudak berapa kata?"


"Entahlah, 200 atau 300 kata mungkin."


"Masih 3700 kata lagi dong."


"Ha... Aku sudah mulai bosan menulis lagi," aku membaringkan kepalaku diatas meja.


"Kalau begitu selesaikan malam ini saja. Sekarang kita makan dulu. Nic, Kevin dan Evan pasti sudah menunggu kita dikanti."


"Apa kau tidak dengar? Mrs. Smith menyuruhku menyerahkannya hari ini."


"Mau tidak mau kau harus menyelesaikannya. Kalau tidak hukuman mu akan bertambah."


"Oh, iya Sofia. Apa kau kenal Margaret?" tanyaku mengalikan pembicaraan


"Margaret? Aku tidak mengenalnya. Kenapa?"


"Semalam ada arwah yang datang padaku, namanya Margaret. Aku tidak ingat dia tapi ia bilang memiliki janji denganku. Ia ingin tubuhku."


Mendengar itu membuat Sofia terkejut. Duar...!!! Tangannya menghantam meja tepat didepan wajahku.


"Sofia...!" aku mengankat wajahku menatap kesal padanya.


"Maaf maaf aku tidak sengaja."


"Kau ini membuat jantungku hampir copot tahu!."


"Maaf, tapi kau harus hati-hati Rin," wajahnya kembali serius. "Jangan sampai ia merasukimu karna itu sangat berbahaya. Jika ia berhasil menggambil alih tubuhmu, tamat riwayatmu!" Sofia memperingatkanku.


"Tapi janji yang ia maksud?"


"Jangan percaya. Itu mungkin tipuannya agar kau menyerahkan tubuhmu."


"Aku tahu."


"Sudah ya aku mau ke kantin. Aku lapar, pagi tadi tidak sarapan. Ingat kata-kataku tadi. Dah..." Sofia berlalu peegi menghilang diambang pintu.


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan. Aku melanjukan tulisanku. Beberapa kali aku berhenti, konsentrasiku sedikit tergangu karna kejadian semalan. Aku terus memikirkan tentang janji itu. Apa benar yang dikatakan Sofia tadi kalau itu hanya tipuan? Atau aku memang pernah menjanjikan sesuatu pada arwah bernama Margaret ini? Aaa... Kepalaku pusing. Aku terus mengingat-ingatnya tapi tidak ada satu ingatanku tentang janji itu.


Kelas semakin sepih dan akhirnya kosong, tinggal aku sendiri. Aku terus melamun tanpa melanjukan tulisanku lagi. Aku barus menyelesaikan selembar kertas dengan jumlah kata... Aku tidak tahu. Aku tidak menghitungnya. Akibat keterusan melamu aku tidak menyadari ada seseorang masuk ke kelas. Ia menghampiriku dan...


Duar......!!!


Hantaman keras lagi-lagi mendarat diatas mejaku. Dan untuk kedua kalinnya hal itu membuatku sangat terkejut, sampai-sampai pena yang sendari tadi aku mainkan terpental jauh. Tawa kecekikikan terdengar lucu keluar dari bibir manis gadis di depanku. Ia terlihat sungguh menikmati saat-saat mengerjaiku. Tapi aku sebagai korban tidak menyukainya.


"L I S A ! ! !" bentakku sambil berdiri. "Apa kau harus melakukannya?" ia menghiraukanku. Lisa terus saja tertawa seolah-olah wajaku ini lucu sekali dimatanya. Jantungku masih bedegup kencang akibat terkejut tadi dan sedikit nyeri didada. Aku mengatur nafasku untuk meredakannya.


"Hahaha... Seharusnya kau melihat eskspersimu tadi. Itu sangat menggelikan." katanya masih dalam keadaan tertawa.


"Apa selucu itu?"


Lisa menark nafas panjang dan mengebuskanya perlahan memalui mulutnya. Ia melirik kertas diatas mejaku, mengambilnya dan mulai membacanya. "O... Apa ini?"


"Kembalikan itu padaku," aku berusaha merebut kertas itu kembali namun gagal.


"Surat permohonan maaf? Apa kau terlambat lagi Miss. Morgen?" kata Lisa dengan nada mengejek.


"Lisa cepat kembalikan, aku belum selasai," lagi-lagi aku mencoba merebut kembali kertas itu dan masih saja meleset.


"Cobalah tangkap aku. Uwek..." ia malah lari menjauh dan sempat-sempatnya menjulurkan lidahnya padaku.


"Kau berurusan dengar orang yang salah!" kekesalanku memuncak. Aku mulai mengejarnya. Tidak disangkah tubuhnya yang mungil begitu lincah menghindar. Ia seperti musang menurutku. Aku terus merasa jengkel ketika ia berkali-kali mengejeku. Semakin kesal aku melemparkan beberapa buku ke arahnya.


"E, Tidak kena. Kau sangat payah dalam membidik."


"Hei pendek. Kau cukup gesit juga ternyata."


"Apa?! beraninya mengataiku pendek. Umurku baru 13 tahun tahu! Aku... Aku masih dalam masa pertumbuhan."


"Pendek. Huuuu... Dasar pendek."


"Apa katamu?!"


"Apa, apa... Kenyataanya memang iya. Itu dada atau lapangan terbang? Aku meragukanmu, apa kau memang seorang wanita?"


"Lisa...!"


DUG... DUG...


Rasa sakit tiba-tiba menusuk jantungku. Tangan kiriku mencari pegangan pada jendela untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh, sedangkan tangan kanan mencengrak dada kitiku yang nyeri. Rasa panas mulai menyelimutiku. Aku memejamkan mata menahan sakit.


"Rin kau tidak apa-apa?" tanya Lisa mulai khawatir. Ia mencoba menghampiriku. Semakin dekat dan ketika hendak menyetu pundakku...


"Tertangkap kau!" dengan cepat aku mengambil kesempatan itu untuk menangkap tangannya.


"Astaga! Kau menipuku rupanya," Lisa berusaha melepaskan diri.


"Haha... Sudah pendek mudah tertipu lagi."


"Dasar kau Sherina. Aku kira kau sudah berubah, tapi ternyata tidak."


"...?" berubah? Apa yang pernah aku lakukan padanya dulu?


"Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kertas ini."


"Tidak!!"


Belum sempat aku menggapai kertas itu, Lisa sudah melemparkannya keluar jendela. Angin mulai menerbangkannya menjauh dan semakin jauh. Aku hanya bisa melihat lembaran putih itu melambai padaku.


"Rasakan itu! Mencoba menipuku lagi."


Tiba-tiba kepalaku terasa pusing ketika melihat ke bawah. Pandanganku berputar-putar. Kakiku mulai lemas dan tampa sadar aku sudah terbaring dilantai yang dingin tidak sadarkan diri.


"Sherina," sedikit cemas. "Hm, Aku aku tidak akan tertipu lagi. Kalau memang kau benar-benar pingsan, maka nikmati saja lantai dingin itu," Lisa berjalan keluar dengan kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku membuka mataku perlahan, tirai hijau yang familyar. Aku bisa menebak kalau aku ada diruang kesehatan sekolah. Kepalaku masih sedikit pusing, aku ingat sebelumnya aku pingsan dikelas karna Lisa melempar kertasku keluar jendela... Tidak tidak bukan itu. Pandanganku hilang saat aku melihat kebawah gedung sekolah. Aku yakin sekali kalau aku tidak takut ketinggian, tapi kenapa demikian? Aku berusaha duduk ketika Miss. Murphy membuka tirai. Guru muda yang cantik dan juga penangung jawab ruang kesehatan sekolah.


"Sudah bangun nak?" ia melangka menghampiriku.


"Iya."


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak. Tidak ada."


"Ambillah," Miss. Murply menyodorkan roti isi padaku.


"...?" aku sedikit bingung. "Tidak, terima kasih Miss. Murply.


"Ambillah. Aku dengar dari temanmu, kau pingsan karna belum makan," ia meletakan roti isi itu di tanganku.


"E... Sebenarnya bukan karna itu," aku sedikit malu karna kesalahpahaman ini.


"Lalu?"


"Aku sedikit trauma dengan ketinggian."


"Oh... Benar juga. Kau gadis yang waktu itu. Ha... Sungguh disayangkan, salah satu murit disekolah ini melakukan munuh diri, aku hanya menyasikan itu dari bawah. Saat itu aku lah yang merawatmu ketika pingsan. Peristiwa itu pasti sangat membekas di ingatanmu."


"Iya."


Tunggu, apa yang dimaksud Miss. Murply adalah kejadian yang menyebakan Jenny bunuh diri? Ha... Sepertinya terjadi kesalahpahaman lagi. Aku sudah tidak mengingat kejadian itu. Sebenarnya yang membuatku pusing saat berada di ketinggian iyalah karna segelintir ingatan sebelum aku jatuh ke jurang waktu musim panas. Ya sudahlah aku tidak perlu menjelaskan, biarlah Miss. Murply berpikir demikian.


"Rin! Apa kau baik-baik saja?" Sofia menerobos masuk secara tiba-tiba. Itu membuatku merinding. Tapi ia sontak terkejut ketika melihat siapa orang yang bersamaku. "E...?! Maaf maaf Miss. Murply. Aku tidak tahu kalau Miss. Murply ada disini."


"Kau sungguh gadis yang ceria. Kalau begitu ibu akan meninggalkan kalian berdua," Miss. Murply beranjak meninggalkan kami.


Melihat tingkah Sofia, kenapa aku rindu dengan sikapnya yang acuh tak acuh? Hari ini ia begitu menjengkelkan dan kekanak-kanakan. Saatnya membuat perhitungan dengannya, karna ia telah menyebabkan kesalahpahaman tadi.


"Sofia kau yang mengatakan pada Miss. Murply kalau aku pingsan karna kelaparan ya?" aku menatap tajam padanya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Memang alasan apa lagi yang membuatmu pingsan? Kau juga belum makan."


Aku tidak bisa mengatakan kalau penyebabnya adalah Lisa. "Surat permohonan maafku terbang keluar jendela. Aku hendak merainya tapi... Kau tahukan kelas kita ada dilantai empat. Aku masih tahan jika tingginya cuman dua lantai."


"Jadi kau masih pusing saat diketinggian?"


"Iya"


Aku kembali ke kelas setelah keadaanku mendingan. Aku tidak suka berlama-lama diruang itu. Terlebih lagi, aku harus menyelesaikan surat permohonan maaf ini. Kalau bukan karna Lisa aku tidak semestinya menulis ulang. Selama pelajaran berlangsung aku tidak begitu memperhatikannya. Tanganku sibuk menulus setiap kata pada lembaran kertas, sesekali aku berheti ketika guru melirikku atau memberiku pertanyaan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε