My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Petunjuk di balik kalimat



"Itulah alasanku datang menemui mu. Aku cuman ingin tahu siapa orang tua kandungku karna aku baru tahu sekarang kalau aku itu anak angkat."


"Jika kau ingin tahu tentang masalah ini..." pandangan Mrs. Kineta meredup lalu menunduk. "Sebenarnya saya juga tidak tahu. Waktu itu hujan rintik-rintik. Saya mendengar suara bell dibunyikan. Saya keluar untuk mengecek siapa yang bertamu pada malam hari. Begitu membuka pintu, saya tidak menemukan siapa-siapa. Hanya ada keranjang besar berisi bayi yang tengah tertidur pulas dalam balutan selimut. Ada surat tergeletak di atas tubuh bayi itu. Isinya adalah surat permohonan untuk merawat bayi tersebut berserta namamu. Hanya itu saja, tidak ada lagi yang ditinggalkan orang tuamu," jelas Mrs. Kineta.


"Apa keranjang dan surat itu masih..."


Tiba-tiba hpku begetar. Aku mengeluarkan hpku dari saku jaket dan melihat siapa yang baru saja menelpon. Oh... Ternyata ibu. Aku langsung mengangkatnya.


"Hallo."


"Sherina!!!" teriak ibu dari telpon.


Aku menjauhkan hpku dari telinga. Suara ibu nyaring sekali ditelinga. "Hehe... Ada apa bu?"


"Ada apa bagaimana? Ibu sudah menelponmu berkali-kali namun tidak diangkat. Kau dimana sekarang? Pergi tidak bilang-bilang. Kau itu sedang sa..."


"Maaf ibu nanti aku telpon lagi," aku segera memutus telponnya.


"Apa Mrs. Morgen selalu begitu?" tanya Mrs. Kineta.


"Tidak. Hanya saat aku pergi tanpa pamit saja."


"Kau kesini tidak bilang sama ibumu?"


"Aku takut ibu tidak mengizinkan. Oh, iya Mrs. Kineta. Apa keranjang dan surat itu masih ada?"


"Semuanya masih utuh tersimpan. Tunggu, saya ambilkan," Mrs. Kineta mengacak-acak rambutku sebelum berlalu pergi.


Tak lama Mrs. Kineta kembali dengan membawah keranjang besar berwarna coklat tua. Keranjang sepertinya tersimpan sangat baik. Tidak ada kerusakan sedikitpun pada keranjang tersebut. Mrs. Kineta meletakan keranjang tersebut disampingku. Aku melihat isi dari keranjang itu, memang tidak ada apa-apa. Cuman ada dua helai selimut, satu set pakaian bayi lengkap dan kertas kecoklatan. Aku mengambil lipatan kertas itu lalu membukanya. Isinya adalah...


..."SAYA MOHON RAWAT PUTRI KECIL KAMI, KEYLA. IBU MINTA MAAF KARNA TERPAKSA MENITIPKANMU DI PANTI ASUHAN. INI SEMUA DEMI KAU AGAR TIDAK MENDERITA BERSAMA KAMI. PENUH CINTA DAN MAAF DARI AYAH DAN IBU."...


Hanya itu. Tidak ada kata lain yang dapat dijadikan petunjuk bahkan nama keluarga pun tidak ada. Aku membolak-balik kertas ini tapi percuma. Ini hanya kertas kosong selai kalimat tersebut. Sepertinya perjalanan kali ini mengarah ke jalan buntu. Bagaimana sekarang? Apa aku memang tidak ditakdirkan dapat bertemu dengan orang tua kandungku lagi? Aku menyimpan kembali surat itu dalam keranjang. Sebelum pamit pulang aku baru ingat kalau aku sempat membeli buah-buahan, camilan dan mainan untuk anak-anak. Semua barang itu masih tersimpan di bagasi mobil.


Aku memberitahu Mrs. Kineta soal ini dan memintanya menemaniku mengambil semua barang tersebut. Baru keluar dari pintu kami dikejutkan dengan semua anak-anak yang bermain dengan mobilku. Hah? Sejak kapan mereka bermain disana? Bukan kah tadi mereka asik bermain di taman bermain. Aku cuman bisa menggeleng dengan senyum geli saat melihat mereka menempelkan stiker kecil berbagai bentuk di mobilku. Selain stiker bintang kini mobilku berhias stiker lucu lainnya.


"Astaga anak-anak, apa yang kalian lakukan?" kata Mrs. Kineta yang sangat terkejut melihat kelakuan semua anak asuhnya. "Keyla, saya benar-benar minta maaf atas kelakuan mereka."


"Tidak apa-apa Mrs. Kineta."


"Maafkan kami kak karna telah merusak mobil kakak," kata mereka serempak dengan wajah menunduk bersalah.


Ooh... Mereka benar-benar lucu. Aku tidak bisa tahan dengan semua wajah imut ini. Aku berlutut menyamakan tinggi ku dengan mereka. "Tidak perlu minta maaf, lagi pula itu hanya stiker. Kakak punya sesuatu untuk kalian."


Aku berdiri lalu menghampiri mobilku. Aku membuka bagasi tempat dimana aku menyimpan semua barang yang kubeli tadi. Terlihat senyum bahagia di wajah mereka saat menerima semua itu. Mereka berebutan apalagi ketika mainan dibagikan.


"Keyla seharusnya ini tidak perlu. Keluargamu sudah banyak membantu panti asuhan ini," kata Mrs. Kineta merasa tidak enak.


"Sudah seharusnya Mrs. Kineta. Aku sangat suka melihat senyum anak-anak. Mereka sangat manis."


Aku bermain sebentar dengan mereka diruang utama. Semua mainan, buku mewarnai, krayon berhamburan di sekitar kami. Ruangan ini jadi seperti kapal pecah. Tapi sangat mengasikan dapat menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Canda, tawa, bernyanyi bersama kami lakukan dengan bahagia. Walau tak sedarah tapi mereka tetap menjaga satu sama lain dan saling peduli. Selalu bahagia semua, kakak harus pulang dulu.


Aku izin pamit pulang pada anak-anak serta Mrs. Kineta ketika ibuku tiba-tiba menelponku lagi dan menyuruhku pulang. Karna terlalu asik bermain dengan anak-anak aku sampai lupa waktu. Semua anak-anak ini terlihat sangat engan aku pulang. Mereka terus menariku untuk jangan pulang dulu. Mrs. Kineta berusaha menyakinkan mereka agar membiarkan aku pulang. Dengan wajah murung mereka mematuhi kata-kata Mrs. Kineta. Aku jadi tidak tega melihatnya tapi aku harus pulang. Namun sebelum itu aku meminta pada Mrs. Kineta kalau aku ingin menyimpan keranjang berserta isinya. Ia langsung menyetujuinya.


Aku melangkah masuk ke mobil tak lupa melambaikan tangan pada mereka yang dibalas lambain di depan pintu panti asuhan. Sebelum pergi aku memandang sekilas panti asuhan itu. Aku melajukan mobil meninggalkan panti asuhan yang semakin jauh. Walau tidak mendapatkan petunjuk apa-apa tapi hari ini cukup menyenangkan.


Sampai di rumah sekitar jam 15.10. Aku langsung memarkirkan mobilku dalam garasi dan segera pergi mengendap-edap kembali ke kamar. Sampai di kamar aku menghembuskan nafas lega karna aku tidak bertemu dengan ibu. Ibu bisa sangat mengerikan kalau sedang marah, lebih baik aku menghindarinya lebih dulu. Aku menyimpan keranjang itu dalam lemari lalu membaringkan diriku ditempat tidur. Tanpa diduga aku tertidur sampai makan malam tiba. Mungkin aku terlalu lelah dengan perjalanan jauh ini.


Selesai makan malam aku kembali ke kamarku. Aku kira ibu akan marah tadi tapi untung ibu cuman memberi nasehat agar aku tidak keluyuran tanpa pamit lagi. Di kamar ku perhatikan kembali surat peninggalan orang tua kandungku. Kuteliti setiap kata di kalimat itu berulang kali sampai aku menyadari sesuatu. Ada bekas seperti tulisan lain di atas kalimat ini, dan sangat jelas kalau itu bukan dari bagian kalimat. Itu lebih mirip seperti... Alamat. Aku harap apa yang aku lihat memang benar.


Aku mengambil pensil di atas meja belajar lalu mulai membuat goresan halus di atas kalimat tersebut sampai muncul tulisan baru. Ternyata benar seperti yang aku duga, itu memang sebuah alamat. Apa ini memang petunjuk yang diberikan padaku? Baiklah, aku akan memastikan apa itu memang benar alamat orang tuaku atau buka. Setelah mendapat petunjuk penting ini, hati merasa gembira. Aku tidak menyangka besok kemungkinan aku dapat bertemu orang tua kandungku. Seperti apa rupa wajah mereka? Apa mereka masih mengenali ku? Aku rasa tidak. Sudah 15 tahun lamanya. Mrs. Kineta saja tidak mengenali ku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε