
Dalam keasikan makan bersama sambil bercerita tentang banyak hal tiba-tiba aku dikagetkan dengan kemunculan Sherina tepat di belakang Mia.
"Ffhh... Ukhuk... Ukhuk..." dia muncul ketika aku sedang minum, hal hasil minumanku sedikit muncrat dan membuatku tersedak.
"Ada apa Rin?" tanya ibuku.
"Tidak ada, ini semua karna Sheri..." kalimat ku terhenti ketika ia melayang menembus meja makan mendekati ku lalu beralih pada ibu. Ibu terlihat tidak menyadari Sherina sama sekali. Ada apa ini? Apa ibu tidak dapat melihatnya atau hanya aku yang dapat melihatnya?
"Karna... Apa?" kata Lisa mempertanyakan kalimatku yang terhenti.
"Eh... Karna..." mataku masih terlalu sibuk memperhatikan Sherina yang berlalu lalang menembus semua orang dihadapanku, melompat kesana kemari seperti hantu gentayangan namun kenapa ibu, Sofia dan paman jaseph tidak melihat dan merasakan kehadirannya sama sekali? "Sofia apa kau tidak... Merasakan sesuatu?"
"Tidak. Memang apa yang harus aku rasa, kan?"
"Ah, tidak ada. Aku cuman merasa ada yang lewat tadi dibelakang, menembusmu," kataku pelan yang kini kualihkan padangku ke piring di hadapanku.
"Oh... Apa itu alasan kau kaget tadi?" tanya Mitéra.
"Apa iya, Rin? Kenapa ibu tidak merasakannya?"
"Mungkin aku salah lihat."
Selesai makan malam, kami semua bersantai sejenak sampai satu persatu di antara kami kembali ke kamar untuk tidur. Keluarga Livitt menginap di kediaman malam ini. Mereka menempati kamar tamu yang memang banyak tersebar di kediaman. Aku tidak tahu jumlahnya ada berapa. Di kamar aku mulai bertanya pada Sherina, bagaimana bisa ia muncul namun ibu, Sofia dan paman jaseph tidak dapat melihatnya sama sekali?
"Karna aku bukan hantu," jawabnya.
"Lalu kau itu apa? Hantu bukan. Apa Arwah atau Roh? E? Apa perbedaan mereka semua?" tanyaku lagi.
"Kenapa aku memiliki kakak bodoh seperti mu?" ia menatap tajam padaku. Tatapannya persis sama dengan ayah.
"Jangan seperti itu, walau umurku lebih beberapa minggu aku ini tetap kakakmu," aku menepuk pundaknya yang ternyata aku dapat menyentuhnya. "E? Aku dapat menyentuhmu?"
"Tentu saja. Aku bahkan masih bisa merasakan sakit tahu."
"Benarkah?"
"Iya. Aku termasuk Roh yang hidup tapi aku tidak memiliki tubuh. Roh ku hidup dalam dirimu. Lihat ini..." Sherina memperlihatkan benang emas tipis yang terhubung ke dadaku. "Ini adalah tali kehidupanku. Selama benang ini tidak putus, aku akan tetap hidup."
"Itu berarti maksudmu tubuhku ini memiliki dua jiwa? Jiwa kita berbagi tubuh yang sama," kataku menyimpulkan.
"Bisa dibilang begitu."
"Lalu bagaimana dengan kekuatan Necromancy, kenapa aku dapat mengendalikannya sedangkan kekuatan manusia serigala tidak?"
"Pendapatku mungkin jiwa mu tidak cukup kuat untuk mengendalikan kekuatan manusia serigala. Kau cuman bisa menggunakan kelebihan dari kekuatan manusia serigala tersebut."
"Dan jiwamu memang jiwa seorang manusia serigala. Sebab itu setiap kali perubahan jiwa kita bertukar. Ternyata ini alasannya kenapa aku tidak mengingat saat aku mengalami perubahan."
"Bisa jadi. Sebenarnya aku juga tidak terlalu ingat akan hal itu. Aku cuman merasa terbangun di suatu tempat dengan rasa sakit yang hebat lalu semuanya menghilang."
"Bagaimana saat perubahan menyerang Sofia, dan Lisa serta waktu latihan?"
"Itu... Mungkin perubahan karna emosi membuatku kesulitan mengendalikan kekuatan manusia serigala."
"Bagaimana kalau kita mencobanya? Kendalikan tubuhku lalu berubahlah menjadi serigala," saranku.
"Apa kau yakin, Keyla? Bagaimana kalau aku hilang kendali?" Sherina tampak ragu.
"Kau seorang manusia serigala, tidak mungkin kau tidak bisa mengendalikannya," bujukku.
"Baiklah. Aku akan mulai. Bisa kau pusatkan kesadaranmu ke alam bawah sadarmu?"
"Baik."
Kulihat Roh Sherina menghilang. Aku segera memejamkan mata memfokuskan diri ke alam bawah sadar ku. Aku merasa tubuhku seringan kapas, melayang tampa beban. Aku seperti terbang di udara dengan hembusan angin lembut. Nyamannya.
Panggil Sherina membuatku membuka mata. Aku mendapati diriku sudah dalam bentuk Roh sekarang. Em... Apa seperti ini rasanya menjadi hantu? Pandanganku aku alihkan ke Sherina yang kini mengendalikan tubuhku.
"Wah... Sherina kau berhasil," kataku ketika melihat serigala putih di hadapanku. "Oh... Apa ini wujudku dalam bentuk serigala. Sangat imut! Pantas saja Rosse begitu gemasnya memainkan telingaku," aku tidak tahan itu tidak mengelus gemas telinga serigala di depan ku ini.
"Keyla...! Hentikan itu," teriak Sherina sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Satu kali saja," aku dengan gemasnya mengelus, menarik dan memainkan tilinga serigala ini sampai aku menyadari tanda unik di dahi Sherina. "Sherina, tanda cantik apa di dahimu?"
"Tanda?"
"Lihat saja sendiri."
Sherina bergegas mendekati cermin. "Aku tidak tahu. Aku tidak perna menyadarinya."
"Rin! Apa kau belum tidur? Suara apa itu?" teriak ibu dari luar. Gawat ibu pasti mendengar suara geraman Sherina tadi.
"Itu ibu!"
Dengan cepat Sherina mengubah wujudnya. Karna itu aku merasa Roh ku ditarik paksa masuk ke tubuhku. Hal tersebut menyebabkan aku dilanda rasa sakit yang teramat sangat di kepalaku.
"Sstt... Aduuuh... Sherina jangan lakukan itu lagi. Kepalaku benar-benar sakit," rintihku sambil meremas kuat rambutku.
"Maaf, aku terlalu kaget kalau ibu nanti melihat ku dalam wujud serigala."
"Tidak apa juga ibu melihatnya, kan," kataku masih meremas rambutku.
"Rin, kau baik-baik saja?" tanya ibu lagi.
"Iya. Aku baik-baik saja. Aku baru selesai menonton film," balasku.
"Tidurlah. Hari sudah larut!"
"Iya."
Aku berusaha berdiri saat rasa sakitnya mereda. Aku melangkah ke tempat tidur lalu membaringkat diriku di kasur yang empuk.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Sherina sedikit khawatir.
"Tidak lagi."
"Maaf."
"Tidak apa. Sekarang kita jadi tahu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
(Hanya Patéras, Mitéra dan Sherina yang memanggil Keyla. Yang lainnya tetap memanggil Rin. O, iya Sherina dan Rin orang yang berbeda.)