My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Jadi, kau mau bilang apa?



Pagi hari yang cerah. Aku terbangun dari tidur lelapku. Aku meregangkan tubuhku sambil menguap. Aku berjalan menghampiri jendela dan langsung menarik tirai yang menutupinya. Sinar mentari masuk mengisi seluruh ruangan. Kubuka pintu balkon dan berjalan keluar. Angin musim gugur bertiup begitu terasa dingin menembus piyamaku. Aku memandang ke taman yang tepat di bawahku. Terlihat beberapa orang sudah memulai tugas mereka masing-masing. Tak berlangsung lama aku menikmati suasana pagi ini. Aku kembali melangkah masuk ke kamar. Aku pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap sekolah.


Hari ini adalah hari pertama Rosse masuk ke sekolah barunya. Kami berangkat bersama setelah sarapan pagi. Mobil kuberhenti tepat diparkiran yang tersedia di belakang halaman sekolah. Kulihat mobil Porsche silver terparkir berjarak dua kendaraan dari mobilku. Aku mengenalnya. Itu mobil Sofia. Bagaimana kabarnya setelah mabuk kemarin? Aku dan Rosse melangkah masuk ke gedung enam lantai ini. Setelah mengantar Rosse ke ruang kepalah sekolah, aku berjalan kembali menuju kelasku.


Aku sedikit waspada saat menuju kelas. Aku tidak mau bertemu dengan Nicole. Bukan tampa alasan tapi aku tidak mau mendengar semua pertanyaan dan celotehnya pagi ini. Fhuu... Akhirnya aku sampai di kelas tampa harus bertemu dengannya. Semua orang menyapa dan menanyakan kabarku. Memang seminggu terakhir mereka tidak bisa menghubungi ku. Berbagai macam obrolan mereka tidak terlalu perhatikan. Aku terlalu pusing mendengar ocehan mereka yang tiada henti dan Sofia tidak membantuku sama sekali. Mereka baru berhenti saat Mrs. Smitt datang.


Kriiing... Kriiing...


Bell istirahat dibunyikan. Baru hendak meletakan semua buku di laci tiba-tiba Nic berlari dan segera memelukku erat, sangat erat sampai-sampai aku kesulitan bernafas olehnya. Sudah kuduga akan jadi seperti ini jika aku bertemu dengannya. Evan, Kevin dan Rosse juga ada disini. Mereka bertiga menghampiri kami. Em... Sepertinya Rosse mulai akrab dengan mereka. Tapi bagaimana Rosse bisa tahu kalau mereka adalah teman akrab ku?


"Nic, lepaskan aku! Aku kesulitan bernafas tahu!" aku sedikit meronta mencoba melepaskan pelukan dari Nic.


"Kemana saja kau? Kami sangat mengkhawatirkan mu saat melihat berita itu," Nic akhirnya melepaskan pelukannya.


"Beberapa kali kamu mengghubungimu namun tidak pernah kau angkat," kata Kevin


"Hpku rusak. Aku belum beli yang baru," jawabku singkat.


"Kau adalah putri dari keluarga Morgen, bagaimana bisa kau tahan tampa smartphone?" ucap Evan.


"Aku bukan sepertimu yang tidak bisa lepas dari benda persegi itu."


"Benda persegi! Ini adalah hidupku. Aku tidak bisa jauh-jauh dari kecanggihan tekhnologi massa kini. Aku sangat suka hal yang berbau sistem komputer. Ini adalah benda kesayanganku," ujar Evan sambil mengelus hpnya di pipinya.


"Bukan hanya kami yang mengkhawatirkan mu, tapi juga pacarmu ini. Ia terus saja bertanya padaku soal dirimu," perkataan Nic kali ini membuatku malu.


"Iya. Dia juga sering bertanya padaku," sambung Sofia.


"Pa... Pacar yang mana? Aku tidak punya pacar," kataku berusaha menyakal omongan mereka.


"Jangan disembunyikan lagi Rin. Kami semua tahu kau pacaran dengan kakak kelas kita itu, kan," Nic merangkul bahuku sambil menusuk-nusuk pipiku dengan telunjuknya.


"Kami... Kami cuman temanan kok," aku memalingkan muka dengan pipi yang kurasa memerah.


"Temanan ya... Bukankah kalian sudah perna berkencan?" timpal Sofia.


"Kalau boleh tahu, siapa gerangan pria yang berhasil menaklukan hati tuan putri ini?" tanya Rosse ingin tahu.


"Oh... Dia adalah pria terpopuler disekolah, walau hanya populer lebih sedikit dariku, tapi aku tetaplah pria yang paling banyak digemari para wanita," ujar Evan membanggakan dirinya sendiri.


"Jangan percaya omongannya. Hanya sebagian dari katanya saja yang benar," Kevin menyangkal semua omongan adiknya itu.


"Tidak, semua yang aku katakan memang benar. Aku ini termasuk pria yang paling mudah bergaul dengan para wanita."


"Kau itu terlalu kepedean kalau bertemu dengan seorang gadis, dan semua omonganmu terlalu melebihkan dirimu sendiri. Berbanding terbalik."


"Kenapa? Apa kau iri karna popularitas ku jauh lebih tinggi darimu?"


"Tidak ada gunanya popularitas jika jilaimu jelek."


"Ha... Mereka mulai lagi," Sofia hanya menghela nafas panjang saat melihat kedua kakak beradik ini bertengkar.


Hihi... Semuanya kembali seperti semula. "Rosse bagaimana kau bisa kenal dengan mereka?" tanyaku.


"Karna dia satu kelas denganku," jawab Nic.


"Rin aku dengar kau sudah kembali, jadi aku..." tiba-tiba Perchye menerobos masuk kelas. "Oh... Semuanya ada disini."


"Ternyata dia. Lumayan. Pantas saja Rin tidak tertarik dengan tim basket sekolah kami," kata Rosse dengan nada mengejek.


"Kalian membicarakan aku? Kenapa?" tanya Perchye dengan bingung.


"Tidak ada. Ini dia pacarmu, sudah pulang dengan keadaan utuh," Nic mendorongku mendekati ke Perchye.


"Nic!" geramku kesal bercampur malu.


"Ayok-ayok semuanya kita tinggalkan pasangan kekasih ini. Biarlah mereka melepaskan rindu."


"Tapi Nic aku tidak mau pergi. Aku mau melihat adegan romantis."


"Tidak akan romantis jika kau tetap disini."


Nic menarik paksa Sofia yang engan meninggalkan tempat ini. Mereka semua pergi, tinggallah aku dan Perchye sendiri di dalam kelas. Dasar kalian semua! Tidak aku sangkah ternyata Rosse juga ikut-ikutan. Tapi... Apa benar yang dikatakan Nic kalau Perchye selama ini khawatir denganku? Kenapa aku mendengarnya sedikit senangnya? Aku mengeleng cepat menghalau pikiran aneh itu. Nic benar-benar membuatku malu karna ia berbicara seperti itu di depan Perchye.


"Ja... Jangan dengarkan Nic, kau tahu dia, kan? Aku..."


"Aku tahu itu," potong Perchye. "Yang terpenting, bagaimana keadaanmu? Kau pasti sangat tertekan atas semua tuduhan itu."


"Iya... Sebenarnya tidak juga. Aku merasa bersalah ke pada orang tuaku. Aku telah menambah masalah dan malah tidak membantu menyelesaikannya," aku tertunduk lusuh ketika mengingat semua itu.


"Jangan merasa bersalah gitu. Bukankah semuanya sudah selesai di konferensi pers yang keluargamu adakan? Ayahmu sudah membuktikan kau bukan manusia serigala kan," hibur Perchye. Ia mengelus pelan rambutku.


Andai ia tahu kalau kalau aku memang manusia serigala. Apa ia masih mau memperlakukan aku dengan lembut begini? "Jika seandainya aku memang manusia serigala, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Manusia serigala atau bukan bagiku sama saja."


"Benarkah?"


"Sudahlah. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan padamu. Maukah..."


"Hihi... Apakah Perchye mau menyatakan cintanya?"


"Uuuhh... Ini pertunjukan bagus."


"Minggir sedikit Nic aku juga mau lihat."


"Tunggu," aku menahan Perchye untuk melanjutkan kalimatnya. Aku mengambil pensil dalam laci lalu menembakannya dan tepat menancap disela-sela pintu kelas. Hal itu membuat para penguping itu berlari pergi sambil cekikikan. Dasar mereka benar-benar membuatku kesal! "Jadi apa yang mau kau bicarakan tadi?"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε