
"Aku... Aku bahkan terpikir akan mati hari ini."
Dengan keadaan ketakutan dan bingung, Rosse masih tidak memahami situasinya. Ia terduduk lemas dilantai sambil memegangi kepalanya mencoba memahami apa yang terjadi. Reaksi Rosse saat ini memang wajar. Ia pasti sangat trauma setelah mengalami hal diluar nalar untuk sebagian orang. Itu baru diperlihatkan dengan kekuatan sihir tingkat rendah, bagaimana kalau jadinya ia melihatku dalam wujud serigala?
"Alah... Kau tidak akan mati jika memang terkena bola api itu," aku mengulurkan tanganku ingin membantunya berdiri.
Rosse mengangkat wajahnya dan menatap tajam padaku. "Darimana kau tahu benda itu tidak akan membunuhmu?! Kenapa aku tidak bisa bergerak tadi? Apa itu ulah Sindy? Apa sihir di dunia ini memang ada? Bagaimana caranya kau bisa lepas dari sihir itu? Dan jelaskan juga kenapa tiba-tiba kau sudah berada di belakang Sindy?"
"Tunggu tunggu, satu-persatu. Aku bahkan sudah lupa pertanyaan pertama mu."
"Kalau begitu, beritahu aku siapa kau sebenarnya? Apa kau juga sama seperti mereka?"
"E... Bisa pertanyaan lain?"
"..." Rosse tak menjawab dan tatapan tajam itu tidak di lepaskannya dariku, menunggu penjelasan.
Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. "Baiklah, aku akan menjelaskanya. Yang pertama, aku bukan penyihir. Kenapa kita tidak bisa bergerak tadi? Itu karna Sindy menggunakan mantra pengikat. Mantra pengikat adalah salah satu mantra yang digunakan untuk membuat lawannya tidak bisa bergerak. Kegunaan mantra ini juga bisa mengendalikan pergerakan lawan sesuka hati."
"Kau tahu banyak?"
"Tentu saja, karna aku memiliki teman seorang penyihir. Ini juga alasannya kenapa aku bisa mematahkan mantra Sindy. Temanku itulah yang mengajarkannya padaku."
"Sihir bisa diajarkan?" tanya Rosse sambil mengangkat sebelah alis.
"Tidak. Yang bisa diajarkan cuman bagaimana caranya mematahkan sihir. Itupun hanya berlaku pada sihir lemah. Jangan harap untuk dapat bebas dari sihir kuat, kecuali kau memiliki kemampuan tersendiri."
"Apa temanmu itu perna melemparkan bola api ke arahmu? Apa sebab itulah kau tahu kalau benda itu tidak akan membunuh kita?"
"Sering! Apa lagi kalau kami bertengkar. Bola api adalah senjata andalannya."
"Mungkin itu sebabnya kau jadi bodoh," gumang Rosse. "Satu hal lagi yang belum kau jawab. Bagaimana bisa kau tiba-tiba sudah ada dibelakang Sindy tadi? Kau seperti berteleportasi."
"Hahaha... Mana mungkin aku bisa berteleportasi. Keadaanmu saat itu terlalu ling-lung sampai tidak menyadari aku bergerak cepat ke belakang Sindy. Dan Sindy juga terlalu terkejut karna aku dapat mematahkan mantra nya sampai ia juga tidak tahu kalau aku sudah berada di belakangnya."
Kriiiing... Kriiiing...
Suara bel istirahat berbunyi. Mendengar itu Rosse seketika berdiri. Ia mengibas-ngibaskan pakaiannya, menghilangkan debu yang menempel. Beberapa orang mulai muncul melewati koridor ini. Percakapan aku dan Rosse terhenti seketika. Aku menarik Rosse pergi menuju kantin. Tangannya masih gemetar terasa di telapak tanganku. Kejadian barusan benar-benar membuat ia ketakutan. Walau bola api tidak dapat melukaiku namun Rosse hanyalah manusia biasa. Bola api dapat dengan mudah menyebabkan luka bakar yang teramat parah pada korbannya. Untuk sementara lebih baik aku tidak memberitahu Rosse tentang ini. Jika ia tahu kalau benda itu dapat melukainya atau sampai membunuhnya, kejadian tadi pasti akan memberi trauma yang sangat dalam.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
Kediaman keluarga Morgen, di ruang kerja. Derek, Alan, Jaseph dan Mr. Li, berkumpul disana untuk membahas tentang konferensi pers yang akan diadakan malam ini. Semua bahan dan pembahasan serta kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di perincikan saat itu juga. Rencana disusun rapi untuk menghadapi serangan dan pernyataan publik. Mereka berempat sibuk dengan bagian masing-masing. Waktu, situasi, kapan harus bertindak telah dipikirkan secara matang, agar semuanya berjalan lancar sesuai yang diharapkan.
Perencanaan konferensi pers ini sudah di bahas sejak kemarin dan baru selesai jam 07.13 pagi ini. Begadang semalaman tidak membuat mereka lelah. Teman sejati kopi dan camilan jangan pernah ketinggalan. Masih ada waktu 12 jam lagi sebelum konferensi pers dimulai. Selama waktu tersebut, apa yang akan mereka lakukan? Beristirahat? Aku rasa tidak.
"Aku juga. Aku harap semuanya berjalan lancar," kata Jaseph kemudian.
"Kemungkinan 95% kita akan menang dalam konferensi pers malam ini," dengan masih bersikap formal Mr. Li berkata.
"Baiklah cukup sampai disini. Bagaimana kalau kita memanfaatkan waktu yang tersisa untuk merillekskan tubuh dan pikiran, agar kita tidak terlalu tegang saat konferensi pers nanti?" kata Derek memberi pendapat.
"Ide bagus, bagaimana kalau sebuah permainan? Seperti bowling, catur, permainan kartu, tenis meja atau yang lain," Jaseph memberi beberapa saran yang melintas begitu saja di pikirannya.
"Bagaimana kalau billiard?" tanya Derek pada yang lain.
"Boleh juga. Tapi, seingat ku meja billiard sedang rusak," kata Alan yang asik memain-mainkan pencil diantara hidung dan bibi nya.
"Saya bisa meminta seseorang untuk memperbaikinya. Mungkin hanya butuh waktu setengah sampai satu jam saja," ucap Mr. Li menawarkan diri.
"Tidak perlu. Beberapa minggu lalu aku menemukan ruang rahasia yang menyimpan meja billiard cantik. Aku sudah meminta beberapa pelanyan membersihkannya, dan sekarang tempat itu jauh lebih baik dari pertama kali aku menemukannya," kalimat dari Derek itu membuat yang lain semangat.
"Oh, apa itu ruang rahasia yang selama ini kau cari?" tanya Jaseph sebelum ia meneguk habis kopinya.
"Saya rasa bukan. Seingat saya ruangan itu tidak memiliki meja billiard."
"Kalau begitu tunggu apa lagi. Aku tidak sabar untuk mengalahkan kalian semua," kata Alan semangat.
"Bermimpilah, aku yang akan menjadi pemenangnya," Derek mengucapkannya dengan bangga.
"Tidak seru kalau cuman bertanding saja. Bagaimana jika yang kalah harus minum secangkir ukuran besar anggur tahun 98 dalam sekali teguk," Jaseph memberi saran gila.
"Siapa takut!" jawab Alan lantang.
Dengan adanya taruhan semakin membuat mereka bersemangat. Derek, Alan, Jaseph dan Mr. Li segera pergi ke tempat yang dimaksud dengan Derek sebagai pemandu jalan. Tapi sebelum itu mereka harus pergi ke ruang bawah tanah terlebih dahulu untuk mengambil botol anggur. Anggur tahun 98 sudah di dapat, saatnya ke ruang pesta. Ruang rahasia itu terletak dilantai tiga dekat menara, dengan jalan masuk berada di kamar 35. Pintunya tersembunyi di balik lukisan abstrakt. Kunci dari ruangan ini berupa kode kombinasi yang diperoleh dengan cara memahami lukisan abstrakt itu sendiri. Derek memerlukan waktu kurang lebih dari seminggu untuk memecahkan kode kombinasi tersebut.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε