
"Karna aku bertemu dengan manusia serigala yang lain."
"Ha?!" aku sontak terkejut mendengarnya. "Maksudmu kau bertemu dengan dua manusia serigala pada malam itu?"
"Iya. Atau bisa dibilang dia lah yang telah menyelamatkan ku. Setelah serangan pertama itu tiba-tiba muncul sosok berjubah hitam di depan kami. Aku tidak dapat melihat dengan jelas siapa dia, cahaya bulan terlalu minim masuk dari sela-sela dedaunan. Namun aku dapat pastikan kalau ia adalah seorang pria tua dengan janggut serta kumis abu-abu memenuhi setengah wajahnya. Pada detik itulah aku melihat pria tua tersebut seketika berubah menjadi serigala abu-abu. Wujudnya sangat jauh berbeda dengan monster yang menyerang kami. Ia benar-benar berubah menjadi serigala seutuhnya. Beda hal nya dengan monster itu yang cuman setengah serigala dan setengah lagi manusia. Pertarungan tidak terelakan di antara keduanya. Mereka saling serang satu sama lain, tapi tidak untuk berlangsung lama. Pertarungan tersebut di menangkan oleh pria tua itu. Dalam sekejap ia berubah kembali ke wujud asalnya. Ia membopong monster serigala tersebut yang pingsan karna menghatam pohon. Monster tersebut juga telah berubah menjadi manusia biasa. Sebelum pergi pria tua itu sempat melirik padaku. Mata biru tajamnya menyalah dalam kegelapan. Sama seperti matamu saat aku menakutimu dengan belati perak," Rian menoleh dan menatap lurus mataku.
Aku berkedip dan segerah mengalikan pandang. "Ternyata kau sudah menyadarinya dari awal bahwa aku adalah..." aku masih tidak sanggup mengatakannya.
"Mata terindah yang perna aku lihat. Saat itu aku masih tidak yakin dan berpikir mungkin hanya perasaanku saja. Tapi setelah melihat siku mu terluka akibat liontin kak Cia..."
"Saat itulah kau yakin kalau rumor tentang aku itu benar," potongku seketika.
"Aku memang yakin kalau kau itu manusia serigala. Namun, aku tidak percaya kalau gadis kecil di samping ku ini perna menyerang seseorang," kata Rian dengan nada menggoda.
"Menyerang seseorang? Em... Aku perna menyerang Sofia," pikirku.
"Setelah pertemuanku dengan pria tua itu, aku percaya kalau tidak semua manusia serigala adalah monster yang sama seperti dipercaya masyarakat. Ia hanya melirikku dengan tatapan seperti mengatakan Maaf. Dengan tubuh gemetar penuh ketakutan, aku hanya diam menatapnya. Aku mendekap erat bibi Celia dalam pelukanku yang telah lemah tak berdaya. Akhirnya pria tua tersebut pergi, menghilang dalam kegelapan malam. Aku yang masih terpaku mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Sampai ayah dan tim polisinya menemukan kami." Rian diam sebentar lalu melanjutkan. "Aku masih tidak mengerti kenapa ada dua wujud manusia serigala? Dan juga, sepertinya manusia serigala dalam wujud sempurna lebih bisa mengendalikan dirinya. Dari pada manusia serigala dalam wujud setengah serigala itu, ia terlihat sudah kehilangan akal sehatnya."
"Manusia serigala dibedakan menjadi tiga jenis. Manusia serigala berdarah murni, manusia serigala berdarah campuran dan manusia serigala karna digigit oleh manusia serigala lain, atau kalian biasa menyebutnya sebagai monster serigala. Pria tua yang kau lihat itu mungkin saja manusia serigala berdarah murni atau campuran. Sedangkan yang satunya adalah monster serigala. Akal sehat dari monster serigala memang sudah hilang sejak ia berubah di bawah sinar bulan purnama. Aku sarankan kalau kau melihat mereka lagi sebaiknya segera laporkan saja pada sekte-sekte pemburu monster. Mereka memang bertugas mencegah serangan dari monster-monster seperti itu," jelas ku.
"Apa monster serigala ini dapat kembali seperti manusia biasa?" tanya Rian ragu-rugu.
"Tidak."
"Apa?!" raut wajah Rian sangat terkejut mendengarnya.
"Sampai sekarang belum ditemukan penawar racun dari gigitan manusia serigala."
"Lalu manusia yang menjadi monster serigala itu..."
"Biasanya sekte penburu monster akan mengurung mereka dalam sel. Tapi kebanyakan monster serigala seperti ini akan ditembak mati di tempat. Karna mereka terlalu buas dan sangat sulit sekali untuk ditangani. Mereka akan terus melawan sampai titik darah penghabisan. Untuk mengurangi korban dan kemungkinan ada anggota yang tertular, tembak mati dengan peluru perak menjadi pilihan terbaik."
"Oh..." Rian kembali menunduk dengan raut wajah murung.
"Apa sekarang kau merasa takut padaku? Biarpun aku adalah manusia serigala berdarah campuran, tapi aku tetap saja salah satu monster malam legendaris yang paling banyak ditakuti masyarakat. Jika kau merasa khawatir atas keselamatan kak Cia, Hanna atau yang lain jikalau aku hilang kendali, kau boleh memintaku pergi. Aku tidak keberatan sama sekali," aku berbalik dan melangkah pergi. Mungkin sudah saatnya aku kembali pulang ke rumah.
"Tunggu!"
Langkahku terhenti seketika. Tampa menoleh padanya aku bertanya. "Ada apa?"
"Aku tidak peduli kau manusia serigala atau bukan. Yang aku tahu kau adalah temanku. Teman kami semua. Kau tidak perlu takut kalau kami menjauhi mu karna mengetahui jati dirimu yang sebenarnya," kata Rian dengan lantang.
"Rin jangan menangis. Aku..."
Aku berbalik menghadap Rian setelah aku menyekat air mataku. "Saya mewakilkan seluruh manusia serigala untuk meminta maaf pada anda. Maaf telah membuat anda kehilangan seseorang yang ada sayangi karna salah satu dari kami telah melakukan kesalahan besar," aku membungkukan badanku dengan telapak tangan kanan kuletakan di dada kiri atas.
"Rin, apa yang kau lakukan?" Rian segera membantuku berdiri. "Kau tidak perlu minta maaf seperti ini. Lagi pula semua itu bukan kesalahanmu."
"Memang bukan, cuman..." seingatku kota kecil ini masih termasuk wilayah klan alfa. Kemungkinan besar pria tua tersebut adalah salah satu dari klan alfa. Aku sebagai putri pemimpin klan sudah seharusnya bertindak begini, bukan?
"Wah... Cerita yang sungguh mengharukan. Aku sampai menangis mendengarnya."
Aku dan Rian dikejutkan dengan suara seseorang dari belakang kami. Aku dan Rian menoleh melihat siapa yang barusan bicara tadi. Ternyata itu Tobi. Ia berdiri bersandar di dekat pintu sambil melipat kedua tangannya.
"Tobi?! Sejak... Sejak kapan kau ada disana?" tanyaku.
"Biar aku ingat-ingat dulu..." Tobi berjalan mendekatiku sangat dekat, kemudian ia membungkukan badannya lalu berbisik. "Mungkin sejak aku lihat seorang gadis kecil digandeng naik ke atas atap bangun ini."
Aku mendorong Tobi sedikit menjauh. "Apa kalian selalu melakukan ini pada setiap gadis?"
"Kau sangat manis kalau malu-malu begini," kata Tobi kembali menggoda.
Ha... Jadi kau sudah mendengar semuanya? Aku harap kau tidak memberitahu kak Cia apalagi Hanna soal tadi," ujar Rian dengan wajah datar.
"Ayok lah temanku, aku tidak mungkin melakukan itu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε