
Sindy mengangkat tangannya bersamaan dengan tubuhku ikut terangkat sampai melanyang setinggi satu meter dari tanah. Kemudian ia melemparkan ku begitu saja ke dalam kolam. Air dingin tidak masalah bagiku tapi kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk ku berenang ke kembali permukaan. Aku hanya menatap samar-samar bayangan langit yang ingin kugapai, namun tak bisa. Dengan keadaan tubuhku yang semakin jatuh ke dasar kolam dan gelembung udara semakin kecil melayang naik. Aku hanya tersenyum kecil. Kejadian ini mengingatkanku pada mimpi yang sudah lama terjadi namun masih sangat segar dalam ingatanku. Mimpi itu hampir sama seperti hari ini, jatuh ke dalam air yang dingin. Tapi saat itu keadaannya malam hari dan ada seseorang yang menolongku. Mata merah menawan itu, akan kah ia juga datang menolongku kali ini?
"Rin!"
Dalam keadaan setengah sadar aku melihat ada bayangan seseorang melompat terjun ke danau. Ia berenang ke arahku. Apa ini mimpi yang sama? Ia benar-benar datang kembali menolongku. Mata merah menawan yang selalu menjadi misteri bagiku. Ia meraih tanganku dan langsung memberikan udara dalam paru-parunya kepadaku. Ia membawaku berenang naik ke permukaan. Aku selamat, sekali lagi. Aku seketika mengatur nafasku begitu berhasil keluar dari air kolam. Aku sedikit terbatuk-batuk memuntakan air yang lolos ke paru-paruku. Orang yang menolongku itu membantuku berenang ke tepi kolam lalu menarik ku keluar dari sana. Aku masih kesulitan bernafas karna masih ada air di paru-paruku.
"Terima kasih telah menyelamatkan ku sekali lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasmu," kataku setelah keadaanku sedikit membaik.
"Bagaimana keadaanmu, Rin?" tanya nya dengan nada penuh kekhawatiran.
"Kau mengenalku?" aku tersentak dan langsung mengangkat wajahku melihat siapa yang sebenarnya telah menolongku dari kolam. "Onoval?!"
"Pertanyaan aneh apa itu? Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu?"
"Maaf, maaf. Aku pikir kau orang lain. Aku sungguh tidak tahu."
"Bagaimana bisa kau jatuh ke kolam yang dingin itu?"
"Ini karna Sindy. Dia..." aku menceritakan semua yang terjadi pada Onoval.
"Keterlaluan! Siapa sih sebenarnya Sindy ini? Kenapa aku tidak perna bertemu dengannya? Dan permasalahan apa yang terjadi di antara kalian sampai ia mau membunuh mu?"
"Ini... Hachii!"
"Kau masuk angin. Sebaiknya kau kembali, ganti bajumu dan istirahat."
Aneh, aku belum perna flu selama ini, tapi terima kasih karna telah membantuku menghindari pertanyaan Onoval. Ia membawaku kembali ke asrama. Dengan menggunakan kemampuan teleportasinya kami bisa sampai di belakang asrama dengan cepat.
"Kau bisa kembali sendiri ke kamarmu?"
"Iya. Aku bisa. Sampai disini saja. Sekali lagi terima kasih karna telah menyelamatkan ku Onoval. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu aku jatuh ke kolam?"
"Rosse yang beritahuku," jawabnya sebelum menghilang.
"Apa? Rosse... Onoval...! Dasar kau ini! Jelaskan dulu padaku baru menghilang," gerutuku kesal.
Aku kembali ke kamar ku. Saat aku membuka pintu kulihat Sofia dan Rosse telah pulang dari kota. Terdapat beberapa paper bag diatas meja yang kemungkinan berisi gaun untuk pesta malam ini.
"Rin?! Kau dari mana?" tanya Sofia yang kaget melihatku basa kuyup.
"Kak, kau habis berenang?"
"Iya. Di kolam belakang perpustakaan."
Aku melangkah masuk menuju kamar mandi. Air hangat membuatku merasa lebih bauk. Aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja. Aku membuka lemari untuk mencari pakaian yang lebih tebal dan hangat.
"Bagaimana bisa kau berakhir di kolam belakang perpustakaan?" tanya Lisa.
"Iya. Kami baru meninggal kamu sebentar, tapi kau mala kembali dalam keadaan basa kuyup."
"Semua ini karna Sindy. Ia memintaku bertarung melawan Rosse di halaman belakang perpustakaan," jawabku sambil mengenakan sweater hijau lembut.
"Bertarung melawan Rosse? Ceritakan lebih detail, Rin," pinta Sofia.
"Aku baru kembali dari kantin disaat kulihat dia pergi ke belakang perpustakaan. Aku mengikutinya. Disana ia bertemu dengan seseorang berjubah hitam."
"Berjubah hitam? Apa mungkin orang yang sama di hutan waktu itu," kata Lisa begitu teringat.
"Maksud kakak, Sindy yang mengirim para vampire itu untuk menyerang kita?"
"Tidak bisa dipastikan tapi aku yakin memang dia."
"Penyihir satu itu semakin kelewatan! Ia memang harus diberi pelajaran. Dan Rosse juga, kenapa bisa dekat dengannya?" geram Sofia kesal.
"Perkiraan kita waktu itu benar kalau Sindy terlibat dengan vampire. Saat aku hendak kembali Sindy berhasil menangkap ku... Hachii!" aku menggosok hidungku menggunakan telunjuk karna bersin lagi. "Aah... Aku benci ini."
"Kau terserang flu kak. Sebaiknya kau makan sup hangat. Kalau tidak salah kami sempat singgah di kedai makanan untuk membeli hidangan laut. Dimana Itu Sofia?" Lisa memeriksa beberapa kantung belanja di atas meja yang dibantu Sofia.
"Ini Lisa," Sofia menyodorkan kotak berisi hidangan yang mereka cari pada Lisa.
"Ah, iya benar. Makan ini kak, kau akan merasa lebih baik," Lisa lalu menyodorkan hidangan berkuah itu padaku.
"Terima kasih," kataku begitu aku menerimanya. Uap panas yang harum membuatku lapar. Aku menyerumput sesendok kuah kaldu itu. Em... Rasa hangatnya menyebar ke seluruh tubuhku. Lisa benar. Hidangan ini membuatku merasa lebih baik.
"Jadi, saat itu lah Sindy memintamu bertarung melawan Rosse?" kata Lisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.
"Iya."
"Lalu bagaimana? Apa kalian benar-benar bertarung?"
"Aku cuman menghindar, tidak membalas. Tapi Sindy tiba-tiba menggunakan mantra pengikat yang membuatku terkena serangan dari Rosse."
"Kau terkena serangan dari Rosse. Kau tidak apa-apa kan? Apa kau mengalami cedera tertentu atau luka para?"
"Ini yang aneh bagiku. Serangan Rosse memang kuat tapi ia tidak menyerang titik vital sama sekali. Ia cuman membuat seluruh tubuhku mati rasa. Aku berasumsi kalau Rosse tidak ada niat untuk mengkhianati kita. Ini pasti ulah Sindy dan vampire tersebut. Kita harus membantunya."
"Tapi bagaimana? Rosse sekarang menjadi budak darah. Ia terikat dengan tuannya. Bagaimana cara kita memutus ikatan tersebut?"
"Andai kita tahu siapa tuan dari Rosse. Mungkin masih ada harapan untuk menolongnya. Oh, iya. Waktu Rosse menyerang ku, aku jadi tahu kalau kekuatannya bukanlah sihir tapi sebenarnya pengendali petir. Ia tidak bisa menggunakan mantra sihir sama sekali."
"Kekuatan petir ya. Em... Mungkin aku masih bisa mengalahkannya. Setelah itu kita bisa membawa pulang Rosse secara paksa," kata Sofia.
"Kita lihatkan malam nanti. Bagaimana dengan gaun yang kalian beli? Aku mau lihat."
"O... Ini untuk mu," Sofia menyodorkan paper bag putih padaku.
Aku menerima itu dan mengeluarkan isinya. Gaun hitam elegan dengan bahu terbuka tapi bagian dada sampai leher tertutup. Itu bagus karna bisa menyembunyikan tanda klan ku. Rok yang tidak terlalu panjang namun kembang seperti bunga terompet bercorak kerang.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε