My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Jasa Trysta



"Iya Rin, Lisa, apa yang sebenarnya kalian alami? Seberapa menderitanya kalian disana? Jika seperti ini jadinya, seharusnya kalian tidak perlu membahayakan diri kalian untuk mendapatkan buah itu," kulihat ibu kembali menangis.


"Tidak ibu, aku tidak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Aku rela melakukan apapun demi menjaga keluarga ini tetap utuh biarpun harus mengorbankan nyawa sekalipun. Aku sungguh tidak sanggup merasakan kehilangan lagi."


"Rin, apa yang kau katakan?!! Apa kau pikir aku sanggup kehilanganmu? Kau putriku, Rin. Kau mengalami koma saja hidupku menjadi suram apalagi harus kehilanganmu."


"Hiks... Bagaimana ini?" kataku pelan tanpa sadar.


"Rin!" panggil Sofia yang bergegas berlari masuk ke kamar. "Mitéra mu bilang kalau kau demam, aku sempat tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri."


Tidak jauh dari belakang ada ayah dan ibunya, bibi Emely, paman Alan, bibi Merry, paman Fang serta Aftur. Kondisi dari Sofia, paman Fang dan Aftur terlihat lebih baik dari terakhir kulihat mereka.


"Sofia, paman, bibi," sapa ku balik.


"Bagaimana bisa kau yang sebagai seorang manusia serigala jatuh sakit?" tanya Sofia yang mengambil tempat duduk di samping Lisa.


"Mana aku tahu, dan kau pikir aku mau sakit? Rasanya benar-benar tidak enak."


"Kau jangan anggap remeh, Rin. Daya tahan tubuh manusia serigala memang kuat terhadap berbagai virus serta bakteri yang ada. Tapi jika seorang manusia serigala jatuh sakit, itu artinya daya tahan tubuhnya sangat lemah. Lebih lemah dari manusia biasa. Berharap saja jika sakit mu ini cuman karna kau terlalu kelelahan, bukan karna yang lain," jelas bibi Emely.


"Karna yang lain," batinku. Mendengar itu membuatku jadi kepikiran sesuatu.


"Rin, habiskan sup mu," bujuk ibu membuatku tersadar dari lamunan.


Aku menatap lesuh hidangan yang ada di depanku. "Aku kenyang ibu, sungguh. Aku ingin berbaring."


"Ya sudah, nanti makan lagi."


Ayah mengangkat meja kecil yang ada di depanku berserta semua hidangan di atasnya. Dengan singap paman Fang seketika menyambut meja itu lalu diletakan disisi lain agar tidak menggangu. Sedangkan ibu membantuku berbaring. Disaat aku terbaring lemah seperti ini diantara orang-orang, kenapa mala terbalik ya?


"Dimana Carlos?" tanya paman Joseph


"Aku memintanya memanggil Mr. Guttman untuk memeriksa keadaan Keyla," kata Mitéra memberitahu.


"Sambil menunggu. Mr. Li, apa yang sebenarnya terjadi? Aku minta penjelasan darimu sekarang," tanya ayah pada paman Fang.


"Eh... Begini Mr. Morgen, sebenarnya... Pada malam acara menyambut gugur bunga terakhir dan matangnya buah ΖΩΗ (ZOI)..."


"Aku tertangkap," potongku. "Para pengawal kastil berhasil menangkap ku disaat aku mencoba mengambil buah ΖΩΗ (ZOI) di ruang inti kastil."


"O, iya kak. Aku juga penasaran, bagaimana bisa kau tertangkap waktu itu? Apa kau memicu alaram?" tanya Lisa.


"Sindy," jawabku singkat.


"Apa?! Makhluk itu lagi?!!" geram Sofia begitu mengetahuinya.


"Siapa sindy?" tanya Mitéra.


Aku memalingkan muka dari Mitéra. Aku bingung mau menjelaskannya pada mereka. Mengingat Sindy merupakan tunangan dari Perchye. Semua ini adalah kesalahan Sindy dan putra mahkota vampire itu. Untuk Perchye, ia tidak tahu apa-apa. Ia bahkan lebih milihku dari pada klannya sendiri untuk menyerahkan buah itu. Sedangkan Onoval... Aku tidak tahu dengannya. Setelah apa yang terjadi, ia pasti sangat membenciku.


"Keyla," panggil Mitéra tapi aku mala menarik selimut sampai menutupi wajahku.


"Sindy? sepertinya aku tidak asing dengan nama itu," kata bibi Marry mengingat-ingat.


"Iya, aku juga merasa pernah mendengarnya... Dan bertemu," kata ayah yang juga mengingat nama tersebut.


"Itu wajar karna Sindy memang perna datang ke kediaman pada waktu acara perjamuan pemegang saham waktu itu," kata Sofia yang membuatku menurunkan selimut dan melirik padanya. Pandangan kami bertemu. "Nama lengkapnya Sindy Wilton, putri dari keluarga Wilton," jelasnya kemudian.


"Ah, iya. Baru aku ingat. Keluarga Wilton memang memiliki putri bernama Sindy,"


"Keluarga Wilton memang salah satu dari keluarga penyihir dan putri mereka merupakan gadis yang cukup berbakat di bidang sihir. Tapi mereka tidak sudah jarang muncul di media lagi belakangan ini. Bahkan kabarnya mereka sudah pindah entah kemana," jelas paman Alan.


"Mereka beruntung telah pergi telah menghilang dari kota ini, jika tidak... Aku pasti akan mencabik-cabik mereka!" geram ayah sambil mengepalkan tangannya.


"Kenapa bisa Miss. Wilton ada disana? Apa yang sedang dilakukannya?" tanya bibi Emely.


"Dia itu telah menjadi budak darah dari sang putra mahkota vampire," kata Lisa.


"Dan kami memang bermusuhan dengannya," sambung Sofia.


"Budak darah? Untuk apa dia mau menjadi budak dari makhluk itu? Menyerahkan kebebasan jiwanya sendiri pada makhluk seperti vampire. Aku tidak tahu apa yang ada dalam otaknya," ujar ibu.


"Apa lagi kalau bukan demi dapatkan kekuatan yang besar," kataku.


"Sejujurnya kami sudah berhasil lolos dari para pegawal dan melarikan diri masuk ke hutan. Mengingat tangung jawabku melindungi mereka, aku memutuskan untuk menghabat para pegawal yang mengejar kami dan memancingnya ke tempat berlawanan dari lokasi titik kumpul. Tapi jumlah mereka terlalu banyak yang menyebabkan aku terluka jatuh ke sungai," jelas paman Fang mengalikan topik pembicaraan.


"Bagaimana Mr. Li bisa selamat?" tanya Lisa.


"Trysta yang menyelamatkan ku."


"Trysta?!"


"Iya. Dia mengobati seluruh luka ku dan darinya juga aku tahu kalau kalian tertangkap. Untung saja aku masih sempat datang membantu kalian."


"Keterlaluan! Kaum vampire harus membayar atas semua yang mereka lakukan pada putriku!" ayah mengepal tangannya dengan geram. Aku bisa melihat perubahan di matanya.


"Tenangkan dirimu, Darek. Kita tidak bisa menyerang mereka begitu saja."


"Apa yang dikatakan Alan benar. Seluruh dunia malam tahu kalau kebijakan di pulau Vyden melaran kaum manusia serigala menginjakan kaki mereka disana dan memiliki hukuman mereka sendiri," ujar paman Joseph.


"Tapi mereka melukai putriku! Aku tahu kau juga sekarang pasti sangat membenci mereka, bukan?"


"Iya, aku membenci mereka. Namun kita tidak memiliki alasan yang kuat untuk menyerang mereka."


"Itu benar, kak. Jika dilihat dari sudut pandang sekte, semua ini memang salah kita," kata bibi Emely.


"AAH! Tidak seharusnya aku mengirim putri ku sendiri ke tempat berbahaya itu."


"Biarpun ayah tidak memintaku, aku masih akan tetap pergi kesana. Hanya itu satu-satunya tempat dimana aku bisa mendapatkan obat penawar untuk ibu."


"Maaf terlambat," ujar Mr. Guttman yang masuk bersama Patéras.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε