
Setela berkeliling cukup lama, barang-barang yang aku inginkan juga sudah dibeli. Aku dan Sofia memutuskan untuk pulang, terlebih lagi matahari juga sudah hampir terbenam. Aku bisa mati dimarahin ibu kalau pulang terlambat. Sesudah mengantar Sofia, di perjalanan akau melihat seorang anak laki-laki. Ia terlihat sendang mencari sesuatu, aku berhenti di depannya.
"Cari apa dik?" tanyaku.
"Kunci rumah," katanya dengan raut wajah sedih.
Aku merasa iba, aku turun dari mobil mencoba membantunya mencari kunci rumah yang ia maksud. Aku menyelusuri setiap jalan mencari dan mencari. Cukup lama sampai-sampai mobilku tertinggal jauh. Hari semakin gelap. Tapi tak apa, dengan kemampuanku dapat melihat di malam hari akhirnya aku menemukan kunci itu dibalik semak-semak. Betapa riangnya ia ketika aku menemukan kunci tersebut. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang, karna bahaya membiarkan seorang anak kecil sendirian berjalan pada malam hari. Anak itu menyetujuinya.
Hanya beberapa menit, kami sampai di rumahnya. Rumah ini terlihat sepih. Apa ia tinggal sendirian? Tidak mungkin, umurnya aku perkirakan baru 8 tahun. Lagi pula rumah ini terlalu besas untuknya sendiri. Bagunan dua lantai bercat putih dengan pintu dan jendela berwarna coklat.
"Dik, dimana orang tuamu?" tanyaku penasaran.
"Ayah dan ibu jam segini biasanya belum pulang kerja," kata anak itu.
"Kau tidak takut sendirian di rumah?"
"Tidak. Kadang paman datang menemaniku."
"Apa tidak apa kakak tinggal sendiri? Kakak harus pulang, sudah malam nih," aku melihat jamku. Jam sudah menunjukan pukul 18.42.
"Tidak apa. O... Itu orang tuaku sudah pulang," tunjuk anak itu ke belakangku.
Aku menoleh, kulihat sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Sepasang suami istri keluar dari mobil, mereka melihatku dengan tatapan kebingungan. Aku menjelaskan semua yang terjadi, dibalas sambutan terima kasih oleh mereka. Aku mohon pamit untuk pulang walau sempai ibu dari anak itu menyuruhku masuk dulu. Aku menolaknya karna sudah malam. Aku masuk ke mobil dan menancap gas mobil dengan kecepatan tinggi. Aku pasti dimarahi oleh ibuku. Sampai di rumah, aku membuka pintu perlahan sambil mengintip. Tidak ada orang. Aku masuk berjalan berjingkat menuju kamarku. Baru saja di depat tangga...
"Sherina!" ayah memanggilku dari ruang tamu.
Aku menoleh, terlihat selain ayah yang masih duduk dikursi roda disana juga ada ibu, paman dan bibi. Oh, Tidak. Aku pasti dimarahi habis-habisan, tapi tumben paman dan bibi berkunjung? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan? Hm... Mungkin tidak penting dan aku harap aku tidak akan terlibat. Aku berjalan pelan ke ruang tamu dengan kepala menunduk tidak berani menatap mata mereka, apa lagi ayah.
"Rin dari mana saja kau?" pertanyaan yang sudah aku duga muncul pertama kali dari mulut ayah.
"Aku... Maaf, aku tadi menolong seorang anak mencari kunci rumahnya yang hilang," jelas ku.
"Apa kau yakin?" tanya ayah memastikan
"Iya," jawabku sedikit bingung. Respon mereka jauh dari yang aku bayangkan.
"Bisa kau jelaskan lebih rinci apa yang kau lakukan dari jam 18.00 sampai sekarang?" pintak ayah.
"Hm..." aku kembali mengingat-ingat mengurutkan kembali apa yang terjadi. "Sekitar pukul 17.45 aku sudah berajak pulang dari event musim gugur. Setelah mengatar Sofia aku bergegas pulang. Di perjalanan aku bertemu seorang anak kecil yang kehilangan kunci rumahnya lantas aku turun membantu. Cukup lama aku mencari akhirnya kunci rumah tersebut berhasil aku temukan. Aku memberi tumpangan pada anak itu. Sampai di rumahnya ternyata orang tuanya belum kembali. Aku sempat melihat jam, kalau tidak salah jam 18.42 waktu itu..."
"Apa benar kau tidak melakukan hal lain? Mungkin kau melupakannya," potong ibuku, sepertinya ia meragukan penjelasanku.
Ayah meletakan sebuah tablet di atas meja dan menyodorkanya padaku. Tablet tersebut menampikan beberapa foto. Aku melihat foto itu, tidak ada yang aneh. Foto tersebut hanyalah foto rumput ilalang yang rusak seperti bekas pertarungan hewan liar, dan foto terakhir adalah foto bercak darah di rumput. Aku semakin bingung, kenapa ayah menujukan foto-foto ini kepadaku? Paman dan bibi tidak bicara, sendari tadi mereka hanya diam mendengarkan percakapan kami tampa ikut sepatakatapun.
"Foto itu diambil sore ini di padang ilalang yang tidak jauh dari hutan. Itu adalah bekas pertarungan antara serigala dan seorang warga setempat..."
"Apa hubungannya denganku?" potongku sebelum ayah selesai menjelaskan.
Ayah tidak langsung melanjutkan, ia menarik nafas panjang melalui hidungnya dan menghembuskan perlahan melalui mulutnya. "Pukul 18.17 tadi foto-foto ini telah tersebar di internet. Tidak diketahui siapa pemilik akun yang telah menyebarkannya. Yang aneh disini, ada satu foto memiliki kejangalan di dalamnya," ayah memperlihatkan satu foto padaku dan sudah di perbesar.
Aku mengambil tablet tersebut dan menteliti fotonya. Aku masih kebingungan, apa maksudnya semua ini? Ini hanya foto mobil biasa. Tapi tunggu... Sepertinya mobil ini tidak asing. Itu adalah mobilku. Aku dapat mengenalinya dari stiker bintang yang menempel pada pintu mobil. Lalu, apa yang salah? Mobilku pasti tidak sengaja terambil disaat orang memotret tampat kejadian. Aku berhenti di pinggir jalankan untuk membantu seorang anak yang mencari kunci rumahnya.
"Aku masih tidak mengerti."
"Untuk memastikan kebenarannya, Mr. Li memeriksa lokasi kejadian yang persis sama di foto tersebut dan bertanya pada warga setempat. Mr. Li berhasil bertemu saksi mata yang melihat langsung pertaruangan itu. Ia menjelaskan kalau serigala tersebut berwarna putih salju. Satu pertanyaan, apa benar kau tidak melupakan apapun? Kenapa mobilmu bisa kebetulan ada disana dan tepat saat kejadian?"
"Itu dua pertanyaan. Ayah, aku kan sudah bilang kalau..." aku tesentak mengerti maksud ayah. "Apa maksud pertanyaan ayah tadi? Ayah menuduhku aku pelakunya?"
"Tidak Rin, ayahmu tidak bermaksud begitu..."kata ibu namun aku langsung memotongnya.
"Tidak apa!! Jelas sekali ayah menuduhku. O... Aku mengerti sekarang. Tapi hanya sebatas foto dan kesaksian dari satu orang tidak cukup membuktikan aku pelakunya. Lagi pula orang itu hanya melihat seseorang bertarung dengan serigala saja, bukan melihat seorang gadis berubah menjadi serigala dan menyerang orang. Persetan dengan kekuatan manusia serigala, aku harap tidak pernah memilikinya sama sekali!" aku pergi meninggalkan mereka dengan sangat kesal. Terdengar ibu berteriak memanggilku tapi aku malah mempercepat langkah kakiku berlari menuju kamar
Dikamar, aku hanya duduk bersandar di pintu sambil memeluk kedua lutut ku. Aku tak bisa menahan air mata yang mulai mengalir di pipi. Aku tidak menyangkah bahwa ayah bisa menuduh ku dengan bukti yang tidak jelas seperti itu. Ayah memang blak-blakan orangnya. Tapi bisakah ia berpikir dulu sebelum berbicara? Apa ia tidak peduli dengan perasaanku? Dituduh sembarangan benar-benar membuat hatiku sakit. Aku akui kalau aku memang belum bisa mengendalikan kekuatan ini sepenuhnya. Tapi kumohon, apa tidak ada sedikitpun kepercayaan dibenak kalian?!!
Aku melemparkan beberapa barang yang dapat aku jangka ke sembarang arah dan salah satunya mengenai cermin tempat dimana aku biasa memandang diriku. Cermin itu pecah seketika dan menimbulkan suara nyaring. Untuk sekarang aku benci memandang bayanganku sendiri. Setiap kali aku melirik cermin itu terlintas di kepalaku sesosok monster mengerikan yang dipercayai masyarakat sebagai manusia serigala. Aku terpikir, kenapa aku harus terlahir sebagai manusia serigala? Aku ingin menjadi gadis biasa pada umumnya. Keluarga kecil harmonis yang tidak terikat dengan makhluk-makhluk malam dan bahkan aku berharap makhluk seperti ini memang tidak perna ada didunia.
Takdir tidak bisa kita ubah namun menentukan takdir untuk kebahagian kita sendiri terdapat pada keyakinan yang kita miliki dan itu tergantung pada pilihan masing-masing. Aku tidak bisa mengubah takdir ku sebagai manusia serigala tapi aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah. Biarkan semua orang tidak percaya padaku asalkan aku bisa mencari bukti kuat dan menangkap dalang dari semua masalah ini, bisa dipastikan tidak akan ada satu orang pun yang dapat menuduh ku lagi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε