
Pagi cerah, cahaya mentari masuk melalui cela-cela jendela dan tepat mengenai wajahku. Aku menarik selimut menghalau sinar matahari yang menyilaukan. Kemarin aku sampai dirumah dengan keadaan sinar jinggan sudah menghilang. Aku tidak tahu bagaimana cara Onoval pulang ditengah kegelapan malam, apa dia bawak senter? Dan terlebih lagi jalan pulangnya masuk kembali kedalam hutan. Dimana rumahnya? Apa disekitar sini? Em... Setahuku, tidak ada rumah disana kecuali hutan pinus. Aaa...!! Sudahlah. Paling ia belok kanan atau kiri, tidak mungkin jalan luruskan. Tunggu, kalau memang rumahnya belok kiri atau kanan, kenapa harus lewat hutan? Kan bisa lewat jalan depan. Bagaimana kalau ada ular? Binatang buas? Atau apapun hal yang mengerikan di dalam hutan? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat ia di area sekitaran sini?
Semalaman aku memikirkannya, bagaimana cara ia pulang? Aneh, padahal aku baru bertemu dengannya, kanapa aku terlalu memikirkan iya? Mungkin Onoval sudah terbiasa berkeliaran ditengah hutan pada malam hari. Malam itu aku menelponnya dan menanyakan, apa ia sudah sampai rumah atau belum? Aku merasa legah ketika ia mengatakan kalau ia sudah sampai di rumah dan tidak ada bahaya saat perjalananya pulang. Aku sedikit malu menanyakan hal ini. Bisa-bisanya aku menelponnya duluan hanya untuk menanyainya soal ini. Apa aku terlalu mengkhawatirkannya? Tidak. Tidak mungkin. Tapi entah kenapa setelah mengetahui ia baik-baik saja aku merasa legah dan mulai tertidur.
"Sherinaa...!!!" teriak ibuku sambil menarik selimutku. "Bangun! Hari ini kau sekolah."
"Lima menit lagi," kataku dengan malasnya, aku menarik selimut lagi.
"Lima menit apanya! Lima menit lagi kelasmu dimulai! Ayok Rin cepat bangun."
Aku tidak tidak menghiraukan ibuku yang terus mengoceh. Mataku terasa berat sekali untuk terbuka.
"Kenapa? Masih belum bangun juga?" kedengaranya itu suara ayahku.
"Ya begitulah, kebiasaan buruknya tudak mau hilang."
"Sherina bangun sayang," kata ayahku lebih lembut dari ibu.
Ayahku memang baik, tutur katanya enak didengar sampai-sampai membuatku tambah mengantuk.
"Sherin kau mau bangun atau tidak?"
Tidak ada jawaban.
"Baiklah," dengan senyum manis, ayahku memiringkan tempat tidur sampai aku terjatuh.
"Aduh...!" aku menyingkirkan selimut yang menutupi wajahku.
"Masuh belum bangun," senyumnya tidak berubah, tapi kenapa mengerikan?
"Baiklah baiklah aku bangun sekarang," aku bergegas bersiap-siap untuk sekolah.
"Oh iya sebaiknya kau pulang cepat hari ini, ada kejutan untukmu," kata ayahku kemudian.
"Ada kejutan. Itu baru bagus."
...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...
"Kau terlalu memanjakannya," kata Cloey kepada suaminya begitu mereka keluar dari kamar Sherina.
"Tidak apakan, sesekali. Lagi pula ia sedikit tertekan setela mengetahui kemampuannya. Banyak hal yang mengejutkannya dan masalah datang sili berganti."
"Kau benar, walau ia sangat ceria tapi beberapa kejadian lalu menjasi buah pikirnya. Kemarin aku melihat ia ada di perpustakaan, sepertinya sedang mencari informasi tentang manusia serigala. Ia tidak mau bertanya langsung padamu atau Emely. Ia lebih suka mencari tahu sendiri. Ia terlalu pandai untuk membuat kita tidak khawatir. Aku juga tidak ingin ia terlalu tertekan dengan semua ini," Cloey berhenti sembentar menghelang nafas. "Bagaimana masalah di klan? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya terkendali. Tapi kami masih belum tahu pasti apa yang direncanakan bajingan-bajingan itu."
"Bagaimana bisa kalian tidak dapat membedakan antara kucing dan penyusup?"
"Tidak, kucing itu bukan kucing sembarangan. Sepertinya sengaja dilepas untuk mengintai rumah ini."
"Memang seperti apa kucingnya?"
"Kucing putih berpita biru dan ada juga yang mengatakan berpita merah."
ΩΩΩΩ Sudut pandang orang pertama ΩΩΩΩ
Sifat Sofia berubah drastis hari ini, yang awalnya cuek dan acuh tapi sekarang ia sangat ceria dansedikit jahil orangnya. Ia lebih parah dari Nic. Aku jadi merindukan sifatnya yang acuh padaku. Karna aku suka menggodanya. Semuanya kembali seperti semula. Aku dan Sofia sudah berteman lagi, kelompok kami ceria kembali. Walau ada sedikit keusilan, tidak apa itu adalah pemanis dalam persahabatan.
Hanya satu orang yang menjadi masalah yaitu Lisa. Dia tidak henti-hentinya memusuhiku. Setiap kali bertemu ada saja kata-kata yang mengesalkan keluar dari mulutnya itu. Ditambah lagi kali ini dia tidak sendirian, ada dua orang temannya yang sama anehnya. Nama mereka adalah Anna dan Beca, aku mengetahuinya dari Sofia. Aku pernah bertanya padanya, kenapa gadis itu selalu mengganguku? Apa aku merebut pacarnya, sampai ia tidak rela? Semua kemungkinan yang terlintas di kepalaku aku utarakan pada Sofia. Sofia hanya menjawab...
"Tidak tahu."
"Gadis itu memang aneh. Aku tidak tahu pasti awal masalah kalian tapi sepertinya gadis itu memang membencimu karna suatu alasan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kriiiiing......... Kriiiiing.........
Bell terakhir berbunyi. Hal itulah yang aku nantikan selama ini. Hari yang bosan akhirnya berakhir. Aku sudah tidak sabar untuk pulang dan mengetahui kejutan apa yang telah disiapkan ayah. Aku bergegas keluar dari kelas tampa memperdulikan Sofia yang sendari tadi memanggil. Sepertinya ia mengatakan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya. Aku hanya mengatakan ada urusan penting jadi harus segera pulang. Aku lihat ia sedikit cemberut.
Di lantai dasar, aula. Lagi-lagi aku menabrak seseorang, mungkin karna aku terlalu tergesa-geaa dan pikiranku sudah ada dirumah. Aku tidak memperhatikan jalanku.
"Maaf maaf, aku tidak sengaja."
"Rin."
Aku terkejut ketika mendengar suara yang begitu aku kenal dan tak terlupakan. Aku mengangkat wajahku memastikan siapa dia. "Perchye."
"Kau mau kemana? Buru-buru sekali."
"Ada kejutan dirumah. Aku harus pulang. Dah..." aku melangkah pergi sambil melambaikan tangan padanya.
"Kejutan? Ternyata kau suka kejutan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai dirumah aku tidak menemukan siapapun. Hanya ada keranjang piknik di ruang tamu. Aku tidak memperhatikan itu. Aku mencari ayah dan ibuku. Diseluruh ruangan di lantai dasar, tidak ada. Lantai dua, sama. Lantai tiga dan juga loteng, aku tidak menemukan mereka. Aku bertanya pada seorang pelayan yang aku temui. Ia mengatakan bahwa ia melihat ayahku pergi ke gudang peralatan kebun. Mengetahui itu aku segerah kesana. Gudang tersebut terletak di belakang rumah paman. Benar saja, ayah dan paman ada disana. Sepertinya mereka menyiapkan alat pancing. Aku menghampiri mereka yang tengah sibuk menyiapkan peralatan seperti tongkat pancing dengan benangnya, umpan, ember, dan sebagainya.
"Ayah. Paman," panggilku membuat mereka menoleh.
"Sherina kau sudah pulang?" tanya ayahku.
"Sedang apa?"
"Hanya menyiapkan peralatan memancing," jawab paman Alan.
"Mancing?"
"Iya. Hari ini kita akan pergi memancing di danau yang tidak jauh dari sini," jelas ayah.
"Jadi ini kejutan yang ayah maksud?"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
Hai aku kembali...
Maaf aku sudah lama tidak up. Aku harap kalian tidak kapok membaca ceritaku karna menggantung cukup lama. Sekali lagi maaf ya.