My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Burung hantu, aku akan merawatmu



Hari senin biasa, sekolah seperti biasa lagi. Aku berjalan pelan menuju kelasku. Hoaaam... Aku menguap saat menaiki tangga, ku tutup mulutku menggunakan tangan. Pagi ini aku ngatuk sekali. Semalam sampai rumah sekitar pukul 20.45. Hoaaam... Aneh? Kenapa hari ini aku begitu ngantuk? Padahal semalam aku tidur tidak terlalu larut. Cuman jam 00.00 tengah malam lebih sedikit.


Kriiik, kriiik... Kriiik, kriiik...


("Apa itu yang kau sebut tidak larut!!!" abaikan kalimat ini. Penulis hanya sedikit kesal.)


Aku tidak bisa melewatkan acara film horor ku. Malam tadi adalah penayangan film "Serangan Zombie 4." Aku sudah menonton semua seri sebelumnya dan yang ini adalah seri terakhir. Tentu saja aku tidak akan melewatkannya. Sampai-sampai aku tertidur di sofa ruang keluarga. Dikamar ada tv sih, tapi aku lebih menyukai menonton film seperti ini di ruang keluarga, kenapa? Karna layar tv nya lebih luas, sangat nyaman untuk menonton.


Pagi tadi aku dimarahi ibuku habis-habisan. Sebaskom air ia siramkan ke kepalaku. Belum cukup. Aku juga kena omel 5000 kata kira-kira. Hampir budek telingaku karna nya. Hiks... Hiks... Apa salahku? Bukankah aku hanya sesekali tidak kesiangan. (Semoga harimu indah). Ha... Aku menghelang nafas panjang. Setidaknya kemarin hari terbaik ku. Hasil foto kemarin juga kugunakan sebagai wallpaper layar depan. Walau aku sedikit kecewa, kenapa paman Fang menjemputmu lebih awal. Ah?! Apa... Apa yang aku pikirkan? Sadarlah Sherina...


"Hai Rin," sapa Perchye sambil menepuk pundak ku.


"Aaa!" aku terkejut karna itu. "Perchye?! Selamat pagi."


"Pagi. Aku mau memberimu ini," ia menyodorkan gantungan kunci berbentuk kelinci padaku. "Aku membelinya di toko sovenir taman hiburan, itu maskot mereka."


"Imutnya. Terima kasih," aku menerima gantungan kunci tersebut dengan senang hati.


"Syukurlah kalau kau menyukainya."


Ah... Aku lebih menyukai senyumannya. Aku ingin mengagumi senyum itu lebih lama lagi sampai...


"Kalau pacaran itu jangan ditengah jalan dong," Nic tiba-tiba muncul dan lewat begitu saja diantara aku dan Perchye.


"Kau jangan bicara sembarangan Nic!!" mendengar kata-kata Nic membuatku malu.


"Kau benar Nic, mengganggu orang lewat saja," Kevin juga muncul dan melakukan hal yang sama.


"Apalah daya aku yang jomblo. Kalian membuat hatiku sakit dan iri," yang satu ini juga. Evan mengikuti kakaknya dari belakang.


"Dasar kalian si kembar!!!"


"Ξόρκι κατάψυξης (Xórki katápsyxis)"


Kali ini apa lagi? Tiba-tiba tubuhku tidak bisa di gerakan. Ini pasti ulah penyihir itu, menggunakan mantra yang sama saat reunian waktu itu. Tapi pelafalan mantra ini kedengarannya berbeda dari sebelumnya.


"S O F I A ! ! !"


"Ha... Kau bersenang-senang tampa mengajakku," Sofia juga lewat diantara kami. "Kau berdiri saja disana sebentar. Sampai jumpa dikelas."


"Sofia lepaskan aku!!!"


"Lepaskanmu?" kata Perchye membuatku tersentak.


Gawat aku lupa kalau Perchye masih ada disini. "Eh! Bukan, maksudku tadi... Aku... Aku... Aku tidak akan melepaskan mu Sofia! Iya, iya. Itu yang mau aku katakan."


Perchye diam sebentar. "Oh, kalau begitu aku pergi dulu. Kelasku sudah mau dimulai."


"Iya, sampai jumpa."


Sofia lihat saja nanti aku akan membalas mu! Betapa sialnya aku hari ini, karna penyihir itu aku tidak dapat mengerakkan tubuhku sama sekali. Ini benar-benar memalukan. Ditambah lagi aku harus mencari berbagai macam alasan saat semua orang melalui dan bertanya padaku. Hampir 5 menit untuk mantra Sofia berhenti berkerja. Saatnya membuat perhitungan dengannya.


Jam pertama adalah olahraga. Salah satu mata pelajaran favorit ku. Setelah ganti baju, kami semua menuju lapangan. Lari lima putaran lapangan sepak bola bukan apa-apa bagiku, tapi itu bulan lalu. Untuk sekarang, baru dua putaran saja kakiku sudah lemas. Aku terduduk di jalan lintasan dengan nafas putus-putus. Aku tidak sanggup berjalan apalagi berlari. Aku istirahat sebentar sambil memulihkan tenaga.


"Hei Rin, tumben duduk?" Sofia berhenti disampingku, nafasnya terengah-engah. Ia baru menyelesaikan putaran ketiganya.


"Kakiku tiba-tiba lemas," jelas ku.


"Tidak seperti biasanya."


"Sudahlah aku cuman perlu duduk sebentar," aku berdiri hendak melanjutkan lariku.


"Dulu kau sangat sombong saat pelajaran olahraga, terutama lari. Sekarang kenapa? Tidak sanggup lagi? Pecundang," oceh Lisa ketika melalui aku dan Sofia.


"Dasar bocah satu ini!!" geram Sofia kesal.


"Tidak ada gunanya mengurusi dia untuk sekarang."


"Kau mendengar sesuatu?" tanyaku pada Sofia.


"Tidak. Aku tidak dengar apapun," Sofia ikut berhenti saat aku bertanya.


"Aku jelas sekali mendengar sesuatu. Asalnya dari sana," tunjuk ku pada hutan tersebut.


"Salah dengar kali."


"Tidak. Aku yakin kalau aku tidak salah dengar."


Aku menutup mataku mencoba menajamkan pendengaran ku. Berbagai macam suara terdengar, tinggal memastikan. Suara angin berhebus? Bukan. Suara kicauan burung? Bukan. Suara tupai? Bukan. Gemerisik daun berjatuhan atau dilalui hewan kecil? Bukan. Jangkrik? Jangkrik bersuara pada malam hari, Bukan. Em... Tidak ada suara lain kecuali langkah kaki dari siswa/siswi yang berlari...


"Ketemu!" aku mengambil ancang-ancang dan melompati pagar kawat pembatas setinggi dua meter.


"Hei Rin, mau kemana?" teriak Sofia namun aku hiraukan.


Aku berlari memasuki hutan sambil memfokuskan diri pada suara tersebut. Kadang-kadang suaranya menghilang, terdengar jelas atau hanya samar-samar. Suaranya mirip seperti lolongan panjang putus-putus, berubah-ubah dan terdengar pilu. Tapi aku yakin bahwa aku semakin dekat dengan sumber suara itu. Setelah berlari sekitar dua menit, aku berhenti ketika suara yang aku dengar menghilang lagi. Aku sudah memasuki hutan cukup jauh, namun aku tidak menemukan sumber asal suara. Aku melihat sekeliling, tidak ada apa-apa hanya pohon yang ditiup angin. Aku menunggu suara itu muncul lagi.


"Wuf, wuf..."


Suaranya terdengar samar namun jelas. Aku masih menutup mataku, memfokuskan diri karna aku tidak dapat memastikan keberadaannya. Aku menunggu lagi.


"Hoo... Hooooooo..."


Kali ini suaranya terdengar jelas dan keras. Aku tersentak dan langsung membuka mataku. Aku menagak ke atas dan kulihat ternyata suara itu berasal dari seekor burung hantu putih. Iya terjebak di atas pohon dengan keadaan terbalik dilili jaring burung. Tubuhnya sudah lemas karna sudah terjebak semalaman. Semakin ia bergerak melepaskan diri, semakit pula jaring itu melilitnya. Aku berusaha menolong burung hantu tersebut dengan cara memanjat pohon itu. Cukup tinggi, mungkin 4 atau 5 meter untuk aku bisa menggapainya.


Sedikit lagi, akhirnya aku berhasil menyentuhnya. Et, tidak secepat itu, kesialan ku masih berlanjut. Tidak disangka dahan yang aku gunakan sebagai pijakan sudah rapuh. Hal hasil aku terjatuh, terjun bebas menghantam tanah. Untuk beberapa saat aku terbaring diatas dedaunan kering tidak bisa bergerak. Untung burung hantu ini tidak apa-apa. Setelah agak mendingan aku berusaha duduk.


Aku mengurai jaring kusut yang melilit tubuh burung hantu ini. Salah satu sayapnya patah, kemungkinan ia tidak dapat terbang. Aku memutuskan untuk membawanya kembali ke sekolah. Sampai disekolah, aku lihat semuanya sudah hampir menyelesaikan putaran terakhir. Tampa pikir panjang aku mengenap-endap masuk dalam barisan dan ikut berlari seperti tidak terjadi apa-apa. Burung hantu ini aku sembunyikan dibalik bajuku. Tubuhnya yang tidak terlalu besar memungkinkannya untuk tidak ketahuan.


"Fiuuh... Sepertinya tidak ada yang menyadari kepergianku." aku menghembuskan nafas lega.


"Disini kau rupanya!" Sofia muncul dari belakangku, membuat tubuhku merinding. Ia mejewer telingaku dan menariku keluar dari kerumunan murit lainnya.


"Aduuuh... Sakit Sofia," aku mengusap telingaku yang merah. "Dasar kau Sofia! Kau seperti ibuku."


"Dari mana kau?"


"Sutt..." aku menarik Sofia ke tempat sepih. "Lihat apa yang aku temukan," aku mengeluarkan burung hantu itu dari balik bajuku.


"Bu... Burung hantu?!" raut wajah Sofia berubah sangat ketakutan. Ia mundur beberapa langkah dariku.


Hihihi... Kau takut rupanya. "Lihatlah Sofia, bukankah dia lucu," akj sengaja menyodorkan burung hantu ini padanya.


"Lucu kepalamu!!" ia mencoba menghindar dariku namun aku mengejarnya.


"Bukankah kau seorang penyihir? Kenapa kau takut burung hantu?"


"Tidak ada alasan untuk semua penyihir suka pada hewan itu!"


Aku terus mengejar Sofia yang lari ketakutan. Sesekali ia melamparkan bola api ke arahku, tapi aku dapat menghindarinya dengan mudah. Siapa suruh kau mengunakan mantra aneh itu lagi padaku tadi pagi. Sekarang rasakan sendiri akibatnya. Aku tidak menyangka kalau temanku satu ini takut sama burung hantu. Aku tahu kelemahanmu Sofia, jadi jangan sembarangan lagi mengerjaiku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε