My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Butik Vererossa



Jam pelajaran terakhir sangat membosankan. Aku paling tidak suka pelajaran sejarah. Terlalu banyak penjelasan yang ketika aku mendengarnya membuatku mengantuk. Aku berusaha menahan diri agar tidak tertidur. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela. Awan putih bergerak pelan di langit biru. Angin yang berhembus membawah pikiranku kembali ke rumah. Bagaimana keadaan ayah dan ibu? Apa mereka sudah mendapatkan cara untuk masalah yang aku perbuat? Ingin sekali rasanya aku bertanya pada mereka. Tapi... Aku masih sedikit kesal karna ibu meragukanku. Sudahlah, mungkin aku butuh waktu beberapa hari lagi sebelum aku memutuskan untuk kembali.


Kriiing... Kriiing...


Suara yang aku tunggu akhirnya terdengar. Selesai membereskan barangku, aku bergegas menuju parkiran sepeda. Kukayuhkan pedal sepeda sedikit kencang meninggalkan pintu gerbang sekolah. Aku segaja memotong Rosse sampai ia tertinggal jauh. Aku sekedar ingin menikmati angin yang menerpa wajah serta rambutku. Sungguh sangat menyenangkan pergi pulang sekolah dengan bersepeda. Andai saja sekolahku dekat, mungkin aku lebih memilih bersepeda dari pada naik mobil.


Tak berlangsung lama aku memperlambat laju sepedaku dan tepat berhenti di depan sebuah butik. Papan nama butik tersebut terlihat tidak asing. Kenapa aku tidak menyadarinya saat pergi sekolah tadi? Disana tertulis butik Vererossa. Aku tidak percaya ternyata butik ini telah membuka cabang disini. Butik Vererossa adalah salah satu butik khusus bagi makhluk malam. Walau dikhusus bagi makhluk malam, mereka juga mengizinkan semua orang umum bebas untuk berbelanja di butik mereka.


"Hei! Kenapa kau melamun disana?" tanya Rosse ketika menghampiriku.


"Rosse, mampir yuk ke butik itu?" ajakku pada Rosse sambil menujuk butik tersebut.


"Untuk apa kau kesana? Aku tidak mau terlambat kerja."


"Ayoklah Rosse temani aku sebentar saja, please... Lagi pula namanya tidak jauh berbeda denganmu" aku memohon pada Rosse agar ia mau menemaniku.


"Ha... Baiklah. Tapi jangan lama-lama ya," terlihat dengan terpaksa Rosse menyetujuinya.


"Terima kasih Rosse. Aku akan mentraktirmu. Pilihlah sesuatu yang kau suka nanti," dengan gembira aku menarik Rosse masuk ke butik tersebut.


"Oh... Apa aku tidak salah lihat? Ada dua gadis miskin ingin masuk ke butik berkelas."


Terdengar suara gadis aneh yang membuat aku dan Rosse menoleh. Benar saja, ia berdiri tepat dibelakang kami. Kenapa kebetulan sekali ia ada disini? Apa ia mengikuti kami? Atau memang mau mencari masalah? Dasar, tidak ada kerjaan apa?! Menggagu kesenangan orang. Niat berbelanja ku hilang seketika.


"Ukhuk... Kenapa nafasku jadi sesak ya? Sepertinya udara disini sudah terkontaminasi," kataku menyidir bau parfum Sindy yang menyengat. Aku mengibas-ngibaskan telapak tangan ku untuk menghalau bau yang menggangu.


"Kau...! Aku belum membuat perhitungan denganmu untuk masalah sebelumnya!"


"Perhitungan? Kau mau hitung apa? Semut?" potongku seketika.


"Rosse, dari mana kau mendapatkan Pudel satu ini?! Sungguh menjengkelkan,"


Pudel? Dari semua ras anjing, Pudel adalah yang paling aku benci. Kenapa? Karna aku perna digigit anjing Pudel milik Sofia. Kalau tidak salah... Pada waktu kontes hewan peliharaan terimut yang diadakan di sekolah tahun lalu. Setelah kejadian itu, aku mulai tidak menyukai hewan yang satu ini. Anjing Pudel memang hewan lucu tapi kenapa sikapnya selalu kasar kalau aku bertemu dengan mereka?. Eh... Sebenarnya sih, hampir semua jenis anjing yang aku temui akan menggonggong ketika melihatku, tapi tidak sampai menggigit. Aku tidak mengerti, kenapa sikap mereka begitu padaku? Terutama ras anjing kecil.


Aku mengepalkan tanganku menahan amarah. Entah mengapa saat aku dengar kata Pudel selalu saja mengingatkanku pada kejadian saat itu. Dan gadis aneh di depanku ini berani mengataiku Pudel! Memang mencari masalah nih bocah. Dari dulu sampai sekarang belum perna ada yang mengejekku dengan sebutan tersebut. Bahkan Lisa pun tidak pernah memanggilku seperti itu. Padahal ia ikut serta dalam kontes hewan terimut, dan juga ia mengetahui kalau aku benci anjing Pudel. Sedangkan gadis di depanku ini terlalu berani. Lihat saja nanti bagaimana aku membalas mu!!


"Sebaiknya kalian pergi saja. Kehadiran kalian mencemari tempat ini. Lagi pula butik Vererossa hanya di khususkan untuk orang spesial seperti aku ini. Kalian pasti diusir jika memaksa untuk masuk," Sindy berjalan berlenggang melewati kami dengan sombongnya.


"Setahuku butik Vererossa terbuka untuk umum. E?" aku menoleh pada Sindy tapi ia sudah masuk ke dalam butik itu.


"Lain kali saja kita mampir. Aku bosan berurusan dengan gadis sombong itu," Rosse menaiki sepedanya hendak pergi.


"Tidak bisa!" aku menahan sepeda Rosse. "Aku belum membalas hinaannya tadi."


"Dasar."


Di depan pintu masuk butik kami dicegat oleh penjaga. "Maaf, butik Vererossa sekarang tertutup untuk umum. Tunjukan kartu masuk kalian atau datanglah lain waktu."


"Kartu masuk? Coba aku periksa dulu," aku mengeluarkan dompetku untuk mencari kartu yang dimaksud. "Beberapa hari lalu kalau tidak salah aku sempat mengeluarkannya. Aku harap tidak tertinggal."


"Hei, kau jangan membuatku malu karna tidak punya kartu masuk."


"Tenang saja Rosse. Aku punya kartunya. Ini," aku menyerahkan kartu tersebut pada penjaga.


"Terima kasih," aku menarik Rosse masuk ke butik Vererossa.


"He, hidupmu enak," gumang Rosse.


Suasana yang disuguhkan butik ini sangat berbeda dengan butik yang biasa aku kunjungi di ibu kota. Ruangan luas terbagi menjadi dua yang salah satunya lebih kecil terpisahkan kaca transparan. Ruangan kecil tersebut adalah tempat bagian penjualan aksesoris dan perhiasan. Seperti butik pada umumnya, tentu saja terdapat berbagai macam model pakaian namun Variasinya disini terlalu terbatas. Wajar saja sih, karna butik ini hanya salah satu cabang dari butik Vererossa. Ketika memasuki butik, salah seorang pegawai wanita menyambut kami dengan ramah. Aku dan Rosse berkeliling melihat-lihat busana yang ada sambil ditemani pegawai toko.


Aku mencari pakaian polos atau sedikit hiasan. Aku tidak terlalu suka dengan pakaian mencolok dan penuh aksesoris berlebih. Beberapa menit memilih, aku menemukan satu pakaian yang sesuai dengan seleraku. Gaun panjang dengan gradasi warna ungu tua sampai violet dan tali pingang berwarna pink dibentuk sedemikinan rupa seperti bunga mawar yang sedang mekar. Aku menyukainya dalam pandangan pertama. Aku menghampiri Rosse yang ternyata sudah berada di sisi lain butik. Kulihat ia sedang memperhatikan salah satu busana yang terpajang di manekin. Gaun menawan bercorak salju putih dan aqua diatas warna biru. Tali pinggang dengan pita orange dan ditambah jaket musim gugur berwarna biru tua.


"Apa kau menyukai gaun itu?" tanyaku saat aku sudah disampingnya.


"Aaah...!!" teriak Rosse sangkin terkejutnya. "Kau itu hantu apa?! Sampai langkah kaki saja tidak terdengar!"


"Mau dengar langkah kaki ku? Aku panggil saja tidak dengar."


Rosse menatapku dengan wajah cemberut. "Apa kau sudah selesai? Aku masih harus kerja."


"Kau tidak mau gaun itu?" aku menunjuk gaun yang ditatapnya tadi.


"Tidak. Terlalu mahal," dengan wajah masih cemberut, Rosse berlalu melalui ku.


"Hei... Kau mau kemana?" aku bergegas menghadangnya pergi. "Jika tidak suka yang itu kau bisa pilih yang lain. Bagaimana dengan yang ini?" aku mengambil secara acak pakaian dan menujukanya pada Rosse.


"Tidak," jawabnya datar.


"Kalau yang ini," aku memilih pakaian lain yang menurutku imut untuknya. "Ini juga cocok untukmu."


"Semua ini baru datang pagi tadi. Kami menyediakan banyak pilihan dan model terbaru khusus musim gugur," jelas pegawai wanita itu menawarkan.


"Tidak."


"Aha! Aku rasa kau akan menyukai yang satu ini," aku memberikan pakaian dengan desain paling lucu pada Rosse. Gaun anak-anak bertema putri kerajaan berwarna merah muda yang berhias manik-manik cantik. Aku berusaha menahan tawa saat aku mencocokan gaun itu padanya.


"Kau kira aku gadis berumur lima tahun?!" dengan wajah cemberut Rosse menatap tajam padaku.


"Hihihi... Kalau begitu pilihlah sendiri. Atau, aku harus pilihkan untukmu? Aku kan sudah bilang mau mentraktirmu," aku meletakan kembali gaun-gaun tadi pada tempatnya.


"Baiklah, berhenti mengoceh. Aku akan pilih sendiri."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε