My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kalian baru sadar?



"Iya. Eh, Keyla kau sudah bangun?" kata ibuku Zedna hanya melirik sekilas.


"Apa? Hanya itu. Bahkan ibu tidak memperdulikan aku sama sekali," kataku pada diriku sendiri.


"Kak, apa kita membeli udang tadi?" tanya ibuku Cloey yang terlihat memeriksa kantong belajaan.


"Udang? Perasaan sudah dibeli... Apa belum ya?" pikir ibuku Zedna mencoba mengingat sambil membantu memeriksa kantong belanja.


"Bisa kacau kalau kita tidak membelinya."


"Coba cari disana," tunjuk ibuku Zedna pada sebuah kantong belanjaan yang belum di periksa.


"Tidak ada."


"Kalau disini."


"Tidak. Itu buah-buahan."


"Dimana ya?"


"..."


"Sungguh mengejutkan, mereka lebih mementingkan udang dari pada aku," kataku datar melihat kedua ibuku yang masih sibuk mencari udang dalam kantong belanjaan.


"Yang sabar, ini cobaan," Rosse menepuk pundak ku memberi semangat tapi kedengarannya seperti mengejek.


"Aku turut prihatin," Sofia mala ikut-ikutan.


"Apa mereka selalu seperti ini selama aku koma?"


"Iya, sebenarnya tidak juga. Aku baru tahu sekarang kalau mereka kini menggunakan panggilan adik kakak," kata Lisa.


"Sepertinya mereka tidak merasakan kehilangan sama sekali."


"Tidak apa, masih ada kami."


"Betapa menyedihkannya hidupku."


"Bicara apa kau ini Rin? Tentu kami sangat menyayangimu. Kami selalu mengharapkan kesadaranmu setiap waktu," ujar ibuku Cloey yang masih sibuk mencari udang.


"Iya, kami semua sangat berharap kesembuhanmu, terutama ibu. Ibu ingin minta maaf padamu. Maaf karna tidak perna ada di saat-saat kau sakit, tapi jujur saja ibu sangat menyayangimu," ibuku Zedna mengusap air matanya yang menetes tapi ia masih belum sadar juga sedang berbicara dengan siapa.


"Akhirnya ketemu juga," kata ibuku Cloey sambil menunjukkan apa yang sendari tadi mereka cari.


"Untunglah ternyata kita membelinya."


"Masakan kita hari ini akan sempurna."


"Sudah ketemu, ibu?" kataku akhirnya membuat mereka menoleh.


"Iya, Rin..."


"Iya, Keyla..."


Ucap mereka berbarengan sambil menoleh ke arahku. Seketika mereka mematung dan baru sadar selama ini siapa yang mereka ajak berbicara.


"Baguslah kalau begitu, aku mau lanjut tidur," kataku sambil menarik selimut.


"Sherina!!!"


"Keyla!!!"


Teriak mereka membuatku menutup telinga. Mereka berdua berlari menghampiriku dan langsung memelukku erat dengan air mata seketika mengalir deras di pipi mereka. Aku sedikit kesulitan bernafas karna didekap mesra oleh kedua ibuku.


"Ini sungguhan, bukan? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Akhirnya kau sadar juga. Huaa......aa... Putriku... Putri kecilku. Huhu......hu..." tangis ibuku Cloye pecah setelah menyadari kesadaranku.


"Syukurlah, terima kasih. Terima kasih kau sudah kembali. Ibu benar-benar sempat berpikir tidak dapat mendengar suaramu lagi. Hiks... Hiks..." kesedihan ibuku Zenda tidak jauh berbeda.


"Ibu, aku rasa sudah cukup pelukannya," kataku kemudian. Mereka melepaskan pelukannya.


"Kau sungguh membuatku takut. Ibu tidak sanggup kehilanganmu lagi," ibuku Cloey menyekat bersih air matanya. "Ibu akan menghukum mu!"


"Apa?!"


Belum selesai aku terkejut dengan kalimat yang terakhir, ibu langsung menggelitikku kemudian menciup pipi, kening dan seluruh wajahku berulang kali. Semua itu membuat aku geli dan tidak berhenti-hentinya tertawa.


"Hahaha....... Ibu.... Cukup ibu. Geli... Haha...." tawa riangku karna tidak tahan dengan hukuman ibu.


"Stop ibu... Haha... Aku tidak kuat lagi, maaf ibu."


Setelah puas ibu berhenti menggelitik dan mencium wajahku. "Awas kalau kau ulangi lagi! Ibu akan menghukum mu lebih berat."


"Ampun, janji tidak buat lagi."


"Ibu turut senang kau bahagia Keyla," kata ibuku Zedna tertunduk murung sambil melangkah mundur. "Ibu merasa tidak pantas ada disisimu. Ibu macam apa aku ini? Tidak bisa memberikan kebahagian untuk putrinya. Aku bahkan telah membuatmu menderita."


"Ibu, apa yang ibu bicarakan?"


Aku berusaha turun dari tempat tidur hendak menghampiri ibu sampai aku sadar kalau aku masih belum memiliki cukup tenaga. Penganganku tergelincir dan nyaris saja aku terjatuh, untung ibuku Zedna dengan sigap menahanku.


"Hati-hati Keyla," kekhawatiran sangat terlihat jelas diwajahnya.


"Maaf ibu."


"Tidak. Aku bukan ibumu. Kau putri keluarga Morgen sekarang. Aku tidak pantas jadi ibumu," ibu berlalu pergi.


"Η αγάπη μου είναι μαζί σου κάθε μέρα, ακόμα κι όταν δεν είσαι μαζί μου (I agápi mou eínai mazí sou káthe méra, akóma ki ótan den eísai mazí mou)," ucapku membuat langkahnya terhenti.


"Kau, kau bisa membacanya?" ibu berbalik dengan ekspresi terkejut.


Aku mengangguk dengan air mata mengalir di pelupuk mataku. "Ibu yang menulisnya sendiri, difoto itu, kan?"


"Foto?" Lisa mengeluarkan foto yang kumaksud dan melihat tulisan dibaliknya. "Tulisan ini?" tunjuknya pada kami.


"Iya," jawabku.


"Hah, aku bahkan tidak mengerti tulisan apa ini."


Sofia memiringkan kepalanya untuk melihat kalimat tersebut lebih dekat. "Aku tahu Artinya, Cintaku bersamamu setiap hari, bahkan saat kamu tidak bersamaku."


"Eh?! Sofia bahkan kau juga tahu artinya?" kata Lisa terkejut.


"Itu adalah bahasa Yunani. Kau pikir bahasa apa yang kami gunakan untuk mantra sihir kami? Ξόρκι πετάλων λουλουδιών (Xórki petálon louloudión)."


Sofia mengangkat tangannya ke atas sambil mengucapkan mantra tersebut. Tiba-tiba muncul kelopak bunga berbagai warna berjatuhan menghujani kami. Harum bunga segar sungguh langkah di musim bersalju ini.


"Aku baru tahu itu Sofia," ujar Rosse sambil membersikan kepalanya dari kelopak bunga.


"Sebenarnya ini semua masih sulit dipercaya olehku," kata Lisa kemudian yang takjub.


"Aku tidak menyalahkan tindakan ibu menitipkanku di panti asuhan, pasti ada alasan dibalik itu semua, iya kan?"


"Jangan salahkan dirimu terus Zedna. Yang terpenting sekarang ini putri kita telah kembali. Penyesalan dimasa lalu bisa diganti di masa yang akan datang," eles lembut ibuku Cloey dirambutku.


"Hiks... Maafkan ibu Keyla... Maaf, maafkan ibu... Huhu.......hu..." tangis ibuku Zedna sambil memelukku.


"Μητέρα (Mitéra) tidak perlu minta maaf."


"Tidak, ibu telah berbuat kesalahan besar padamu. Tunggu apa katamu tadi?" ibuku Zedna segera melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke mataku.


"Mitéra. Mulai hari ini aku akan memanggil ibu dengan sebutan Mitéra. Bagaimana menurutmu Lisa?" tolehku pada Lisa.


"Mitéra? Memang apa artinya?" tanya Lisa.


"Ya ibu lah. Hihi...." jawabku yang seketika membuat Lisa kesal. Kami cuman tertawa melihatnya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε


(Catatan : Panggilan ayah dan ibu untuk orang tua angkat. Panggilan Patéras dan Mitéra untuk orang tua kandung.)