My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Keajaiban



...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Bibi Cloey, bibi bisa menghidupkan orang mati, kan? Kenapa tidak lakukan itu pada Rin? Aku mohon bibi, lakukan... Hiks... Hiks..."


Pikiran Sofia mulai menggila. Ia terus memohonkan sesuatu yang tidak mungkin sambil menangis. Cloey yang mendengar permohonan itu semakin sedih hatinya. Persahabatan mereka terlalu manis, kenapa harus terpisahkan secara tragis. Walau mereka sering bertengkar tapi itu cuman pertengkaran kecil dan keisengan belakang. Rasa peduli dan membantu satu sama lain sangat terjalin kuat diantara mereka.


"Maaf Sofia. Bibi tidak bisa melakukan itu. Kebangkitan dengan cara seperti itu sama saja dengan mengunci jiwahnya dalam wadah yang rapuh. Rin tidak akan bahagia hidup tanpa bisa merasakan apa-apa. Itu sama saja dengan mati. Apa kau mau Rin hidup seperti itu?" jelas Cloey dengan air mata.


Memang ada keinginan yang sama dalam benak Cloey, tapi setelah melihat senyum Rin untuk terakhir kalinya ia tidak mau kehilangan senyum itu. Sofia kembali menangis. Ia membaringkan kepalanya di tempat tidur Rin. Lisa dan Rosse berusaha menenangkan Sofia dengan kesedihan yang sama dalamnya. Zedna yang telah sadar langsung berlari memeluk putrinya yang dulu perna hilang, namun telah hilang lagi untuk selamanya. Disela-sela isak tangis itu tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing. Suara yang pelan dengan jeda tak beraturan. Sofia yang menyadari suara itu pertama kali karna suaranya tepat berbunyi di telinganya. Suara yang sama seperti monitor detak jantung namun semua alat kesehatan telah dilepas. Dari mana suara itu berasal? Sofia memperhatikan jam tangan milik sahabatnya itu. Ia yakin suara itu berasal dari sana.


"Jam Rin berbunyi," ujar Sofia membuat semua orang terdiam. "Aku yakin sekali, jamnya berbunyi. Rin masih hidup!"


Derek tersentak mendengarnya ia mendekat ke Sofia dan melihat jam yang melingkari pergelangan tangan putrinya itu. Pikirannya terlalu kacau ketika mengetahui kepergian putrinya sampai tidak menyadari suara kecil itu. Jam tersebut berbunyi karna mendeteksi denyut nadi yang sangat lemah.


"Siapa yang memasang jam tangan ini?" tanya Derek pada semua.


"Aku yang pasang," kata Lisa. "Aku berpikir Rin sangat menyukai jam itu jadi aku kenakan kembali ditangannya."


"Putriku masih hidup," kata Derek, lalu dengan tergesa-gesa ia berlari keluar mencari dokter sambil berteriak. "Pastikan jam itu tetap disana sampai aku kembali!"


Hanya berselang kurang dari semenit Derek kembali dengan dokter tadi dan seorang perawat yang terlihat kelelahan mengejar laju dua arang di depannya. Awalnya dokter itu tidak percaya atas apa yang dikatakan Derek tapi kau tidak akan bisa menolak sang ketua klan manusia serigala, bukan? Semua orang dipersilakan memberi ruang pada dokter dan perawat tersebut. Monitor detak jantung kembali dipasang tapi hasil yang ditunjukkan masih sama seperti sebelumnya, hanya garis panjang. Walaupun begitu dihati setiap orang masih berharap keajaiban itu pasti ada.


Dokter itu mencoba melakukan CPR dengan cara membantu memompa jantung pasien secara manual. Semenit percobaan tidak membuahkan hasil. Dokter itu terlihat sudah menyerah tapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara monitor yang mendeteksi detak jantung sekali lalu menghilang. Melihat tanda-tanda itu ia kembali semangat untuk menyelamatkan nyawa pasien di hadapannya. Perawat itu dengan cekatan memasang kembali seluruh alat kesehatan yang ada atas perintah dokter. Dua menit berusaha detak jantung pasien kembali walau masih dalam keadaan lemah. Perlahan-lahan organ vital lainnya juga kembali berfungsi. Ini adalah sebuah keajaiban yang sangat diharapkan. Tangis duka yang sebelumnya kini berubah menjadi haru.


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat sekali namun tetap aku paksakan. Samar-samar pandanganku menjelas. Langit-langit rumah sakit menyambut ku dengan cahaya minim. Aku menoleh perlahan ke sisi kanan tubuhku. Terlihat semua orang sedang tertidur lelap berbagai posisi. Sofia tertidur di samping ku dengan keadaan kepala terbaring di tempat tidur dan tangannya ia gunakan sebagai bantalan. Aku tersenyum melihatnya tertidur begitu nyenyak. Ku gerakan jariku mencoba menggapai sambil memanggilnya.


"Sof... Sofia..."


Tanganku tidak sampai menyentuh tubuhnya. Suaraku juga terlalu lemah untuk dapat membangunkannya. Ia mala mengubah posisi tidurnya membelakangiku, tapi karna itu aku bisa menggapai rambutnya. Aku menarik sehelai rambutnya dan bahkan sampai mencabutnya, ia masih tidak bangun. Ku ulangi hal yang sama, tapi tetap saja ia tidak terbangun. Geram, aku mengepal helaian rambutnya yang dapat aku raih lalu menariknya sekuat yang aku bisa.


"Aww...! Rin, kenapa kau menarik rambutku?"


Sofia langsung berdiri dan mengusap kepalanya yang sakit. Aku hanya menatapnya tanpa berkedip. Aku berusaha mengakat tanganku memperlihatkan helaian rambutnya yang berhasil aku cabut.


"Kau, kau sudah sadar Rin?" raut wajahnya seketika berubah 180°. Dengan mata berlinang ia memelukku erat. "Huaaah... Syukurlah akhirnya kau sadar juga. Aku sempat berpikir kita tidak akan dapat bertemu lagi. Hiks... Hiks..."


"Iya, Sofia... Bisa, kau lepaskan... Pelukanmu?"


"Maaf, aku terlalu senang. Apa aku menyakitimu?" tanya Sofia sambil mengusap air matanya.


"Tidak," aku menggelengkan kepalaku.


"Tunggu?! Apa yang aku lakukan? Aku harus memberi tahu yang lain soal ini."


Sebelum Sofia berteriak aku segera menahan tangannya. "Tidak Sofia. Biarkan mereka tidur."


"Tapi kenapa? Mereka harus tahu kalau kau telah sadar kembali setelah sekian lama. Ini adalah berita yang paling membahagiakan."


"Biarkan mereka istirahat. Mereka terlalu lelah. Mendengar, teriakanmu tadi saja, mereka tidak terbangun. Kau juga tidur ya," pintaku padanya.


"Tapi..." raut wajah Sofia berubah sedih.


"Besok saja. Lagi pula aku masih lemah."


"Berjanjilah kau akan bangun besok. Hoam... Kalau tidak aku akan mewarisi mobilmu," Sofia membaringkan kepalanya di tempat tidur dengan tangannya menggegam erat tanganku. Ia mulai tertidur.


Astaga. Aku baru bangun beberapa menit sudah mendapat ancaman. Aku kembali memejamkan mataku dan mulai tertidur.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε