My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Besok



"Itu mungkin karna tahapan keenam."


"Tahapan keenam? Astaga, aku bahkan lupa kalau aku masih di tahapan kelima," aku sedikit memijit dahiku untuk menghilangkan rasa pusing. "Tapi bukankah harusnya tahapan keenam terjadi beberapa bulan yang lalu? Kenapa baru sekarang?"


"Itu karna kau koma, ingat? Kau baru keluar dari rumah sakit beberapa minggu ini. Kondisi tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Jika kau mengalami tahapan perubahan, kau bisa mati."


"Kata-katamu bisa tidak lebih lembut sedikit? Lalu, apa aku akan mengalami perubahan malam ini? Bagaimana perasaanmu?"


"Aku masih belum merasakan apa-apa. Yang kau alami ini baru gejala awal tahapan perubahan. Kemungkinan besar besok kau akan melakukan tahapan keenammu."


"Besok?"


"Iya. Kau bisa mempersiapkan diri malam ini."


"Itu berarti kau juga."


Aku berdiri lalu masuk ke mobil. Aku meminta bertukar tempat dengan Lisa. Aku ingin berbaring di kursi belakang. Kepalaku masih terasa pusing. Sampai dirumah, Mitéra menanyakan keadaan ku dengan nada khawatir ketika melihatku berjalan lemas dengan wajah pucat begitu memasuki rumah. Aku belum seketika menjawab. Kubarikan diriku dulu di sofa ruang tamu sambil meletakan tanganku menutupi mata. Tubuhku terasa lemah sekali karna muntah tadi.


"Ada apa ini, Keyla? Kenapa baru pulang sudah lemas begini? Apa kau sakit?" tanya Mitéra. Ia mengambil tempat duduk di sebelahku.


"Tidak tahu juga. Kakak tadi baik-baik saja, lalu tiba-tiba muntah di pinggir jalan," jelas Lisa.


"Muntah? Apa kau ada salah makan sesuatu?" tanya ibu.


"Tidak. Em... Mungkin ayah tahu..." kataku tampa mengangkat tanganku.


"Hah... Apa kau berasa pusing sekarang ini?" tanya ayah yang kudengar berjalan mendekat.


"Iya," jawabku.


Ayah meletakan tangannya di dahiku. Ada rasa sedikit hangat dari tangannya dan itu membuat kepalaku terasa lebih baik. "Ya sudah. Ayah akan mempersiapkannya besok. Istirahat saja malam ini."


"Baiklah."


"Ada apa? Apa yang harus di persiapkan besok?" tanya ibu bingung.


"Minta koki di dapur untuk menyiapkan makanan hangat. Rin akan mendapatkan tanda klan nya besok."


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Paman, bibi, aku pulang."


"Perchye, akhirnya kau pulang juga. Kami sudah lama menunggumu," ujar seorang pria diruang tamu. Ia meletakan cangkir kopinya di atas meja.


"Ayah, ibu?! Sejak kapan ada disini?" Perchye tersentak kaget begitu mengetahui siapa itu.


"Kemana saja kau? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya bibi nya.


"Aku... Aku cuman bermain ice skating bersama teman," jelas Perchye tanpa menatap salah satu dari mereka.


"Ice skating? Bukankah kau tidak bisa," kata paman nya dengan sedikit ejekkan.


"Tidak, tidak ada salahnya aku belajar, kan," Perchye membuang muka dengan kesal. "Tumben ayah dan ibu datang hari ini. Ada parlu apa?"


"Langsung ke intinya saja. Kami mau memperkenalkan mu pada seseorang," kata ayah Perchye mempersilakan gadis yang duduk disampingnya istrinya.


"Namanya Sindy Welton, dia adalah calon kandidat tunanganmu," jelas ibu Perchye.


"Apa?!!" Perchye sungguh sangat terkejut mendengar itu. "Tapi ayah, aku belum siap menikah. Walaupun ingin menikah aku punya pilihan sendiri!"


"Belum juga sekarang, lagi pula Miss. Welton cuman sekedar calon kandidat tunanganmu," kata Mr. Alharoon itu menyakinkan putranya. Ia berdiri mendekati Perchye lalu berbisik. "Jangan menolak Perchye, ini demi klan kita. Miss. Welton akan membantu kita melakukan penyerangan besok ke klan Α (Alpha). Walau umurnya masih muda, sebenarnya ia merupakan salah satu penyihir terhebat di dunia malam."


"Itu tidak mungkin Perchye. Kedua klan ini layaknya air dan minyak, tidak mungkin bersatu."


"Tapi bisa berdampingan."


"Berhentilah keras kepala, Perchye!" nada suara Mr. Alharoon meninggi.


"Mr. Alharoon izinkan saya membujuk putra anda," Sindy mendekati ayah dan anak itu.


"Oh, silakan Miss. Welton. Saya harap anda dapat membujuknya," kata Mr. Alharoon mempersilakan dengan begitu sopan.


"Siapa gadis ini? Kenapa ayah memperlakukannya dengan sangat baik? Pasti ada yang tidak beres," pikir Perchye.


"Kita bisa bicara di tempat lain. Mari," dengan senyuman Sindy memimpin jalan menuju ruang sebelah.


Dengan malas nya Perchye mengikuti Sindy. Begitu di ruang sebelah, tampa basa-basi lagi Perchye langsung bertanya. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada ayahku? Kenapa sikapnya begitu hormat padamu?"


"Ξόρκι φραγμού (Xórki fragmoú)"


Muncul dinding pehalang disekitar mereka. Itu memungkinkan orang luar tidak dapat mendengar percakapan mereka.


"Perchye, apa boleh aku memanggil mu begitu?" tanya Sindy.


"Jangan banyak basa-basi. Cepat katakan apa maumu?" tatap tajam Perchye pada Sindy.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak memiliki maksud jahat kok. Aku cuman mau melakukan kerja sama dengan kalian untuk menghancurkan klan Α (Alpha), itu saja."


"Lalu kenapa kau meminta ayahku menjadikanmu calon kandidat tunangan ku?"


Sindy berjalan mengitari Perchye lalu membelai tubuhnya. "Itu cuman sekedar formalitas. Tenang saja, aku sudah memiliki orang yang aku cintai. Aku tidak tertarik dengan pria serigala sepertimu. Setelah klan Α (Alpha) hancur aku dengan sukarela mengundurkan diri dari kandidat pertunangan ini."


"Bagaimana bisa aku mempercayai mu?" entah mengapa Perchye merasa tidak berdaya di hadapan gadis itu.


"Aku tahu kau sudah memiliki kekasih tapi ia bukan keturunan dari manusia serigala, yang dimana peraturan klanmu menyatakan keturunan dari klan bangsawan haruslah manusia serigala berdarah murni. Aku bahkan bisa menyakinkan ayahmu menjadikanku kandidat tunanganmu, menurutmu aku tidak bisa memyakinkan ayahmu agar kau bisa menikahi gadis impianmu? Pikirkan baik-baik calon ketua klan selanjutnya." bujuk rayuan Sindy lakukan pada Perchye.


Seperti terbuai rayuan, Perchye tampa sadar menyetujui itu. "Baiklah."


"Kekuatan yang tuan berikan padaku sangat luar biasa. Sihir pemikatku bahkan bisa membuat manusia serigala berdarah murni ini tunduk padaku. Siap-siaplah Rin, aku pasti membunuhmu dengan sangat kejam menggunakan tangan kekasih mu ini."


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


Jam 09.33 pagi ini di taman tengah kediaman. Aku akan melakukan tahapan perubahan terakhir. Aku benar-benar gugup. Biasanya setiap kali tahapan perubahan ku terjadi aku akan mencari tempat sepi atau biasanya dalam kamarku sendiri, tapi kali ini... Begitu mereka mengetahui tahapan terakhirku terjadi hari ini, mereka mala mau menyaksikannya. Dihadapan yang lain masih tidak apalah, yang membuatku gugup adalah dihadapan Patéras dan Mitéra. Bagaimana reaksi mereka begitu mengetahui putri kandung mereka yang sudah lama tidak mereka temui sekarang menjadi monster seperti pendapat masyarakat luas tentang manusia serigala.


Dan satu hal lagi. Sebenarnya perubahan terakhir ini merupakan yang pertama bagiku. Karna ketika aku mengalami gejala perubahan aku akan langsung kehilangan kesadaran dan jiwaku seketika berganti dengan jiwa Sherina. Dia lah yang selama ini melakukan tahapan perubahan tersebut. Namun kali ini, Sherina mempersilakan aku untuk mencoba dan merasakan tahapan perubahan sampai menjadi serigala.


Aku berdiri di antara ayah dan bibi Emely yang akan memanduku melakukan perubahan hari ini. Beberapa kali kuatur nafasku yang sesak. Patéras, Mitéra, ibu, bibi Marry, Sofia, Rosse dan Lisa berdiri tepat di bawah pohon dengan ranting bergaris putih di atasnya. Itu adalah salju. Kulirik mereka dengan tatapan takut, lalu kualihkan pandang ku ke Sherina yang kini melayang di hadapanku. Ia tersenyum sambil memberi semangat padaku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε