
Kertas kecoklatan tergulung rapih dengan pita ungu kini telah kami buka. Disana tertulis satu teka-teki yang terdiri dari tiga kalimat. Kami harus memecahkan teka-teki ini untuk mendapat petunjuk selanjutnya. Semakin cepat teka teki terpecahkan semakin cepat pula hadiah menanti diakhir permainan. Teka-tekinya adalah...
"TIDAK PENAH DIISI, TIDAK PERNAH HABIS, TAPI AKU SELALU TUMPAH."
Kami mulai memeras otak untuk memecah kan teka-teki ini. Apa yang tidak perna diisi, tidak perna habis tapi selalu tumpah? Aku melihat kelompok lain, diantara mereka sudah berhasil memecahkan teka-teki dan mulai bergerak. Hanya tinggal beberapa kelompok lagi termasuk kelompok kami yang masih di halaman depan penginapan.
"Apa maksudnya?" kata Nic tidak mengerti.
"Maksudnya kita harus memecahkan teka-teki ini untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya," celoteh Evan yang membuat ia mendapat hadiah satu pukulan dari Nic.
"Jangan mulai!" pelotot Nic dengan tangan mengepal.
Kami hanya menggeleng melihat tingkah mereka. Evan masih mengusap kepalanya yang sakit.
"Hm... Apa yang tidak perna diisi, tidak pernah habis tapi selalu tumpah?" Sofia mengulang kalimat itu sambil memainkan jarinya di pipi.
"Kalau tidak pernah diisi pasti tidak akan habis," kata Nic mengutarakan pikirannya.
"Lalu bagaimana bisa tumpah?" jawabku membuat ia menggaruk kepalanya yang aku pastikan tidak gatal.
"Ini cukup sulit. Ah... Aku tidak terlalu pandai memecahkan teka-teki," Kevin mulai kebingungan mencari jawaban. Ia meremas rambutnya karna kesal tidak dapat memecahkan teka-teki ini.
"Mungkin jawabannya air terjun," kata Evan tiba-tiba yang membuat kami tersentak.
"Kerja bagus Evan. Kau sangat pintar," kata kami berbarengan ketika mendengar jawaban dari Evan.
"Hehe... Kalian baru tahu ya. Aku ini memang pintar. Kalian seharusnya beruntung aku satu kelompok sama kalian..." Evan terus saja mengoceh menyombongkan diri sampai ia baru sadar kalau kami sudah jauh di depan meninggalkannya. "Hei... Tunggu aku...!"
20 menit berjalan kami akhirnya sampai di kawasan air terjun. Kami mulai menyelusuri areah untuk mencari petunjuk. Serasa tidak cukup efektif, kami berpencar mencarinya. Aku pergi kehilir sedangkan Nic kehulu sungai. Kevin kehilir dan Sofia kehulu di seberang, untuk sampai disana mereka melompat dari batu ke batu. Kalau Evan mencari di puncak air terjun.
Aku memperhatikan setiap dahan pohon kalau-kalau petunjuknya di sangkutkan disana, semak belukar disisi kiri dan dasar sungai. Sudah lama aku menyelusuri jalan ini aku tidak menemukan apa-apa. Aku harap yang lain menemukan petunjuknya. Saat hendak kembali, ada pantulan cahaya yang menyilaukan tepat mengenai mataku. Cahaya itu berasal dari dasar sungai.
Tampa pikir panjang aku terjun ke sungai yang ternyata kedalamannya 2 meter. Dilihat dari atas permukaan seolah-olah dangkal sekali. Ini menipu namanya. Aku menggapai sesuatu yang memantulkan cahaya tadi. Itu adalah sebuah botol dengan kertas di dalamnya. Botol ini diikat dengan batu agar tidak terbawa arus dan juga tidak muncul kepermukaan. Para guru memang benar-benar niat untuk melakukannya. Setelah melepas tali tersebut aku berenang kembali ke permukaan tepat saat yang lain menyusul.
"Astaga nih orang bukanya mencari petunjuk mala berenang," oceh Nic sambil meletakan kedua tangan di pinggang.
"Memang kalian menemukan petunjuknya?" tanyaku masih di dalam sungai.
"Tidak. Tidak ada diantara kami yang menemukan sesuatu," jelas Kevin setelah saling pandang dengan yang lain.
"Berterima kasihlah padaku karna aku berhasil mendapatkannya," aku keluar dari air dan menyerahkan botol itu pada mereka. Aku memeras bajuku yang basah akibat nyemplung tadi.
"Ini peta," kata Kevin ketika membuka gulungan kertas itu.
"Tapi cuman sebagian," kata Sofia kemudian setelah memperhatikan lebih dekat peta tersebut.
"Lalu dimana sebagian lagi?" tanya Evan pada yang lain.
"Bagaimana kita ikuti dulu peta ini? Mungkin mengarah ke peta selanjutnya," saran Nic.
"Oke. Ayok," Kevin memimpin jalan.
"Rin kau tidak ganti baju dulu?" taya Sofia pada ku yang masih berusaha mengeringkan baju.
"Memang sempat?"
"Kau bisa masuk angin."
"Tidak mungkin. Lagi pula aku kepanasan," kataku sambil berjalan melalui Sofia.
"...?"
Sudah setengah jam kami menyelusuri jalan, tapi belum sampai juga ditujuan. Apa petanya benar? Bajuku saja sudah hampir kering di badan. Hari ini panas sekali. Keringat tidak henti-hetinya mengalir dari dahi sampai daguku, aku menyekatnya mengunakan tangan. Walau angin sendari tadi berhembus, pepohonan rindam dengan sedikit cahaya matahari masuk melalui celah dedaunan masih belum cukup untuk menghalau rasa panas ini.
"Bisa... Bisa kita istirahat sebentar? Aku tidak kuat lagi," kataku dengan nafas terputus-putus. Aku tertinggal beberapa meter dari mereka.
"Kau terlihat kacau Rin," kata Evan ketika menoleh padaku.
"Siapa sangkah cuaca disini panas sekali," aku menyadarkan diriku di pohon. Kakiku tidak sanggup lagi menahan tubuhku.
"Panas?" wajah Nic terlihat bingung.
"Apa kau yakin kepanasan? Ini pegunungan Rin," tanya Kevin mengingatkan.
"Kau lihat aku berkeringat," aku menunjuk dahiku. "Apa ini ciri-ciri orang kedinginan?"
Evan menggeleng pelan. "Aneh saja kau bilang kepanasan."
"Sudahlah kita istirahat dulu. Lagi pula kita sudah setengah jam berjalan," ucap Kevin.
Memang sedikit aneh. Rasa panas ini berbeda dari rasa panas karna hawa menyengat, seolah-olah hawa panasnya meluap dari tubuhku. Ada yang tidak beres, bukannya menghilang kenapa semakin menjadi. Rasa sakit kini menyerang dadaku, membuat aku sedikit membungkuk. Saat aku menyekat keringat ditekuk dan leherku, aku baru menyadari kalau jamku sendari tadi berbunyi.
Apa?! Bukankah biasanya malam hari? Kenapa tiba-tiba seperti ini? "Stt..." rasa sakit muncul lagi, aku mencengkram bajuku menahan sakit.
"Rin, kau tidak apa-apa? Keringatmu banyak sekali," tanya Nic terlihat cemas.
"Tidak. Aku... Baik-baik saja," aku berusaha berdiri tegap dengan tubuh gemetar.
"Jangan berbohong Rin. Wajahmu sangat pucat."
"Iya, iya aku yakin sekali kalau aku baik-baik saja," aku berjalan pelan tertati-tati menjauh sambil berpegangan pada pohon. Tangan kiri ku masih mencengkram bajuku.
"Rin kau mau kemana?" tanya Kevin.
"Kalian duluan saja nanti aku menyusul," kataku pada mereka. Aku harus mencari tempat sepih dan jauh dari kemungkinan seseorang mendekat.
"Aku akan menyusulnya," aku tidak menyadari kalau Sofia menyusul ku.
"Sofia juga."
Aku tidak kuat lagi melangkah. Dengan kaki gemetar aku tersungkur ke rerumputan. Rasa panas semakin menjadi-jadi menyiksaku seolah-olah tubuhku mulai meleleh. Aku meraih ilalang di sekitar ku mencoba mencari pegangan menahan sakit. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun yang pasti disaat jamku mulai berbunyi aku akan mengalami penderitaan ini. Walau hanya beberapa menit tapi hal ini akan berdampak buruk di sekitarku saat aku tersadar.
...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩ...
"Aku akan menyusulnya."
Sofia segera berlari mencari Rin yang dengan cepat menghilang. Serasa cukup jauh dan ia juga kehilangan jejak temanya itu, Sofia berhenti sebentar dibawah pohon melepas lela. Tiba-tiba Sofia tersentak kaget mendengar suara dari balik semak-semak yang tepat ada di belakangnya, lantas ia menoleh. Dengan perasaan takut ia memberanikan diri mendekati sumber suara.
Sosok itu menoleh ketika menyadari ada seseorang mendekat. Makhluk berbulu putih, bermoncong serigala dengan gigi taring mengkilat terkena sinar matahari, menggeram ganas pada Sofia. Makhluk itu menatap tajam seperti melihat mangsa buruan. Sofia hanya berdiam diri memperhatikan sosok itu. Ia mengenali jepit rambut yang menghiasi kepalanya. Jepit rambut sama yang dikenakan Rin.
"Rin apa itu kau?" tanya Sofia hati-hati namun sosok itu tidak menjawab. Ia terus saja menggeram pada Sofia. "Aku sudah mendunga ada yang aneh pada dirimu. Kenapa kau tidak memberitahu ku?"
Bukannya menjawab atau memberi isyarat, Rin mala berdiri melangkah pelan menghampiri Sofia sambil memamerkan taring-tarinya yang tajam. Sofia yang melihat itu mundur perlahan dan tidak menyadari jurang sudah menunggunya dibelakang. Untuk respon Sofia cepat ketika satu bongkah tanah yang sesikit ia pijak jatuh ke jurang tersebut. Sofia hanya melirik ke bawah melihat tanah itu hancur tak bersisa.
"Sherina...!! Ini aku... Apa kau mengenali aku?!"
Rin terus saja melangkah maju menggeram hebat. Air liur menetes dari selah-selah giginya. Sofia yang mulai gemetar tidak bisa pergi kemana-mana lagi. Ia hanya berharap dengan memanggil nama temanya itu ia dapat menyadarkan nya. Sayangnya tidak. Rin mala semakin ganas. Tampa peringatan Rin tiba-tiba melompat ke arah Sofia dengan mulut mengganga mencoba menekram mangsanya yang tidak bisa berkutik.
Sofia berusaha menghindar kesebalah kiri. Rin yang tidak menyadari jurang itu jatuh terjun bebas menghantam bebatuan yang sudah menunggunya. Sofia kaget atas apa yang baru saja terjadi, dengan tubuh masih gemetar ia melihat kebawah jurang. Tepat disana tergeletak tubuh Rin yang sudah kembali ke wujudnya semula dengan kepala berlumuran darah.
"Sherina ! ! ! !" teriak Sofia menggema di seluruh pegunungan.
Kevin, Evan dan Nic yang mendengar teriakan Sofia bergegas berlari menuju sumber suara. Selain mereka ada juga beberapa kelompok lain yang bergegas menghampiri. Sampai disana mereka hanya mendapati Sofia yang terbaring ditanah sambil melihat ke bawah jurang dengan wajah penuh air mata.
"Sofia..." panggil Nic yang segera menghampirinya dan mendekap Sofia dalam pelukannya.
"Semuanya nyalakan suar SOS kalian sekarang!!" teriak Kevin setelah melihat hal tragis itu.
Tidak ada yang perlu ditanyakan dan dijelaskan untuk saat ini. Semua orang yang jumlahnya sekitar belasan segera menembakan suar SOS mereka ke langit. Melihat sinyal suar yang muncul begitu banyak disatu tempat membuat para penanggung jawab sekolah dan pegawai penginapan dengan cepat menghampiri. Kevin, Evan dan beberapa siswa lainnya mencoba turun ke jurang untuk memeriksa keadaan Sherina. Bala bantuan datang tepat waktu. Setelah 2 jam akhirnya Rin berhasil dievakuasi dan segera dilarikan ke rumah sakit.
Sofia terlalu syok atas apa yang terjadi, ia tidak bisa menjelaskan apa-apa ketika para guru bertanya. Guru pun memaklumi itu dan membiarkan Sofia tenang terlebih dahulu. Sofia terus-menerus menyalakan dirinya. Kalau saja aku tidak mendekat mungkin Rin tidak akan berakhir seperti ini. Setidaknya hal itulah yang terus berputar di kepalanya. Sofia tidak menceritakan semua kejadian tersebut pada siapapun. Ia bingung harus bilang apa sampai semuanya berlalu dengan sendirinya. Ketika ia mengetahui sahabatnya sudah keluar dari rumah sakit, ia sangat gembira bercampur takut. Takut kalau sahabatnya itu akan sangat marah padanya karna semua kejadian tersebut berawal darinya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε