
Suara orang yang membaca mantra aneh itu terdengar lagi. Itu tepat berada di depan ku. Aku menghampiri sumber suara untuk mencaritahu. Yang kulihat sangat tidak terbayang olehku. Sekelompok orang yang terdiri dari enam orang berpakaian serba hitam dan mengenakan tudung kepala berdiri melikar di atas simbol kapur. Mereka menempati masing-masing lingkaran dengan lilin di depan mereka. Ada seorang gadis meringkuk kesakitan tepat ditengah-tengah simbol lingkaran kapur tersebut. Semakin cepat orang-orang itu mengucapkan mantra tidak jelas semakin kesakitan pula gadis itu. Apa yang mereka lakukan? Mereka seperti sedang melakukan ritual... Persembahan.
Aku tersentak ketika menyadari itu. Ini sungguh kejam! Mempersembakan gadis kecil pada roh jahat. Mereka tidak memiliki hati nurani lagi. Yang paling membuat aku kesal, aku cuman bisa menonton gadis itu tersiksa. Aku tak dapat membantu membantunya. Semua yang aku lihat ini hanyalah kilas balik masa lalu. Itu artinya semua ini telah terjadi dan tak dapat diubah lagi. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya pada gadis itu. Rohku seperti ditarik paksa kembali ke tubuhku. Aku membuka mata perlahan. Suara tadi telah menghilang bergantikan suara Sofia dan Rosse yang terus memanggil namaku.
"Rin, kau tidak apa-apa?" tanya Sofia khawatir.
"Aku tidak apa-apa," jawabku dengan lemas. Tenagaku seperti terkuras habis.
"Kau membuat kami takut. Apa yang terjadi?" kali Rosse bertanya.
"Itu..." aku terdiam ketika aku merasakan sesuatu yang janggal. Aku menyipitkan mataku meneliti wajah arwah itu. Dia menyeringai seram dan menatap kami penuh gaira.
"Darah gadis muda sangat manis. Terutama kau gadis serigala. Aku akan mendapatkan darahmu, itu bisa menikatkan kekuatanku sampai puncak tertinggi. Hahaha..."
Tawa wanita itu melengking membuat tubub kami seketika merinding. Wajahnya berubah menyeramkan dengan sorot mata hitam dan pupil merah menyala. Mulutnya terbuka lebar sambil menjulurkan lidahnya yang panjang meneteskan air liur. Ia merentangkan kedua tangannya sambil naik melayang di udara. Gaun hitam yang ia kenakan berkibar menampakan wujudnya seolah-olah membesar.
"Lari... ! ! ! !"
Teriakku bebarengan dengan pecahnya seluruh benda yang terbuat dari kaca. Kami berusaha berlari secepat mungkin meninggalkan tempat ini. Tapi kami kalah cepat dengan pecahan kaca yang melesat menghujani kami.
"Sofia...!" teriak Rosse.
"Baik. Ασπίδα τοίχου (Aspída toíchou)"
Sofia membentuk mantra perisai disekeliling kami. Ini akan melindungi kami dari pecahan kaca. Ketika sedikit lagi kami mencapai pintu keluar, tiba-tiba pintu membanting dengan keras. Sofia berusaha membukanya namun pintunya macet.
"Bagaimana ini?"
"Minggir."
Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. Kukumpulkan seluruh tenagaku yang tersisa untuk mendobrak pintu itu. Satu kali tendangan pintu terbuka seketika. Aku, Sofia dan Rosse bergegas keluar lalu menutup kembali pintu tersebut dan menahannya dengan lemari kecil sebelum hantu itu mengejar. Beberapa pelayan berdatangan menghampiri kami setelah mendengar dentuman keras dari pintu yang dibuka paksa. Aku tidak memperdulikan mereka. Aku segera mengambar simbol segel yang kupelajari dari ibuku menggunakan darahku sendiri tepat pada pintu tersebut.
"Κλειδαριά αίματος (kleidariá aímatos)"
Tepat waktu. Segel darah berhasil diaktifkan sebelum hantu itu berhasil keluar. Itu akan menahannya sementara selama 24 jam. Waktu yang cukup untuk memperbaiki segel aslinya atau lebih baik lagi dapat memusnakan roh jahat itu. Teriakan terdengar dari balik pintu yang tersegel. Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama membuat kami merasa lega. Aku, Sofia dan Rosse terduduk lemas dengan nafas putus-putus. Tadi itu sangat berbahaya sekali.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan dengan raut wajah khawatir.
"Apa yang terjadi?" tanya pelayan lainnya.
"Tubuh kalian penuh luka. Saya akan mengambil kotak obat kemari dan membantu kalian mengobati luka kalian," salah satu pelayan langsung berinisiatif mengambil kotak obat.
"Tunggu, tidak perlu," kataku membuat langkah pelayan itu terhenti. Ia menoleh padaku dengan bingung. "Kami bisa mengobati luka kami sendiri, bawakan saja kotak obatnya ke kamar. Tapi aku sarankan jangan ada yang membuka pintu ini! Didalam sana ada roh jahat yang bisa merenggut nyawah kalian," tegasku.
"Apa, roh jahat?!"
"Menyeramkan sekali."
"Mr. Livitt memang perna melarang kita untuk pergi ke ruang bawah tanah, ternyata karna ini."
"Kami tidak akan perna berani membuka pintu itu."
"Itu bagus, itu bagus. Kalau begitu kami pergi dulu untuk mengobati luka," aku menarik Sofia dan Rosse pergi tapi sebelum itu. "Oh, iya. Bisa tolong bawakan sebaskom kecil air hangat dan haduk bersih ke kamar."
"Terima kasih."
Sampai dikamar Sofia, aku kembali terduduk dilantai sambil bersandar di dinding karna lelah. Tak lama dua pelayan datang membawakan kotak obat dan barang yang aku pinta sebelumnya. Sofia menerima semua itu lalu kedua pelayan tersebut berlalu pergi. Aku membantu Rosse membersikan lukanya mengunakan air hangat dan handuk karna ia yang paling parah diantara kami.
"Hei Rin. Kenapa kau menolak tawaran pelayan itu untuk membantu kita mengobati luka?" tanya Rosse.
"Akan aneh jadinya kalau mereka melihat lukaku sembuh dengan cepat," jawabku.
"Daya sembuh manusia serigala memang sangat cepat. Bukan seperti kita yang butuh waktu berhari-hari untuk luka kecil seperti ini sembuh," ujar Sofia.
"Aku tidak mau ikut lagi dengan urusan beginian. Aku tidak tahu apa-apa mala diserang pecahan kaca," kelu Rosse.
"Maafkan aku. Karna aku kita jadi seperti ini," Sofia tertunduk sedih mensalahkan dirinya.
"Jangan salahkan dirimu. Lagi pula kita tidak tahu akhirnya akan jadi seperti ini."
"Jujur saja, aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba hantu itu menyerang kita?" tanya Rosse.
"Iya. Aku juga ingin tahu," sambung Sofia.
"Wanita itu adalah seorang penyihir pengguna ilmu hitam," kataku.
"Penyihir pengguna ilmu hitam? Ada juga yang seperti ini. Apa bedanya? Sstt..." Rosse mendesit kesakitan saat aku membersikan luka ditangannya.
"Maaf."
"Penyihir pengguna ilmu hitam sangat berbeda dari kami. Mereka mendapat kekuatan sihir dari bersekutu dengan setan atau iblis tertentu. Sedangkan kami mendapat kekuatan ini dari keturunan," jelas Sofia.
"Bukan hanya itu, mereka harus mempersembahkan tumbal untuk memperkuat ilmu sihir mereka," tambahku. Aku menyadari bahwa arwah tadi merupakan penyihir mengguna ilmu hitam ketika melihat simbol samar tepat di lantai. Simbol itu sama persis dengan simbol yang aku lihat dari kilas balik sebelumnya.
"Jadi itu alasan ia mengajak kita ke ruang bawah tanah. Agar ia bisa menjadikan kita tumbal persembahannya," kata Rosse menyimpulkan.
"Bisa jadi. Mungkin wanita itu bersekutu dengan iblis terkuat sampai-sampai ia bisa jadi roh jahat setelah kematiannya."
"Menyeramkan sekali. He, hei... Rin. Apa yang kau lakukan?" kata Rosse panik ketika baru menyadari apa yang aku lakukan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε