My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Janji yang tak bisa ditepati



Di depan pintu kamar Lisa, Derek mengetuk pintunya perlahan sambil memanggilnya. "Lisa, ini aku. Buka pintunya, nak."


"Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku tidak mau bertemu siapapun," jawab Lisa dengan suara parau.


"Aku mengerti perasaan mu. Aku juga merasa kehilangan. Mau bagaimanapun dia juga tetap putriku. Aku sangat menyayanginya. Semua kenangan, memori dan masa-masa indah bersamanya tidak akan perna aku lupakan. Aku sudah melihatnya tumbuh dari ia masih dalam pelukanku sampai menjadi gadis cantik seperti sekarang. Aku ingat betul langkah pertamanya, kata-kata menggemaskan yang keluar dari mulutnya dan kenakalan yang selalu ia perbuat. Aku bahkan masih menyimpan semua momen tersebut dalam bentuk kaset video. Jika kau merindukannya, aku akan dengan senang hati memutakannya untukmu."


Lisa masih tidak bersedia membukakan pintu. Namun walaupun begitu, Derek dapat mendengar suara tangis yang sepertinya ditahan sebisa mungkin. Derek tahu betul kalau bukanlah sesuatu yang mudah untuk membujuk Lisa tapi... Ia berharap Lisa bersedia menyimpan kesedihannya dihadapan orang lain nanti.


"Lisa, aku tahu ini sulit untukmu tapi, apa boleh aku meminta sesuatu darimu? Aku ingin kau tidak menceritakan apapun yang terjadi hari ini pada orang tuamu maupun pada yang lainnya. Kau pasti mengerti, bukan? Orang tuamu pernah kehilangan kakakmu sekali, apa jadinya jika mereka mengetahui kalau jiwa putri pertama mereka telah menghilang untuk selamanya. Mereka akan sangat sedih," Derek berhenti sebentar. Masih tidak ada suara dari dalam. "Lisa..."


"Apa yang kau lakukan disini, Derek?"


Derek tersetak kaget mendengar suara tepat dibelakangnya. Namun, ia lebih terkejut lagi begitu mengetahui siapa itu.


"AAAH ! ! Mrs... Mrs. French?!" sangking kaget nya Derek sampai berubah menjadi serigala.


"Apa yang terjadi padamu, Derek? Kenapa kau kaget sampai berubah seperti itu? Apa wajahku terlalu seram untukmu?" tanya Zedna bingung dengan reaksi Derek.


Derek mengubah wujudnya kembali seperti semula. "Maafkan aku, Zedna. Aku tidak menyadari kehadiranmu."


"Hah? Kau seorang manusia serigala tidak menyadari kehadiranmu? Bukankah manusia serigala itu memiliki pendengaran yang sangat baik?"


"Itu benar. Em... Mungkin aku terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini sampai tingkat kewaspadaanku sedikit terganggu. Ada perlu apa kau kemari?" kata Derek mencari alasan. "Aku harap ia tidak mendengar kata-kata ku sebelumnya," batinnya.


"Sudah waktunya makan siang. Aku kesini untuk memanggil Lisa. Rosse bilang ia menemui kakaknya karna merasa khawatir. Tapi ketika aku ke kamar Keyla, aku cuman menemukan ia sendirian disana. Sebab itu aku kesini."


"Ternyata begitu. Em... Bagaimana kondisi Sherina tadi?"


"Dia..."


"Ada apa Mitéra?" tanya Lisa yang akhirnya keluar dari kamarnya. Terlihat jelas matanya sebab karna menangis.


"Lisa, kau menangis? Ada apa, sayang?" tanya Zedna pada putrinya itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja," Lisa memalingkan mukanya dari Mitéra nya.


"Ya sudah jika tidak ingin cerita. Ayok kita makan siang."


"Iya," Lisa berjalan lebih dahulu dan tampak lesuh. Ia tidak memperdulikan Zedna dan Derek yang tertinggal jauh dibelakang.


"Ada apa dengannya? Keyla tadi juga sama. Apa mereka bertengkar?" Zedna menoleh pada Derek meminta jawaban.


"Bisa dibilang begitu?" jawab Derek. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Karna apa? Mereka berdua memang sering bertengkar tapi tidak sampai seperti ini," Zedna mulai sedikit curiga.


"Karna... Karna..." Derek kebingungan mencari alasan. Apa yang harus ia bilang? "Karna... Em... Aku kurang tahu. Mereka tidak mau memberitahu sama sekali."


Mendengar itu membuat Derek jadi khawatir. Saat itu Lisa baru kehilangan hewan peliharaannya, sedangkan hari ini ia kehilangan kakak tercintanya. Bagaimana perasaannya saat ini? Ia pasti sangat terpukul.


"Mr. Morgen, apa boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Zedna kemudian.


"Kenapa kau jadi sungkan begitu Zedna? Kita sudah menjadi satu keluarga..."


"Tidak!" potong Zedna. "Biar aku mengatakan ini sebagai ibu dari Keyla dan Lisa yang memohon pada ketua klan Α (Alpha)," Zedna membukukkan badannya pada Derek.


"Zedna, berdirilah! Jangan seperti ini. Jika Cloey melihatmu membungkuk padaku, dia akan memukulku," pinta Derek pada Zedna.


Zedna mengangkat kepalanya melihat ke Derek dengan ekspresi bingung. "Seorang ketua klan ternyata takut istri."


"Ka, kau belum perna melihat ia marah," Derek memalingkan muka karna malu. "Sangat mengerikan."


"Aku tidak berharap melihatnya. Oh, iya. Apa yang mau aku katakan tadi?" Zedna mencoba mengingat-ingatnya. Ia menjentikan jarinya setelah mengingatnya. "Aku ingin meminta pada ketua klan Α (Alpha) untuk melindungi putri-putriku."


"Melindungi?"


"Iya. Aku tidak terlalu mengenal apa itu dunia malam yang sebenarnya tapi aku tahu kalau tempat itu sangat berbahaya. Aku sudah menerima kenyataan identitas baru Keyla sebagai salah satu makhluk legenda yang paling ditakuti sejak lama. He, siapa yang berani bermain-main dengan seorang manusia serigala? Cuman, masih ada kekhawatiran dalam benakku. Keyla memang kuat tapi ia masih rentan terluka demi melindungi Lisa, adik kesayangannya dan juga teman-temannya. Tidak ada yang melindunginya. Jadi aku mohon pada ketua klan Α (Alpha), lindungi dia. Aku tidak mau kehilangan putriku lagi," satu ***** air mata mengalir di ujung mata Zedna.


Derek hanya terpaku diam mendengar permintaan dari seorang ibu yang sangat menyanyangi anak-anaknya itu. Zedna meminta pada Derek untuk melindungi Keyla namun... Keyla telah pergi. Bagaimana ia menjanjikan hal ini? Derek semakin tidak berdaya. Apa jadinya jika orang dihadapannya ini mengetahui kalau sebenarnya ia telah kehilangan putrinya untuk selamanya? Derek tak dapat membayangkan itu.


"Walau Keyla hanya putri angkatmu namun ikatan kalian jauh lebih kuat dari pada kami. Kalian telah merawatnya sejak bayi, memberi kasih sayang dan telah memanjakannya. Semua hal yang tidak bisa aku berikan untuknya. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu dan Cloey. Seharusnya aku mengatakan hal ini sejak lama tapi aku menunggu waktu yang tepat."


"Maaf," kata Derek tertunduk murung. "Aku tak bisa janji. Namun aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat keluargaku tetap utuh," bohong Derek. Dalam hatinya ia sangat menangis. Ia seorang ayah yang payah. Ia tidak bisa menjaga putrinya. "Maafkan aku Keyla," tanggisnya dalam hati.


"Itu sudah cukup untukku," Zedna menyekat air matanya.


"Ternyata kalian ada disini."


Zedna dan Derek sedikit tersetak mendengar suara dari arah belakang mereka. Terlihat Cloey berjalan menghampiri mereka.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε