My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pencarian hari pertama



"Aku kira mereka akan menjadi vampire juga setelah digigit oleh vampire, layaknya manusia serigala, kan?"


"Vampire tidak memilik racun di taringnya, tidak seperti hewan bodoh itu," kata Onoval membuat yang lain melirikku. Hal itu membuatku melirik mereka balik.


"Hewan bodoh?" lirik Sofia padaku.


"Ia sangat membenci manusia serigala karna telah membunuh ibunya," kataku pada Sofia.


"Apa benar itu Onoval?" tanya Lisa memastikan.


"Iya. Itu sudah lama sekali terjadi."


"Bagaimana kalau vampire tersebut tidak menghisap habis darah korbannya? Apa ia masih tetap tidak berubah menjadi vampire?" tanya Rosse mengalikan pembicaraan semula.


"Tidak. Tapi mereka akan berubah menjadi budak darah. Hati dan pikiran mereka secara otomatis hanya tunduk pada vampire yang menandainya. Semakin kuat vampire yang menandainya semakin kuat pula kekuatan yang ia dapat."


"Kekuatan yang ia dapat?" potongku.


"Oh, iya itu... Sebagai budak darah dari vampire keuntungannya adalah akan mendapat kekuatan dari tuannya."


"Kekuatan seperti apa?" tanya Sofia.


"Kekuatan apa saja yang mau diberikan tuannya. Tapi konsekuensi menjadi budak darah, mereka harus menuruti semua keinginan dari tuannya tanpa terkecuali, termasuk memutus hubungan dengan keluarga mereka dan teman-temannya atau sampai membunuh. Mereka tidak bisa menentangnya dan tidak ada jalan kembali lagi. Itu seperti menjual jiwa mereka ke klan darah untuk mencapai tujuan mereka," penjelasan Onoval membuat kami merinding.


"Tunggu dulu. Kalau tidak salah aku perna membaca buku kuno tentang vampire yang mengatakan ada vampire bisa mengubah manusia menjadi vampire juga. Bagaimana dengan itu?" ujar Lisa.


"Kalau soal itu, memang ada vampire yang bisa mengubah manusia menjadi vampire. Mereka ini adalah vampire keturunan bangsawan."


"Seperti sang putra mahkota Lucas Northman," kata Rosse yang dijawab anggukan dari Onoval.


"Onoval, bagaimana pendapatmu tentang putra mahkota?" tanyaku.


"Dia jarang terlihat. Ia selalu berada dalam kastil. Tapi kalian tidak perlu takut dengannya. Ia vampire yang bersahabat dan tidak perna menyerang manusia."


"Dia sudah hidup lebih dari 100 tahun, sedangkan perdamaian baru bejalan 20 tahun terakhir ini. Apa benar dia tidak perna menyerang manusia? Ia membutuhkan darah minimal seminggu sekali untuk bertahan hidup," kata Sofia meragukan.


"Semua itu benar. Sebagai kau bangsawan, sang putra mahkota tidak perna minum darah secara langsung dari tubuh korbannya. Ia mala lebih suka minum darah wanita muda yang diawetkan selama puluhan tahun sebagai minuman favorit nya."


"Kau sepertinya tahu banyak tentang putra mahkota," lirik ku pada Onoval sambil menyeringai kecil.


"Semua siswa/siswi di sekolah ini mengetahui hal itu," Onoval mengalihkan pandangnya dariku. "Sudahlah, apa ada pertanyaan lain? Mumpung kita masih disini dan tidak orang juga."


Aku ingin bertanya pada Onoval, apa mungkin ia tahu tentang pohon ΖΩΗ (ZOI) tapi itu nanti mengungkap tujuan kami. "Tidak ada lagi."


Kami melanjutkan perjalanan mengelilingi sekolah, tampa percakapan tentang vampire lagi. Onoval hanya memperkenalkan beberapa ruangan seperti ruang kesenian, laboratorium fisika, laboratorium kimia yang kulihat Prof. Peter sedang mengajar disana, ruang kesehatan, ruang guru, ruang kepalah sekolah, autorium di lantai atas dengan teleskop raksasa nya, ruang beberapa klub sekolah, ruang radio, ruang osis, ruang teater, ruang musik, dan banyak lagi sampai gudang pun Onoval tunjukan tempatnya.


Setelah menyelusuri setiap ruangan di gedung sekolah ini, kami istirahat sebentar di kantin sekolah sambil mengisi ulang tenaga. Di kantin ini selain menyediakan makanan dan minuman biasa, mereka juga menyediakan stok kantung darah bagi vampire. Semua kebutuhan darah bagi vampire ada disini, setiap golongan darah tersedia. Yang paling laris adalah golongan darah O. Entah mengapa golongan darah tersebut sangat lasis. Apa setiap golongan darah memiliki rasa berbeda? Selain darah manusia ada juga beberapa jenis darah hewan. Tidak hanya darah segar, di kantin ini memiliki olahan darah contohnya yang paling digemari adalah puding darah.


Kami kembali ke asrama sekitar pukul 01.11. Aku, Lisa, Sofia, dan Rosse sangat ngantuk sampai-sampai langsung membaringkan tubuh kami di tempat tidur. Jaket yang aku kenakan saja tidak aku tanggalkan. Aku cuman melepaskan sepatuku, naik ke kasur yang ada di tingkat kedua, menarik selimut dan mulai tertidur. Malam ini entah mengapa dingin sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayok kak, bangun!" kata Lisa sambil berusaha menarik selimutku. "Berhentilah tidur."


"Kau yang berhentilah mengganguku," kataku masih dalam keadaan setengah sadar.


"E...! Kakak! Hari sudah jam sebelas kau mau tidur sampai kapan lagi! Ayok bangun..." sambil mengeretakan giginya Lisa menarik selimutku sekuat tenaga sampai ia berhasil menarik selimutku namun berakhir terjungkal. "Aduh!"


Aku berusaha bangkit sambil mengucek mataku. Kulihat Lisa yang terduduk di lantai sambil mengusap kepalanya. "Kenapa kau duduk dilantai?" tanyaku padanya.


"Ini semua karnamu!" Lisa melemparkan selimut itu dan tepat mengenai wajahku.


Dengan wajah datar aku menjauhkan selimut itu dari wajahku. Aku turun dari tempat tidur lalu bertanya pada Lisa begitu aku sadari ada dua orang yang hilang disini. "Kemana Rosse dan Sofia?"


"Mereka keluar duluan. Hampir sejam belum kembali," jelas Lisa.


"Keluar? Kemana?"


"Tidak tahu," jawab Lisa sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kami kembali," teriak Sofia begitu membuka pintu. Ia masuk bersama Rosse dengan beberapa kantung plastik ditangan mereka.


"Dari mana kalian?" tanyaku.


"Kantin. Kami membeli sarapan serta makan siang untuk kita semua," jawab Rosse sambil meletakan kantung plastik itu di atas meja.


"Rin, kau baru bangun?" tanya Sofia begitu ia melihatku.


"Aku sudah membangunkannya dari tadi. Tapi tetap saja seperti biasa ia sulit dibangunkan," kata Lisa mengaduh.


"Seharusnya kau siram saja dia dengan air es. Pasti bangun," saran Rosse aneh-aneh. Ia sedang mengeluarkan seluruh apa yang mereka beli. "Mari makan," ajaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan siang kami baru berencana mencari informasi tentang keberadaan pohon ΖΩΗ (ZOI) di perpustakaan sekolah. Keadaan siang hari di sekolah ini sangat sepi. Ada ada beberapa orang yang lalu-lalang dan bisa di pastikan mereka bukan vampire. Sampai di perpustakaan kami sedikit kebingungan harus mulai dimana. Bangunan seluas ini apakah cukup dalam satu hari kami menjelajahinya untuk mencari buku yang kami perlukan? Usaha dulu baru lihat hasilnya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?


Kami berpencar untuk melakukan pencarian yang lebih cepat. Aku dan Lisa memulai dari rak sebelah kiri sedangkan Rosse dan Sofia dari rak sebelah kanan. Aku menyelusuri setiap lorong rak buku pada lantai dasar ini mencari katalok buku kuno atau buku tentang dunia malam. Sebenarnya ada buku lain juga yang mau aku cari di perpustakaan ini karna perpustakaan di rumah tidak menyediakan informasi yang lengkap. Hampir sejam kami berkeliling aku cuman mendapatkan 5 buku yang mungkin berguna. Tidak tahu dengan mereka. Aku menghampiri Lisa yang duduk di pojokan dengan belasan buku di hadapannya. Yakin kau mau membaca semua itu? Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε