My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Sussstt...



"Apa akibatnya?" kataku lantang, membuat mereka menoleh padaku.


"Kau... Kau mendengarnya?" kali ini raut wajah Sindy yang terkejut.


"Tidak, hanya menebak. Menurutmu?"


"Cih! Menurutku kalian cuman gadis miskin yang mau sok belaga kaya di depanku. Terutama kau gadis kampung. Kau pasti tidak tahu siapa aku? Harap maklumlah kau dari desa, tapi jika kau mau tahu maka aku tidak keberatan memperkenalkan diri. Jangan kaget ya. Namaku Sindy Wilton, putri kedua dari keluarga Wilton. Salah satu keluarga paling berpegaruh di kota ini," Sindy memperkenalkan dirinya dengan begitu sombong.


"Ke... Keluarga Wilton," ucap Calsy mulai ketakutan.


"Keluarga Wilton ya. Em... Sepertinya aku pernah mendengarnya," aku berpikir sejenak. "Ah, iya. Aku ingat. Aku pernah melihatnya di TV kalau keluarga Wilton adalah salah satu pemegang saham dalam Megaproyek di kawasan baru."


"Sekarang kau tahu seberapa tinggi langit kan? Gadis kampung seperti dirimu ini lebih baik pulang saja. Kota ini terlalu kejam untuk kalangan bawah seperti kalian."


"Megaproyek di kawasan baru? Apa yang kau maksud hotel itu? Aku juga perna melihat siarannya di TV. Bukankah itu adalah kepemilikan dari Keluarga Morgen?" tanya Rosse memastikan.


"Iyap. Berkat kerja sama dengan keluarga Anderson, hotel tersebut diperkirakan akan selesai lebih awal."


"Wah... Keluarga Wilton memang sangat hebat, bisa menjadi salah satu dari pemegang saham Megaproyek keluarga Morgen," puji pegawai itu pada Sindy.


"Tentu saja," senyum terukir di wajah Sindy penuh percaya diri.


"Saya benar-benar mengagumi keluarga Morgen. Ingin sekali saya berkunjung ke kediamannya di seberang pusat ibukota, pasti sangat seru. Saya sering melihat beberapa foto kediamannya di internet. Bangunan abad pertengahan itu begitu megah berdiri kokoh di lapangan luas dengan taman bunga yang indah. Pasti hidup disana seperti putri dalam istana di cerita-cerita dongeng. Hanya satu kata, kau akan dilanyani sesuai permintaan oleh puluhan pelayan professional..." pegawai itu mulai mengkhayal.


"Imajinasi pegawai satu ini terlalu tinggi," kata Rosse dengan suara pelan.


"Apa jadinya kalau ia tahu kediaman keluarga Morgen itu adalah taman bermainmu dulu?" ucapku sambil menoleh pada Rosse.


"Aku tidak bisa membayangkannya."


"Kau cukup berkhayal saja. Kediaman keluarga Morgen bukanlah suatu tempat yang bisa di datangi oleh sembarangan orang. Beberapa minggu lagi mereka akan mengadakan jamuan bagi seluruh pemegang saham Megaproyek kawasan baru, dan tentu saja keluargaku diundang," kata Sindy.


"Miss. Wilton memang sangat beruntung. Aku iri sekali padamu."


"Aku harap permasalahan yang dialami keluarga Morgen cepat teratasi, dengan begitu acara pejamuan tidak akan diundur atau bahkan sampai dibatalkan," kata Sindy mengutarakan kekhawatirannya.


"Iya. Aku turut kasihan pada Miss. Morgen. Dengar-dengar kalau ia melarikan diri dan masih belum ditemukan keberadaannya," raut wajah pegawai itu berubah sedih.


Hehe... Miss. Morgen yang kau maksud itu ada di depanmu loh, dan kau baru saja merendahkannya. Tapi aku cukup kaget mendengar kalimatnya barusan, dan juga kenapa aku baru menyadarinya? Setahuku kota ini tidak terlalu jauh dari ibu kota. Tidak mungkin sesulit itu mereka menemukan ku? Atau... Masa iya karna aku mewarnai rambutku sedikit gelap? Aku melakukan ini karna aku tidak mau dikenali. Warna rambutku terlalu mencolok dan unik, semua orang pasti mengenali aku sebagai gadis dalam video tersebut jika aku berkeliaran di kota ini. Aku menyadari ini ketika aku berinteraksi dengan pelangan waktu berkeja di kedai Lotus. Banyak diantara mereka mempertanyakan hal yang sama soal ini.


"Mereka mencaci, menyanjung dan mengasihanimu dalam waktu bersamaan," kata Rosse kemudian dan itu masih tidak di dengar oleh kedua orang yang asik berbincang ini.


"Aku juga bingung. Bagaimana kalau kita beri sedikit hadiah untuk mereka?" saranku.


"Hadiah apa?"


"Kau punya koin?"


"Koin? Tidak. Aku tidak punya."


"Aku memiliki kancing," kata Calsy tiba-tiba membuat aku dan Rosse menoleh padanya.


Aku baru sadar kalau ia masih ada disamping kami. Ia pasti telah mendengar semuanya. Namun aku sedikit beruntung karna sikap Calsy cukup tenang. "Itu juga bisa," aku menerima kancing tersebut.


Kancing yang cantik, berwarna hitam seukuran koin, begitu mengkilap memantulkan cahaya lampu. Aku melemparkan kancing itu ke udara, menangkapnya, lalu melemparkannya kembali dengan cepat ke arah Sindy. Kancing itu tepat mengenai tali baju Sindy yang membuatnya putus seketika namun tidak sampai melukai. Karna hal itu baju yang dikenakan Sindy tiba-tiba melorot. Dengan cepat Sindy menahan bajunya agar tidak benar-benar lepas.


"Aaaaah...!!!" teriak Sindy sambil berlari menahan bajunya dengan wajah memerah.


"Miss. Wilton!" panggil pegawai tersebut ikut berlari mengejar Sindy.


"Bukan apa-apa."


"Untuk seorang.."


"Stt..." aku meletakan telunjukku dibibir sambil menutup sebelah mata. Aku mengisyaratkan pada pegawai tersebut untuk tidak memberitahu identitas ku pada Rosse. Terlihat Calsy mengerti maksudku.


"Untuk seorang... Apa?" dengan raut wajah bingung Rosse mempertanyakan kalimat Calsy yang terputus.


"Hei, Rosse bagaimana menurutmu yang ini? Bukankah itu terlihat cantik?" tunjukku pada sebuah kalung yang ada dibalik meja kaca untuk mengalikan pembicaraan.


"Kalung itu diperuntukan untuk bayi. Itu tidak akan muat di kepalamu," katanya setelah melihat kalung yang aku tunjuk.


"Siapa bilang ini untukku."


"Lalu, untuk siapa? Adikmu?"


"Bukan. Ini untuk hewan peliharaan ku."


"Kucing?"


Aku menggeleng. "Hewan peliharaanku seekor burung hantu putih."


"Burung hantu?! Burung hantu tidak perlu pakai kalung!"


"Tidak apakan," aku tersenyum pada Rosse.


"Kelakuan mu memang aneh."


Aku tidak memperdulikan Rosse. Aku mulai melihat-lihat kalung yang ada dibalik meja kaca. Ada berbagai macam bentuk dan ukuran sampai mataku tertuju pada manik-manik kristal air dengan kristal berwarna merah dibagian tengahnya. Kalung itu cukup mirip dengan liontinku. Aku mengalikan pandang ku kepada Calsy dan menuju kalung tersebut.


"Aku mau yang ini."


"Baiklah."


"Apa kau sudah selesai? Ingat kita tidak boleh terlambat," kata Rosse mengingatkan.


"Iya aku tahu."


"Mari ikut saya untuk melakukan transaksi pembayaran," ucap Calsy setelah mengambil kalung yang kupinta.


Setelah selesai melakukan pembayaran dan barang pun sedah diterima, aku dan Rosse pamit pulang. Tapi sebelum itu, aku menyelipkan kartu namaku pada Calsy. Aku menyarankan ia untuk pindah saja ke butik Vererossa utama yang ada di ibu kota. Dengan memperlihatkan kartu namaku pada pegawai disana, mereka pasti tahu kalau aku yang merekomendasikan ia untuk bergabung. Setelah melakukan beberapa tes dan berhasil, Calsy pasti bisa langsung berkerja disana. Aku memang memiliki kebijakan untuk mengajukan beberapa orang untuk berkejar di butik Vererossa dengan catatan bahwa orang tersebut memenuhi standar yang dibutuhkan butik Vererossa itu sendiri. Dan aku yakin Calsy sudah memenuhi semua standar tersebut.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε