
"Aku sungguh tidak menyangkah Rin. Setelah apa yang aku lakukan padamu kau masih mau bersikap seperti ini pada ku. Pasti sakit rasanya digigit olehku."
"Sakit? Tidak juga sih," aku menggosok bagian leher ku yang digigitnya sambil memutar mata ke lain. Mau dibilang sakit itu memang sangat menyakitkan. Rasa perih dan dingin seperti dua bila pisau runcing ditancapkan begitu saja menembus leher ku. Padahal cuman gigi taring tapi mengapa begitu menyakitkan. Luka yang dihasilkannya saja cuman dua titik merah, tapi rasa sakitnya melebih rasa sakit dimana lenganku tergores kayu waktu itu.
"Jangan berbohong Rin. Aku tahu Rin kalau gigitan vampire sangat menyakitkan. Semakin tinggi derajat seorang vampire maka semakin sakit pula gigitan nya."
"Okey, itu memang sangat menyakitkan tapi aku sungguh tidak apa-apa."
"Darahmu sangat manis sama seperti dia," gumang Onoval pelan.
"Dia? Siapa?" pikirku. "Onoval, apa benar kau sudah menghapus tanda gigitan itu? Kau perna bilang tidak ada jalan kembali setelah menjadi budak darah."
"Kau sudah melihat sendiri leher mu, kan? Tidak ada bekas gigitan sama sekali sebagai tanda kau adalah budak darahku."
"Iya, mungkin aku bisa mempercayai mu."
"Maafkan aku Rin. Tanda gigitan memang tidak mungkin dapat dihapus lagi. Aku cuman menyembunyikan tanda itu dari lehermu. Tapi kau tenang saja. Aku berjanji tidak akan memintamu melakukan apapun, apalagi sesuatu yang tidak kau inginkan. Kau budak darahku yang bebas, walau kau terikat padaku sampai ke jiwamu," batin Onoval.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajah ku?" tanyaku padanya heran dengan maksud tatapannya itu.
"Kenapa kau tidak mau jadi budak darahku? Aku bisa memberimu kekuatan vampire padamu."
Ah... Tidak. Sudah cukup Sherina memberikan kemampuan manusia serigala dan Necromancy. Aku tidak mau ada yang lain lagi. "Contohnya seperti apa?"
"Iya, misalnya kemampuan berteleportasi ini. Bagaimana?"
"Aku rasa tidak. Aku sudah cukup dengan kemampuan Necromancy ku ini saja."
"Necromancy? Itu identitas tersembunyi mu?"
"Iya. Aku seorang Necromancy," itu benar, kan? Aku cuman bisa menguasai kemampuan Necromancy. Untuk jati diri sebagai manusia serigala itu adalah Sherina. Aku hanya meminjam kemampuannya saja yang ada dalam tubuhku.
"Necromancy itu apa?"
"E? Aku kira kau tahu," kulihat Onoval menggeleng. "Necromancy merupakan suatu kemampuan seseorang untuk dapat melihat serta berkomunikasi dengan para hantu, dan juga bisa membangkitkan orang yang sudah mati," jelas ku singkat.
"Menghidupkan orang mati? Sama seperti vampire yang menyerang kita kemarin?"
"Kurang lebih begitu. Oh, iya tentang vampire kemarin... Kenapa Perchye bersikeras menuduh mu sebagai orang yang telah membangkitkan mereka? Dan juga aku tidak perna tahu kalau ada vampire yang dapat mengbangkitkan vampire lain yang sudah mati. Vampire apa kau ini? Bagaimana bisa kau memiliki kemampuan yang unik? Siapa..."
"Sstt....... Satu persatu."
Onoval meletakan telunjuknya tepat di bibirku.rasa dingin dari telunjuknya begitu terasa. Aku segera menepis tangannya itu.
"Kalau kau tanyakan semuanya sekaligus, aku bingung mau jawab yang mana. E, tidak juga sih. Akan kubiri satu jawaban agar kau bisa mengerti semua ini. Aku merupakan vampire bangsawan," ia meletakan telunjuknya di bibi nya sambil menutup sebelah mata.
"Kau, kau vampire bangsawan?! Sang pangeran yang tidak perna mengungkapkan jati dirinya ke publik."
"Merasa terkejut. Kau pasti tidak perna menyangkah akan hal ini, bukan? Tapi aku minta kau jangan memberitahu siapapun tentang identitas ku ke orang lainnya."
"Hah?"
"Tidak mungkin orang seperti mu ini adalah sang pangeran yang misterius itu. Ini sungguh sangat sulit dipercaya. Dimana aura kewibawaan dan kebijaksanaan seorang bangsawan? Kenapa itu tidak ada pada dirimu? Kau benar-benar menghancurkan bayangkanku terhadap sang pangeran dari kerajaan vampire terakhir."
"Memang kau membayangkan ku seperti apa? Sesosok pangeran berkudah putih seperti dalam cerita dogeng? Dengan ketampanan tiada tara sampai seluruh gadis di kerajaannya tergila-gila padanya."
"Apa salahnya dengan itu?" aku memalingkan muka darinya karna sedikit malu ia berhasil menebak pikiranku. Tapi kalau memang benar Onoval adalah vampire bangsawan, jadi semua ini menjadi masuk akal. Hanya vampire bangsawan yang memiliki kemampuan spesial dari semua vampire yang ada.
"Pikiranmu seperti anak kecil," Onoval mulai mengacak-acak rambutku sama seperti yang biasa semua orang lakukan padaku.
"Kenapa kalian selalu saja suka mengacak-acak rambutku?" aku menatap Onoval sedikit cemberut sambil meniup helainan rambut yang menutupi wajahku.
"Aku tidak tahu kalau semua orang suka melakukan itu padamu. Tapi aku merasa ada daya tarik tersendiri untukku melakukannya."
"Hah..." Aku merapikan rambutku yang berantakan. "Onoval, boleh aku menanyakan sesuatu yang sedikit pribadi?"
"Pertanyaan apa itu?"
"Aku juga tidak memaksamu jika kau tidak mau menceritakannya. Aku cuman sedikit penasaran. Sang raja kan sedang dalam masa hibernasinya selama kurang lebih 100 tahun yang lalu, jadi... Se, sebenarnya berapa umurmu?" aku cuman melirik Onoval. Kulihat ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan melalui mulutnya.
"Umurku 16 tahun, sama seperti mu," jawabnya sambil tersenyum.
"Ba, bagaimana bisa?"
"Sebenarnya ibuku cuman seorang pembantu di kastil ini. 17 tahun yang lalu disaat ibu seperti biasa membersikan kamar sang raja. Tampa diduga sang raja terbangun dari hibernasinya. Tidak benar-benar terbangun, ia seperti sedang bermimpi sambil berjalan. Ia menarik ibu dan langsung melakukan hal itu padanya. Ibu tidak bisa menolak karna ia hanya vampire biasa yang tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan. Setelah kejadian itu ibu mengandung diriku. Ibu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian tersebut. Disaat kandungannya mulai membesar ia memutuskan berhenti agar tidak ada orang yang tahu tentang kehamilannya. Ia kembali ke desa dan hidup sederhana."
"Oh... Sebab itu ternyata. Lalu bagaimana kau bisa kembali lagi kesini dan mendapatkan gelarmu sebagai pangeran? Aku ingat dulu kau perna cerita kalau ibumu meninggal saat kau bayi. Bagaimana dengan itu?"
"Aku juga tidak tahu cerita detainya. Satu bulan setelah kelahiranku, pada bulan purnama. Rumah kami tiba-tiba diserang oleh manusia serigala. Untuk menyelamatkan diri ibu berlari pergi sambil menggendongku. Sampai suatu pemakaman ibu meninggalkanku begitu saja di atas sebuah makam tua. Ia pergi memancing para manusia serigala itu ke arah berlawanan dari makam tersebut. Ia tidak perna terlihat lagi setelahnya. Hah... Aku ditemukan dan dibesarkan oleh sepasang suami istri yang kebetulan dalam perjalanan pulang."
"Karna itu mengapa kau sangat membenci manusia serigala."
"Sebenarnya bukan hanya itu saja mengapa aku sangat membenci makhluk malam yang satu ini."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε