My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Tidak terkendali



"Hei! Melupakan sesuatu," Lisa menunjukan jamku yang ada di tangannya.


"Apa?! Bagaimana... Sejak kapan jamku ada padamu? Kembalikan itu."


"Kau menginginkanya? Jangan harap!"


Lisa melemparkan jamku sampai menghantam tembok. Aku hanya bisa menatap jamku yang berhamburan. Tiba-tiba aku merasa sedikit nyeri di dada kirinku, aku hanya meletakan tanganku disana. Berbarengan dengan itu aku juga merasakan hawa panas mulai menjalar keseluruh tubuh. Aku sedikit membungkukan badanku ke depan menahan sakit sambil mengatur nafas. Aku mencoba untuk menenangkan diriku sebisa mungkin.


"Sepertinya kau sangat menyanyangi jammu itu. Apa sekarang kau marah padaku? Apakah jam itu adalah suatu alat yang dapat menahan kekuatanmu agar kau tidak berubah menjadi serigala?"


"Itu tidak akan terjadi Lisa. Manusia serigala itu tidak ada," kata Kevin.


"Itu benar. Apalagi Rin sudah terbukti bukan manusia serigala," sambung Evan.


"Mulutmu itu tidak bisa dijaga ya, Lisa? Kau itu selalu mencari ribut dengan Rin. Kau ini kenapa sih sangat benci sekali sama Rin?" kata Nic.


"Sebaiknya... kau pergi dari sini, sebelum aku benar-benar hilang kendali dan menyerangmu dalam wujud serigala sebenarnya!!" bentaku geram.


Semua orang menoleh dengan ekspresi sama, kaget ketika mendengar kalimat itu. Aku tidak memperdulikan mereka. Aku menatap tajam ke arah Lisa dengan setengah kesadaranku. Aku terus berusaha untuk bertahan. Hawa panas sudah meyelimutiku sendari tadi membuat keringat. Kini posisiku terduduk di lantai dengan keadaan mata terpejam menahan rasa sakit yang teramat sangat. Rasanya sangat berbeda ada atau tampa jam tanganku. Aku harap aku bisa bertahan. Aku tidak mau berubah disini. Semua temanku akan membenciku jika mereka tahu kalau aku adalah manusia serigala.


"Rin, kau kenapa?" tanya Nic dengan nada penuh kekhawatiran.


"Kau sepertinya sangat kesakitan. Apa perlu ke ruang kesehatan sekarang?" Kevin memberi saran dengan nada sama. Ia hendak membantuku namun aku menolaknya.


"Ada apa denganmu? Apa kau mau berubah menjadi serigala?" celoteh Rosse yang membuatku melirik kearahnya.


"Jangan berubah disini Rin. Kau bisa menghancurkan semuanya," sambung Evan becanda.


Buk! Buk!


Satu pukulan mendarat di kepala mereka berdua. Aku sedikit tersenyum melihatnya.


"Tidak bisa serius sedikit? Kalian berdua benar-benar serasi," ujar Nic sambil mengepalkan tinjunya pada kedua orang itu.


"Becanda," kata mereka serempak sambil mengelus kepala mereka yang sakit.


"Ssttt..." aku mencengkram kuat bajuku. Aku melirik Sofia yang ternyata mematung disana dengan mulut mengangah. "Sofia... ! ! !" pekikku membuat ia tersadar.


"Ah, apa? Maaf, maaf," ia berlari menghampiriku dan langsung duduk disebelahku. "Kalian semua sebaiknya pergi dari sini!!"


"Ada apa sebenarnya ini, Sofia?" kata Nic.


"Cukup rumit menjelaskannya. Yang pasti kalian harus pergi dari sini sekarang juga!!" tekan Sofia diakhir kalimat. Lalu ia berbisik ditelingaku. "Rin kau bisa mendengarku?"


"Sakit. Ini sangat, menyakitkan. Panas, panas sekali disini," kataku dengan susah payah. Aku berusaha mengatur nafasku yang sesak.


"Tenangkan dirimu, oke. Aku yakin kau bisa mengendalikannya. Apa kau ingat saat hutan waktu itu?"


"Tidak bisa. Aku, tidak yakin dapat mengendalikannya. Kalian... Pergilah dari sini," ujarku sebelum kesadaranku benar-benar menghilang.


"Kami tidak akan pergi!" tengas Rosse membuatku meliriknya sekilas.


"Iya. Kami tidak akan meninggalkan mu dengan keadaan seperti ini," sambung Kevin.


"Kau bisa cerita sama kami, Rin. Kami akan menerimanya apapun itu," kata Nic penuh keyakinan.


"Apa kau benar seorang manusia serigala?" tanya Evan yang kali ini serius.


"Sofia, ajak mereka meninggalkan tempat ini," aku berusaha mendorong Sofia menjauh. "Arrg...! Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi."


"Apa yang mau kau lakukan? Kau bukan sedang mengalami tahapan perubahanmu, Rin. Itu sangat berbeda," Sofia berhasil menebak pikiranku.


Sofia benar. Aku bukan sedang mengalami tahapan perubahanku. Hal Ini sangat jauh berbeda. Aku tak bisa hanya menunggu dan melaluinya begitu saja. Perubahan yang kualami saat ini hanya bisa menggunakan pengendalian diriku sendiri. Aku masih belum mahir mengendalikannya. Aku harus berusaha jangan sampai mengalami perubahan. Kalau tidak... Aku tidak dapat membayangkan apa yang bisa saja terjadi. Tapi semuanya jauh lebih sulit tampa jam tanganku.


"Aku tidak mau melukai kalian!"


Mendengar kalimat itu mengingatkanku pada satu hal. "Sofia, serang aku."


"Apa?! Aku tidak mungkin melakukannya."


"Tidak ada cara lain. Serang aku sampai tenagaku habis. Aku percaya kau bisa Sofia."


...Sudut pandang orang ketiga....


...ΩΩΩΩ...


Rin membungkukkan badannya ke depan sampai dahinya sedikit lagi menyentu lantai. Terlihat jelas raut wajah itu menahan kesakitan yang teramat sangat dengan tubuh basa oleh keringat. Semua temannya tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat itu. Rintih kesakitan nya kini berubah menjadi geraman yang berat. Kesadaran Rin sepenuhnya hilang seketika. Ia mengangkat wajahnya menatap tajam pada Lisa yang sendari tadi tidak bergerak. Retina mata Rin kini berubah menyipit seperti menatap mangsanya. Berbarengan dengan itu Rin mengeram ganas memperlihatkan taringnya.


"Aah! Semuanya sudah terlanjur terjadi! Ασπίδα τοίχου (Aspída toíchou)"


Dengan cepat Sofia membentuk dinding perisai di sekeliling Rin. Hal itu membuat Rin terperangkap dalam kubus kaca transparan. Tidak terima, Rin meronta-ronta berusaha membebaskan diri. Beberapa kali ia membenturkan tubuhnya ke dinding perisai tersebut.


"Sofia, kau..."


Lagi-lagi temannya dikejutkan dengan kemunculan sihir yang seharusnya tidak ada di dunia ini.


"Jika kalian tidak mau pergi dari sini sebaiknya menjauh lah sejauh mungkin dari kami!"


Krak!


Dinding perisai yang Sofia bentuk retak dan hancur seketika. Melihat itu membuat mereka sangat terkejut. Perwujudan Rin kini telah berubah menjadi serigala putih, tatapan tajam dan gigi taring yang terus diperlihatkan. Sofia tidak percaya atas apa yang ia lihat. Dinding perisai itu cukup kuat untuk menahan hantaman ledakan secara bertubi-tubi dan tidak lecet sedikitpun, tapi Rin... Ia dapat dengan mudah menghancurkannya begitu saja. Kekuatan manusia serigala tidak dapat diremehkan.


Pandangan Rin beralih kembali ke Lisa yang masih tidak bergerak sama sekali. Ia terlalu terkejut atas apa yang ada di hadapannya. Dengan mata kepalannya sendiri ia melihat seseorang berubah menjadi hewan buas. Manusia serigala, itu adalah suatu hal di luar nalar yang baru saja terjadi di depan matanya. Lisa sangat ketakutan saat melihat serigala itu berjalan mendekat sambil mengeram.


"Lisa...! mejaulah dari sana!!!" pekik Sofia namun belum cukup menyadarkan Lisa.


"Grrr...!"


Rin melompat ke arah Lisa dengan mulut terbuka hendak menerkamnya. Untung sebelum terjadi hal buruk Sofia berhasil melemparkan bola api dan tepat mengenai kepala serigala itu. Lisa hanya mendapat sedikit goresan dari cakar tajam milik Rin. Namun, bola api yang Sofia lempar tidak cukup kuat untuk membuat Rin terjatuh. Kini sorot mata tajam membunuh itu Rin alihkan ke Sofia. Lisa mengambil kesempatan ini untuk pergi dari tempat berbahaya itu.


"Hm, sepertinya tidak ada cara lain," Dengan raut wajah kini berubah serius. Sofia merentangkan telapak tangan kanannya ke depan lalu merampal mantra. "Πολυεπίπεδος τοίχος ασπίδας (Polyepípedos toíchos aspídas)"


Muncul kembali tiga lapis dinding perisai di sekeliling Rin. Ia kembali meronta tidak terima dikurung lagi. Sofia mengambil kesempatan ini untuk merampalkan mantra serangan sebelum Rin berhasil memecahkan dinding perisai itu lagi.


"Επίθεση επτά στοιχείων (Epíthesi eptá stoicheíon)"


Seketika muncul kilatan cahaya yang begitu menyilaukan, berbarengan dengan itu tiba-tiba tanaman rambar seketika melilit tubuh Rin dalam wujud serigala itu. Rin berusaha melepaskan diri dari lilitan tanaman berduri. Belum cukup, kini api seketika membarah. Rin mengeram hebat saat rasa panas mejalar ke seluruh tubuhnya. Ini masih beranjut, dalam ruang perisai itu muncul air yang seketika memenuhinya. Terlepas dari hawa panas kini Rin kesulitan bernapas. Tidak berlangsung lama air kemudian berubah menjadi angin kencang.


"Sofia, apa tidak apa-apa kau lakukan itu?" Rosse merasa tidak tega melihat Rin diperlakukan begitu kejam.


"Apa... Apa yang kau lakukan, Sofia?" pertanyaan tidak terima juga di lontarkan Nic.


"Tidak, apa-apa. Aku yakin, Rin dapat melalui serangan tujuh elemen ini," dengan terbata-bata Sofia menjelaskan.


Menggunakan kekuatan yang tersisa Sofia berusaha menahan dinding perisai itu sampai pada serangan elemen terakhir. Satu kilatan sambaran petir sebagai penutup berhasil membuat Rin tergeletak tidak sadarkan diri. Perlahan-lahan Rin berubah ke wujud asalnya. Dinding perisai yang kini tinggal selapis hilang seketika saat Sofia ikut tidak sadarkan diri karna kehabisan tenaga. Penggunaan mantra serangan tujuh elemen memang memerlukan banya tenaga untuk mengaktifkannya. Terlebih lagi Sofia harus menahan dinding perisai agar tidak hancur saat Rin menghantamnya dengan ganas.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε