My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kenyataan yang sebenarnya



"Mana orang tua bayi?" tanya dokter itu.


Sera yang duduk disamping Cloey langsung berdiri. "Saya dok."


"Begini bu. Kondisi putri ibu sangat kritis. Ia mengidap penyakit jantung bawaan dan harus mendapat transplantasi jantung sesegera mungkin," jelas dokter itu.


Sera tersentak atas apa yang baru saja ia dengar. Ia terduduk lemas dan menatap kosong lantai. Ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan dan kembali menangis lagi.


"Bagaimana ini. Hiks... Hiks... Dimana aku bisa mendapatkan pendonor diwaktu sesingkat ini," kata Sera dalam isak tangisnya.


Terlintas dipikiran Cloey ketika melihat wanita disampingnya ini akan bernasib sama seperti dirinya. Tidak. Cloey tidak akan membiarkan satu bayi lagi akan kehilangan nyawanya pada malam itu. Dengan pikiran gila, Cloey menyarankan pada dokter itu untuk mengambil jantung putrinya yang baru saja meninggal. Sera terperangak atas pengorbanan seorang ibu yang baru saja ia kenal beberapa menit lalu.


Delapan jam telah berlalu. Dokter belum kunjung juga keluar dari ruang operasi. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya Cloey yang sendari tadi mondar-mandir seperti setrikaan sambil memgigit kuku jarinya. Awalnya suaminya tidak menyetujui pendonoran ini. Ia tidak tega melihat putri mereka dibeda walau setelah kematiannya. Tapi istrinya bersikeras meyakinkan suaminya untuk menyetujui keputusannya ini. Karna, hanya ini satu-satunya cara agar detak jantung putri mereka tetap hidup walaupun di tubuh orang lain. Dengan berat hati Derek menyetujui keputusan gila istrinya itu.


Tidak disangka ternyata jantung putri mereka memenuhi semua syarat pendonoran pada bayi penerima. Mungkin ini memang sudah takdir yang telah ditentukan untuk keluarga kecil mereka. Tak lama akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Cloey segera bertanya pada dokter itu dengan kekhawatiran yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Tidak jauh berbeda dengan Derek dan ibu sang bayi.


"Tenang bu. Operasinya berjalan sukses. Hanya saja tadi ada beberapa kendala. Tubuh bayi mengalami penolakan pada jantung barunya. Namun semua itu sudah berlalu. Sekarang jantung barunya berkerja secara normal. Kita cukup melihat perkembangannya nanti. Saya permisi dulu," jelas dokter itu lalu berlalu pergi.


Rasa bahagia terpancar dari mereka bertiga. Derek memeluk istrinya yang menangis terharu. Sera menyekat air matanya ketika mengetahui bahwa putrinya masih bisa bertahan hidup berkat pengorbanan pasangan suami istri ini. Mereka rela memberikan jantung putri mereka untuk seorang bayi yang tidak mereka kenal. Sungguh malaikat datang tidak terduga.


"Saya benar-benar sangat berterima kasih pada Mr & Mrs. Morgen. Saya tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian," kata Sera sambil menangis. "Jika berkenan kalian mau mampir ke panti asuhan kami. Kami pasti akan menyambut kalian sebaik mungkin."


"Tunggu. Apa maksudmu bayi itu adalah salah satu anak asuhmu?" tanya Cloey.


"Iya. Saya menemukannya di depan pintu panti asuhan tiga bulan lalu."


Cloey menatap suaminya yang dibalas anggukan. Sepertinya suaminya sangat tahu isi hati istri tercintanya.


"Kami akan sangat senang hati menerima kunjungan itu."


Beberapa minggu berlalu. Sekarang Keyla sudah sepenuhnya menjadi putri angkat dari keluarga Morgen. Derek menyumbangkan sedikit dana untuk panti asuhan tersebut. Hal ini menjadi berita yang sangat menggembirakan bagi semua. Tapi ada sedikit keanehan yang terjadi pada tubuh Keyla. Perlahan-lahan rambut Keyla berubah warna menjadi kemerahan dengan garis merah terang disisi kanan. Bukan hanya itu saja, warna mata Keyla yang sebelumnya sedikit kehijauan kini berubah menjadi biru terang.


Keanehan ini sudah ditanyakan pada dokter. Tapi tidak ada yang tahu penyebabnya. Dokter hanya menyimpulkan mungkin itu terjadi karna jantung barunya yang mempengaruhi pigmen warna pada rambut dan matanya. Menurut hasil pemeriksaan perubahan warna rambut dan mata ini tidak membahayakan sama sekali bagi tubuh Keyla, mala Keyla terlihat sangat baik. Tubuhnya tidak melakukan penolakan lagi pada jantung barunya.


...Kembali kemasa sekarang...


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


"Karna kemiripanmu dengan putri kandung kami. Ayah dan ibu sepakat mengganti namamu menjadi Sherina Morgen. Tapi siapa sangkah jantung putri kami tidak hanya mempengaruhi pigmen warna pada tubuhmu, itu juga menurunkan bakat kami. Ibu menyadarinya ketika umurmu tiga tahun. Waktu itu Liz mencoba menyapamu dan tanpa diduga kau merespon sapaan Liz," cerita ayah dan ibu panjang lebar.


"Tenyata begitu."


Aku berusaha untuk tetap berdiri tegak dengan pandanganku yang sendari tadi mulai kabur. Kaki ku sudah tidak tahan lagi menahan berat badanku. Rasa sakit di dada kiri ku terasa menusuk tajam. Daya tahan tubuku telah sampai batasnya. Penglihatanku perlahan-lahan menghilang.


Aku membuka mataku perlahan. Ruang putih menyambut ku begitu terasa asing. Aku melirik ke kanan dan ke kiri dan baru menyadari kalau sekarang ini aku terbaring di ranjang rumah sakit. Aku berusaha duduk ketika aku mendengar keriuhan dari luar yang membuatku terbangun. Dari balik kaca pintu kulihat orang tuaku sedang bercakap dengan seorang dokter. Aku mencoba mempertajamkan indra pendengaran ku agar aku bisa tahu apa yang mereka bicarakan.


"Bagaimana keadaan putri saya Mr. Guttman?" tanya ibu.


"Untuk sekarang kondisinya baik. Tapi tadi itu entah mengapa tiba-tiba jantungnya mengalami penolakan pada tubuh putri anda. Takutnya kalau hal ini dibiarkan akan menyebabkan kegagalan fungsi jantung dan berakibat kematian," jelas dokter itu.


"Lalu kami harus bagaimana? Aku tidak mau kehilangan putriku lagi. Kumohon lakukan sesuatu untuk menyelamatkannya," rintih ibu yang mulai menangis.


"Jalan satu-satunya adalah melakukan tindakan operasi."


"Apa?! sungguh tidak ada cara lain Mr. Guttman?" tanya ibu tersentak.


"Maaf Mrs. Morgen hanya ini satu-satunya cara."


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Lakukan. Jika itu memang dapat menyelamatkan nyawa putriku. Aku bersedia mengorbankan apapun untuk keselamatannya," tengas Ayah yang membuatku meneteskan air mata.


"Untuk sekarang tidak bisa. Saya sudah pernah bilang kalau saya kehabisan stok darah yang cocok untuk putri anda," Mr. Guttman memasukan kedua tangannya ke saku jas putih panjangnya.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin kita hanya diam saja dan menunggu?" lirik ibu pada ayah.


"Aku akan mencari pendonor yang tepat. Kau tidak perlu khawatir. Putri kita akan baik-baik saja," hibur ayah pada ibu.


"Pihak rumah sakit akan memberi kabar kalau di bank darah sudah ada persediaan darah yang sesuai dengan golongan darah putri anda. Saya menyarankan agar putri anda jangan terlalu kelelahan, makan yang teratur, istirahat yang cukup dan jika ada keluhan mohon segera dibawa ke rumah sakit."


"Baik Mr. Guttman."


"Hiks... Hiks... Putriku yang malang," ibu membuka pintu dan melangkah masuk dengan air mata di pipinya. Aku memalingkan wajahku ketika padangan kami bertemu.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε