My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Ulang tahunku?



Begitulah kisah berlanjut. Aku benar-benar dibuat meleleh melihat aksi mereka di atas panggung. Kisah Snow Queen yang mereka bawakan jauh lebih menarik dari cerita yang sebenarnya, terutama terlibanya seluruh anggota keluarga serta teman-temanku. Rosse, Nic, Kevin, Evan, kak Cia, Hanna, Rian, Tobi, Harry, Felix dan Veena yang baru aku tahu ternyata mereka sangat pandai berakting. Adegan yang paling aku suka ketika adengan Gerda mencium Kay untuk mencairkan hatinya yang membeku, dan tentu saja yang pemeran tokoh utama wanita bernama Gerda adalah Lisa.


Aku sangat menikmati pentas drama ini dari awal pembukaan sampai akhir yang sangat mengagumkan. Kejahilan yang mereka buat seharian ini dibayar dengan sesuatu yang indah. Tepuk tangan yang meriah kuberikan begitu pertunjukan selesai. Kembang api diluncurkan ke udara sebagai penutup. Kilauan cahaya di langit begitu mempesona menghiasi malam.


Et, tapi tidak cukup sampai disitu. Tiba-tiba Sofia bersama ibu melafalkan mantra secara bersama dan sihir itu ditujukan padaku. Seketika kabut sihir berserta kepingan salju mengitariku bersamaan mengubah pakaianku menjadi gaun biru muda berhias kepingan salju. Rambutku juga berhias kepingan salju dengan kepangan kecil di sisi kiri rambutku. Ini sungguh menakjubkan.


"Jujur saja aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Semua ini terlalu sulit aku cerna dalam pikiranku. Apa tujuan kalian mempersembahkan pertunjukan ini padaku?" tanyaku akhirnya.


"Ini ide Lisa. Ia merasa sedih karna kau tidak dapat hadir dalam pentas drama sekolah di hari natal. Jadi kami persembahkan pentas drama hari ini untukmu," beritahu ibu.


"Kenapa harus hari ini?"


"Karna... Ini adalah hari ulang tahunmu! Selamat ulang tahun Keyla."


Kata mereka bersamaan dengan confetti diluncurkan ke arahku. Mitéra datang menghampiriku dengan membawa kue ulang tahun yang di atas nya menyala lilin berangka 16. Aku benar-benar di kejutkan akan hal itu. Cukup lama aku dalam diam mencoba mencerna apa yang terjadi. Ulang tahun? Ha... Hari ini ulang tahunku? A, apa kalian tidak salah tanggal? Kejutan ulang tahun di bukan harinya membuat orang yang menerima merasa... Kacau.


"Ta... Tapi ini bukan hari ulang tahunku."


"Ups, lupa memberitahu mu. Hari ini adalah hari ulang tahunmu sebagai Keyla French," kata Patéras.


"Iya sayang. Selama ini dulu kau merayakan hari ulang tahun tanggal kelahiran Sherina karna kami tidak tahu kapan tanggal lahirmu, tapi sekarang kami tahu dan merayakannya tepat hari ini. Selamat ulang tahun putri kecilku," jelas ayah lalu mengacak-acak rambutku.


"Bukankan ini sangat tidak terduga, Keyla? Kau mendapat kejutan dihari ulang tahunmu yang bahkan kau sendiri tidak tahu," kata Sherina.


"Tentu saja ini sangat mengejutkanku sampai aku kehabisan kata-kata mengungkapkannya," kataku pada Sherina melalui telepati. Akan aneh jika orang lain melihatku berbicara pada udara, kan?


"Ayok, sekarang tiup lilinmu dan buat permohonan,"


Mitéra mendekatkan kue ulang tahun itu padaku sambil di iringi lagu happy birthday to you dari yang lain. Aku memejamkan mataku meminta permohonan, setelah selesai kubuka mataku lalu meniup semua lilin ini sampai pada dalam satu tarikan nafas. Aku harap apa yang aku harapkan dapat terwujud.


"Apa yang kau minta?" tanya Sherina.


"Rahasia. Kalau diberitahu nanti tidak akan terwujud."


Pesta malam itu berlanjut dengan sangat meria. Setelah pemotongan kue, kami semua makan malam bersama. Kemudian berlanjut dengan berbagai permainan yang ada, perang bola salju menjadi kesukaanku, sampai aku menyadari ada satu orang tidak yang hadir disini. Em... Kemana paman Fang? Tidak mungkin ia tidak hadir di acara ulang tahunku. Biasanya dia lah yang paling bersemangat jika mengatur hari-hari spesial seperti ini. Tapi kenapa hari ini ia tidak terlihat sama sekali? Rasanya seperti ada yang hilang tanpa kehadirannya.


"Eh... Dimana paman Fang?" tanyaku pada mereka.


"Ah... Benar juga. Ibu tidak melihat Mr. Li begitu pesta dimulai. Kemana perginya ia?" kata ibu sambil celingak-celinguk mancari orang yang kutanyakan.


"Bukankah tadi dia masih ada sewaktu menyiapkan keperluan pentas drama? Sekarang kenapa ia menghilang?" sambung Mitéra ikut mencari paman Fang di antara semua orang.


"Kenapa? Mencari Mr. Li?" tanya ayah menghampiri kami.


"Iya," jawabku.


"Mr. Li pergi ke kota sore tadi, katanya ada barang yang mau di ambil. Tapi tidak tahu kenapa sampai sekarang belum pulang," jelas ayah.


"Barang apa sampai paman Fang sendiri yang harus mengambilnya?" tanyaku lagi.


"Jangan sedih, paman Fang mu pasti segera kembali dan ikut merayakan ulang tahunmu," hibur ayah.


"Iya," aku tertunduk murung.


Aku bergegas mendekati mereka. Aku berusaha mengalikan pikiranku dari paman Fang yang tidak kunjung datang. Tidak kuharapkan paman Fang tidak dapat hadir malam ini. Kemana perginya ia sebenarnya? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya? Aku harap ia baik-baik saja.


"Mr. Morgen."


Seorang pria bawahan ayah dari klan datang menghampiri. Ia sepertinya memiliki pesan yang ingin disampaikan secara langsung. Aku cuman memperhatikannya dari tempatku berdiri.


"Ada apa?" tanya ayah.


"Penghianat yang selama ini dicari telah tertangkap," bisik pria itu.


"Benarkah? Dimana dia sekarang?"


"Di penjara bawah tanah."


"Bagus. Antar kami menemuinya."


"Baik."


"Alan, Jaseph, ikut aku," panggil Ayah pada kedua orang yang sedang bermain dengan Mia dan Jimmy bersamaan istri mereka.


"Ada apa?" tanya mereka serempak sambil menghampiri.


"Penghianat di kediaman telah tertangkap," jelas ayah.


"Sungguh akhirnya penghianat itu tertangkap?"


"Apa maksud ayah pria berjubah hitam itu?" tanyaku menghampiri, aku mulai penasaran akan hal itu.


"Iya."


"Siapa?"


"Ayah juga masih belum tahu, kemungkinan paman Fang mu sudah ada disana menginterogasinya. Ayah akan menyuruhnya datang kesini. Ayah pergi dulu."


Ayah, paman Alan dan paman jaseph berlalu pergi meninggalkan acara sampai... Tidak ada satupun yang kembali dari mereka setelah acara selesai. Kini aku terbaring di kamar menatap langit-langit berstiker bintang, sendirian sambil melamun. Sherina telah lama kembali ke alam bawah sadar karna mengantuk. Jiwanya sudah seharian keluar dari alam bawah sadar menemaniku mencari petunjuk. Hal itu sudah pasti membuat ia kelelahan.


Pikiranku kini beralih pada ayah. Bagaimana jalan interogasinya? Apakah telah mendapat informasi penting dari sang penghianat? Maukah penghianat itu berbicara? Siapa dia? Semua pertanyaan itu membuatku haus. Aku turun ke bawah menujuh dapur. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 01.05 dini hari. Semua orang telah tertidur. Kuselusuri lorong yang redup sampai aku baru menyadari telah salah jalan. Begitu aku hendak kembali ke arah yang benar saat itulah aku mendengar suara percakapan ayah dan ibu dari balik ruang kerja. Aku menempelkan telingaku ke pintu agar bisa mendengar lebih jelas percakapan mereka. Aku jadi penasaran begitu mendengar Mr. Li ada dalam percakapan mereka.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε