
Aku terbangun dengan rasa sedikit pusing di kepala. Cukup lama aku terduduk sambil memijit-mijit pelan kepalaku untuk meredakannya. Setelah agak mendingan aku berajak pergi ke kamar mandi. Aku mencuci muka dan gosok gigi sebelum turun menuju dapur. Aku melihat jam tanganku. Jam menujukan pukul 05.00, matahari belum menampakan wujudnya. Hei, ini rekor baruku dalam hal bangun pagi. Tapi entah mengapa perutku lapar sekali pagi ini. Aku mencari sesuatu yang bisa dimakan, dalam kulkas, lemari dapur, dan dimanapun aku tidak menemukannya. Hanya ada bahan mentah yang harus diolah terlebih duhulu. Em... Aku berpikir sejenak. Masakan apa yang bisa aku buat dengan berbagai bahan di dapur ini? Mungkin aku bisa membuat Pancake saja. Dulu ibu pernah mengajariku membuatnya, tapi sebelum itu aku membuat teh manis dulu.
"Ririn? Tumben duluan?" ejek bibi Marry ketika melihatku di dapur.
"Iya biasanya yang terakhir," sambung Rosse dengan raut wajah berseri.
"Memangnya aku tidak bisa bangun lebih awal dari kalian? Ini, cobain pancake buatanku," aku meyodorkan masing-masing sepiring pancake yang baru matang di hadapan mereka. Tidak lupa dengan toping madu dan taburan buah Berry. Aku menanyakan pendapat mereka saat mereka mencicipinya. "Bagaimana? Enak, tidak?"
"Em... Ini sangat enak. Tidak disangkah gadis sepertimu bisa masak juga," kata bibi Marry sambil menikmati pancake buatanku.
"Aku kira kau cuman tahu makan saja," ujar Rosse dengan nada mengejek.
"Oho... Kau pikir aku begitu, tapi nyatanya tidak bukan? Ngomong-ngomong Rosse, kau ini terbuat dari apa?"
"Apa maksudmu?" lirik tajam Rosse padaku.
"Iya... Kau kemarin begitu murung, hari ini terlihat ceria, lalu besok apa? Kesal? Takut? Atau... He, perasaanmu selalu berubah setiap hari ya," jujur saja aku memang bingung dengan perubahan sikapnya yang drastis pagi ini.
"Tentu saja aku sekarang sangat bahagia, karna semalam..." Rosse tersenyum ketika mengingat-ingat kenangan indah yang ia maksud.
Memang apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tidak tahu sama sekali? Seingatku setelah pulang kerja... Eh? Apa ada yang aku lupakan? Aku mencoba mengingat kejadian semalam namun tidak ada lintasan yang mencul di kepalaku. Apa benar aku melewatkan sesuatu? Oh, aku tahu. Hal yang paling membahagiakan Rosse hari ini pasti mimpi indahnya semalam.
"Aku mendapatkan hadiah spesial dari ayah," sambung Rosse kemudian sambil menatap gelang cantik yang melingkar di pergelangan tangannya. Gelang emas dengan batu permata biru gelap itu persis sama dengan warna mata Rosse.
Aku sangat terkejut ketika mendengarnya. "Ba... Bagaimana bisa?" tanyaku pelan.
"Ayah sendiri yang memberi tahuku letak tersimpannya kado ini."
"Apa kau mendapat petujuk lewat mimpi?"
"Tidak."
"?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku benar-benar jadi bingung dengan obrolan ini.
"Saat kau menyentu pundakku semalam seperti ada aliran panas dari tanganmu lalu menyebar keseluruh tubuhku. Setelah itu aku mendengar suara ayah... Oh, iya. Aku semalam minta kau menemaniku mengambil hadiah ini, tapi kau mala sudah tidur."
"Jujur saja, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tidak ingat perna meyentuh pundakmu," ucapku dengan ekspresi bingung.
"Sudahlah, kita lanjukan nanti saja. Sebaiknya kalian siap-siap sekolah," kata bibi Marry.
Bibi Marry berdiri sambil membawa semua piring kotor dan meletakan di wastafel lalu mencucinya. Sedangkan Rosse kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Aku yang masih bingung dengan percakapan tadi hanya diam melamun sambil makan pancake. Aku mencoba mengingat-ingat, mungkin memang ada yang aku lupakan. Rosse bilang kalau aku perna meletakan tanganku di pundaknya. Apa aku membantu ia untuk bertemu dengan ayahnya? Tapi kenapa aku lupa akan hal itu? Aku tidak perna melupankan semua hal saat aku mengunakan kekuatan Necromancyku. Apa ada kaitannya dengan rasa pusingku pagi ini? Atau rasa laparku yang tiba-tiba?
"Ririn, terima kasih ya," ucap bibi Marry membuatku sadar dari lamunan.
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Bibi sudah tahu tentang kemampuan Necromancy mu. Ibumu perna cerita sama bibi ketika bibi bertanya, kenapa kau suka bicara sendiri saat kau masih kecil?"
"Bibi tahu?" Benar juga. Bibi Marry adalah pengasuhku. Ia pasti perna melihatku berbicara dengan Liz. Waktu itu aku tidak terlalu memperdulikan sekitarku saat aku bercakap dengannya.
"Ah, iya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kukayuhkan pedal sepeda dengan lembut melewati jalanan. Pikiranku masih terbawah percakapan di meja makan tadi. Ternyata benar aku telah membantu Rosse untuk bertemu ayahnya, tapi kenapa aku tidak ingat sama sekali tentang itu? Aaah! Kepalaku tambah pusing memikirkannya. Biarlah aku tidak mengingatnya yang penting Rosse tidak murung lagi. Ia terlihat sangat ceria, hatinya bernyanyi-nyanyi di sepanjang jalan menuju sekolah. Aku terlalu melamun sampai tidak menyadari kehadiran mobil Sindy yang ada di depan pintu gerbang. Hampir saja aku menabraknya, untung aku mengerem tepat waktu.
"Dasar gadis kampung!! Apa kau mau mobilku lecet?!" bentak Sindy setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Kurang kerjaan aku membuat mobilmu lecet."
"Kau tidak punya mata ya? Mobil sebesar ini saja tidak lihat!!"
"Tidak perlu semarah itu juga. Lagi pula aku tidak menabrakmu."
"Kalaupun iya kau menabrak mobilku, kau tidak akan sanggup menggantinya biarpun kau menabung seumur hidupmu!!"
"Benahkah? Kau tahu apa?"
"Hei, hei. Ada apa ini? Kenapa membuat keributan di depan pintu gerbang sekolah?" kata penjaga menghampiri kami.
"Aku akan membalasmu hari ini gadis kampung! Lihat saja nanti," ancam Sendy sambil menancap gas meninggalkanku.
"Akan aku tunggu."
Aku tidak menghiraukannya. Aku mermakirkan sepedaku di tempat biasa lalu pergi ke kelas, sendirian. Kemana hilangnya Rosse tadi? Dasar Rosselya...! Kau pergi begitu saja meninggalkanku. Sampai di kelas aku menemukan ia sudah duduk di mejanya sambil membaca buku. Aku berjalan menuju mejaku tampa meliriknya sama sekali. Aku sedikit kesal melihatnya. Ketika aku melihat ke depan, aku baru menyadari kalau Sindy tidak ada di mejanya. Hm, kali ini apa yang dilakukan gadis aneh itu?
Tak lama kemudian guru datang dan tidak jauh dari belakangnya aku lihat Sindy. Ia melangkah masuk dengan senyum bodohnya. Aku seketika memalingkan muka saat ia melirik padaku. Baru lima menit pelajaran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara yang ada di kelas ini, memanggilku menuju ruang kepalah sekolah. Aku berdiri, meminta izin sebentar pada guru yang mengajar lalu melangkah keluar. Sebelum itu aku mendengar Sindy bergumang...
"Rasakan itu gadis kampung."
"Oh... Apa ini rencanamu?" batinku.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε