
"Lumayan," aku memasukan kembali gaun tersebut kembali ke dalam paper bag.
"Aku sudah memberi sihir pada gaunmu jadi kau bebas jikalau kau akan berubah nanti."
"Kemungkinan aku tidak akan berubah. Tapi, terima kasih Sofia karna kau selalu bisa diandalkan."
"Kalau aku bagaimana? Apa aku tidak berguna sama sekali?" ujar Lisa sambil mengacungkan tangan.
"Adikku Lisa, terima kasih karna kau selalu ada dan peduli padaku," aku membalai rambut Lisa dan tampa sadar berkata pelan. "Kehadiranmu adalah alasanku bisa bertahan sampai sekarang."
"Apa yang kau katakan kak? Kenapa cara bicaramu selalu aneh?"
"Aneh? A, aneh dari mananya? Kau saja yang berpikiran aneh-aneh," aku tersadar atas apa yang baru saja aku katakan dan segera berpaling mencari alasan.
"Ucapan Rin memang terkadang aneh. Hei, bagaimana kalau kita memaksanya untuk memberitahu kita apa yang ia sembunyikan?"
"Woi, woi. Kalian tidak perlu sampai berbuat begitu kan. Lagi pula tidak ada yang aku sembunyikan."
"Oh... Benarkah? Ayok serang dia Lisa."
"Dengan senang hati."
"Tidak menjauh lah dari kalian berdua! AAAH ! !"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang di tunggu-tunggu. Semua orang telah bersiap-siap pergi ke aula kastil, tempat dimana pesta berlangsung. Aku, Lisa dan Sofia tidak mau ketinggalan. Gaun yang telah Sofia dan Lisa beli telah kami kenakan. Ukuran gaun ini sangat pas ditubuhku dengan sepatu hak tinggi hitam. Tidak heran juga karna tubuhku hampir sama dengan Sofia, hanya saja Sofia lebih pendek tiga senti dari ku. Lisa mengenakan gaun biru gelap sedangkan gaun Sofia berwarna ungu. Kami sengaja memilih warna gelap agar lebih mudah melarikan diri di kegelapan malam tampa diketahui.
Setelah selesai berdandan, kami berangkat menuju kastil NorthVyden. Semua orang tampa sudah memasuki kastil. Pesta malam ini hanya dihadiri para siswa/siswi dan pihak sekolah. Putra mahkota tidak mengundang orang-orang dari luar kastil atau tamu-tamu tertentu. Aku juga binggung, kenapa untuk menyambut gugurnya kelopak bunga terakhir dari pohon ΖΩΗ (ZOI) yang hanya terjadi 100 tahun sekali putra mahkota cuman membuat pesta kecil-kecilan? Aah, apa pentingnya itu bagi kami. Lebih baik kami fokus pada rencana untuk mencuri buah ΖΩΗ (ZOI). Maaf kerajaan vampire, aku membutuhkan buah itu untuk kesembuhan ibuku.
Setelah menarik nafas panjang, kami melangkah memasuki kastil. Ini untuk pertama kalinya bagi kami masuk ke kastil kerajaan yang sesungguhnya. Kamu terperangak melihat kemegahan dari aula kastil tua ini. Karpet merah menyambut kami pertama kali yang membentang dari pintu masuk. Semua dekorasi yang ada di kastil ini dihias sesuai keeleganan kastil pada umumnya, tapi tetap saja tempat ini membuatku takjub.
"Sofia! Lisa! Rin!" panggil Trysta begitu melihat kami. Ia tampak cantik dalam balutan gaun putih berpadu dengan warna pink.
"Trysta," sapa kami balik sambil menghampirinya.
"Kau cantik sekali hari ini," puji ku padanya.
"Terima kasih. Kalian juga sangat cantik malam ini."
"Selamat malam nona-nona."
Aku dikejutkan dengan suara Onoval tepat di telingaku. Itu membuatku sedikit merinding. Aku seketika menoleh padanya. Onoval berdiri di belakangku. Ia mengenakan setelan Tuxedo yang begitu cocok ditubuhnya. Aku sedikit terpesona melihatnya yang sungguh menawan malam ini.
"Onoval! Bisa tidak kau jangan muncul tiba-tiba?"
"Aku sudah sendari tadi ada disini. Yang lain juga sudah tahu, kau sendiri yang tidak menyadarinya."
"Oh... Aku datang kesini untuk menjemput sang putri turun ke lantai dansa," kata Onoval balik menggoda. Ia merangkul pingangku menariknya dalam pelukannya.
Aku mendorongnya menjauh. Ia benar-benar membuatku malu. "Onoval!"
"Pantas saja setelah tahu Perchye sudah tunangan kakak tidak terlalu sedih sama sekali. Ternyata telah memiliki pengganti," bisik Lisa pada Sofia yang masih bisa aku dengar.
"Hihi... Kau benar Lisa. Kakakmu memang hebat."
"Kalian berdua! Apa yang kalian bicarakan?" bentak ku kesal pada mereka. "Aku cuman menganggap Onoval sama seperti kakak laki-laki bagiku tidak lebih. Lagi pula ia sudah memiliki seseorang yang di cintanya. Itu benar kan Onoval?"
"Ukhuk. Itu, itu benar."
"Lalu dimana kekasimu sekarang Onoval? Apa ia bersekolah disini? Perkenalkan pada kami sesekali," pinta Sofia.
"Dia..."
"Dia tidak bersekolah disini," potongku bantu menjelaskan. "Mereka sedang menjalin hubungan jarak jauh untuk sekarang ini," aku melirik Onoval. Maaf Onoval, seharusnya aku tidak menyebutkan tentang kekasihmu itu. Tapi hanya ini agar mereka tidak berpikiran yang aneh-aneh pada hubungan pertemanan kita.
Ting... Ting. Ting. Ting...
Alunan musik piano mengisi ruangan aula. Semua orang yang tadinya ribut berbincang antara satu sama lain senyap seketika begitu mendengar nada-nada lembut yang mengalun indah. Kami semua menengadah ke atas, melihat ke tempat sumber suara yang ada di tingkat kedua dari aula ini. Seseorang terlihat sedang bermain piono di atas saja. Tak berselang orang tersebut berhenti bermain. Ia berdiri dan berjalan ke tepi untuk menyambut para hadirin yang telah hadir. Seorang pria berwajah elok rupawan dalam balutan pakaian kerajaan, lengkap dengan mantel berwarna perak bergaris emas dan bagian dalamnya berwarna merah terang.
"Selamat malam para siswa dan siswi serta para pihak sekolah NorthVyden. Terima kasih karna telah menyempatkan untuk hadir pada malam hari ini. Saya, Lucas Northman, sang putra mahkota menyambut kalian semua di kastil ku."
"Wow... Ternyata dia sang putra mahkota. Karisma yang dimilikinya sangat jelas tampa pada dirinya. Sungguh sangat berbeda dengan sang pangeran," lirikku pada Onoval yang dibalas wajah cemberut.
"Sambil menunggu cahaya bulan ada pada tempatnya, mari kita semua menikmati pesta ini dengan berdansa bersama. Saya akan memilih pasangan dari salah satu gadis diantara kalian. Siapa yang..."
Aku tidak memperhatikan ocehannya lagi. Pandanganku sibuk mencari keberadaan Prof. Peter. Aku sempat menghubunginya namun tidak diangkat. Selagi masih bersiap-siap tadi Prof. Peter mengatakan akan menunggu kami di pintu aula, tapi sampai sekarang aku tidak melihatnya. Gagal menelponya berkali-kali aku menyimpan kembali hpku. Di kerumunan itu aku melihat seekor kucing putih berpita merah berjalan mendekati ku. Itu adalah kucing yang kukejar masuk hutan dulu dan saat itulah pertama kalinya aku berkenalan dengan Onoval. Apa iya masih mengenali ku? Ia mengeyong padaku lalu melompat ke arahku. Kugendong kucing itu sambil mengelus bulunya yang lembut. Tiba-tiba sorot lampu merah meyinariku. Aku sedikit terkejut sampai ucapan putra mahkota membuatku lebih terkejut lagi.
"Selamat Nona, Archie telah memilihmu sebagai pasanganku malam ini."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε