My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Wolf kecil



Setelah mendapat pemeriksaan, dokter mengatakan kondisiku saat ini sangat baik. Bahkan terlalu baik mala untuk seorang pasien yang baru bangun dari koma. Mereka mengatakan keadaan ku saat ini seperti tidak perna mengalami koma sebelumnya, apa lagi perna dalam kondisi kehilangan nyawa sementara. Ini sungguh keajaiban yang patut disyukuri.


Ibu memberitahu kabar ini pada semua yang disambut gembira. Πατέρας (Patéras) panggilan yang aku gunakan untuk ayah kandungku, dan ayahku Derek bergegas datang ke rumah sakit setelah menerima kabar ini. Rapat yang baru dimulai dibatalkan seketika dan dijadwalkan lain waktu. Pelukan kembali mereka berikan saat melihatku terbaring tapi kini melirik pada mereka. Aku hendak duduk namun ayah memintaku berbaring kembali. Katanya tubuhku masih lemah dan harus banyak-banyak istirahat. Dielusnya lembut rambutku dan dikecupnya keningku. Ayah sungguh sangat bahagia melihatku telah sadar dari koma. Tidak jauh berbeda dengan Patéras. Ia berkali-kali minta maaf padaku karna tidak ada disaat-saat sakitku di waktu kecil.


Duar!


Suara pintu ketika seseorang terlalu tergesa-gesa menerobos masuk. Itu paman Fang yang baru datang dengan raut wajah... Em... Bagaimana ya menjelaskannya? Mulutnya sedikit terngangah, mata terbuka lebar dan berlinang dengan alis terangkat. Paman Fang berlari menghampiriku dan langsung memelukku tanpa memperdulikan orang lain disekitarnya.


"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga wolf kecil. Aku benar-benar merindukanmu. Merindukan kenakalanmu, semua masalah yang selalu kau perbuat dan aku harus..."


"Hei, hei, paman Fang, paman sepertinya harus melihat siapa yang ada disekitar kita," kataku seketika memotong kata-kata paman Fang sebelum ia membongkar semuanya. Tatapan dari ayah dan ibu mulai terasa dingin.


"Apa?" paman Fang melepaskan pelukannya lalu menoleh kebelakang. Ia tersetak dan langsung mundur ketika baru menyadari kalau semua orang masih ada diruangan ini. "Ah...! Mak, maksudku tidak seperti itu. Aku... Aku... Tidak bermaksud berbuat lancang. Ma, maafkan saya," paman Fang langsung membungkuk minta maaf.


"Hahaha... Mr. Li kami semua tahu betapa kau peduli dengan Rin tidak jauh berbeda dengan kami. Jangan merasa bersalah begitu. Kita semua adalah keluarga. Kau pamannya, bukankah selalu begitu ia memanggilmu, jadi kenapa harus sungkan?" ujar ayah.


"Iya. Aku sering melihatmu duduk diam sambil memandang Keyla dengan raut wajah sedih. Aku tidak berani menggagu karna aku tahu betapa kau peduli sekali dengan kesehatan dan kesembuhan Keyla," kata Mitéra kemudian.


"Tidak, tidak. Saya terlalu lancang tadi. Saya bersedia menerima hukuman," paman Fang kembali membungkuk lagi.


"Baiklah. Rin, hukuman apa yang cocok untuk pamanmu satu ini?" tanya ayah padaku.


"Em..." aku mulai berpikir. "Aku tahu, paman Fang harus memberiku satu hadiah untukku."


"Hadiah?"


"Yap. Harus yang paling istimewah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pertemuan itu aku kembali tertidur. Aku ngantuk sekali, rasanya mata ini sulit sekali terbuka. Aku tertidur hampir tiga jam lamanya, terbangun karna lapar. Paman Alan, bibi Emely, Mia dan bibi Marry sedikit kecewa saat mereka datang aku masih tidur. Tapi mereka turut senang mendengar kabar kalau aku telah sadar dari koma.


Beberapa hari berlalu, kunjungan dirumah sakit dibatasi. Dokter menyarankan agar aku masih harus banyak-banyak istirahat. Itu bagus. Bukan karna tidak senang sumua kerabat dan temanku datang berkunjung tapi aku terkadang masih lemah untuk menanggapi mereka semua. Aku bahkan tidur lebih dari 18 jam sehari. Untungnya teman-temanku berencana berkunjung ketika aku sudah pulang dari rumah sakit. Hah... Aku menanggapi semua cerita keluargaku saja sudah pusing.


Apa lagi mendengar semua celotehan Sofia, Lisa dan Rosse. Mereka paling bersemangat menceritakan semua kejadian saat aku koma. Mereka bercerita berbagai hal dengan keasikan masing-masing. Aku yang mendengarnya tidak bisa mencernanya sekaligus. Namun aku senang melihat mereka akrab, Lisa kini telah jadi bagian dari pertemanan kami. Ia mulai merasakan arti persahabatan yang sesungguhnya, walau kata-kata masih suka seperti dulu, mengesalkan.


Aku mulai tertarik mendengar cerita mereka ketika aku diberitahu Perchye selalu datang menjengukku. Aku kini merindukannya, walau bagiku koma selama lebih dari dua bulan seperti baru beberapa menit aku bermimpi. Rosse sempat menanyakan hal ini disela-sela ceritanya.


"Em... Aku sedikit penasaran Rin. Apa yang kau alami selama koma?"


"Selama koma? Tidak ada. Aku cuman duduk di batang pohon tumbang sambil memandang sebrang jembatan. Disana ada taman yang indah, banyak anak-anak bermain dengan begitu asiknya. Tidak hanya itu, semua kalangan ada disana. Canda tawa, dan sendah gurau, semuanya bahagia. Sampai aku melihat Brenda diantara orang-orang itu. Aku hendak menyapanya namun ia telah hilang dalam kerumunan," jelasku.


"Brenda? Siapa dia?" tanya Lisa.


Sofia tersentak ketika ia mendengar nama Brenda. "Jadi, apa kau hendak menyebrang jembatan itu untuk mencarinya?"


"Em... Iya," jawabku membuat Sofia semakin terkejut. "Tapi tiba-tiba Sher... Em, maksudku ada seseorang memanggilku yang membuat aku menoleh. Ia menariku menjauh dari tempat itu lalu semuanya gelap sampai aku membuka mata pada malam itu."


"Aku rasa begitu," kataku tertunduk.


Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan di kaca jendela. Semua orang mendengarnya ikut menoleh ke sumber suara. Lisa berjalan mendekati jendela lalu menarik tirai yang menutupinya. Tepat diluar jendela ada sosok yang begitu aku kenal, permata merah diantara warna salju itu tentu ciri khas tersendiri. Lisa membukakan jendela membiarkan Angel masuk. Seketika Angel terbang menghampiriku dengan ranting kayu di kakinya. Apa yang ia bawa langsung diberikannya padaku.


"Astaga Angel, apa yang kau berikan padaku ini?" kataku setelah menerima ranting itu.


"Hampir setiap hari ia datang dengan membawa ranting, daun, biji ek, dan buah cemara. Kami mengumpulkan semuanya dalam kardus," Rosse mengambil kardus kecil yang diletakan di bawah tempat tidur kemudian memperlihatkannya padaku.


"Sebanyak ini?" aku meletakan ranting itu dalam kardus yang sudah penuh.


"Iya," jawab Lisa sambil mengelus lembut kepala Angel.


"Eh, Angel mau dielus olehmu?" aku cukup terkejut.


"Memangnya kenapa?"


"Selain aku, Mia dan paman Fang Angel tidak mau sentu oleh siapapun," jelas ku.


"Mungkin Angel tahu kalau Lisa merupakan adik kandungmu," kata Rosse menebak-nebak.


"Mungkin. Em... Ngomong-ngomong kemana perginya Sofia tadi?" lirik Lisa mencari Sofia.


"Hah, apa kalian tidak tahu kalau ia itu takut sama burung hantu?" kataku memberitahu.


"Oh... Benarkah. Pantas saja setiap kali Angel datang Sofia langsung hilang entah kemana."


"Memangnya kenapa Sofia sangat takut burung hantu?" tanya Lisa penasaran.


"Dari kecil ia takut mendengar suara burung hantu saat malam hari. Ia akan menangis begitu mendengarnya. Mungkin sebab itu ia takut burung hantu sampai sekarang."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε