
"Ingat-ingat dulu, mungkin ada yang kau lupakan," Sherina muncul lalu duduk disampingku.
"Aku kira kau juga ikut menghilang."
"Mereka pasti merencanakan sesuatu, dan tidak mungkin mengajakku. Walau aku ingin sekali jika itu untuk menjahilimu."
"Hah... Kenapa selalu aku yang kalian jahili?"
"Entahlah, mungkin kau memang pantas untuk dijahili."
"Cara bicaramu sama seperti Rosse," kataku tanpa ekspresi. "Oh, iya aku selalu lupa menanyakan hal ini. Selama ini kau ada dimana? Kau tahu... Setelah operasi itulah kau sering muncul dan berbincang denganku."
"Aku ada di dalam alam bawah sadarmu. Mau lihat? Pejamkan matamu."
Aku mengikuti perintahnya memejamkan mata ketika ia menggegam erat tanganku. Rasa hanya dari tangannya sungguh membuat perbedaan besar antara ia dengan arwah. Secara perlahan-lahan udara di sekitar ku menghangat seperti angin musim semi telah datang. Kehangatan begitu lembut menerpa kulitku. Bau rerumputan kini menghiasi penciumanku, begitu manis, bau yang sangat kusuka. Aku merasa ada di padang luas dengan angin yang membawa aromah khas dari musim yang paling dinanti.
"Buka matamu," bisik Sherina.
Begitu aku membuka mata, apa yang kubayangkan tiba-tiba ada di sekitarku. Kini aku berada di hamparan luar rerumputan yang dihiasi bunga-bunga kecil berbagai warna. Pemandangan ini iyalah bentuk alami dari keindahan musim semi yang sesungguhnya. Angin bertiup lembut nan hangat menerbakan helaian rambutku. Kuhirup kesegaran udara ini mengisi semua selah-selah di paru-paruku kemudian kuhembuskan perlahan dengan kenyamanan yang memuaskan.
"Apa ini alam bawah sadar ku," kataku memberanikan diri bertanya.
"Iya. Tempat ini tercipta dari keinginanmu yang tak tercapai."
"Keinginanku yang tak tercapai? Keinginan apa itu sampai keindahan ini menggambarkannya?" tanyaku pada diri sendiri.
"Pikirkan saja," Sherina berjalan di depan ku melalui rerumputan yang setinggi lutut.
Aku mengikutinya. "Aku tidak tahu pasti akan hal ini tapi aku mendambakan seorang saudara."
"Masuk akal. Kehangatan tempat ini melambangkan keinginanmu untuk memiliki ikatan tali persaudaraan. Kau kesepian."
"Bukan kah kau sama saja."
"Tidak. Selama ini aku tertidur dengan ingatamu sebagai mimpiku. Pertama kali kau mengalami perubahan mu lah aku mulai terbangun namun cuman sebentar."
"Hm... Sepertinya setelah aku di operasi, hal itu membuatmu benar-benar terbangun dari tidurmu."
"Begitulah."
Wuf... Wuf...
Aku mendengar suara Angel, lantas aku segera membuka mataku. Kulihat itu memang dia. Angel terbang menghampiriku dan langsung hingap di sandaran kursi taman. Ada sesuatu di kakinya. Em... Semacam kertas kecil yang digulung rapi dalam balutan pita merah. Aku melepaskan ikatan pita tersebut dari kaki Angel dan membuka gulungan kertas itu. Ada tulisan disana, sepertinya sebuah teka-teki.
...SESUATU YANG HIDUP TERTUA DI KEDIAMAN...
"Hah? Apa itu?"
"Makhluk hidup yang paling tua... Em..." Sherina ikut berpikir. "Aku pastikan bukan orang."
"Hewan, kah? Tapi apa? Hewan yang ada di kediaman ini cuman berbagai macam kehidupan laut dalam akuarium. Tidak mungkin aku mencari tahu setiap umur semua ikan di dalam sana."
"Dalam teka-teki itu tertulis 'Sesuatu yang hidup' itu artinya tidak semestinya harus hewan, bukan?"
"Maksudmu tumbuhan?" kataku menebak. Ia cuman mengangguk. "Tumbuhan... Tertua dikediaman... Banyak sekali tumbuhan di kediaman ini."
Disinilah aku berdiri tepat di bawah pohon ek. Hm... Lalu, sekarang apa? Apa petunjuk lainya tersembunyi disini? Aku mengitari lingkar pohon yang besar, tidak aku temukan apa-apa di kulit pohon, akar dan sekitarnya. Ku alihkan pandang ku ke setiap ranting yang ada. Bentang dahan pohon ini terlalu luas bagiku untuk akhirnya aku menemukan pita merah lagi terikat di atas sana. Gulungan kertas yang sama ada di pita itu.
"Tinggi sekali. Bagaimana aku mengambilnya? Angel bahkan sudah hilang entah kemana."
"Tinggal panjat saja, mudahkan."
"Mudah bagimu bicara. Apa kau tidak lihat letak pita itu ada di ujung ranting. Sisip sedikit saja bisa jatuh tahu."
"Memang ada cara lain?"
"Hah... Panjat ya panjat."
Aku menarik nafas lalu menghembuskanya perlahan. Aku mulai mencari pengangan untuk memanjat pohon ek ini. Cukup mudah memanjatnya dari pada memanjat pohon cemara. Kucari pegangan dan pijakan yang kokoh serta berhati-hati agar tidak tergelincir. Sangat sulit menggapai nya, apa lagi tanganku tidak sampai meraih pita merah tersebut. Semakin maju dahan yang kupijak semakin rapuh. Aku memberanikan diri untuk melangkah agar dapat mengambilnya.
"Ayok semangat Keyla! Sedikit lagi," sorak-sorai Sherina dibawah.
"Akhirnya dapat juga," kutunjukkan kertas berbalut pita itu pada Sherina.
"Bagus Keyla. Ayok cepat turun."
"Iya."
Aku melangkah perlahan menyelusuri jalan naik ku tadi. Tapi malang tetap terjadi. Kaki ku tergelincir karna salju saat tinggal semeter lagi dari tanah. Aku terjatuh terlentang dengan salju menutupi sebagian wajahku.
"Hahaha... Putri kediaman keluarga Morgen benar-benar lucu," tawa Sherina terbahak-bahak melihat aku jatuh dari pohon.
Kesal, aku melemparkan bola salju tepat ke arahnya. "Kau itulah putri keluarga Morgen tahu!!" tapi sayangnya bola salju itu tembus begitu saja melalui tubuhnya.
"Uuuh... Tidak kena," ejeknya sambil menjulurkan lidah.
Aku mengepalkan tinjuku semakin kesal melihatnya. Aah...! Percumah saja berurusan dengannya. Aku berusaha berdiri sambil membersikan salju rambut, jaket dan kaki ku. Aku mengambil pita merah yang tertimbun salju lalu membuka gulungan kertasnya. Teka-teki lagi tertulis disana. Tidak, itu cuman sekedar kalimat pendek.
...IKUTI TANDA PANAH MERAH!...
"Hah? Ta, tanda panah?"
"Apa mungkin yang itu?" tunjuk Sherina ke tanda panah yang ada di belakangku.
Warna merah terang itu sangat jelas terlihat diatas salju. Apa?! Kalian pasti bercanda. Kenapa tidak langsung saja arahkan aku ke tanda panah tanpa harus menyuruhku memanjat pohon segala!! Apa sebenarnya rencana mereka? Dengan kesal aku mengikuti tanda panah itu yang mengarahkan ku ke halaman depan rumah, atau lebih tepatnya ke air mancur. Ada pita merah dan pesan lagi disana. Kini pesan itu menyuruhku ke dapur. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke dapur. Tepat di atas meja dapur aku menemukan pesan lagi terselip di roti lapis. Kalimat itu menyuruhku ke menara. Dengan rasa malas mulai menghampiri kupaksakan diriku berjalan menuju tempat tertinggi rumah ini sambil makan roti lapis. Hm, lumayan untuk mengisi perut.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε