
Aku berdiri dan meminta nampan berisi sarapan pagi ini pada pelayan. Tak lama pelayan tersebut datang dengan apa yang aku minta.
"Kakak mau kemana?" tanya Lisa.
"Aku akan mengatakan sarapan ini ke ayah."
Dengan nampan di tanganku aku melangkah pergi menuju ruang kerja ayah. Sampai disana dan baru hendak mengetuk pintu, aku mendengar gumangan ayah di dalam.
"Hah... Bagaimana ini? Aku sudah mencari informasi semalaman tentang dua jiwa dalam satu tubuh dan bagaimana cara mencegat jiwa yang hilang, tapi tidak ada satupun yang bisa aku temukan. Semuanya tidak ada yang membahas hal itu, baik dibuku kuno maupun internet. Semua kasus jiwa yang perna tercacat berakhir menghilang dan bahkan tidak dapat berrenkarnasil lagi. Tidak! Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Aku akan berusaha bagaimanapun caranya. Yang aku harapkan Rin dapat bertahan lebih lama lagi."
"Ternyata ini pekerjaan ayah sampai tidak tidur semalaman. Ia sedang mencari cara untuk mempertahankan jiwaku ini."
Aku membuka perlahan pintu setelah menghapus air mataku. Aku melangkah masuk. Ayah masih belum menyadari kedatanganku. Terdapat tumpukan buku disisi kanan dan kiri meja kerja ayah. Sepertinya ayah sungguh berkerja keras semalaman.
"Ayah," panggilku dengan suara terdengar parau.
"Rin?! Sejak kapan kau disana?" ayah sedikit tersentak melihatku. Ia dengan cepat menutup leptopnya.
"Aku mengantarkan sarapan untuk ayah. Sepertinya ayah terlihat sangat sibuk sampai tidak sempat sarapan pagi ini," aku meletakan nampan yang kubawa di atas meja kemudian berjalan mendekati meja kerja ayah.
"Terima kasih Rin. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Kau masih harus banyak-banyak istirahat."
"Yang seharusnya istirahat sekarang ini adalah ayah. Aku dengar dari ibu, ayah tidak tidur semalaman karna sibuk berkerja. Memang apa yang ayah kerjakan?"
"Bukan apa-apa, cuman pekerjaan kantor," bohong ayah.
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Jadi ayah sudah tahu?"
"Tahu apa?"
Aku memalingkan wajahku menahan tangis. "Soal jiwaku yang akan menghilang."
Kali ini ayah benar-benar tersentak kaget. Ia mengangkat wajahnya menataku. "Rin..."
"Aku mohon jangan beritahu siapapun," potongku. Aku dengan cepat menyekat air mata yang berhasil lolos. "Aku tidak mau mereka sedih."
"Rin, jangan takut. Ayah pasti akan menemukan cara agar jiwamu tidak hilang. Jangan menangis," ayah beranjak dari kursinya dan berdiri di hadapanku. Ia membelai lembut menghapus air mata yang mengalir di pipi ku.
"Tidak apa-apa, ayah. Aku sudah sangat bersyukur atas hidupku ini. Aku berusaha bertahan sampai sekarang hanya demi mendapatkan obat penawar untuk ibu dan membawa Rosse kembali. Setelah mengetahui ibu telah sehat dan semua temanku selamat kecuali Angel, aku sedikit tenang untuk pergi."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu pergi," ayah mendekapku dalam pelukannya. "Walau kau bukan putri kandungku tapi aku tetap menyayangimu sama seperti dia. Aku tidak mau kehilanganmu! Pasti ada cara untuk memulihkan jiwamu, dan akan aku temukan cara itu. Kau harus bertahan sayang, harus bertahan."
"Tubuh ini tidak akan mati. Sherina akan menggantikan jiwaku yang pergi. Ayah bisa bertemu dengan putri kandung ayah lagi. Dia manis dan baik, hanya masih sedikit malu-malu ketika bertemu dengan seseorang."
"Sherina?" ayah melepaskan pelukannya. Ia menatapku dengan bingung.
Aku mengangguk. "Jiwa yang terbangun dalam tubuhku adalah jiwa Sherina, putri kandung ayah."
"Ta, tapi, bagaimana bisa?"
"Jantung ini yang membawa jiwa Sherina," aku meletakan tanganku tepat di arah jantungku. Aku bisa merasakan suara detak jantung yang berdetak dari bawah telapak tanganku. "Itulah alasannya kenapa aku bisa memiliki kemampuan Necromancy dan kekuatan manusia serigala ini. Serta juga alasannya kenapa aku selalu tidak ingat disaat aku mengalami perubahan ku dulu. Karna jiwa Sherina yang menggantikan aku. Jiwaku terlalu lemah untuk kekuatan manusia serigala."
"Maksudmu, jiwa Sherina telah terbangun disaat perubahan pertama mu?"
"Iya," jawabku dengan anggukan.
"Itu berarti sudah lama sekali. Andai aku menyadarinya sejak awal."
"Perubahan? Jadi perubahan wujudmu kemarin itu adalah Sherina?"
"Bahkan waktu yang meminta pelukan dari ibu itu adalah dia."
"Pantas saja aku merasa ada yang sedikit berbeda dari sekapmu kemarin serta aku mendeteksi hawa manusia serigala dari tubuhmu. Ternyata kalian sedang bertukar jiwa saat itu."
"Semua itu kulakukan agar ia lebih terbiasa berinteraksi bersama kalian. Besok atau lusa, disaat aku telah pergi. Aku minta pada ayah untuk membimbingnya dan memberi ia semangat untuk melanjutkan perjalanan hidupku. Walau ia tidak mengatakannya aku tahu kalau ia sangat menambahkan kehangatan sebuah keluarga. Aku yakin ia bisa menjadi pemimpin dari klan Α (Alpha) terhebat dalam sejarah," aku berhenti sebentar. "Sejujurnya aku tidak memberitahu Sherina soal kondisi jiwaku ini. Aku takut kalau ia akan merasa bersalah atas kepergianku nanti. Hiks... Hiks..."
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi. Kau putriku. Mau bagaimanapun kau tetap bagian dari klan Α (Alpha). Aku tak sanggup harus kehilanganmu. Bersabarlah sayang, kau harus kuat sampai aku menemukan cara untuk memulihkan jiwamu kembali."
Aku menggeleng. "Aku takut tak bisa bertahan lebih lama lagi."
"Miss. Morgen harus bertahan!"
Aku dan ayah di kejutan dengan suara Mr. Guttman. Ia melangkah masuk menghampiri kami.
"Saya memiliki kabar yang tidak terlalu menggembirakan tapi saya yakin kalian akan cukup senang mendengarnya. Saya telah berhasil menemukan cara untuk memulihkan jiwa Rin yang menghilang."
"Sungguh?! Katakan bagaimana caranya?" tanya ayah tergesa-gesa. Ia terlihat sangat gembira mendengarnya.
"Ada dua cara. Yang pertama adalah kelahiran kembali."
"Kelahiran kembali?" ulang ku.
"Kurang lebih seperti renkarnasi. Hanya saja kau harus berrenkarnasi ke rahimmu sendiri."
"Maksudnya aku harus hamil?" tanyaku memastikan.
"Iya. Kau akan terlahir kembali menjadi anak dari tubuhmu sendiri. Kelemahan dari cara ini adalah semua ingatanmu sekarang akan menghilang. Kau tidak akan mengingat pernah hidup dan mengenal kami. Kau akan terlahir seperti bayi biasa pada umumnya."
"Bagaimana dengan cara yang kedua?" tanya ayah.
"Cara kedua adalah mencarikan Rin tubuh baru."
"Tubuh baru? Maksudnya aku menempati tubuh orang yang telah meninggal, gitu?"
"Jika benar begitu, aku akan menghubungi seluruh rumah sakit yang ada untuk mencarikan tubuh baru untuk putriku. Akan aku lakukan apapun itu untuk menyelamatkannya," ayah mengeluarkan hpnya dan hendak menghubungi seseorang.
"Tunggu Mr. Morgen! Tidak semudah itu," kata Mr. Guttman membuat ayah menoleh padanya. "Tidak sembarangan mayat seseorang dapat digunakan sebagai tubuh pengganti. Selain kondisi tubuh yang masih sehat, tubuh tersebut harus memiliki kualifikasi 90% sama dengan tubuhnya yang lama dan juga lebih baik tubuh itu berkisaran antara umur dua tahun ke bawah."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε