
Jam menunjukan pukul 18.45 masih ada waktu lima menit lagi sebelum konferensi pers dimulai. Di sebuah ruangan besar lantai 70 suatu bangunan pencakar langit. Ini adalah tempat yang sedang dipersiapkan untuk acara konferensi pers nanti. Semua orang diruangan itu sibuk menyelesaikan perkerjaan mereka sebelum pukul 19 tepat. Kursi serta meja telah tersusun rapih untuk para hadirin. Peralatan elektronik dicek berulang kali agar tidak menimbulkan masalah saat acara berlangsung. Beberapa tamu undangan juga telah hadir dan menempati posisi masing-masing. Derek, Cloey, Tori dan Jaseph adalah salah satunya.
Mereka duduk di kursi dengan meja panjang yang menghadap para hadirin. Di atas meja tersebut tersedia masing-masing mick kecil untuk bicara, leptop yang Derek dan Jaseph bawah sendiri, beberapa kertas dan pena untuk mencatat, segelas air putih penghilang dahaga dan sebagai hiasan ditempatkan dua pot bunga palsu disana. Derek melihat jam tangannya, sudah menujukan jam 19.00. Ia memberitahu hal ini pada rekan semejanya dan bertanya. Mereka semua mengangguk, menyetujui kalau konferensi pers dapat dimulai sekarang. Jaseph segerah memberitahu pembawa acara di sampingnya untuk memulai.
Pembawa acara kali ini ditugaskan untuk memimpin acara, mengawasi jalannya acara tersebut, menjadi penengah antara dua belah pihak dan menertipkan jikalau ada emosi yang berluap berlebihan. Pembawa acara memulai konferensi pers dengan meminta seluruh hadirin untuk segera menempati kursi masing-masing. Serasa sudah tertip pembawa acara segera membacakan topik masalah yang akan dibahas di konferensi pers malam ini. Topik pertama adalah serangan serigala yang beredar di internet beberapa hari lalu. Rumor mengatakan kalau serangan itu diakibatkan oleh manusia serigala.
"Topik pertama yang akan kita bahas malam ini iyalah serangan serigala yang terjadi di padang ilalang pada hari jum'at sore kemarin," pembawa acara tersebut meminta kepada petugas lainnya untuk menampilkan beberapa foto ke layar lebar di depan para hadirin. "Ini adalah foto-foto yang diambil warga setempat dan perna beredar di internet. Salah satu foto tertangkap gambar mobil yang diduga kuat milik dari putri keluarga Morgen. Mohon untuk korban pertama menceritakan awal dari kejadian tersebut."
"Baik," korban pertama, seorang pria parubaya dengan tangan kanan di balut perban dan dipasang penyanga. Ia duduk disisi kanan barisan paling depan. "Sesaat sebelum kejadian, saya mendengar suara geraman dari balik semak-semak. Karna penasaran, saya pun mendekatinya untuk memeriksa. Tampa diduga, tiba-tiba muncul serigala putih melompat ke arahku. Saya yang kaget tidak sempat menghindar dan akhirnya mendapat sebuah cakaran dari serigala tersebut. Saya berteriak minta pertolongan sambil berusaha melawan serigala itu. Tak lama ada beberapa warga datang menghampiri. Mendengar hal itu, serigala putih tersebut lari memasuki hutan. Saya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat."
"Dan salah satu warga mengambil foto di lokasi kejadian lalu menyebarkannya di media sosial. Yang menjadi pertanyaan, kenapa di salah satu foto itu ada mobil Miss. Morgen?" tanya salah satu reporter.
"Iya. Apa yang dilakukan putri anda disana?" sambung reporter lain bertanya.
"Apa serigala putih itu adalah perwujudan dari putri anda?"
"Apa putri anda memang manusia serigala?"
"Harap tenang semuanya," pembawa acara mencoba menenangkan situasi yang mulai ricuh.
"Untuk masalah foto mobil putri saya bisa berada tidak jauh dari lokasi kejadian, itu karna ia berhenti untuk membantu seorang anak mencari kunci rumahnya yang hilang. Kami sudah meminta pernyataan dari anak tersebut. Ia mengatakan, benar kalau putri saya membantunya mencari kunci rumah," jelas Derek. "Apa boleh saya bertanya pada korban pertama?"
"Tentu," jawab pria tersebut.
"Jam berapa serangan itu terjadi?"
"Jam 17.57," jawab pria tersebut dengan cepat dan tegas.
Derek tersenyum. "Cukup menarik. Anda bisa memperkirakan waktunya sampai ke menitnya dengan pasti. Apa kau sempat melihat jam saat diserang serigala?"
"Saya... Saya melihat jam sesaat sebelum mendengar suara geraman itu."
"Oh... Ingatanmu sangat bagus sekali," kali ini Jaseph bersuara. "Biasanya seseorang yang syok akibat serangan hewan buas akan berada dalam keadaan ling-lung. Apalagi serangan secara tiba-tiba. Mereka pasti kesulitan mengingat hal kecil seperti itu. Tapi saat kami meminta keterangan darimu, jawaban yang kau berikan seolah-olah telah disusun sebelumnya. Kau seperti sudah menebak semua pertanyaan dan menyiapkan jawabannya."
Pria parubaya itu hanya diam. Terlihat dari ekspresinya yang mulai tegang. Para reporter dan penonton saling berbisik satu sama lain.
"Sekitar jam 2 siang, saya pergi memancing di sungai tidak jauh dari rumah. Saya sudah mendengar himbawan soal serangan serigala itu namun tetap saya hiraukan. Hampir setengah jam memancing. Tampa peringatan, dari arah samping muncul serigala putih dengan tatapan tajam sambil menyeringai memperlihatkan taring-taringnya yang mengkilat. Serigala tersebut menggeram ganas ke arahku. Saat serigala itu menyerang, saya mengunakan pisau lipat yang saya bawa sebelumnya untuk mempertahankan diri. Dan saya berhasil melukai serigala tersebut, tapi hanya mengunakan pisau lipat saja tidak cukup. Saya masih bukan tandingan dari serigala itu. Untuk melarikan diri, saya melompat terjun ke sugai. Sampai di sebrang sana saya berlari memasuki hutan. Di pinggir jalan saya bertemu dengan tim patroli dan melaporkan apa yang saya alami pada mereka," jelas pemuda itu.
"Menurut keterangan mu sebelumnya, anda mengatakan kalau serigala putih tersebut mengenakan kalung yang sama persis dengan liontin milik putri keluarga Morgen. Apa benar?" tanya seorang reporter yang duduk di barisan ketiga.
"Iya. Liontin lumba-lumba dengan hiasan permata merah," jawab pemuda itu.
"Liontin? Rin mengatakan kalau liontin kalungnya dirampas setelah ia sadar pada sore harinya. Sedangkan serangan kedua terjadi sekitar jam setengah tiga siang. Korban kedua jelas berbohong," batin Derek.
"Mr. Morgen apa benar putri anda memiliki liontin sama seperti yang dijabarkan korban kedua?" tanya reporter di barisan depan.
"Derek," bisik Jaseph sambil mencubit kecil pinggang Derek.
Karna cubitan itu Derek sadar dari lamunannya. "Ah, iya. Putri saya memang memiliki liontin tersebut. Liontin itu adalah pemberian dari Mrs. Anderson. Ia tidak perna melepaskannya. Tapi, setelah saya menjemputnya dari kediaman keluarga Livitt liontin itu telah hilang."
"Menurut kabar, putri anda tidak ada di kediaman saat serangan kedua terjadi." reporter disudut kiri mengutarakan pikirannya.
"Iya. Dia tidak ada di kediaman keluarga Morgen dan juga keluarga Livitt pada saat kejadian," jawab Derek membenarkan.
"Bisa anda jelaskan dimana keberadaannya pada saat itu?" tanya reporter tersebut.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε