My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kau bukan vampire, kan?



"Aku tidak bisa memberitahu mu. Tidak sekarang," kata Onoval lembut lalu ia menyentuh jepit rambut yang kukenakan di sisi kiri rambutku. "Kau masih mengenakan jepit rambut yang kuberikan waktu itu."


"Iya," aku memang selalu mengenakannya terus.


"Oh... Jadi itu sebuah hadiah. Pantas saja saat aku tanya tentang jepit rambut itu kau mala malu-malu," mulut Sofia berulah.


Kesal. Aku menyenter kaki Sofia sampai ia jatuh terduduk.


"AAH! Aduuh......" rintihnya sambil mengusap bagian tubuhnya yang sakit. "Rin, kau sangat kejam."


"Aku ingat belum membalas perbuatanmu," aku berbalik menghadap Onoval untuk mempertanyakan hal itu lagi. "Kenapa kau tidak bisa memberitahu ku? Apa alasannya?"


"Apa kau seorang Vampire," timpal Lisa membuat kami sangat terkejut dan seketika menoleh padanya.


"Tidak. Aku bukan salah satu dari mereka," kata Onoval langsung menyangkalnya.


"Apa benar dia seorang vampire? Tapi bisakah vampire berpergian dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat seperti berteleportasi? Setiap kali bertemu Onoval memang ia sering muncul dan hilang secara tiba-tiba. Apa Onoval seorang penyihir?" pikirku.


"Tapi matamu..." lirik Rosse.


"Oh... Ini karna..."


"Dia mengidap kelainan genetik Albino," potongku. "Kelainan genetik ini merupakan kekurangan pigmen warna dalam tubuh yang menyebabkan pengidapnya memiliki kulit pucat seperti tidak ada darah dan rambut berwarna putih serta dalam beberapa kasus penginapnya memiliki mata berwarna merah," kataku membantu menjelaskan.


"Itu berarti kau bukan vampire sama sekali?" kata Sofia masih sedikit meragukan.


"Sudah aku bilang aku bukan vampire. Aku tidak memiliki taring sama sekali. Iii....." Onopal memperlihatkan giginya yang memang tersusun rapi.


"Iya, baiklah. Kami percaya," tidak apa Onoval tidak memberitahu ku sekarang siapa jati dirinya tapi aku merasa lega kalau ia bukan vampire. "Kau tidak memakai lensa kontak lagi?"


"Tidak. Aku mulai membiasakan diri untuk menerima kelainan ini."


"Tapi menurutku mata berwarna merah mu itu sangat unik," ujar Lisa.


"Bukankah itu mata paling menawan yang perna kau lihat," kataku meminta pendapat.


"Iya."


"Kau membuatku malu, Rin. Jadi, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Onoval mengalikan pembicaraan.


"Kami murit pertukaran pelajar," jawab Sofia.


"Murit pertukaran pelajar? Sekolah ini tidak perna menerima murit pertukaran pelajar sebelumnya, tapi kemarin tiba-tiba sekolah menerima murit pertukaran pelajar dari dua sekolah berbeda. Sedikit aneh," kata Onoval terlihat sedang berpikir.


"Apa yang aneh dari itu? Mungkin pihak sekolah ingin lebih terbuka," ujarku menghalau pikiran Onoval.


"Namun kau tahu kan sekolah ini bukan sekolah biasa. Sebagian murit sekolah ini adalah vampire. Tunggu, kalian sudah tahu hal itu, kalian... Tidak takut."


"Kami sudah diberitahu pihak sekolah tentang rahasia sekolah ini. Mereka telah menyakinkan kami kalau semua vampire di sekolah ini bersahabat. Awalnya memang takut tapi setelah melihat sekarang kami tidak takut lagi, dan juga kami di minta untuk merahasiakan dari masyarakat diluar pulau Vyden," kata Lisa mencari alasan.


"Alasan yang sangat bagus adikku," batinku. "Oh, iya. Siapa dua murit pertukaran pelajar itu?" tanyaku penasaran.


"Aku belum bertemu dengan mereka. Hei, dari pada memusingkan ini, bagaimana kalau ku ajak kalian berkeliling?" ujar Onoval menawarkan diri.


"Boleh," jawabku.


"Ayok kalau begitu nona-nona. Aku akan memperlihatkan setiap sudut dari sekolah." Onoval berbalik kemudian memimpin jalan di depan kami. Aku, Sofia, Lisa dan Rosse berjalan mengikutinya dari belakang. "Oh, iya. Kalian belum memperkenalkan diri."


"Kalau aku Rosselya, panggil saja Rosse."


"Okey, kalau yang si kecil ini?" lirik Onoval pada Lisa.


"Dia adikku. Namanya Lita," kata memperkenalkan adik ku ini.


"Namaku Lisa bukan Lita," protes Lisa begitu aku salah menyebutkan namanya.


"Eh, benarkah. Aku pikir namamu Liva atau Dasya,"


"Dasya semakin jauh mala," kata Lisa datar.


"Hah... Penyakit lupa nama adik mu itu kambuh lagi Rin," ujar Rosse sambil menepuk jidat nya.


"Ini sudah keempat kalinya dalam minggu ini. Kenapa kau selalu melupakan namaku selang beberapa hari saja?" tanya Lisa.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu," aku juga bingung akan hal ini. Sejak ingatanku kembali, nama Lisa lah yang sering aku lupakan.


Kunjungan pertama kami adalah perpustakaan. Gedung perpustakaan terletak di bersebelahan dengan gedung sekolah. Bangunan besar tiga tingkat dengan semua rak serta buku yang ada. Dari semua gedung yang perna aku kunjungi, gedung perpustakaan lah yang paling membuat aku berdecak kagum. Bagaimana tidak. Melihat semua buku yang jumlahnya sangat banyak tersusun rapi di setiap rak menjadi kesenangan tersendiri. Apa isi dari buku-buku tersebut? Siapa kah yang sanggup membaca semua buku ini? Pertanyaan aneh. Tapi membuatku penasaran. Adakah yang mau membaca semuanya? Butuh waktu berapa lama untuk menghabiskannya?


Terdapat patung yang sangat besar berbentuk buku terbuka tepat ditengah-tengah perpustakaan. Dibawahnya merupakan sebuah meja melingkar dengan beberapa perangkat komputer lengkap di atas nya. Selain di bawah patung itu, ada juga puluhan komputer lainnya yang di sediakan perpustakaan ini dan itu tersebar setia sudut di lantai dasar. Para siswa dan siswi sangat dimudahkan dalam mengakses internet yang semakin penting dalam kehidupan masa kini.


"Ini adalah perpustakaan kami. Perpustakaan ini menyediakan hampir dari semua buku yang ada. Baik dari dunia manusia maupun dunia malam," kata Onoval sambil berjalan menyelusuri perpustakaan.


"Mungkin disini kita bisa mencari tahu tentang keberadaan pohon ΖΩΗ (ZOI)" bisik Lisa padaku.


"Iya, kau benar. Mulai besok kita akan mulai dari perpustakaan ini," balasku sambil berbisik.


Keluar dari perpustakaan, kami menuju gedung sekolah. Begitu memasuki pintu masuk, aula luas menyambut kami dengan dua tangga yang saling terhubung. Kami tidak segera naik. Onoval berencana membawa kami ke ruang olaranga. Ruangan ini ada di sayap kanan gedung sekolah. Sebuah lapangan olahraga menyambut kami. Ada tiga lapangan disini, lapangan tenis, lapangan basket, dan lapangan futsal di ruangan lain. Tidak sama dengan perpustakaan yang sepi, ruang olahraga ini jauh lebih ramai orangnya. Banyak siswa dan siswi yang asik bermain berbagai kegiatan olahraga yang ada.


"Ini ruangan olahraga. Disini lah kami biasa menghabiskan waktu luang kalau sedang tidak ada kegiatan."


"Pantas saja dulu aku perna menelponmu tengah malam kau sedang bermain futsal. Semuanya terjawab hari ini," kataku.


"Lihat, mereka adalah klub basket yang sedang berlatih untuk pertandingan basket antar sekolah nanti," tunjuk Onoval pada para pemain basket. Dilapangan yang tidak jauh dari kami.


"Onoval!" panggil seseorang yang bergegas menghampiri. Ia baru saja beristirahat setelah bermain tenis.


"Eric," balas Onoval memanggil.


"Uhu... Siapa gadis-gadis yang bersama denganmu ini? Bolehlah kau perkenalkan salah satu dari mereka padaku," kata teman Onoval yang dipanggil Eric ini.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε