My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Janjiku akan aku tepati hari ini



"Ha... Ha... Hahu.... Hahu..."


Aku tersentak mundur kebelakang dengan keringat bercucur deras dipelipisku. Nafasku mulai terengah-engah. Apa itu tadi? Tiba-tiba kepalaku terasa sakit, aku mencengkram kuat ranbutku. Ada sesuatu yang menerobos masuk ke kepalaku, rasanya sakit sekali. Ini... Ini adalah semua ingatanku sebelumnya. Aku berusahan menahan diri agar tidak terjatuh. Semua kenangan, peristiwa, kejadian-kejadian masa lalu, saat musim panas sebelumnya atau tahun-tahun lainnya, aku ingat semua. Bahkan saat-saat aku mengalami perubahan, aku juga mengingatnya. Perlahan rasa sakitnya mereda. Aku mengatur kembali nafasku, kakiku lemas tidak sanggup lagi menahan berat badanku. Aku terduduk dengan tangan kegunakan sebagai penopang agar aku tidak terbaring di tanah.


"Ja... Jadi sekarang, ingatanku sudah pulih," aku berpikir sebentar menyusun semua ingatan yang masih kacau. "Margaret!"


"Rin... Kau disana sayang?" panggil ayah.


Aku menoleh, ketika aku lihat ayah bersama seorang pria disampingnya. "...!!" aku mengenal pria itu. Aku berdiri saat mereka menghampiriku.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya ayah namun tidak aku pedulikan. Aku hanya menatap tajam pada pria disampingnya. "Oh, iya Rin. Perkenalkan dia adalah wakil ayah diperusahaan. Ia juga berlibur disini. Ibumu sudah kembali ke penginapan duluan. Ia menyuruhku mencarimu, sudah waktunya makan siang. Ayok kembali."


"Kenapa putrimu menatapku seperti itu?" pria itu mundur selangkah. Aku rasa ia menyadari sesuatu.


"Rin,"


Aku berkedip cepat beberapa kali dan melirik kesana kemari sebentar. "O... Maafkan aku. Sudah lama tidak bertemu Mr. Blort," aku tersenyum padanya tampa mengubah ekspresiku.


"E, kau ingat dia?" tanya ayah sedikit tersentak kaget.


"Bukan hanya itu. Aku bahkan ingat semuanya, ruang bawah tanah, tali, pisau lipat, darah..."


"Kau bicara apa Rin? Apa yang kau maksud tadi?" lagi-lagi ayah bertanya tapi aku hiraukan. Ia terlihat sangat bingung.


Aku melangkah maju kearah Mr. Blort. "Paman, mau main lagi denganku seperti waktu itu?"


"Em... Lain kali saja," keringat kecil mulai terlihat di dahinya. Ia melangkah mundur dengan tubuh gemetar. "Aku... Aku turut senang kau mendapat ingatanmu kembali."


"Benarkah? Dari mana paman tahu aku hilang ingatan?" kini aku sudah di depannya. Ia jauh lebih tinggi dariku jadi aku harus mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.


"Eh... Aku hanya menyimpulkan, kenapa ayahmu memperkenalkanku lagi padahal kita sudah pernah bertemu," Mr. Blort tidak berani menatapku. Ia terus saja mengalihkan pandang.


"Tebakan yang bagus," aku memaikan lidahku diantara taringku yang mulai tumbuh. "Aku tadi berpikir mungkin paman sengaja memata-matai kediaman keluarga Morgan untuk mengetahui rahasia kecil kami," jari-jemariku kini menjelajahi jaket Mr. Blort. Tampa aba-aba aku menarik jaketnya sampai terlepas. Terlihat lengan kananya terlilit perban dan masih sesikit bercak darah disana. Ia menutupi lukanya itu mengunakan tangannya yang satu lagi.


"Rin! Apa-apaan kau ini!!" ayah menghadangku agar aku tidak melakukan hal aneh lainnya.


"Tidak ada, aku hanya menepati janji," kataku tampa rasa bersalah.


"Janji? Janji apa?" tanya ayah lagi dengan sorot mata tajam.


"Ayah bisa bertanya pada wakilmu," aku menunjuk ke arah Mr. Blort yang hendak melarikan diri.


"Paul?" ayah menoleh pada wakilnya itu dengan lirik mata tidak berubah. "Tanganmu terluka. Kenapa tidak memberitahuku?"


"Hanya... Hanya luka ringan. Tidak ada yang serius."


"Karna apa?" ayah berbalik agar lebih leluasa berbicara dengannya.


"Haha... Anjing bodoh tetanggaku menyerangku, aku tidak sempat menghindar jadi aku terkena cakarannya. Aku sudah mendapatkan suntikan rabies. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Mr. Blort.


"E! Rabies," aku yang sudah kesal melihat tampangnya itu, mala sekarang kau mengataiku anjing bodah berpenyakitan lagi. Tidak bisa maafkan. Aku melesat secepat yang aku bisa, menyerang Mr. Blort tapi karna kepalaku masih sedikit pusing, aku hanya bisa menarik lepas perbannya.


"Arrgg.......!!"


"Rin!!" bentak ayahku terkejut atas apa yang aku lakukan barusan.


"Hm! Anjing bodoh mana yang bisa mencakarmu sampai separah itu?"


Terlihat empat garis cakaran besar itu terukir disana, jelas luka di lengan Mr. Blort bukan berasal dari cakaran anjing biasa. Ia berusaha menutupi lukanya itu yang kini mengeluarkan darah namun lukanya terlalu lebar untuk telapak tangannya sendiri.


"Jelas luka itu bukan akibat dari cakaran seekor anjing..."


"Tentu saja bukan, karna aku yang melakukannya," potongku membuat ayah semakin terkejut. Aku merasa retina mataku kini berubah. "Ingat saat latihan? Bibi pasti sudah memberitahu soal anak panah yang menancap dipohon ek, bukan. Waktu itu aku lari masuk hutan dan mendapati ia membawah busur panah. Aku terlalu ceroboh sempat menyerangnya begitu saja. Siapa mengirah kalau ia membawah belati perak dan berhasil melukaiku. Tapi aku juga berhasil melukai langannya. Kami impas. Bagaimana rasanya Mr. Blort dicakar dari serigala? Sulit sembuh bukan?"


"Paul. Kau ingin mencari tahu rahasia keluarga kami?" aura membunuh ayah terpancar keluar.


"Ia berencana membongkar identitas keluarga Morgen," kataku.


"Kenapa? Apa yang pernah aku buat sampai kau melakukan ini?"


"Lucu sekali kau bertanya," Mr. Blort memperlihatkan sifat aslinya. "Kalian adalah monster. Jadi, apa yang harus aku lakukan terhadap monster seperti kalian? Tentu saja memusnakannya!"


Mr. Blort mengeluarkan belati perak dan berusaha menyerang ayah. Ayah hanya bisa menghidar dari serangan belati yang diluncurkan secara betubi-tubi oleh Mr. Blort. Perak adalah elemen yang bisa melukai kami walau hanya sedikit menyetuhnya. Rasa perih terbakar akan dirasakan saat menyetuh benda ini. Kami manusia serigala memiliki kekuatan penyembuhan, jika terluka seperti luka geresan hanya hitungan detik saja bisa sembuh dan bahkan tidak meningalkan bekas. Lain halnya jika terluka karna perak. Luka goresan kecilpun bisa sangat menyakitkan dan sulit sembuh.


Aku sedikit menjauh agar ayah lebih leluasa bertarung. Ada kesempatan, ayah memanfaatkannya untuk meninju wajah Mr. Blort. Satu kali pukulan Mr. Blort terpental jatuh ke tanah. Ia memuntahkan darah berserta satu giginya yang copot. Belum sempat Mr. Blort meraih belati yang jatuh tidak jauh dari dirinya, ayah sudah menedang belati itu sampai jatuh ke jurang.


"Sudah berakhir Paul, sudah berakhir. Jangan sampai aku bertindak lebih padamu."


"Apa benar?"


"?!"


Mr. Blort mengeluarkan belati lainnya yang ia sembunyikan. Ayah yang tidak siaga dengan serangan tiba-tiba itu tak bisa menghindar. Mr. Blort berhasil melukai kaki ayahku. Darah mengalir disana. Setelah itu Mr. Blort berbalik mengincarku. Aku yang terkejut juga tidak sempat menghindar. Ia berhasil menyanderaku dengan belati tepat di leherku. Aku tidak bisa bergerak sembarangan.


"Paul jangan sakiti putriku," bentak ayah sambil berusaha berdiri.


"Saatnya giliranmu. Selasaikan dengan cepat dan jangan sampai rusak!" bisikku.


"Terima kasih."


Hanya selang beberapa detik kini rohku bertukar dengan Margaret. Ya, Mangaret. Sendari tadi aku sebenarnya memanggilnya. Aku ingat tentang janji antara aku dan dia. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat keluargaku berkunjung ke kediaman keluarga Blort. Margaret adalah ibu dari Paul Blort. Ia meninggal diruang bawah tanah dengan pisau lipat menancap di tenggorokannya. Aku hanya melihat kilas balik yang tragis itu.


Margaret menyeringai dengan mata telah berubah hitam. Ia memukul perut Paul mengunakan sikunya. Akibat serangan itu Paul meringku kesakitan. Belati yang ia pegang sempat melukai leherku. Rasa perih dan terbakar masih bisa aku rasakan jika tubuhku terluka. Margaret tidak memberi kesempatan pada Paul, ia terus menyerang secara betubi-tubi sampai... Paul tewas jatuh ke jurang. Aku benar-benar kaget atas tidakan Mrs. Blort, ia begitu tega membunuh putranya sendiri dan itu menggunakan tubuhku.


Sekarang aku tahu. Sebaiknya aku tidak sembarangan lagi menyerahkan tubuhku begitu saja pada arwah. Mereka tidak meresakan sakit bahkan setelah berhasil merasuki tubuh orang lain. Dan beda dengan pemilik asli tubuh, ia masih bisa merasakan sakit saat tubuhnya terluka. Karna gerakan sembarangan yang dilakukan Mrs. Blort luka pada perutku terbuka lagi. Darah merembes dari balik bajuku.


"Maafkan ibu nak, maaf," Mrs. Blort menatap sayup ke bawah jurang yang tergeletak tubuh putranya.


Mrs. Blort menoleh. "Aku adalah Margaret Blort, ibu dari Paul Blort."


"Bagaimana kau bisa mengenal putriku?"


"Aku mengenalnya saat kunjungan terakhir keluargamu di musim semi. Putrimu sangat baik bersedia membantu wanita tua ini. Aku sebagai ibu dari Paul meminta maaf padamu dan putrimu atas nama putraku."


"Kau ibunya , kenapa kau tega membunuh putramu sendiri?"


"Karna ia berusaha menghancurkan keseimbangan antara kaum manusia dan makhluk malam yang sudah damai selama ini. Sejak kematian istrinya akibat serangan serigala pada saat pendakian tiga tahun lalu..."


"Serigala?"


"Iya, serigala gunung biasa. Ia sangat tidak rela atas kematian istrinya yang tragis. Ia depresi dan hanya mengurung dirinya di kamar seharian, sampai aku tidak tahu dari mana ia tiba-tiba menemukan buku ku tentang Νυχτερινό πλάσμα (Nychterinó plásma) dari buku itulah ia tahu tentang makhluk malam dan manusia serigala," jelas Mrs. Blort.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memiliki buku Νυχτερινό πλάσμα (Nychterinó plásma)?"


"Aku adalah anggota dari sekte bulan sabit."


"Salah satu sekte pemburuh monster tidak heran Paul memiliki senjata perak."


"Apa?! Sekte pemburu moster? Aku baru tahu kalau ada sekte seperti ini," aku terkejut setelah mengetahui identitas dari Mrs. Blort.


"Tapi setelah perang purnama merah sekte bulan sabit termaksuk sekte yang telah menanda tangani perjanjian perdamaian."


"Ketika mengetahui bahwa monster-monster ini memang ada Paul jadi gila dan berpikir kalau yang menyerang istrinya waktu itu adalah manusia serigala. Ia bertekat ingin memusnakan seluruh manusia serigala di dunia. Aku mencoba menjelaskan situasi selama ini kalau kaum manusia dan makhluk malam sudah berdamai. Namun ia tidak mau mendengarkanku sampai aku sadar kalau aku sudah kehilangan nyawa diruang bawah tanah. Aku tidak terlalu ingat bagaimana caranya aku mati."


"Ha..." ayah hanya menghela nafas. "Paul baru berkerja setahun di perusahanku. Ia orang yang rajin dan ramah. Aku benar-benar tidak menyangkah apa yang terjadi hari ini."


"Waktuku sudah habis disini. Aku berterima kasih pada karna mau membantuku," Mrs. Blort melayang keluar dari tubuhku dan perlahan-lahan menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku tersadar dan mendapati diriku sudah kembali ke penginapan. Aku meraba leherku terasa perban disana. Lukaku sudah diobati. Aku berusaha untuk turun dari tempat tidur hendak mencari keluargaku ketika ibu membuka pintu.


"Ibu?!"


"Ibu sudah melarangmu untuk tidak berurusan dengan hantu. Sekarang lihat dirimu, berani-beraninya kau menyerahkan tubuhmu begitu saja pada arwah," ibu mengambil tempat duduk di samping kasur.


"Aku baik-baik saja, lagi pula lukaku tidak serius."


"Ha... Kenapa aku memiliki putri yang tidak berperilaku seperti putri."


"Ibu jangan berbicara seperti itu. Oh, iya bagaimana dengan ayah?"


"Luka ayahmu cukup parah. Ia memaksakan dirinya membawahmu kembali kepenginapan. Mungkin butuh waktu hampir sebulan bahkan lebih agar bisa pulih kembali."


"Ini semua salahku," aku tertunduk lesuh dan merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri," aku menoleh ketika mendengar suara ayah. Ia kini duduk di kursi roda.


"Ayah?! Aku... Aku tidak menyangkah kalau ayah terluka separah ini. Maafkan aku," air mataku mengalir saat melihat kondisi ayahku.


"Kenapa kau meminta maaf? Ini semua salah Paul, tidak ada hubungannya denganmu."


"Tapi karna membawahku kembali ke penginapan membuat luka ayah semakin parah."


"Hal wajar kalau seorang ayah lebih mementikan keselamatan putrinya terlebih dahulu," ayah mengacak-acak rambutku sepeeti biasa.


"Kalian ayah dan anak sama saja, suka menantang bahaya. Kenapa tidak ada diantara kalian yang meminta maaf padaku karna telah membuatku sangat cemas?" aura disekitar kami tiba-tiba berubah dingin.


"Kau duluan," bisik ayah.


"Kenapa aku? Ayah yang duluan," aku juga berbisik.


"Dia ibumu."


"Dia juga istrimu."


"Apa yang kalian bisikan?" ibu tiba-tiba menarik telinga kami.


"Aduuuh... Ibu sakit."


"Sayang... Kami tahu salah."


"Tahu sakit? Tahu salah? Sebagai hukuman atas tindak ceroboh kalian... Tidak ada makan malam!!!" teriak ibu di telinga kami. Hal ini membuat kami tuli sementara. Ibu berlalu pergi sambil membanting pintu.


"Ibumu sangat kejam."


"Ha? Apa? Telingaku masih berdengung."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε