
"Kecelakaan seperti apa itu contohnya?" tanya Rosse.
"Untuk peraturan pertama ini kalian harus mematuhinya dikarenakan memang sangat berbahaya keluar dari lingkungan sekolah pada malam hari. Malam hari merupakan dunia bagi vampire. Walau di pulau ini vampire sudah berdamai dengan manusia tapi tidak menutup kemungkinan masih ada vampire yang suka menyerang manusia. Untuk menghindari itu pihak sekolah menetapkan jam belajar pada malam hari. Ini juga bertujuan agar murit vampire bisa ikut belajar bersama tampa harus takut dengan sinar matahari."
"Kalau begitu kelas dimulai pada malam hari?" tanyaku memastikan.
"Iya. Setelah makan malam jam 19.00 dan berakhir jam 03.00 dini hari."
"Kita harus begadang dong," keluh Rosse.
"Kakak mah enak karna memang suka begadang sampai lewat tengah malam," kata Lisa.
"Wajar saja toh, manusia serigala kan memang makhluk malam," kata Rosse sambil menepuk bahuku.
Siswa/siswi serta pihak yang tidak bersangkutan dilarang masuk ke dalam kastil kecuali di bagian aula.
"Itu berarti kastil NorthVyden tidak terbuka untuk umum," kataku menyimpulkan.
"Iya. Aku bahkan tidak diperbolehkan masuk kesana. Ada penjagaan ketat di pintu masuk kastil. Para siswa/siswi akan menempati asrama yang terpisah. Asrama ini ada di halaman belakang kastil dan untuk gedung sekolahnya ada di halaman kiri dengan perpustakaan terpisah."
"Bagaimana caranya kita mau mencari keberadaan pohon ΖΩΗ (ZOI) jika kita saja tidak diperbolehkan masuk?" tanya Sofia mempermasalahkan ini.
"Kita melihat situasi dulu, setelah itu baru kita pikirkan caranya," kataku.
Peraturan ini di khususkan untuk murit vampire. Dilarang keras menyerang murit manusia untuk alasan apapun tanpa terkucuali apa lagi sampai menggunakan kekuatan vampire.
"Untuk peraturan ketiga ini aku sarankan lebih baik kalian kurangi interaksi dengan vampire."
"Bagaimana caranya kami bisa membedakan antara vampire dan manusia biasa. Jika cuman mengandalkan kulit pucat..." Lisa mala melirikku. "Kulit kakak juga putih pucat."
"Hei...!" protes ku.
"Itu mudah. Mata vampire akan memancarkan cahaya merah saat malam hari. Untuk vampire berdarah campuran biasanya tidak tahan dengan sinar matahari. Mereka akan kurangi keluar ruangan pada cuaca terik dan lebih suka tidur. Lain halnya dengan vampire berdarah murni. Cahaya matahari tidak akan melukai mereka."
"Kalau cahaya matahari saja tidak bisa menghentikan vampire jenis ini, lalu bagaimana caranya mengalahkan mereka? Seharusnya aku membawa salip khusus untuk perlindungan atau setidaknya bawang putih," oceh Rosse.
"Untuk keselamatan para kaum vampire, barang-barang semacam itu tidak diperbolehkan dibawa masuk ke lingkungan sekolah. Seperti yang tertera pada peraturan kelima."
Dikhususkan pada siswa/siswi manusia untuk tidak membawa hal-hal yang dapat melukai siswa/siswi vampire.
"Kita akan segera memasuki lingkungan dari wilayah vampire. Kalian akan mendapat pemeriksaan dari petugas keamanan untuk memastikan barang-barang apa yang akan kalian bawah," kata paman Fang.
Perjalanan kami mulai menanjak. Kami sudah meninggalkan keramaian kota pelabuhan. Disisi kiri dan kanan tidak ada lagi rumah-rumah ataupun bangunan lainnya. Di sepanjang jalan hanya ada pepohonan dengan ranting bermandikan cahaya keemasan dari matahari yang semakin jatuh ke barat.
"Em... Paman Fang..."
"Prof. Peter! Biasakanlah dirimu Rin," potong paman... Eh, maksudku Prof. Peter.
"Mrs. Livitt mengirimi liontin ini untukku," Prof. Peter mengeluarkan liontin berwarna perak dari balik kemejanya. "Liontin ini bertujuan untuk menghilangkan aura manusia serigala dalam tubuhku dengan catatan aku tidak bisa menggunakan kemampuan manusia serigala sebesar 50%," jelasnya.
Selang beberapa detik kami dalam diam, tiba-tiba Prof. Peter menginjak rem secara mendadak. Hal itu membuat kami semua terkejut. Beruntung ada sabuk pengaman, kalau tidak kami semua pasti terjungkal kebelakang.
"Astaga!! Bagaimana bisa aku lupa?! Hampir saja. Itu tadi hampir saja. Untuk kita belum memasuki pintu gerbang kastil," Prof. Peter terlihat mengatur nafas sambil meletakan dahinya di kemudi.
"Ada apa Prof. Peter?" tanyaku bingung begitu juga yang lain. Apanya yang hampir saja?
"Wolf kecil, dimana tanda klan mu?" tanya Prof. Peter seketika menoleh padaku.
"Em... Itu ada disini," aku meletakan tanganku diatas dada kiri ku atau lebih tepatnya di bawah tulang selangka ku.
"Sembunyikan itu. Walau kau tidak memiliki aura manusia serigala jika dalam wujud manusia tapi tanda klan bisa mengungkap identitasmu," jelas Prof. Peter.
"Bagaimana dengan Prof. Peter, kau juga memiliki tanda klan, kan?" tanya Lisa.
"Aku menutupinya dengan tato. Ini sebenarnya sangat dilarang merusak tanda klan di tubuh sendiri tapi mengingat aku bukan bagian klan Β (Beta) jadi tidak mengapa."
"Lalu bagaimana caranya aku menutupi tanda klan ku ini?" tanyaku.
"Bagaimana kalau aku gunakan mantra sihir untuk make up wajah? Aku bisa menutupi tanda klan mu dengan menggunakan peralatan make up," saran Sofia.
"Tapi bukankah itu masih bisa ketahuan? Mereka akan curiga ada foundation di dada atas Rin," ujar Rosse.
"Tidak akan, karna peralatan make up sihir ini tidak bisa disamakan dengan peralatan make up biasa. Ia menyatuh dengan baik di kulit seolah-olah tidak memakai make up sama sekali dan juga tidak akan hilang bila terkena air. Sama halnya dengan sihir lainnya, aku harus membatalkan sihir ini baru make up itu hilang," jelas Sofia.
"Kedengarannya sangat bagus. Bagaimana kau coba kak?" kata Lisa menoleh padaku.
"Aku sedikit ragu dengan sihir ini. Apa ini salah satu mantar sihir konyol hasil ciptaan mu?" aku mempertanyakan hal ini pada Sofia karna aku tahu sebagian besar mantra sihir ciptaan Sofia tidak berdampak baik sama sekali.
"Jangan meragukan mantra sihirku, Rin. Aku sudah menguji cobanya seratus kali, dijamin aman. Sekarang perlihatkan tanda klan mu agar aku bisa menyembunyikannya dengan peralatan make up ku," Sofia menjentikan jarinya, kemudian muncul beberapa peralatan make up melayang disekitarnya.
Dengan masih ada keraguan dalam benakku, aku terpaksa mencobanya. Tidak ada cara lain lagi di sisa waktu yang kami miliki. Aku menanggalkan jaket ku lalu menurunkan krah bajuku untuk memperlihatkan tanda klan ku.
"Wah... Jadi ini tanda klan Α (Alpha). Sangat unik," ujar Lisa begitu melihat tanda klan ku.
"Kenapa tanda klan mu terletak berbeda dengan Prof. Peter?" tanya Rosse.
"Letak munculnya tanda klan memang tidak bisa kami tentukan. Tapi... Kenapa ada lingkaran Necromancy melingkari tanda klan mu, Rin?" tanya Prof. Peter.
"Aku juga tidak tahu. Aku sudah bertanya pada ayah dan ia bilang mungkin itu karna darah ibu bercampur dengan darahnya saat ritual pemberian tanda waktu itu. Simbol Necromancy ini tidak mempengaruhiku sama sekali," jelas ku.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε