
"Tidak. Aku tidak apa-apa," aku menari nafas panjang menahannya sebentar di paru-paruku, lalu menghebuskannya secara perlahan. "Jadi bisa kalian jelaskan... Apa maksud dari pesta penyambutan ini?!!"
"Jangan marah Rin. Kami membuat semua ini cuman mau memberi kejutan untukmu. Pesta ini untuk menyambut mu sebagai pegawai baru disini," ucap kak Cia.
"Kalian terlalu berlebihan. Aku sudah berpikir kalau tadi itu nyata. Aku bahkan sampai membanting Tobi dengan keras," tunjukku pada Tobi yang masih terduduk disana. aku benar-benar tidak dapat membayangkan apa yang bisa saja terjadi selanjutnya. Telat sedikit saja aku pasti sudah berubah disini.
"Kau tidak perlu merasa bersalah Rin. Aku tidak apa-apa. Aku sudah biasa mengalaminya saat latihan," Tobi berdiri menghampiri kami. Ia mau menunjukan kalau dirinya memang baik-baik saja.
"Ya, seharusnya pesta penyambutan ini diadakan kemarin tapi Rosse memberi ide untuk mengerjaimu malam ini, saat bulan purnama," jelas kak Cia melanjutkan.
"Jadi semua ini idemu Rosse? Tapi kenapa harus saat bulan purnama?" tanyaku menoleh pada Rosse.
Yang lain juga ikut menoleh saat aku menanyakan itu. Rosse tidak menjawab. Ia hanya memalingkan muka keluar jendela. Apa yang ia pikirkan? Apa ia ingin membuktikan kalau aku seorang manusia serigala, mengunakan tangan orang lain? Apa ia masih mencurigaiku? Atau... Tidak mungkin kau percaya dengan kata-kataku tadi pagi pada Sindy, bukan? Hening sebentar, lalu tiba-tiba Tobi kembali merintih kesakitan.
"Aduuh... Punggungku masih sakit sekali," Ia sepertinya mencoba mengalihkan pembicaraan yang kini mulai terasa canggung.
"Kau bilang sudah biasa mengalaminya saat latihan, lalu kenapa masih merengek?" balasku mengejek Tobi. Lebih baik aku mengikuti keinginannya. Jika Rosse memang tidak mau memberitahu ku alasannya, ya sudah tidak apa-apa.
"Siapa kira kau begitu kuat. Aku tidak berani mencari masalah denganmu lagi."
"Maaf, salah sendiri juga terlalu serius mengerjaiku. Aku sangat ketakutan tadi."
"Seharusnya kau lihat ekspresi ketakutanmu tadi. Kau terlihat seperti manusia serigala yang sungguh takut pada perak," ejek Rosse sambil melipat kedua tangan di dada.
"Semua orang juga takut kalau diancam dengan belati!" kataku.
"Tapi Rin, belati ini tumpul," Rian memain-mainkan mata belati itu di telapak tangannya. Entah sejak kapan ia belati itu sudah ada di tangannya. "Lagi pula aku cuman mau menempelkannya di pipimu bukan menggoreskannya."
"Aku... Aku terlalu panik. Tapi kau bilang mau menggoreskan, tadi!"
"Hehe... Salahku."
Aku mendengus kesal. "Ngomong-ngomong Rian, itu belati perak asli atau palsu?" tanyaku sedikit penasaran.
"Ini asli," lirik Rian sambil menyeringai padaku.
Aku cukup terkejut mendengarnya. Bagaimana kalau tadi belati itu benar-benar menyentuh kulitku? Mereka bisa tahu kalau aku manusia serigala sungguhan. Tapi, dari mana mereka mendapatkan benda itu? Setahuku belati perak adalah senjata yang hanya dimiliki sekte pemburu monster, dan itu tidak diperjual belikan secara bebas. Apa salah satu dari mereka memiliki hubungan dengan sekte pemburu monster?
"Bagaimana kalau kau sentuh Rin?" Rian tiba-tiba menyarankan hal aneh padaku.
"Apa?! Ti... Tidak. Aku tidak tertarik dengan benda seperti itu," aku mundur selangkah menghindar.
"Kau tidak benar-benar takut dengan perak kan? Seperti manusia serigala atau kau memang monster malam?" Rosse berjalan sangat dekat ke arahku.
"Khayalanmu terlalu tinggi. Memang kau percaya ada makhluk malam di dunia ini?" kataku sedikit gugup. Kenapa Rosse memojokanku seperti ini? Apa ia menyadari sesuatu?
"Dilihat dari reaksimu sepertinya ada yang kau sembunyikan dari kami. Kenapa kau gugup?"
"Cih!" dasar Rosse. Apa yang kau inginkan?
Rosse mengambil belati itu dari tangan Rian dan menyodorkannya padaku. "Ambil ini."
Tenanglah Rin. Kau cukup memengangnya sebentar lalu segera melatakannya diatas meja. Tidak akan terjadi apa-apa. ketika jariku menyentuh belati itu... E? Aku tidak merasakan apa-apa. Belati ini bukan perak. Saat aku melihatnya lebih teliti, ternyata ini hanya plastik. Aku menatap dingin ke Rian. Ia berbalik membelakangi kami sambil berusaha menahan tawa. Aku tidak tahan lagi melihatnya. Dengan geram aku melemparkan belati plastik ini dan tepat mengenai kepalanya. Bukannya berhenti Rian mala semakin tertawa sejadi-jadinya. Apa kau pikir aku selucu itu di matamu?!
"Hahaha... Aduuh... Perutku sakit sekali. Kau benar-benar lucu Rin."
"Rian!! Kau mengerjaiku?!! Apa kau mau dihajar?!!"
"Kau serigala bodoh. Ayok hajar aku kalau bisa," ejek Rian. Ia sudah menghindar cukup jauh dariku.
"Kau yang meminta Rian!!"
Aku mengejarnya mengelilingi ruang kedai yang sudah berantakan akibat pertarunganku dengan Tobi sebelumnya. Rian cukup gesit menghindar. Sesekali ia membalikkan kursi agar aku kesulitan menangkapnya. Namun hal itu tidak dapat menghalangi ku. Aku terus mengejarnya sampai kak Cia membentak kami. Mendengar itu membuat aku dan Rian berhenti sambil menoleh padanya.
"Sudah cukup! Bisa hancur kedaiku kalau kalian kejar-kejaran disini."
"Dia yang memulai," tunjukku pada Rian yang seketika menoleh padaku.
"Aku tidak peduli siapa yang memulai. Yang pasti kalian harus membereskan semua ini nanti."
"Baiklah. Maaf kak Cia," kata kami meminta maaf berbarangan.
"Em... Anuh... Semuanya, mari makan bersama. Aku sudah menyiapkannya," orang yang aku sadari menghilang ternyata sedang menyiapkan hidangan untuk kami disisi ruangan lain.
"Wah... Asik, aku sudah lama tidak mencicipi hidangan manis legendaris ini. Seven color lotus cake," kata Tobi penuh bersemangat. Ia orang yang pertama sampai di meja.
"Bukannya tadi punggungmu sakit? Kenapa kau yang paling bersemangat?" sindir Rosse.
"Jika dihadapkan dengan Seven color lotus cake, semua rasa sakit ku hilang seketika."
"Oh... Jadi ini Seven color lotus cake yang pernah kau bicarakan itu. Tampilannya sangat cantik," ujarku.
Sesuai namanya. Cake berbalut krim putih dihiasi bunga teratai di atasnya dengan kelopak tujuh warna berbeda, begitu manawan di atas meja bundar bermotif ini. Selain kue istimewa ini, diatas meja juga sudah tersedia piring kecil berserta garpu dan kopi latte. Aku harap kali ini kopinya tidak ada obat biusnya. Aku mengambil tempat duduk antara kak Cia dan Rosse. Disamping kanan kak Cia, Hanna, sebelahnya Tobi dan disamping kiri Rosse, Rian. Kak Cia mulai memotong kue ini menjadi tujuh bagian dengan setiap potongan mendapat satu kelopak bunga teratai. Aku jadi sayang untuk memakan hidangan cantik ini saat aku menerimanya, tapi disisi lain aku ingin sekali merasakannya. Aku mendapat potongan bagian kelopak berwarna kuning.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε