My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Ayah, ibu, maaf



"Sherina...!"


Aku tersentak ketika mendengar teriakan seseorang memanggilku. Suara yang begitu aku kenal. Saat ini aku dan Rosse sudah berada di lorong lantai dasar dalam gedung sekolah. Jelas, sangat jelas itu suara dari Sofia. Dan benar saja saat aku menoleh, ia berlari menghampiriku sambil melambaikan tangan. Apa yang dilakukan penyihir satu ini?


"Sofia? Kau juga datang?" tanyaku ketika ia sudah dihadapan.


"Kenapa? Tidak boleh?" pandangan Sofia beralih ke arah Rosse. "Oh, kau pasti Rosselya. Apa kabar?"


"Baik. Lama tidak bertemu," balas Rosse.


"Hei, Rin. Kau memodifikasi mobilmu ya?" kata Sofia sambil menyengolku mengunakan sikunya.


"Apa maksudmu? Jangan-jangan..."


Aku tersentak dan segera melihat keluar jendela. Aku menempelkan kedua telapak tangan serta wajahku pada kaca itu. Ternyata memang benar Sofia membawa mobilku. Oh... Mobil merah gelap kesanyanganku ada diluar sana. Padahal aku sudah menganti semua kuncinya mengunakan sidik jari. Alasanya, tentu saja karna aku selalu bangun kesiangan. Aku selalu lupa membawa kunci mobilku saat buru-buru pergi.


"Darimana kau mendapat kuncinya?" tanyaku tampa mengubah posisiku.


"Mr. Li."


"Tidak aku sangkah ternyata paman Fang berkhianat padaku. Kenapa ia bisa menyerahkan kunci mobilku pada penyihir ini? Sofia, kau jangan perna beritahu orang tuaku soal ini, kalau tidak... Kau tahukan?" aku menoleh pada Sofia sambil menatapnya dengan senyuman.


"Senyum mu mengerikan," katanya pelan.


"ferrari superfast. Selerahmu tinggi juga," ujar Rosse yang mengikutiku melihat ke jendela.


"Oh, tentu saja. Selerahku memang tinggi," kataku sedikit sombong. Tidak apakan sekali-sekali.


"Sungguh tidak cocok dengan penampilanmu yang kampungan itu," timpalnya menusuk jantung.


"Kau bisa katakan sekali lagi," kataku datar


"Sudahlah, kita lanjutkan nanti saja," rangkul Sofia dibahu kami berdua. "Oh, iya Rin. Orang tuamu sedang menunggumu di ruang kesenian. Sebaiknya kita kesana, jangan buat mereka menunggu."


"Entahlah Sofia, aku..."


"Apa lagi yang kau pikirkan?" Rosse melepaskan rangkulan Sofia. "Kau tidak merasa tindakanmu ini terlalu egois? Mereka sudah bersedia datang kesini untuk menjemputmu. Hargailah mereka. Apa kau tidak berpikir kalau semua ini memang salahmu?"


"Aku tahu itu Rosse, tapi..." hatiku masih bimbang. Bagaimana caranya aku menghadapi orang tuaku. Apa yang harus katakan? Aku sadar tindakanku sungguh keterlaluan dan gegabah. Tidak seharusnya aku kabur seperti ini. Tapi, aku juga tidak mau dituduh sebarangan, terlebih lagi tuduhan yang tidak perna aku lakukan.


"Aku sudah berjanji pada bibi Cloey untuk membawamu dengan cara apapun," ujar Sofia yang membuatku sadar dari renungan.


"Apa?! Maksudmu..."


"Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


Oh... Tidak, jangan lagi. Kenapa selalu mantra ini? Aku tidak bisa membatalkannya karna Sofia adalah pengguna sihir kuat dari antara penyihir seusiannya. Aku pasra saja mengikuti Sofia dan Rosse menuju ruang kesenian. Awalnya Rosse tidak mau ikut tapi aku memaksanya. Aku bilang pada Sofia untuk menggunakan mantra yang sama. Aku juga sudah mengatakan kalau Rosse telah mengetahui rahasia kecil kami. Sofia cuman tersenyum dan dengan cepat melafalkan mantra tersebut pada Rosse. Hihihi... Maaf Rosse.


Ruang kesenian terdapat di lantai tiga gedung ini. Kami menggunakan tangga yang ada di sayap kanan untuk sampai disana. Dua daun pintu berwarna putih menanti kami untuk dibuka. Sofia membuka salah satu sisi pintu tersebut. Keadaan aku masih terikat mantranya, sedangkan Rosse sudah bebas dari mantra itu. Seperti ruang kesenian pada umumnya, ruangan ini di penuhi dengan berbagai peralat melukis. Sepertinya baru saja digunakan untuk mengajar. Di dalam, ayah dan ibu sudah menungu kami. Aku tidak berani menatap mereka. Aku terus mengalihkan pandangku ke arah lain dan sesekali melirik.


"Sherina..." ibu bergegas menghampiriku dan seketika langsung memelukku mesrah. "Oh... Putri kecilku. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat, apa kau sakit? Ibu sangat merindukanmu."


"Ibu... Aku baik-baik saja. Em... Bisa tolong lepaskan pelukanmu ibu, aku kesulitan bernapas disini," kataku yang seketika ibu melepaskan pelukannya. Mantra yang Sofia gunakan juga sudah ia batalkan saat sebelum ibu memelukku.


"Ah, maaf. Ibu terlalu merindukan mu. Apa kau tidak merindukan ibu?" tatap ibu sedih.


"Sangat. Cuman..." lagi-lagi aku menunduk, tidak berani menatap langsung mata ibu.


"Apa kau masih marah karna kami sempat tidak percaya padamu sebelumnya?" tanya ayah sambil menghampiri.


Aku masih terdiam. Pikiranku terus kuputar untuk mencari kalimat yang pas. Aku menggeretakan gigiku untuk menekan keraguan dalam hatiku. Satu tarikan nafas aku ungkapkan semuannya. "Maaf. Maafkan aku karna kecerobohanku telah menimbulkan masalah besar. Aku... Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah aku lakukan."


Ayah dan ibu cuman saling menatap satu sama lain ketika mendegarnya.


"Kau tidak perlu minta maaf sayang," elus lembut ibu pada rambutku.


"Kau jangan khawatirkan itu lagi. Semuanya sudah teratasi. Mr. Hope serta anak buahnya sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, kecurigaan masyarakat pada keluarga kita sudah dihilangkan dan untuk foto serta video itu juga telah di hapus dari situs media sosial," jelas ayah.


"Aku benar-benar merepotkan ayah dan ibu."


"Sebesar apapun masalah yang kau alami, kami pasti ada untuk mu," ibu kembali memelukku namun kali ini lebih lembut.


"Jadi, apa putri kecilku sekarang mau ikut pulang bersama kami?" tanya ayah.


"Tunggu dulu. Kenapa kau tidak tahu tentang hal ini, Rin? Bukankah konferensi pers itu disiarkan dimana-mana?" ucap Sofia menanyakan kebingungannya.


Aku mala lebih bingun lagi. "konferensi pers... Apa?"


"Iya, aku juga tidak tahu konferensi pers apa yang kau maksud sofia," sambung Rosse juga ingin mengetahuinya.


"Oh, itu adalah konferensi pers untuk menyelesaikan masalah," kata ibuku.


"Maksud ibu... Kalian mengadakan konferensi pers ini untuk menyangkal tuduhan itu?" tanyaku memastikan.


"Iya."


"Memang kapan konferensi pers itu diadakan?" tanya Rosse lagi.


"Rabu malam," jawab Sofia singkat.


"Oh... Itu malam dimana kita mengadakan pesta penyambutanmu, Rin," ucap Rosse mengigatkanku setelah ia menjetikan jarinya.


"Kalian mengadakan pesta?" kata Sofia


"Bukan pesta yang bagus," aku memutar mataku. "Aku dikejai dalam pesta itu."


"Pasti seru ya rosse?" Sofia tersenyum jahat sambil menoleh pada Rosse.


"Tentu saja."


"Apanya yang seru!! Malam itu bulan pur..." seketika aku tidak melanjukan kalimatku. Aku lupa kalau Rosse masih belum mengetahui identitasku.


"Kau tidak melakukan hal aneh, kan?" lirik ayah yang membuatku merinding.


"Tidak. Tentu, tentu saja tidak. Memangnya ayah berpikiran apa?" jawabku gugup.


"Aku jadi penasaran, bagaimana reaksi Rin saat kalian mengerjainya?" bisik Sofia pada Rosse.


"Dia benar-benar mudah terpancing emosi. Tapi kenapa Mr. Morgen bertanya begitu?"


"Wajar saja, kan? Sherina itu orangnya selalu membuat masalah dimanapun ia berada. Kau lihat sendiri gelagatnya itu, seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu."


"Benar juga. Kenapa aku tidak menyadarinya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε