
Pagi yang cerah, kami berangkat setelah sarapan. Sepertinya ibu tidak menelpon kemarin? Aku dan Sofia pergi ke rumah anak itu dengan berjalan kaki. Sengaja, hanya ingin jalan-jalan santai. Lagi pula rumah anak itu tidak terlalu jauh. 15 menit kemudian akhirnya kami sampai juga. Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku mencoba mengetuk beberapa kali namun sama saja. Kami tidak lantas pergi. Tidak ada petunjuk lain kecuali anak ini. Terpaksa kami harus menunggu sampai hari menjelang siang. Tiba-tiba ada sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Itu adalah mobil semalam.
"Eh, kau gadis yang kemari. Ada perlu apa?" tanya ibu dari anak itu ketika melihat kehadiranku.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan pada anak ibu," jelas ku atas maksud kedatanganku.
"Sam... Kakak yang kemarin malam mencarimu," panggil ibu itu pada anaknya.
"Iya," anak yang benama Sam itu berlari menghampiri kami setelah mengambil tasnya dari mobil.
"Kalian ngobrol lah dulu," kata ibu itu sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ada apa kak?" tanya Sam manis.
"Begini... Aku langsung saja pada intinya. Apa kau sengaja menjatuhkan kunci rumahmu hanya untuk menjebaku?" kataku langsung tanpa basa-basi.
"Hei Rin, kau menakutinya," kata Sofia mengkritik caraku.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Biar aku saja," Sofia berlutut mensejajarkan tinggi badannya dengan Sam. "Adik manis, bisa beritahu kakak siapa yang menyurumu menjebak temanku ini? Kalau tidak aku akan membuatmu merasakan apa itu mimpi buruk yang sebenarnya!" ancam Sofia diakhir kalimat.
Aku menarik Sofia menjauh dari anak itu. "Hentikan Sofia! Itu mengerikan."
"Apa aku salah?"
"Tidak, kau tidak salah. Yang salah aku karna menyurukmu bertanya!"
"Apa kakak mau bertanya soal pamanku?" kata Sam tiba-tiba membuat kami terkejut.
"Ha...?! Paman mu?"
"Aku tidak mengerti maksud kakak, tapi sepertinya berhubungan dengan pamanku."
"Aku juga tidak mengerti apa yang kau katakan," oceh Sofia yang aku balas tatapan tajam padanya.
"Apa paman mu yang menyuruhmu?"
"Tidak, cuman tadi paman Menyuruhku untuk tidak memberitahu siapapun soal kejadian kemarin jika ada seseorang bertanya."
"Anak ini berbicara berputar-putar. Aku tidak mengerti sama sekali," kata Sofia dengan nada kecil.
"Apa kau tahu dimana paman mu saat ini?"
"Mungkin di pondok. Lokasinya tidak jauh dari sini. Ikuti saja jalan setapak itu," tunjuk Sam ke arah jalan kecil yang mengarah ke hutan tepat di sebrang jalan.
"Baiklah, terima kasih," tampa basa-basi lagi aku menyeret Sofia pergi menuju tempat yang dimaksud.
"Heri Rin, apa kau tidak berpikir kalau ini sangat aneh?" Kata Sofia ketika kami sudah cukup jauh dari rumah itu.
"Apa yang aneh?"
"Anak itu yang aneh. Dia terlalu polos atau semua ini hanya jebakan?"
"Jebakan atau bukan, kita harus mencari tahu."
Kami berjalan mengikuti jalan setapak yang ditunjukan Sam. Jalanan dengan pohon rindam disisi kiri dan kanan. Tidak ada percakapan antara aku dan Sofia. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Apa benar paman anak itu yang melakukannya? Tapi kenapa? Aku saja tidak kenal siapa dia, mungkin belum. 5 menit menyelusuri jalan itu akhirnya kami sampai. Tepat di ujung jalan ada sebuah pondok kayu tua. Pondok tersebut sedikit seram tapi dari kejauhan sudab terdengar suara nyaring dan tawa percakapan beberapa orang yang berasal dari pondok itu. Kami mengintip dari jendela kaca, melihat siapa mereka. Terlihat empat pria sedang asik berbincang sambil minum minuman keras.
"Hahaha... Pasti keluarga Morgen sangat marah kepada putri mereka atas kejadian kemarin," kata salah seorang dari mereka. Orang itu benar-benar pemabuk berat. Ia bahkan tidak mengunakan gelas lagi. Ia langsung minum dari botol itu dan sepertinya ia yang paling bayak minum.
Aku mengenali salah satu dari mereka. Pria tinggi, kurus, berambut hitam yang duduk di sebelah kiri. Walau wajahnya ditutupi kumis tapi aku tahu siapa dia. Ia adalah mantan sopir dari keluarga kami, namanya Mr. Hope. Ia dipecat karna ketahuan mencuri beberapa barang dan hendak melelangnya di pelelangan ilegal. Barang-barang itu terdiri dari beberapa geraba antik abat pertengahan, lukisan, keramik berbentuk hewan dan satu benda pustaka peninggalan berturun-temurun keluarga. Tidak aku sangka ternyata ia sudah bebas, tapi sekarang apa yang ingin ia lakukan? Apa hukuman 10 tahun penjara belum cukup untuknya? Aku mengeluarkan hpku dan mulai merekam percakapan mereka.
"Tentu saja berhasil. Aku sudah merencanakan semua ini selama hidupku di penjara. Sekarang aku sudah bebas, saatnya melakukan pembalasan," teriak Mr. Hope.
"Hahaha... Keluarga Morgen memang pantas mendapatkannya."
"Aku akan mengungkap semua rahasia keluarga mereka ke publik. Biarkan semua orang tahu bahwa keluarga mereka adalah moster. Setelah mendapatkan dukungan dari orang banyak, itu akan sangat memudahkan kita untuk memuaskan mereka. Dan setelah itu kita akan kaya dengan semua barang berharga dirumah mereka!"
"Ini akan sangat menarik," batinku. Aku terus merekam.
"Di tambah lagi kemampuan putrinya itu tidak terkendali, ini sangat menguntungkan bagi kita."
"Darimana dia tahu kemampuan ku tidak terkendali? Ia kan di penjara sebelumnya?" pikirku. Aku menghetikan rekaman saat mereka satu persatu beranjak dari tempat duduk mereka.
"Bagaimana ini Rin?" tanya Sofia.
"Aku sudah merekamnya, kita harus segera kembali dan memberi tahu ayah."
Aku dan Sofia pergi dari tempat itu secara diam-diam. Bukti yang aku perluan sudah cukup bagiku. Tapi kesialanpun terjadi. Aku tidak sengaja menyengol botol-botol yang tersusun tidak beraturan. Botol tersebut jatuh berbarangan dengan suara nyaring yang ditimbulkan antara botol-botol itu ketika saling berbenturan.
"Siapa disana?!!" teriak salah seorang dari mereka ketika mendengar suara botol jatuh.
"Ayok pergi dari sini Sofia!" aku menarik tangan Sofia lari dari tempat itu.
"Ada tikus yang menguping pembicaraan kita! Tangkap mereka!" perintah Mr. Hope pada anak buahnya.
Aku dan Sofia berusaha lari sekuat tenaga menghindari kejaran. Namun tak disangka mereka meluncurkan beberapa tembakan tima panas. Astagaaa... mereka terlalu berbahaya. Tidak bisa dibiarkan, asalkan kami sampai di permukiman mereka tidak akan berani lagi. Aku akan menyerahkan bukti ini pada ayah dan mengungkap kebenaranya. Sampai saat itu mereka akan berakhir.
"Προστατευτικό ξόρκι (Prostateftikó xórki)" Sofia berhasil mengaktifkan mantra pelindung disekitar kami. Jadi kami tidak perlu takut peluru-peluru dapat mengenai kami.
"Hebat Sofia."
Sedikit lagi kami sampai di permukiman warga. Aku sudah dapat melihat rumah dari balik pepohonan, sampai...
Bruk...!
Sofia jatuh tersukur akibat tersandung akar pohon. Hal ini berpengaruh pada mantra pelindungnya yang hilang seketika. Aku membantu Sofia berdiri sambil melirik para pergejar itu yang semakin mendekat. Tunggu?! Kenapa hanya dua orang? Dimana yang satunya?
"Rin!! Awas dibelakangmu!" teriak Sofia membuat aku menoleh kebelakang.
Tapi sudah terlambat. Aku tidak menyadari kalau salah satu yang hilang dari mereka ternyata sudah berdiri di belakangku sambil mengayunkan tongkat baseball. Hal hasil, tongkat itu tepat mengenai kepalaku dan membuatku pingsan seketika. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Apa ini sudah berakhir? Sofia maaf, aku telah melibatkan mu.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε