
...ΩΩΩΩ...
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Rin..." belum selesai Sofia berbicara Rin sudah menutup telponnya. "Dasar Sherina...!!! Lebih baik aku beritahu ibunya," Sofia mencari no telpon ibu Rin dari kontak hpnya, setelah dapat ia segerah menghubunginya.
"Hallo Sofia, ada apa?" tanya Cloey setelah mengangkat panggilan tiba-tiba dari teman putrinya itu.
"Hallo bibi Cloey, tadi Rin menelponku melalui telpon umum... Dia bilang kabur lagi," jelas Sofia dengan nada gugup.
"Apa!!" mendengar itu Cloey bergegas berlari menujuh kamar putrinya, dan benar saja Rin tidak ada disana. "Kalian berdua ada disini, bagaimana bisa kalian membiarkan Rin meninggalkan tempat ini? Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Cloey pada dua pelayan yang ia perintakan untuk berjaga tadi.
"Maaf, maafkan kami Mrs. Morgen," kedua pelayan itu minta maaf sambil membungkuk.
"Kami sendari tadi ada disini, tidak pergi kemana-mana," jelas salah satu pelayan itu.
"Iya. Kami benar-benar tidak tahu bagaimana Miss. Morgen bisa melarikan diri," sambung yang satunya.
"Sudahlah, aku tidak bisa menyalahkan kalian. Sumua ini karna bocah itu terlalu niat untuk kabur. Hm... Sepertinya kali ini ia kabur lewat ventilasi "Cloey menyadari itu ketika ia melihat tumpukan meja dan kursi yang mengarah pada ventilasi udara.
"Em... Bibi Cloey."
Cloey tersadar kalau ia masih terhubung dengan Sofia. "Maaf Sofia, aku lupa kalau kau masih menelpon."
"Tidak apa-apa."
"O iya Sofia, apa Rin memberitahumu kemana ia pergi?"
"Tidak. Ia tidak memberitahuku, namun yang pasti ia pergi mengunakan bus kota."
"Terima kasih Sofia telah mengabariku. Aku akan menyuruh ayahnya untuk mencarinya dan aku harap ayahnya akan menghukumnya kali ini!" Cloey memutus telponnya.
"Maaf Rin ini demi kebaikanmu," Sofia sedikit merinding saat mendengar kalimat terakhir dari ibu temannya itu. Pandangan Sofia beralih memandang keluar jendela. Angin malam semakin kencang berhembus mengerakan awan badai yang semakin menutupi bulan.
"Kalian berdua bereskan tempat ini dan cari seseorang untuk memasang kembali jari-jari ventilasi itu," perintah Cloey pada dua pelayan wanita tadi.
"Baik Mrs. Morgen."
Cloey segerah pergi ke ruang kerja suaminya yang seharian ini tidak perna meninggalkan tempat itu. Derek masih mencaritahu siapa pemilik akun misterius yang telah menyebarkan isu buruk tentang putrinya di internet, dan sesekali membalas komentar untuk membantah tuduhan itu sambil menyakinkan masyarakat. Cloey masuk setelah mengetuk pintu. Ia melihat suaminya masih sibuk di depan leptopnya. Makanan yang diantarkan siang tadi saja tidak disentuh sedikitpun. Cloey hanya bisa menggeleng melihatnya.
"Ada apa? Kok cemberut gitu?" tanya Derek ketika melihat istrinya masuk dengan muka masam.
"Apa kau tahu? Anakmu itu kabur lagi."
"Kabur? Bagus dong," kata Derek tanpa mengakat wajahnya dari layar leptop.
"Apanya yang bagus!! Kau dengar aku atau tidak?!! Dan berhentilah menatap benda itu!" Cloey dengan kesal menutup layar leptop.
"Hei tunggu dulu, aku belum selesai."
"Urus dulu anakmu baru selesaikan yang ini!" Cloey menarik dasi suaminya sambil meletakan salah satu kakinya di atas kursi antara kedua kaki suaminya.
"Aah...!" Derek begidik ngerih melihat sepatu hak tinggi itu. "E... Sa... Sayang. Dengar... Dengarkan aku dulu."
Cloey menatap tajam suaminya itu masih dalam posisi sama. "Jelaskan apa maksudmu tadi?"
"Hm!" Cloey melepaskan suaminya dan kumudian melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus kesal.
"Tenangkan dirimu, jangan marah. Aku sudah menemukan solusi untuk masalah ini, dan tentang Rin yang melarikan diri, aku ingin kau menyebarkan berita ini diantara para pelayan dan penjaga."
"Untuk apa?" Cloey menaikan sebelah alisnya.
"Tentu saja untuk memancing ikan keluar dari persembunyiannya. Aku akan mempersembahkan pertunjukan menarik saat konferensi pers nanti."
"Tapi bagaimana dengan Rin? Aku tidak bisa diam saja melihat putriku menderita di luar sana. Dimana dia akan tinggal? Ia tidak mungkin menginap di hotel setelah apa yang terjadi hari ini," Cloey mencurahkan kekhawatirannya.
"Kau tidak perlu khawatir, putri kita bukan gadis lemah. Ia pasti baik-baik saja. Aku akan meminta Mr. Li melindunginya secara langsung dan memastikan tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya. Untuk sekarang kita harus berpura-pura tidak dapat menemukan Rin."
"Aku benar-benar tidak bisa menebak rencanamu, tapi aku harap tidak akan gagal."
"Aku pastikan tidak akan gagal. Kau harus mempercayai suamimu yang tampan ini," Derek beralih menggoda istrinya.
Satu pukulan Cloey luncurkan. "Kau tidak akan tampan lagi kalau kau kurus kering seperti bambu," Cloey menyodorkan piring yang berisi makanan pada suaminya.
...ΩΩΩΩ...
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Bus perlahan berhenti di halte sebuah kota kecil. Ini tujuanku. Aku melangkah turun meninggakan bus yang hampir kosong oleh penumpang. Hujan rintik-rintik masih nenemaniku. Angin malam terasa menusuk ketika ia dengan manjanya menyentuh kulitku. Pakaianku terlalu tipis untuk malam seperti ini, baju kaos biru langit berlengan pendek dan celana hitam panjang. Aku menggosokan kedua tanganku untuk menghalawau hawa dingin. Selama perjalan tadi aku sudah memikirkan tujuanku. Ada satu alamat yang bisa membantuku dan juga hanya alamat inilah yang aku ingat. Biasanya aku menyimpan alamat seseorang dalam catatan di hpku karna aku tidak terlalu pandai mengingat hal semacam ini.
Aku melihat jam tanganku, jam menunjukan pukul 21.15. Pantas saja kota kecil ini begitu sepih. Aku terpaksa menerobos hujan untuk sampai di alamat yang aku tujuh. Em... Apa mereka masih tinggal disana ya? Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke alamat ini, mungkin sudah tiga tahun lamanya. Aku jadi sedikit lupa tempatnya, ditambah lagi daerah sini juga sudah mengalami perubahan yang pesat. Beberapa bangunan dan rumah tidak seperti dulu lagi. Dengan mengandalkan beberapa ingatan aku melangkahkan kaki menyelusuri jalan dan lorong sampai aku memasuki gang kecil nan gelap.
Ketika aku berada di tengah gang sempit itu aku melihat sesosok bayangan hitam perlahan mendekat. Dari bentuk tubuhnya aku bisa pastikan kalau sosok itu adalah seorang pria. Aku hendak kembali meninggalkan gang tersebut tapi ternyata dibelakangku juga muncul dua sosok yang sama. Kali ini aku tidak bisa kemana-mana. Aku dikepung oleh tiga laki-laki yang salah satunya berbadan kekar. Gawat... Sepertinya aku salah jalan, aku malah masuk kawasan preman. Dengan keadaan sepih dalam gang sempit minim cahaya, hujan juga belum berhenti, hawa dingin masih menyelimuti dan aku harus dihadapkan dengan tiga preman ini. Apa keadaan masih bisa bertambah buruk?
"Hei bos lihat, ada gadis cantik ditengah malam seperti ini."
"Apa yang dilakukan gadis kecil hujan-hujanan ditengah malam?" salah satu dari pria itu mencobah membelai wajahku.
"Menjauhlah dariku!!" aku menepis tangan pria itu dengan perasaan jijik.
"Gadis kecil ini galak juga rupanya," ucap pria lainnya.
"Kebetulan aku suka yang galak-galak. Bagaimana kalau kau ikut bermain dengan kami? Aku bisa jamin kau tidak akan kedinginan lagi," bisik bos preman ini di telingaku membuat aku merinding.
"Oh... Bagaimana kalau aku memberikan permainan yang mengasikan untuk kalian? Aku terlalu lama duduk dalam bus, mungkin sedikit olahraga bisa membantu merengangkan otot-otot tubuhku ini," aku tersenyum sambil memperlihatkan taringku dan aku rasa mataku juga mulai berubah.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε