My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Menang telak



"Yang penting kau sudah datang," kata Derek.


"Kalau boleh tahu Mr. Morgen, siapakah gerangan wanita ini?" tanya pembawa acara.


"Sebelum saya menjelaskan, terlebih dahulu kami minta maaf pada semua orang. Maaf karna telah melibatkan semuanya dalam rencana kami. Sebenarnya, kami sengaja menyebarkan berita bahwa putri saya melarikan diri dari rumah namun berpura-pura merahasiakan semua ini dari masyarakan. Bukan bermaksud untuk menipu, kami cuman mau menangkap mata-mata ini." tunjuk Derek pada wanita yang sendari tadi menundukan kepalanya. "Ia menyamar sebagai pelayan untuk saling memberi informasi pada dalang dari masalah ini. Dan dia jugalah yang menyebarkan berita tentang hilangnya putri saya. Jadi bisa disimpulkan bahwa serangan itu bukanlah perbuatan putri saya."


"Apa perkataan anda dapat di benarkan?" reporter itu masih belum mau kalah. "Mungkin saja kalian berbuat drama ini dan mencari kambing hitam agar terbebas dari semua tuduhan."


"Jika anda berpikir demikian maka ada seseorang yang harus anda temui."


Derek melakukan panggilan video dan itu ditampilkan langsung ke layar utama. Tidak sampai semenit telpon diangkat. Layar utama menampilkan seorang wanita berkaca mata dengan rambut hitam terikat rapih.


"Hallo Mr. Morgen, ada perlu apa? Tumben melakukan panggilan video?" tanya wanita tersebut. Ia tidak mengetahui kalau Derek melakukan panggilan dihadapan semua orang.


"Tidak ada Mrs. Hartley. Cuman saya mau bertanya, apa Rin baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?" tanya Derek basa-basi.


"Oh... Ririn baik-baik saja. Ia terlihat mulai ceria kembali. Dan saat ini dia ada di kedai Lotus bersama putri saya dan teman-temannya. Katanya mereka mau mengadakan pesta kecil-kecilan. Kemungkinan akan pulang sedikit terlambat," kata Mrs. Hartley.


"Syukurlah kalau ia mulai melupakan masalah ini. Terima kasih Mrs. Hartley telah menjaga putri saya. Sampaikan salamku padanya,"


"Baik Mr. Morgen."


Mr. Morgen mengakhiri panggilang video tersebut. "Bagaimana? Apa masih ada keraguan lain?"


"Saya... Saya..." reporter itu terlihat sangat gugup. Wajah penuh kemenangan tadi hilang seketika, hanya menyisakan ketengangan yang mendalam. Ia terus berpikir mencari cela agar bisa membalikan keadaan.


"Mr. Morgen maaf mengganggu."


Tiba-tiba Mr. Li muncul dengan beberapa orang dibelakangnya yang menggiring komplotan Mr. Hope. Mereka terlihat lemas dan ada beberapa luka lebam diwajah mereka saat dibawa masuk. Sepertinya Mr. Hopen dan anak buahnya sedikit melakukan perlawanan ketika hendak ditangkap.


"Tepat sekali anda datang Mr. Li," kata Jaseph.


"Mr. Morgen kali ini siapa mereka?" tanya pembawa acara yang bingung dengan kehadiran beberapa orang itu.


"Kau bisa menjelaskannya Mr. Li," pinta Derek.


"Baiklah Mr. Morgen. Mereka berempat ini adalah pelaku sebenarnya dari masalah ini. Kami sudah menyelidiki semuanya. Di kediaman mereka kami temukan bukti dari leptop milik Mr. Hope kalau dialah pemilik dari akun misterius yang menyebarkan berita tersebut. Kami juga menemukan serigala putih yang terkurung diruang bawah tanah. Serigala itu persis sama seperti yang ada dalam video. Dan juga kami mendapati liontin ini pada leher serigala tersebut. Itu adalah liontin kalung milik Miss. Morgen yang hilang," jelas Mr. Li panjang lebar, lalu ia menyerahkan liontin itu pada Mrs. Morgen.


"Terima kasih Mr. Li atas kerja kerasnya," ucap Derek.


"Hanya menjalankan tugas saya."


"Sedikit tambahan agar keraguan dari masyaratkat hilang sepenuhnya. Kami dari tim pemburu monster sekte bulan sabit menyatakan kalau semua serangan serigala yang terjadi beberapa hari lalu bukanlah ulah dari manusia serigala. Jadi untuk seluruh masyarakat jangan khawatir lagi tentang serangan manusia serigala," tengas pria berjas yang ikut bersama Mr. Li tadi.


"Jadi kesimpulan akhir dari konferensi pers malam ini adalah bahwa semua tuduhan dan berita yang ditujukan pada putri dari keluarga Morgen hanyalah kebohongan belaka. Para tersangka akan ditindak lebih lanjut oleh para petugas polisi dan mohon segera mendapatkan hukuman mereka atas apa yang telah mereka perbuat. Saya selaku pembawa acara mengucapkan terima kasih kepada semua yang berkesempatan hadir malam ini. Jika tidak ada yang keberatan lagi saya akan menutup konferensi pers pada hari ini, selamat malam."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dari sejak kapan ayah berencana mengadakan konferensi pers itu?" tanyaku setelah mendengar kilas balik saat konferensi pers berlangsung.


"Em... Setelah Sofia menjelaskan apa yang terjadi."


"Kenapa tidak memberitahuku dari awal? Atau ayah memang sudah menebak kalau aku mau kabur dari rumah?"


Aku terdiam dengan wajah datar. Tidak seharusnya aku bertanya. Ayah memang sangat pandai menyangkal sesuatu walau dalam keadaan tidak menguntungkan. Ada-ada saja caranya bagi ayah untuk membalikan keadaan. Ekspresi yang tenang membuat lawan bicaranya kesulitan menebak apa yang ayah pikirkan. Tidak heran ayah akan menang telak dari para reporter itu.


"Jadi apa yang terjadi dengan para pelaku?" tanya Rosse.


"Mereka sudah mendapat hukuman yang pantas. Para korban terbukti terlibat dalam kasus itu jadi mereka juga mendapat hukuman," jawab ibuku.


"Hasil introgasi dari kepolisian mengatakan kalau tujuan Mr. Hope melakukan itu hanya untuk menghancurkan keluarga Morgen. Ia terus saja berteriak di kantor polisi dengan mengatakan seluruh keluarga Morgen itu adalah monster malam. Setelah dilakukan pemeriksaan psikologis dia dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan di kirim ke rumah sakit jiwa," jelas ayah lebih detail tentang keadaan Mr. Hope.


"Sampai segitunya? Mr. Hope ini percaya sekali dengan keberadaan makhluk malam," ujar Rosse.


"Kau sudah tahu kalau sihir ada di dunia nyata, kenapa kau berangapan kalau dunia malam itu tidak ada?" kata Sofia.


"Maksudmu manusia serigala itu benaran ada?" ekpresi Rosse terlihat sangat terkejut.


"Ah, Rosse. Bagaimana kabar ibumu? Sudah lama kita tidak bertemu. Kau semakin manis saja," ibu mencubit kedua pipi Rosse dengan gemas. Ibu melakukan itu untuk mengalikan pembicaraan.


"Mrs. Morgen lepaskan aku," rengek Rosse memohon dilepaskan.


"Jangan sungkan begitu Rosse. Panggil bibi Cloey saja atau aku tidak akan melepaskanmu."


"Baiklah bibi Cloey."


Aku dan Sofia tertawa melihat tingkah ibu dan Rosse, sedangkan ayah hanya menggeleng pelan ketika melihat istrinya begitu.


"Oh, iya. Bagaimana dengan pria berjubah hitam itu? Apa dia juga tertangkap?" tanyaku pada ayah.


"Pria berjubah hitam yang mana, Rin?" kata Sofia bingung.


"Ingat di ruang bawah tanah pondok tempat kita disekap? Dia yang menarik liontinku," jelasku.


"Orang yang melukaimu wajahmu waktu itu?" katanya memastikan.


"Iya."


"Sanyangnya tidak ada jejak mengenai identitas orang yang kau maksud. Tapi jangan khawatir, ayah pasti menangkap siapa dia sebenarnya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε