
...Sudut pandang orang pertama....
...ΩΩΩΩ...
"Aduuuh..." kepalahku terasa sakit begitu aku membuka mata. Aku merasa sedang mengalami mimpi buruk. Aku berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalaku.
"Sudah sadar?"
Seketika aku menoleh saat mendengar kalimat itu ditelinga. Wajah Sofia begitu dekat dengan wajahku. Aku dapat melihat dengan jelas mata gelap itu sungguh menawan. Aku segera mengalihkan pandangku ke sekeliling. Aku baru sadar kalau aku ternyata masih di aula sekolah. Keadaan disini kacau sekali. Sebenarnya apa yang terjadi? Kepalaku terlalu sakit untuk mengingatnya.
"Sofia? Apa, apa yang terjadi?"
"Tidak ingat? Sudah kuduga."
"Jangan! Aku mohon jangan katakan apa yang terlintas dipikiran ku."
"Aku berusaha agar kau tidak merusak semuanya. Menghadapi mu benar-benar merepotkan. Aku sampai harus mengunakan serangan tujuh elemenku untuk menghentikanmu."
"Apa?! Yang kau maksud serangan mengerikan itu?"
"Aku terpaksa menggunakannya. Tidak ada cara lain untuk menghentikan mu yang mengamuk. Aku sampai pingsan karna kehabisan tenaga. Ha... Aku ingin segera pulang dan berendam air panas."
Terkadang aku bingung dengan pikiran penyihir satu ini. Ia masih dapat tersenyum walau dalam kondisi apapun. Tidak peduli apa yang dilaluinya ia masih bisa memasang ekspresi seperti itu. Tenang seperti tidak perna terjadi apa-apa.
"Oh, iya. Bagaimana dengan yang lain?" aku baru teringat dengan hal yang paling penting.
"Mereka..."
"Kalian berdua sudah sadar?" sapa Kevin menghampiri bersamaan dengan yang lain.
"Kami membeli minuman dan makanan ringan untuk kalian," Rosse menyodorkan apa yang ia jinjit padaku dan Sofia.
Aku seketika bersembunyi di balik tubuh Sofia saat kulihat mereka datang. Aku tidak berani menatap wajah mereka satu persatu. Tidak terbayang di pikiranku bagaimana reaksi mereka saat melihatku berubah menjadi Monster legenda yang paling ditakuti di masyarakat. Setelah kejadian ini, apa mereka masih mau berteman denganku?
"Kenapa kau bersembunyi Rin?" tanya Evan kebingungan.
"Tidak! Jangan melihatku. Aku seorang manusia serigala. Kalian pasti sangat membenciku sekarang," kataku tampa mengangkat wajahku melirik mereka.
Buk!
"Aduh," rintihku saat satu pukulan pelan mendarat di kepalaku.
"Tidak peduli kau manusia serigala atau bukan, aku masih bisa memukulmu jika kau berpikiran yang aneh-aneh," kata Nic sambil berkaca pinggang.
"Hiks... Huaa...!"
"Rin, jangan menangis. Apa aku terlalu keras memukulmu? Maaf, maafkan aku."
"Sudahlah, tidak perlu terharu sampai segitunya. Mereka tidak akan membenci temannya sendiri untuk alasan apapun," hibur Sofia.
"Ffpp... Hahaha..." tawa Kevin membuat kami menoleh padanya. "Tidak aku sangkah ternya Rin bisa juga menangis seperti anak kecil. Terlebih lagi sekarang kita tahu kalau Rin adalah seorang manusia serigala."
"Sudah lama aku menahannya sejak aku tahu kalau aku seorang manusia serigala. Aku benar-benar takut jika kalian mengetahui jati diriku sebagai makhluk malam, kalian tidak mau berteman lagi denganku," aku menyapu air mata yang mengalir di pipiku.
"Tidak perlu sedih lagi. Sekarang kau tahu kami tidak akan membenci dirimu yang sebagai manusia serigala ini," kata Evan yang kini duduk bersilang di depanku.
"Melihatmu seperti ini, aku sempat lupa kalau kau tadi benar-benar berubah menjadi serigala putih dengan sorot mata tajam membunuh," ujar Rosse. Ia mengambil tempat duduk di sampingku lalu bersandar.
"Semenggerikan itu kah?" aku belum perna melihat diriku dalam wujud serigala.
Tiba-tiba Rosse berbisik. "Jujur saja kau tadi terlihat sangat cantik. Aku jadi ingin mengelus helaian bulu lembut itu"
Aku memalingkan muka tersipu malu. Dasar Rosse, dari mana kau belajar trik menggoda seperti itu. "Terima kasih semuanya. Tidak seharusnya aku meragukan persahabatan kita. Em... Dimana Risa?" tanyaku saat menyadari ada satu orang yang hilang.
"Risa? Maksudmu Lisa?" kata Nic membenarkan.
"Kenapa kau akhir-akhir ini kau sering melupakan namanya?" tanya Sofia.
"Entahlah," jawabku yang juga bingung kenapa aku selalu salah menyebutkan nama gadis itu.
"Untuk apa kau pedulikan dia lagi?" tanya Kevin balik.
"Kulihat ia sudah pulang setelah mengobati lukanya diruang kesehatan."
Aku tersentak saat mendengar itu dari Nic. "Li, Lisa terluka? Apa karna aku?"
"Tidak parah, cuman sedikit tergores oleh cakarmu," ujar Sofia sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Tidak parah? Tapi tetap saja ia terluka karna aku, kan?" aku menutup wajahku menggunakan kedua tangan. Satu hal lagi yang paling aku takutkan iyalah, ketika kekuatan manusia serigala ku tak terkendali, aku melukai seseorang. Aku harus minta maaf padanya besok.
"Apa boleh buat, semuanya sudah terjadi."
"Anggap saja sebagai hukuman baginya karna selalu mencari masalah dengan mu,"
"Aku harap ia akan kapok setelah kejadian hari ini."
"Pastinya. Sekarang ia tahu tidak seharusnya ia mengusik siapa."
"Kalau ia tadi tidak jadi patung dan segera menghindar, ia juga tidak akan terluka."
"Kau jangan terlalu merasa bersalah, Rin."
"..."
Kata mereka secara bergantian mencoba menenangkan perasaanku yang amat bersalah pada Zika. ... Aku mengambil botol air mineral yang dibawa Rosse tadi, membukanya lalu meneguk hampir setengah isi dari botol kecil itu. Aku harus sekali. Tenggorokanku terasa kering setelah siuman.
"Oh, iya Rin. Jam tanganmu," Rosse menyerahkan jam tanganku yang ternyata sudah disatukan. "Kami mencoba memperbaikinya tapi tak bisa."
"Tidak apa-apa. Nanti aku minta paman Fang saja yang memperbaikinya."
"Rin, apa Jammu itu memang berfungsi menekan kekuatanmu?" tanya Evan ingin tahu.
"Tidak. Bukan jamnya tapi melainkan Ruby kecil yang ada di tengah antara jarum jam," aku memperlihatkan itu pada mereka. "Untung kalian menemukannya."
"Kalau itu tidak ada, apa kau akan sering hilang kendali? Atau... memang semua manusia serigala punya itu?" tanya Evan ingin tahu lebih banyak.
"Hanya aku yang memakai Ruby ini untuk menekan kekuatan. Untuk masalah hilang kendali... Aku tidak tahu itu," aku tertunduk melihat jam tanganku.
"Awas Nic!" teriak Kevin saat botol minuman yang ia pegang terlepas dari gegamannya.
"Ξόρκι πάγου (Xórki págou)" dengan sigap Sofia mengubah air itu menjadi butiran es sebelum membasahi kepala Nic.
"Salju?" Nic sedikit bingung dengan kemunculan salju yang menimpa kepalanya.
"Hah... Sepertinya kekuatanku belum pulih," kata Sofia kembali menikmati keripiknya.
"Untuk sesaat aku masih tidak percaya dengan yang kulihat. Sihir, manusia serigala, semua ini berlalu begitu cepat," kata Nic sambil membersikan sisa salju di kepalanya.
"Aku juga berpikir demikian. Tapi setelah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, terkadang banyak hal yang memang belum kita tahu. Ada masanya kita mengetahui itu atau tidak sama sekali," kata Kevin.
"Em... Rin, aku cuman mau tahu... Kau dari klan apa?" pertanyaan Evan cukup membuatku terkejut.
"Kenapa kau bertanya demikian?" tanyaku balik.
"Apa salah? Seperti yang biasa dalam Novel atau film kan manusia serigala dibedakan menjadi beberapa klan. Aku cuman berpikir mungkin kau juga memiliki klan tertentu."
"Α (Alfa). Aku dari klan Α (Alfa)"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε