
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
Tit... Tit... Tiiiiit.......
Gadis dimonitor pendeteksi detak jantung menunjukan garis panjang. Alat tersebut telah dipasang Mr. Guttman disaat ia hendak memulai proses pemindahan jiwa. Tidak disangka ternyata mumi bayi tersebut memenuhi semua syarat menjadi tubuh pengganti Rin. Tapi...
"Apa yang terjadi dengannya, Mr. Guttman?" Derek seketika panik melihat layar monitor tersebut.
"Detak jantungnya menghilang," sama paniknya, dengan cepat Mr. Guttman hendak melakukan pertolongan pertama disaat...
Tit... Tit... *****... *****...
Pergerakan Mr. Guttman terhenti begitu melihat layar monitor tersebut kembali menunjukan aktivitas dari detak jantung Rin. Beberapa saat mereka terdiam. Derek sangat bingung dengan apa yang terjadi barusan dan bagaimana cara mengekspresikan nya. Namun lain halnya dengan Mr. Guttman. Ia terlihat tertunduk murung.
"Mr. Morgen tidak perlu khawatir. Detak jantungnya kembali normal. Semua organ vitalnya berfungsi dengan baik. Bahkan nafasnya juga sudah teratur. Biarkan ia istirahat," Mr. Guttman melepaskan semua alat kesehatan yang tersemat di tubuh Rin karna ia sudah tidak memerlukannya lagi.
"Mr. Guttman, kenapa anda menyampaikannya dengan nada sedih seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Putriku baik-baik saja, kan?"
Mr. Guttman menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Bersiaplah untuk menyambut putri kandung anda disaat ia sadar."
Derek tersentak mendengarnya. "Ma, maksudmu? Rin, dia... I, ini tidak mungkin."
"Maafkan saya Mr. Morgen. Saya terlambat untuk menyelamatkannya."
"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Putriku... Dia..." Derek tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ia terduduk lemas di lantai sambil mencengkram kuat rambutnya.
"Relakan kepergiannya Mr. Morgen," Mr. Guttman mencoba menenangkan hati seorang ayah yang hancur.
"Baru satu jam yang lalu aku berbincang dengannya, dan sekarang... Dia sudah pergi. Hiks... Aku bahkan belum menepati janjiku padanya untuk mengadakan pesta perjamuan musim semi. Oo... Putri kecilku, Rin. Kenapa kau pergi meninggalkan kami. Apa yang harus kubilang pada Carlos, Zedna dan adikmu, Lisa?"
"Kuatkan hatimu, Mr. Morgen. Rin pastinya tidak mau melihatmu seperti ini. Bukankah kau juga akan bertemu kembali dengan putri kandungmu? Apa yang dikatakannya nanti jika melihatmu murung dan bersedih?"
"Satu putriku kembali, tapi kenapa harus ada yang pergi? Kenapa mereka tidak bisa hidup bersama saja?"
"Ingatlah permintaan putrimu pagi ini Mr. Morgen. Ia memintamu untuk membimbing Sherina. Saya yakin Sherina juga sama terpuruknya dengan dirimu. Saya takut nanti Sherina akan merasa bersalah dan tidak semangat untuk menjalani hidupnya. Apa kau ingin kehilangan putrimu lagi?"
Derek menggeleng. Ia lalu bangkit kemudian duduk ditepi tempat tidur Sherina. Dibelainya lembut helaian rambut yang perlahan-lahan telah berubah merah terang seutuhnya. Bersamaan dengan itu juga muncul tanda jiwa tepat dahi Sherina.
"Hiks... Putriku sungguh telah kembali. Tanda ini mengingatkanku disaat pertama kali ia dilahirkan. Selamat datang kembali sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, salah satu kamar di kastil NarthVyden. Onoval yang sedang tertidur sontak langsung terbangun sampai terduduk. Keringat bercucur deras di pelipisnya. Dengan nafas terengah-engah ia mencengkram kuat bajunya menahan sakit yang menusuk tajam di dadanya.
"Ba, bagaimana bisa jiwa Rin tiba-tiba menghilang? Ini tidak mungkin. Aku bahkan tidak melakukan apapun padanya. Apa yang telah terjadi? Aku harus menemuinya secara langsung sekarang juga."
Onoval bergegas turun dari tempat tidurnya namun ia lupa konsekuensi dari memiliki seorang budak darah. Kakinya tiba-tiba lemas yang membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Pandangannya perlahan-lahan memburam dan akhirnya menghilang.
Bagi seorang vampire yang teringin mengangkat seorang budak darah ia harus bersedia menerima konsekuensi yang cukup berat. Disaat jiwa dari budak darahnya lenyap maka daya tahan tubuh tuannya akan turun drastis paling tidak lebih dari seminggu lamanya dan bagi vampire yang lemah, hal itu dapat menyebabkan kematian. Sebab itu lah vampire akan memberikan 20% kekuatannya pada budak darah mereka untuk melindungi diri. Singkatnya, memiliki budak darah sama saja menampakan kelemahan terbesar dari seorang vampire itu sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan hati riang Sindy pergi menemui putra mahkota. Ia mencari Lucas ke sempenjuru ruangan di kastil tersebut tapi tidak kunjung menemukan Lucas. Ia sempat bertanya pada pelayan dan baru ingat kalau vampire tidur di siang hari. Bagaimana bisa kau melupakan itu? Tanpa menunda lagi Sindy segera menuju kamar Lucas.
"Salam putra mahkota," sapa Sindy yang menerobos begitu saja masuk ke kamar tuannya.
Lucas yang sedang tertidur seketika terbangun. "Kau sungguh tidak ada sopan santun. Apa begitu caramu masuk ke kamar seseorang? Jika itu orang lain, aku pasti sudah memengal kepalanya."
"Hihi... Maaf, maafkan aku tuanku."
"Sudahlah. Apa yang kau mau? Kau terlihat sangat senang hari ini. Apa ada sesuatu yang ingin kau bagi untuk ku?" Lucas turun dari tempat tidur lalu menghampiri Sindy.
"Bagaimana tidak senang, rencanaku berhasil. Akhirnya aku bisa membalas dendam ku pada Rin. Sekarang jiwanya telah lenyap dari muka bumi berkat bantuan dari putri serigala klan Α (Alpha) itu sendiri."
"Benarkah?"
Sindy mengangguk mantap sambil tersenyum. "Aku tidak akan mungkin berbohong pada tuanku."
"Lalu bagaimana dengan klan Β (Beta)?"
"Calon ketua klan Β (Beta) itu terlalu mencintai Rin. Aku tidak dapat menghasut dia lagi. Tapi aku masih bisa memperdaya ayahnya. Sekarang ini ia sedang dikurung dalam kamarnya oleh ayahnya sendiri karna telah berkhianat pada klan. Mungkin saat ini ia masih berteriak-teriak minta dibebaskan. Perchye yang malang. Bagaimana reaksinya nanti setelah kuberitahu kalau jiwa dari kekasih tercintanya itu telah menghilang dari muka bumi? Ia pasti sangat berduka dan mungkin memilih mati dari pada hidup tanpa kekasih tercintanya. Tuan ku tidak perlu mengkhawatir dia akan menjadi penghalang dari rencana besar yang mulia."
"Kau memang budak darahku yang terhebat," puji Lucas sambil mengelus kepala Sindy seperti membelai seekor kucing.
"Aah... Dipuji oleh putra mahkota benar-benar membuatku tambah bahagia," Sindy tersipu malu diperlakukan dengan manja oleh putra mahkota.
"Jangan senang dulu. Walau kau membawa kabar gembira, aku tidak akan memberimu hadiah tapi melainkan hukuman."
"Apa?! Apa salahku?" Sindy tersentak mendengarnya.
"Salah mu? Siapa suruh kau menerobos masuk ke kamarku dan menggagu tidurku."
"Eh... Hehe... Maaf. Aku tidak bermaksud menggagu tidur yang mulia."
"Karna aku sudah terbangun, sekarang aku haus sekali. Aku ingin minta jatah mingguan ku."
"Eh? Bukannya baru kemarin tuan menghisap darahku?"
"Kenapa? Tidak boleh? Sebagai budak darahku kau harus mengikuti semua perintahku tanpa terkecuali," Lucas membelai turun wajah Sindy sampai ke lehernya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε