
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Malam harinya, aku mengajak kak Cia, Hanna dan Rosse berkeliling taman. Kak Cia dan Hanna akan menginap disini selama dua hari dua malam, itu sampai pesta perjamuan selesai. Lagi pula masih 45 kue lagi yang belum selesai dibuat. Akan sangat repot kalau mau pulang pergi, kan? Bukan hanya mereka saja yang di perbolehkan menginap tapi juga chef-chef yang diundang lainnya. Besok mereka akan sangat disebukan dengan semua hidangan yang akan dimasak.
Dibawah hamparan bintang kami berjalan mengiringi jalan setapak. Udara dingin begitu menusuk sampai kami harus memakai tambahan kain lebih untuk menghangatkan. Lampu-lampu taman yang redup cukup bagi kami melihat dengan jelas jalan yang dilalui. Ini malam yang sunyi. Hanya kami berempat ditaman ini.
"Tidak perna terbayang dipikiranku, suatu hari nanti tepatnya hari ini, aku akan berjalan santai dikediaman keluarga Morgen. Sungguh tempat ini sangat mengagumkan. Aku merasa seperti masuk ke taman sebuah kerajaan di cerita dongeng," ujar kak Cia memacah kesunyian malam.
"Tapi tak akan jadi indah jika kau sendirian," kataku kemudian. "Tempat seluas ini... Begitu sepih. Aku sudah menghabisan waktu 15 tahun disini dan sangat jarang sekali aku menikmati keindahannya. Aku merasa sesuatu yang indah haruslah dinikmati bersama baru terasa."
"Kau pasti sangat kesepihan ya Rin?"
"Aku sering berdiri dibalkon kamarku sambil menatap jauh ke hutan. Terlintas di banyanganku, seandainya saat itu aku memiliki saudara yang bisa diajak bicara. Pasti sangat menyenangkan. Kami bisa saling bercerita sesuatu hal yang menarik. Tertawa dan menangis bersama ataupun bertengkar karna hal-hal sepeleh."
"Tapi sekarang kau punya, kan? Rosse bisa jadi saudaramu," kata kak Cia membuatku melirik Rosse.
"Hm, siapa yang mau bersaudara sama gadis pembuat masalah seperti Rin? Aku takut nanti banyaklah pertengkaran karna gadis satu ini maunya menang sendiri," kata Rosse sambil menoleh ke arahku.
"Hah, mulutmu itu tidak bisa dijaga ya? Bicara tanpa pikir-pikir dulu," balasku ke Rosse.
"Aku cuman mengatakan yang sebenarnya," kata Rosse sambil menggakat kedua bahunya.
"Gadis dingin!"
"Gadis emosian!"
"Hehe... Seperti itulah saudara," kata kak Cia.
Tanpa sadar kami berjalan menuju danau buatan. Tempat ini sangat indah dikalah malam hari. Ada pondok kecil dipingir danau, lantas kami kesana untuk sekedar menikmati suasana. Air danau yang jerni seperti cermin yang memantulkan apa saja yang disekitarnya.memang lebih menyenangkan menikmati semua ini bersama-sama. Kami berempat kembali lebih awal. Udara di pinggir danau jauh lebih terasa dingin. Diperjalanan kembali ke rumah, Rosse sempat bertanya padaku.
"Aku tidak mengira kalau kalian akan mengundang pastry chef Sylvia. Dan juga sepertinya ia sangat akrab dengan keluargamu. Apa kalian memiliki hubungan tertentu?"
"Kau tidak tahu ya? Kak Sylvia itu salah satu dari klan Α (Alpha)," bisikku ditelinga Rosse.
"Dia juga seorang manusia serigala?"
"Iya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya seperti yang aku duga, hari ini semakin sibuk sekali. Semua orang berkerja kesar menyiapkan seluruh perlengkapan pejamuan. Ruang aula utama hampir selesai didekorasi. Tampilannya sederhana tapi terlihat mewah. Tirai merah menghiasi setiap jendela-jendela. Meja bundar dengan kursi yang mengeliling tersebar untuk setiap anggota keluarga pemegang saham, lengkap dengan tanda nama keluarga mereka. Yang paling aku sukai dari ruang aula utama ini adalah piano putih di sisi kanan dari tangga. Piano itu salah satu daya tarik tersendiri bagiku. Warna putih yang elegan begitu mempesona setiap kali aku meliriknya.
Saat ini aku ada di kamarku bersama dengan ibu. Aku diminta ibu untuk mencoba gaun serta aksesoris yang baru saja dikirim butik Vererossa. Ibu bilang ia sendiri yang memilihnya untukku dan sekarang ia bersikeras memintaku mencobanya. Tentu aku tidak bisa menolaknya. Kukenakan gaun itu. Em, begitu pas ditubuhku. Ibu sangat pandai memilihnya. Gaun biru tua dengan hiasan kristal es dan garis emas di setiap ujung gaunnya, sepatu hak tinggi berwarna senada dengan gaun dan hiasan rambut dari susunan batu permata putih. Aku dibantu dua pelayan untuk menata rambutku serta memakai make up diwajah.
(Maaf kalau tidak sesuai yang dibayangkan😁)
"Wah... putriku benar-benar terlihat cantik," senyum lebar menghiasi wajah ibu.
"Bukankah aku cuman mencobanya, kenapa harus berdandan lengkap sampai make up segala?" kataku sambil menatap bayanganku dicermin.
"Mencoba apa? Kita memang sudah harus bersiap-siap sayang. Waktu acaranya sudah hampir tiba."
Aku melirik jam tanganku. "Ini baru jam tiga, masih ada waktu empat jam lagi ibu."
Ibu berlalu pergi bersama dua pelayan meningalkanku. Hah... Ibu, kenapa memintaku berdandan lebih awal. Waktu masih lama sebelum acara dimulai. Tunggu, apa sekarang Rosse juga sedang bersiap-siap? Aku penasaran gaun apa yang ibu pilihkan untuknya. Aku berjalan keluar menuju kamar Rosse yang ada disebelahku. Aku masuk begitu saja ke kamarnya tampa mengetuk pintu. Aku terteguh begitu aku melihatnya. Gaun biru muda dipadukan dengan warna ungu, sepatu hak tinggi berwarna pink dan untuk rambutnya terurai dengan pita kupu-kupu disisi kiri dan kanan. Aaaah.... Rosse! Kenapa kau begitu imut dengan pakaian itu. Rosse seketika menahanku ketika aku hendak mendekatinya.
"Jangan mendekat! Aku tahu apa yang ingin kau lakukan," ujarnya dengan wajah cemberut.
Aaaah... Dia semakin imut. "Jangan melawan gadis kecil. Ayok, bermain dengan kakak. Kakak janji akan pelan kok," aku berjalan pelan mendekati Rosse dengan senyum jahat.
"Senyumu itu mengerikan," Rosse berusaha menghindar namun aku terus mengejarnya. "Aah! Menjauhlah dariku!"
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku ketika aku sedikit lagi mengapainya.
"Hu... Hu... Gadis imut ini galak juga," kataku sambil memengagi pipiku.
"Berhentilah becanda! Atau aku benar-benar akan memukulmu!" bentak Rosse dengan wajah galak.
"Iya, iya, tidak becanda lagi. Tapi kau memang imut dengan pakaian itu, Rosse."
"Aku seperti gadis umur delapan tahun dengan pakaian ini."
"Bagus. Itu artinya kau awet muda delapan tahun. Ayok kita keluar. Kita tunjukan kecantikan nona-nona kediaman," aku menarik Rosse keluar dengan paksa.
Jam 18.15 aku, Rosse dan si kecil Mia sedang bediri di lantai dua sambil melihat keramaian di aula. Beberapa tamu telah berdatangan, ada yang telah menenpati meja masing-masing atau saling sapa-menyapa dengan yang lain. Dari atas sini aku dapat melihat orang tuaku sedang berbicang dengan tamu yang baru datang. Bibi Marry bertugas mengatur hidangan yang akan disajikan. Paman Alan dan bibi Emely menyabut tamu langsung di depan pintu masuk.
"Wow... Semua yang hadir hari ini berasal dari kalangan atas. Aku merasa gugup untuk turun kesana," ucap Rosse.
"Jangan begitu. Bersikap biasa-biasa saja. Mereka tidak akan menggigitmu jika kau salah bicara."
"Kata-katamu tidak membantu sama sekali."
"Kau hanya perlu selalu di dekatku. Semuanya akan baik-baik saja."
"Hei, bukankah itu Sofia?" tunjuk Rosse ke arah pintu masuk.
Aku melirik ke arah tempat yang ditunjuk Rosse. "Itu memang dia."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε