
"Jangan galak begitu. Aku cuman mau mengajakmu menonton pertunjukan menarik," Dengan senyum jahat Professor Verno memerintahkan pada anak buahnya. "Seret serigala itu masuk ke dalam ruangan!"
"Apa yang mau kau lakukan padanya?!!" bentak Cloey begitu orang-orang tersebut memaksa Derek masuk ke ruangan yang ada di balik kaca.
Derek tidak tinggal diam. Ia memberontak dan menyerang beberapa orang yang mencoba memaksanya masuk ke ruangan tersebut. Orang-orang ini bukan tandingan Derek biarpun mereka bersenjata, sampai Professor Verno berkata.
"Jangan melawan Derek atau kepala pacarmu akan berlubang," ancam Professor Verno.
Melihat senjata telah berada di pelipis Cloey, Derek dengan terpaksa berhenti menyerang. Ia hanya menyeringai sambil menatap tajam Professor Verno. Ia tidak berani mengambil tindakan jika nyawa Cloey menjadi taruhannya.
"Masuk ke dalam. Aku berjanji tidak akan menggores kulitnya sedikitpun jika kau menuruti ku. Aku tidak membutuhkannya saat ini. Yang aku butuhkan adalah kau."
Beberapa orang yang tersisa kembali menggiring Derek masuk keruangan tersebut. Derek terpaksa mengikuti keinginan dari Professor Verno agar Cloey tidak terluka, tapi jika itu Professor Verno menepati janjinya. Sedikit saja kulit Cloey terluka Derek akan mencabik-cabik tubuh Professor Verno sampai tidak bersisa. Dengan lirikkan tak berubah, Derek melangkah masuk ke ruangan itu. Pintu seketika dikunci. Derek hanya diam menatap tajam dari balik dinding kaca transparan.
"Oh... Lihatlah wajahnya itu sungguh membuatku merinding." Professor Verno menarik tangan Cloey mendekati dinding kaca.
"Apa yang mau kau lakukan padanya?" tanya Cloey sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Professor Verno dari pergelangan tangannya.
"Ini pertunjukan yang ku maksud tadi sayang. Aku telah mengembangkan serum baru yang memungkinkan seorang manusia serigala kehilangan akal sehatnya. Ia akan jadi sangat berutal dan ganas. Menyerang siapa saja yang dilihatnya tampa terkecuali, bahkan terhadap benda mati sekalipun. Dengan serum ini aku dapat melihat seberapa besar kekuatan seorang manusia serigala itu jika mereka hilang kendali. Tapi kau jangan takut. Aku tidak akan menggunakan serum ini pada pacarmu. Aku sudah memiliki penggantinya."
"Pengganti?" Cloey terkejut mendengarnya. Jangan-jangan pengganti yang dimaksud adalah Emely.
"Bawa masuk dia!" perintah Professor Verno pada salah satu anak buahnya.
"Baik."
Sebuah pintu di sebrang ruangan tempat Derek berada terbuka. Derek berbalik melihat siapa yang disebut sebagai pengganti itu. Betapa terkejutnya Derek dan Cloey begitu melihat seekor serigala abu-abu dengan warna hitam di bagian telinga dan ekor berjalan keluar dari sana. Itu adalah Emely. Sepertinya Emely tidak mengenali Derek sama sekali. Ia terlihat menatap tajam pada Derek sambil menyeringai ganas memperlihatkan taringnya.
"Emely!!" teriak Cloey begitu tahu kalau itu memang dia.
Professor Verno melepaskan cengkaramannya, membiarkan Cloey melihat lebih dekat. "Jadi namanya Emely. Nama yang indah."
"Apa yang mau kau lakukan pada mereka?!!" bentak Cloey sambil menatap tajam Professor Verno.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mereka bertarung. Kita lihat siapa yang lebih unggul. Apa itu objek penelitian kesayangan Professor Herman sang penghianat itu atau manusia serigala yang telah menerima serum buatan ku? Aku berjanji akan melepaskan Derek jika ia berhasil bertahan dan menang dari pertarungan ini."
"Tidak!!! Mereka tidak akan bertarung!! Karna..." Cloey tidak melanjutkan kalimatnya. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Karna apa?" Professor Verno sedikit bingung mendengar kalimat Cloey yang terputus.
Cloey mengeretakan giginya lalu berteriak. "Jangan sampai kau membunuhnya Derek!!!"
Emely berlari ke arah Derek siap menyerang dengan rahang terbuka lebar. Derek berusaha menghindar sebisa mungkin dan menangkis serangan yang diluncurkan Emely, tapi ia tidak bisa begini terus. Emely terlalu beringas menyerang seperti hewan buas berdarah dingin. Beberapa kali Derek terpaksa membalas dengan cara menghempaskan tubuh Emely ke lantai yang keras. Tapi itu tidak cukup menghentikan Emely. Seperti tidak kenal rasa sakit dan lelah, Emely terus saja bangkit dan menyerang lagi walau tubuhnya sudah terluka. Sebaliknya Derek, ia sudah mulai kelelahan dengan nafasnya terengah-engah. Ia juga semakin sering menerima serangan yang membuat dirinya terluka akibat cakaran dari Emely atau terhempas ke sisi dinding. Rungan itu kini berhiaskan dari pertarungan mereka.
Cloey hanya bisa menangis melihat pertarungan sengit dua orang kakak beradik itu. Ingin sekali ia masuk kesana untuk melerai mereka. Dengan air mata membasahi pipinya Cloey terus saja menggedur dinding kaca itu berkali-kali, namun percuma kaca itu tidak bergerak sedikitpun. Cloey tahu apa yang dilakukannya saat ini sia-sia, tapi ia harus bagaimana lagi? Tidak mungkin ia cuman berdiri melihat mereka saling membunuh, bukan?
"Jangan sakiti tangan cantikmu Cloey. Kaca itu di rancang tidak mungkin bisa pecah biarpun kedua serigala itu bersama-sama menghancurkannya."
"Lepaskan mereka Professor Verno. Bukankah dulu kau menginginkan aku kembali? Baiklah, aku akan kembali padamu tapi aku mohon dengan sangat untuk melepaskan mereka. Biarkan mereka pergi dari sini. Hiks... Hiks..." pinta Cloey sambil menangis sejadi-jadinya terus memohon.
"Air mata sungguh tidak cantik di wajahmu sayang," Professor Verno hendak mengusap air mata itu tapi Cloey seketika memalingkan muka, tidak mau disentu oleh Professor Verno. "Kau adalah objek penelitian ku yang paling berharga tapi kau lebih memilih kabur bersama si penghianat itu. Aku hargai kau mau kembali padaku. Tapi sayangnya aku tidak bisa mewujudkan permintaanmu."
"Karna bagi manusia serigala yang telah menerima serum itu, ia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia akan terus menyerang lawannya sampai titik darah penghabisan. Derek tidak akan bisa bertahan tampa membunuh lawannya, kalau tidak dialah yang terbunuh," jelas Professor Verno.
"Kenapa? Kenapa kau begitu kejam?!!"
Terlihat Derek mulai kehabisan tenaga. Tubuhnya gemetar tak sanggup lagi menyeimbangkan berdiri. Darah dari lukanya tidak henti-hentinya keluar. Sedangkan Emely masih berdiri tegap menyeringai ganas memperlihatkan taringnya dan siap menyerang lagi. Sebisa mungkin Derek menghindar dengan sisa tenaganya.
"Sudah cukup, Emey!!! Aku tidak mau melawanmu lagi!"
"Grrr...... GROARRR ! ! !" Emely mengeram sambil menatap tajam pada Derek. Ia tidak mendengar sedikitpun apa yang dikatakan Derek. Ia mala mengayunkan cakarnya terus menyerang.
"Aku bilang Cukup Emely!!! Sadarlah!! Jika kau memang adikku."
Mendengar kalimat itu entah mengapa membuat langkah Emely terhenti. Ia terlihat menahan diri untuk tidak menyerang lagi. Telinganya menurun dengan kepala menunduk sambil menggeleng dan langkahnya berusaha mundur walau masih menggeram memperlihatkan taringnya. Menyadari reaksi Emely yang berubah Derek merasa yakin ada harapan dapat menyadarkan Emely.
"Iya, aku... Aku tidak meragukan lagi kalau kau adikku. Aku bersedia ikut pulang bersamamu. Bukankah itu yang kau mau?" dengan sisa tenaga yang dimiliki Derek berjalan pelan mendekati Emely. Terlihat Emely masih menyeringai ganas tapi Derek tetap berjalan mendekat.
"Apa yang terjadi?" Professor Verno sangat terkejut melihat pertarungan itu tiba-tiba berhenti.
"Sepertinya Derek berusaha menyadarkan Emely," kata Cloey menebak apa mau dilakukan Derek.
"Itu tidak akan mungkin terjadi!
"Berusahalah Derek!!! Kau pasti bisa menyadarkan adik mu!!!" teriak Cloey dari balik dinding kaca memberi semangat.
"Adik?"
"Ini aku Derek. Kakakmu. Sadarlah. Kau bilang ibu sedang menunggu kita dirumah. Menunggu kepulangan kita. Ayok kita pulang... A-dik-ku," bisik Derek begitu ia meletakan dahinya ke dahi Emely. Setelah itu ia terjatuh tak sadarkan diri karna kehabisan tenaga.
"Ka-kak," satu mutiara menetes di ujung mata Emely. Ia tersadar dari pengaruh serum ciptaan Professor Verno. "Hiks... Huaaa..............aah...... Kakak........ Maaf, maafkan aku. Hiks... Hiks..." Emely menangis sambil mendekap kan wajahnya di tubuh Derek yang kini tidak sadarkan diri di hadapannya.
"Derek!!"
"Ini tidak mungkin. Ba, bagaimana bisa?" Professor Verno sangat terkejut serum nya bisa dipatahkan begitu saja.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε