
Hari mulai senja. Angin bertiup juga mulai bertambah dingin. Aku dan Rosse sampai di rumah ditemani sinar jingga. Baru saja memasuki halaman rumah aku sudah mencium aroma yang begitu lezat. Rasa lapar ku tiba-tiba naik seketika. Aku sangat mengenal aroma masakan ini. Nostalgia langsung berputar dalam kepalaku. Ketika Rosse membuka pintu aromanya semakin tajam menyambut kami. Sepertinya bibi sedang menyajikan makan malam yang istimewa hari ini.
"Ah, kalian sudah pulang. Ibu sudah lama sekali menunggu kalian. Ayok cepat kesini. Ibu sudah membuatkan masing-masing makanan kesukaan kalian," sambut bibi Marry dengan hangat. Dia ada di dapur sedang menata semua masakan yang ia buat.
"Iya ibu. Aku ke atas dulu untuk ganti baju," Rosse berjalan sedikit cepat sambil menyembunyikan paper bag di belang tubuhnya.
"Baiklah, ibu tunggu kalian di meja makan."
Aku mengikuti Rosse kembali ke kamar. Sampai di depan pintu kamar aku melihat ia menyimpan paper bag tadi di tempat yang cukup tersembunyi, dibawah tempat tidur. Aku baru melangkah masuk ketika Rosse berjalan menuju kamar mandi. Aku meletakan paper bagku serta kado untuk Rosse dalam lemari. Ia tidak akan curiga kalau aku meletakkannya disana. Selesai mandi dan ganti baju, kami turun untuk makan malam istimewa. Tiba di dapur, kulihat semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja. Aku menarik kursi kedua dari empat kursi yang ada di meja makan berbentuk bundar ini.
"Em..." aku menarik nafas panjang menghirup aroma lezat yang begitu menggugah selera. "Baunya sangat enak sampai-sampai aku bisa menciumnya ketika baru memasuki halaman rumah."
"Jika kau bisa menciumnya baunya ketika baru memasuki halaman, aku rasa hal itu hanya bisa dilakukan oleh anjing," dengan nada biasa kalimat Rosse benar-benar menusuk.
"Kau mengatakan apa barusan? Aku harap kau tidak pernah melakukannya lagi karna aku sangat membenci hewan satu ini!!" atau aku benar-benar akan mengigitmu. Aku menatap tajam pada Rosse yang membuat dia terpaku diam.
"Sudah sudah, berhenti bertengkar. Lebih baik kalian menikmati hidangan yang telah ibu buat seharian ini. Untuk Ririn, bibi sudah buatkan makanan kesukaan mu Pollo A la Riojana," bibi Marry meletakan hidangan tersebut di hadapanku.
Uap panas dari masakan ini membawa rasa kesalku terbang menjauh. Em... Pollo A la Riojana, aku sering meminta koki di rumah untuk membuatkan ku hidangan ini namun rasanya tidak seenak buatan bibi Marry. Makanan ini iyalah salah satu makanan khas Spanyol, dimana pollo sendiri adalah olahan ayam yang dimasak dengan menggunakan anggur putih. Untuk bumbu penyedapnya sendiri menggunakan bawang putih, paprika merah, chorizo Spanyol, semua bahan tersebut membuat makanan ini menjadi super nikmat. Tampa basa-basi lagi aku menyantapnya dengan penuh kenangan.
"Dan untuk putri tersayang ku tentu saja makanan kesukaan mu, Enchiladas."
"Terima kasih ibu," ucap Rosse sambil tersenyum saat menerima hidangan tersebut.
Terlihat jelas dari raut wajah Rosse sangat menyukai makanan tersebut ketika ia mencicipinya. Tidak, bukan menyukai. Lebih tepatnya raut wajah itu menggambarkan sesuatu kenangan manis yang tersimpan dalam menu masakan. Cerita apa yang disembunyikan oleh Enchiladas sampai-sampai membuat kristal es di depanku ini tersenyum? Kalau aku tanya... Maukah ia menjawab? Atau aku tanyakan saja pada bibi Marry? Enchiladas merupakan tortilla jagung yang diisi dengan ikan berukuran kecil. Namun kini isiannya mulai beragam dari daging, ayam, kacang kacangan, atau seafood dengan tambahan keju dan krim. Tortilla yang sudah terisi penuh tersebut kemudian disiram dengan saus cabai.
Tidak hanya dua menu ini saja, bibi Marry juga membuatkan Pozole. Hidangan ini terbuat dari bubur jagung yang dicampur dengan daging, ditambah bumbu-bumbu khas, dan sebagai tambahan, bisa juga diberi selada atau kubis, cabai, bawang merah, bawang putih, lobak, alpukat, dan limau. Kemudian ada juga olahan kerang dan ikan dengan nama Suquet. Makanan ini biasa dimanfaatkan sebagai menu penutup di kala malam. Tak ketinggalan pula diatasnya akan di tabur kacang almond sebagai toping yang tidak boleh ketinggalan. Untuk minumannya bibi Marry membuatkan Champurrado. Champurrado ini sangat cocok dikalah hari dingin seperti sekarang ini. Jadi Champurrado ini terdiri dari brown sugar, susu, kayu manis, coklat, dan keunikannya Champurrado ini akan dicampur dengan tepung jagung sehingga membuat minuman bernama Champurrado ini memiliki tekstur yang kental. Champurrado biasanya diminum saat malam hari, dan sarapan.
Selesai menikmati hidangan yang super istimewa dari bibi Marry, aku dan Rosse pamit untuk kerja paruwaktu. Aku melihat jam dinding yang tepat ada diatas TV. Jam menunjukan pukul 18.15 ini sudah sangat telat untuk berkerja. Aku harap kak Cia tidak memarahi kami karna keterlambatan ini. Aku menyarankan mengunakan satu sepeda saja untuk pergi ke kedai Lotus dengan aku sebagai pengemudi. Awalnya Rosse menolak, tentu saja aku sudah mengirah hal itu. Namun, aku tetap menyakinkan Rosse kalau aku bisa sampai di kedai Lotus hanya butuh waktu kurang lebih satu setengah menit.
Setelah membujuknya cukup lama dan aku harus mengunakan kata-kata rayuan serta godaan, akhirnya ia setuju. Kukayuhkan pedal sepeda dengan setiap kayuhan semakin cepat. Rosse yang sendari tadi diam duduk manis dibelakang kini mulai beteriak kencang sambil berpegang erat pada bajuku. Aku tidak memperdulikan teriakannya. Aku mala semakin mempercepat laju sepeda. Dengan gesin aku melalui orang-orang yang lalu-lalang. Ada beberapa diantara mereka berteriak memarahiku. Cuman kata maaf yang bisa aku ucapkan dari kejauhan. Satu menit lebih sedikit, kami sampai di kedai. Aku turun dari sepeda ketika aku lihat keadaan Rosse yang kacau. Rambutnya acak-acakan dengan tubuh gemetar.
"Pulang nanti aku yang mengambil alih!!!" teriaknya dengan wajah marah. Ia berlalu meninggalkanku.
"Rosse, Rin, kalian sudah datang. Kenapa terlambat?" pertanyaan yang sudah aku duga akan dipertanyakan kak Cia.
"Bibi Marry membuatkan kami makan malam, sebab itulah kami terlambat," alasku dengan jujur.
"Bukankah ini karna kau terlalu lama dibutik itu," celoteh Rosse.
"E?!"
"Rin... Ini baru hari keduamu berkerja dan kau sudah terlambat. Lalu kau juga mengajak karyawan terbaikku. Kira-kira bagaimana caraku menghukum mu?" kata kak Cia.
"Maaf kak Cia, aku tidak akan menggulanginya lagi."
"Sudahlah, aku cuman barcanda. Seharusnya aku berterima kasih pada kalian. Berkat penampilan kalian yang manis dan juga pelayanan yang ramah, pelangganku hari ini bertambah pesat. Jadi cepat ganti baju kalian, jangan membuat pelangan kita menunggu."
"Apa tidak bisa kami cuman melayani saja, tidak perlu sampai pakai seragam segala?" pintaku pada kak Cia.
"Karna penampilan kalianlah yang membuat mereka mampir ke sini."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε