
"Apa yang ibu pikirkan, kenapa membiarkan ia tinggal disini? Bagaimana jika ada yang tahu kalau kita telah membantu menyembunyikan gadis serigala itu?!"
"Rosse! Ibu sudah bilang kalau Ririn itu bukan manusia serigala!"
"Bagaimana kalau ternyata benar dia adalah manusia serigala?"
"Kau harus kurangi menonton film horor. Memangnya kau percaya kalau manusia serigala itu ada? Mereka hanya makhluk mitos Rosse."
Bibi Marry benar-benar percaya kalau aku bukan manusia serigala. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksinya jika mengetahui identitas asliku. Apakah ia masih mau membelaku seperti ini? Atau ia akan berpikiran sama seperti masyarakan di luar sana yang menganggap kami ini adalah monster mengerikan? Aku semakin takut untuk mengungkap identitas asliku padanya, walau ia termasuk orang yang paling aku percaya.
"Baiklah, kesampingkan dulu tentang manusia serigala ini. Tapi pengeluaran kita beberapa bulan terakhir sangat besar. Hasil dari ibu berkerja saja belum cukup untuk menghidupi kita berdua, dan sekarang ibu mau menampung nona muda dari keluarga kaya."
"Rosse! Jangan berbicara seperti itu. Sudah sewajarnya kita saling membantu. Tidak enak kalau Ririn dengar nanti."
"Dia ada diruang tamu ibu, tidak mungkin ia mendengar kita. Tapi jika ia manusia serigala sungguhan mungkin saja bisa," nada bicara Rosse benar-benar mengejek.
"Tidak perlu menjadi manusia serigala juga untuk mendengar suara nyaringmu itu. Aku tampa mengunakan pendegaran tajampun masih bisa mendengar dengan jelas percakapan kalian." gerutuku dalam hati. Namun sepertinya Rosse tidak terlalu mempermasalakan aku yang sebagai manusia serigala. Kekhawatiran mereka terdapat pada pengeluaran yang tidak mencukupi. Untung aku membawa dompetku. Aku berjalan menghampiri mereka untuk membahas soal ini. "Kalian sedang membicarakan apa?"
"Aaaaa...!" teriak mereka bersamaan karna terkejut.
"Kau itu hantu apa!! Muncul tiba-tiba!" bentak Rosse kesal.
"Hihi... Maaf. O, iya bibi. Berapa no rekeningmu? Aku mau kirim uang sebagai biaya hidupku selama disini."
"Tidak, tidak perlu Ririn..." bibi Marry mencoba menolak.
"Kau menguping pembicaraan kami? Kelakuanmu tidak seperti nona muda dari keluarga terhormat."
"Memangnya apa yang kalian bicarakan tadi? Dan untuk masalah uang ini, aku kabur dari rumah juga tentu harus melakukan persiapan."
"Ha, Baguslah kau tahu diri," ucap Rosse dengan wajah dingin. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Rosse!! Ibu tidak mengajarimu bersifat kasar seperti itu!" bentak bibi Marry pada putrinya, tapi Rosse menghiraukannya.
"Sudahlah bibi tidak apa-apa."
"Ririn, bibi tidak bisa menerima uang ini. Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa membelinya sendiri," bibi Marry bersikeras menolak pemberianku.
"Terima saja ibu, lagi pula kita butuh. Aku yakin nona muda tidak terbiasa dengan makanan sederhana," lagi-lagi Rosse mengejekku, kali ini ia berlalu pergi.
"Rosse!!!" bibi Marry mencoba mengejarnya namun aku berhasil menahan tangannya.
"Rosse ada benarnya bibi, kalian membutuhkannya. Aku harap bibi tidak menolak karna aku sangat merindukan masakan bibi," bujukku.
"Bibi benar-benar minta maaf karna kelakuan Rosse barusan." bibi Marry melepaskan kacamatanya dan mulai memijat sedikit bagian tengah antara kedua matanya. "Sifat ia berubah drastis setelah kepergian ayahnya lima tahun lalu. Bibi harap kau tidak memasukan dalam hati semua kata-katanya tadi. Mulutnya saja pedas namun hatinya tetap lembut."
"Aku bisa memakluminya bibi," iya setidaknya aku akan berusaha untuk tidak memukulnya, atau sebaiknya aku tidak perlu sering-sering berbicara dengannya.
"Sudahlah sebaiknya kau siap-siap untuk tidur. Hari semakin larut."
"Terima kasih bibi Marry."
Bibi Marry mengajakku ke lantai atas menuju kamar. Hanya ada satu kamar di lantai dua ini, dan itu tentu kamar Rosse. Apa! yang benar saja aku satu kamar dengannya. Setelah percakapan tadi aku bisa pastikan kami tidak mungkin akrab dalam waktu dekat. Sepertinya hari-hariku disini akan penuh petengkaran dengannya, tapi ya sudahlah. Bibi Marry mengetuk pintu kamar perlahan, tidak ada jawaban. Bibi mencoba memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci. Terlihatlah bagian dalam kamar tersebut, ruangan sekitar 1/10 lebih kecil dari kamarku namun cukup untuk menampung satu tempat tidur, meja belajar, satu lemari dua pintu serta kamar mandi.
"Ririn, kau satu kamar dengan Rosse. Tidak apakan? Karna tidak ada kamar lain di rumah ini."
"Tidak apa, asalkan pemiliknya bersedia?" aku melirik Rosse yang memainkan hpnya sambil tiduran. Ia balik melirikku ketika mendengar itu.
Aku berusaha menahan kekesalanku. Siapa juga yang mau satu kamar denganmu? Hantu yang mau. Tapi bibi Marry ada benarnya, semua kata yang meluncur dari bibir Rosse memang pedas namun hatinya sedikit lembut. Ia pasti sudah mengirah kalau aku satu kamar dengannya. Jika Rosse benar-benar menginginkan aku tidur di sofa, ia tidak akan lupa mengunci pintu. Kenapa hati dan pikirannya berlawanan ya? Melihat sikap Rosse begitu aku merasa ia memiliki sesuatu yang mengganjal dihatinya. Sesuatu itu seperti duri yang sulit dicabut, sebesar apapun ia berusaha mencabutnya semakin kuat duri tersebut menancap disana. Dan untuk menghilangkan rasa sakit itu Rosse terkadang melapiskannya pada orang disekitarnya. Mungkin karna inilah ia bersikap dinggi. Apa kepergian ayahnya begitu tidak adil sampai Rosse begitu marah pada dunia? Aku akan menyempatkan diri untuk mencaritahu sedikit dan mungkin aku bisa membantu mencabut duri tersebut.
"Apa ini caramu memperlakukan tamu? Rosse jangan membuat ibu kesal. Atau bigini saja, kau tidur bersama ibu dan biarkan Ririn tidur disini jika kau bersikeras tidak mau berbagi tempat tidur bersamanya," saran bibi Marry.
Dengan wajah cemberut namun begitu imut jika kau tanya aku, Rosse menarik selimut sampai menutupi kepalanya sambil berbalik membelakangi kami. Ia berkata. "Ini kamarku! Aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun."
"Kau tidak mau menyerahkannya itu berarti kau mau berbagi," kata bibi Marry menyimpulkan kalimat putrinya.
"..." Rosse tidak menjawab.
"Aku rasa bukan itu maksud Rosse bibi," kataku sambil menoleh pada bibi Marry.
"Bibi sangat yakin kalau Rosse sudah setuju mau berbagi kamar denganmu. Lebih baik kau segerah tidur."
"Ha..." aku menghela nafas panjang. "Rosse boleh aku pinjam kamar mandimu?"
"Jangan sentu barangku!" jawab Rosse tanpa menurunkan selimutnya.
Sudah kuduga kau belum tidur. Aku menuju kamar mandi yang ada di sudut kiri kamar. Aku ingin mandi namun kali ini aku tidak tahan air dingin. Kutanggalkan baju basaku dan mulai merendamkan diriku dalam bak yang telah aku isi dengan air hangat. Hu... Rasanya nyaman sekali. Lima menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengunakan handuk saja. Di depan pintu kamar mandi aku dikejutkan bibi Marry yang sudah berdiri disana sambil menyodorkan baju ganti padaku.
"Kau terlalu tergesa-gesa kabur dari rumah tampa menyiapkan apapun. Ini ada beberapa pakaian, Rosse pinjamkan untukmu."
"Bibi yakin Rosse meminjamkan pakaian ini untukku?" tanyaku sedikit ragu. Dengan sifat Rosse begitu...
"Tentu saja. Malah ia sendiri yang memilihkannya. Beberapa pakaian ini jarang ia pakai jadi dipinjamkan saja padamu."
"Em..."
"Sudah-sudah, jangan berpikir lagi. Cepat pakai bajumu lalu setelah itu tidur, kau pasti lelah."
"Baiklah."
"Selamat malam."
"Malam."
Bibi Marry berlalu sambil menutup pintu. Selesai ganti baju aku membaringkan diri disamping Rosse. Kulirik Rosse, ia sudah tertidur. Melihatnya tidur seperti ini ia tampak begitu manis dan lembut, tapi saat bangun sama seperti harimau. Aku alihkan pandangku ke langit-langit kamar. Tidak terbayang di benakku hari ini aku ada disini. Terbaring dalam sebuah rumah di kota kecil jauh dari keluarga. Apa kabar ayah dan ibu? Apa mereka sudah menyadari ketidak beradaanku di rumah? Atau Sofia sudah memberitahu mereka? Ibu pasti sangat mengkhawatir diriku. Huam... Aku mulai menguap. Rasa kantuk begitu cepat menghampiriku. Mungkin karna perjalan jauh membuatku lelah. Aku memejamkan mataku dan mulai tertidur.
"Ayah ibu selamat malam."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε