
Sepanjang sore ini kami hanya menghabiskan waktu di kamar dengan kegiatan masing masing. Aku sibuk dengan leptopku mencari informasi tentang simbol jiwa. Tidak ada yang terlalu penting yang kudapat. Dari beberapa sumber, Simbol jiwa merupakan simbol yang muncul pada seseorang apabila keadaan jiwanya terpecah atau terbagi dua. Ada beberapa faktor yang belum diketahui kenapa jiwa seseorang dapat terpecah. Yang pasti apabila jiwa seseorang terpecah ia harus mencari pecahan jiwanya yang lain untuk mencegah lenyapnya jiwa tersebut di saat kematiannya dan tidak mungkin dapat berekarnasi lagi. Untuk mengetahui pecahan jiwanya selain memiliki tanda yang sama, biasanya ingatan mereka akan saling terhubung melalui mimpi. Tidak banyak informasi yang bisa aku dapatkan karna simbol jiwa ini jarang sekali muncul pada seseorang. Sudah lebih dari ratusan tahun simbol jiwa tidak perna muncul ke dunia.
Lisa tekun berlatih kekuatan Telekinesis. Sudah berjam-jam ia berusaha bermeditasi. Aku memperingatkannya jangan terlalu memaksakan diri. Jika memang sudah merasa lelah maka istirahatlah. Ia hanya menjawab 'iya' saja tapi masih berusaha sampai batas dirinya. Lisa membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia mengeluh sakit kepala karna memaksakan diri berkonsentrasi. Hah... Aku sudah menyarankan untuk istirahat jika lelah namun Lisa tetap ngeyel dan memaksakan diri. Aku juga yang repot harus memijit kepalanya untuk meredakan sakit.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?" tanyaku setelah memijit kepalanya.
"Masih sedikit pusing."
"Mau ku ambilkan obat?"
"Tidak perlu."
"Makanya dengarkan perkataanku. Aku sudah bilang jangan memaksakan diri tapi kau yang mala keras kepala. Jika Mitéra tahu hal ini, aku yang akan dihukum karna tidak menjagamu dengan baik."
Lisa menyadarkan kepalanya di bahuku lalu berkata. "Terima kasih telah ada dalam hidupku. Mau menjagaku, peduli padaku, memanjakanku dan memberi kehangatan persaudaraan ini. Kau kakak terbaik ku."
"Kau adikku," aku menyadarkan kepalaku di kepalanya sambil membelai sebalah pipihnya. "Sudah lama aku mendambakan seorang saudara dan akhirnya aku mendapati dirimu. Sebagai kakakmu aku akan selalu menjagamu dan melindungimu biarpun harus mengorbankan nyawa sekalipun."
"Keyla ikut aku!" Sherina tiba-tiba menarik jiwaku masuk ke alam bawah sadar ku.
"Apa?!" Aku benar-benar terkejut atas perbuatannya. Sherina telah menggangu suasana keberasaamanku bersama adikku. "Ada apa Sherina? Kenapa kau membawaku kesini?"
"Lihat ini," Sherina menujukan beberapa bunga rumput yang layu.
"Memangnya ada apa dengan itu? Mereka hanya layu."
"Ini belum perna terjadi sebelumnya. Ini alam bawah sadar mu Keyla bukan diluar sana. Semua tumbuhan disini tidak mungkin layu atau bahkan sampai mati."
"Pasti ada penyebabnya. Jangan terlalu memikirkan itu," aku mengacak-acak rambut Sherina.
"Kau selalu saja menganggap enteng semua hal kecil ini. Jangan remehkan sesuatu yang berkaitan dengan tubuhmu apalagi dengan hidupmu. Kau selalu mempedulikan orang lain, mengkhawatirkan mereka tapi pernahkah kau peduli pada dirimu sendiri?" nada bicara Sherina terdengar sangat serius.
Aku hanya tersenyum. Kemudian aku meletakan tanganku diatas kepalanya lalu turun membelai rambut merahnya. "Lihatlah dirimu. Sampai segitunya kau khawatir padaku. Hanya kaulah yang paling mengerti kondisiku bagaimana. Tubuhku baik-baik saja. Bukankah apapun yang terjadi pada tubuhku kau juga dapat merasakannya?"
"Itu memang benar, tapi tidak semuanya. Kita memang berbagi tubuh tapi jiwa kita terpisah. Masih ada beberapa hal yang tidak aku ketahui. Kau tahu itu, kan? Ingatan kita mamang saling terhubung tapi itu hanya sebatas apa yang kau lihat dan kau kerjakan. Tidak mencangkup yang lainnya. Kau masih bisa menyembunyikan sesuatu dariku."
Aku terdiam sebentar. Memang benar ada sesuatu yang ku sembunyikan darinya, dan itu takdir ku. Aku tidak bisa memberitahukan padanya. Takdir kita tercipta berbeda dan aku ingin dia menjalani takdirnya dengan bahagia. "Apa aku terlihat menyembunyikan sesuatu?"
"Em..." Sherina memalingkan wajahnya.
"Kau terlalu banyak berpikir. Apa kau merasa bosan terus berada di alam bawah sadar? Kita bisa bertukar jiwa tampa perlu kau berubah. Mengobrol lah dengan Sofia, Rosse dan Lisa berinteraksi dengan mereka. Mungkin itu bisa membuat mu merasa lebih baik."
"Apa benar boleh?" ia menatapku dengan pandangan berbinar.
"Tentu saja boleh. Ini juga tubuhmu. Jangan takut untuk meminta sesuatu dariku. Kau tidak jauh berbeda dari Lina."
"Lisa."
"Itu maksudku. Bagaimana, Yang mulia?" kataku menggodanya.
Sherina memalingkan wajahnya lagi tapi kali ini pipinya merona. "Baiklah aku akan memintanya lain kali saja. Aku masih mau menikmati kehangatan disini."
"Kakak sudah bangun?" tanya Lisa begitu berusaha bangkit dari pakuannya.
"Oh, maaf. Aku terlalu kelelahan sampai tertidur di pangkuanmu," kataku mencari alasan. Semua ini karna Sherina yang tiba-tiba menarik ku ke alam bawah sadar.
"Kau juga harus menjaga kesehatanmu, kak. Jangan bisanya peduli dan mengkhawatirkan orang lain. Kau juga harus peduli pada dirimu sendiri."
Kalimat ini... "Iya, iya. Baiklah adikku paling peduli pada kakaknya ini," aku mencubit pipi Lisa yang gemas.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ ...
Diatas menara kastil, tepatnya di ruangan tak berdinding dimana Lonceng raksasa tergantung. Lucas Northman sedang menikmati makan malamnya. Seorang gadis sedang menahan perih begitu taring milik sang putra mahkota kerajaan vampire menacap dilehernya. Rasa dingin udara malam itu tidak jauh lebih dingin dari pada apa yang di rasa gadis itu begitu Lucas menghisap darahnya. Lucas menarik taringnya dari leher gadis tersebut yang terlihat lemah namun ia masih bisa menjaga tubuhnya tetap berdiri tegak.
"Darahmu semakin manis saja," Lucas menjilati sisa darah yang mengalir di leher gadis tersebut.
"Terima kasih atas pujiannya tuan. Saya senang darahku dapat memuaskan nafsu makan anda," gadis itu melilitkan syal dilehernya untuk menutupi tanda gigitan tersebut.
"Kapan kau memulai rencanamu?" tanya Lucas pada budak darahnya.
"Malam ini. Aku akan menyerang adik tercintanya lebih dulu."
"Aku tunggu permainan mu. Kau budak darah kesayanganku. Kau menyelesaikan misi yang kuberikan dengan sangat sempurna. Hadiah apa yang ingin kau pinta?"
"Hadiah? Apa boleh aku merayu sang pangeran? Jujur saja aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya."
"Kau mau merayu adikku? Sebenarnya ini sangat lancang sekali. Tapi untukmu, aku izinkan kau mencobanya. Adikku itu sudah memiliki orang yang sangat dicintainya dan tidak mungkin berpaling ke lain hati. Walau saat ini cintanya itu tengah terbaring dalam hibernasi yang sangat panjang."
"Tidak mendapat cintanya juga tidak apa-apa asalkan aku dapat bersama dengannya dan selalu berada disisinya selamanya, sudah cukup bagiku."
"Lakukanlah tugasmu dengan baik malam ini. Kalau gagal kau akan mendapat hukuman."
"Baik tuanku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε