My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Persaudaraan



"Seberapa indah tempat itu? Bisa kau rincikan untukku?" pintaku pada Lisa.


"Tidak mau. Kakak harus bersabar menantikannya. Lagi pula, kalau aku rincikan tempat itu nanti tidak terlalu mengejutkan lagi."


"Dasar kau pelit," kataku dengan ekspresi cemberut.


"Iya, kau membuatku semakin penasaran saja, Lisa," Rosse juga sependapat denganku.


"Biarin."


"Ya sudah kalau tidak mau. Aku bisa membayangkannya sendiri. Aku tebak kalau tempat itu adalah sebuah hamparan penuh bunga-bunga rumput berbagai warna kuning, merah, putih, ungu, biru dan pink. Udara yang hangat akan begitu terasa disaat berhembusnya menyentuh kulit. Langit biru nan cerah membawa suatu ketertarikan tersendiri ketika kau memandangnya.."


["Itu bukan menebak tapi mendeskripsikan alam bawah sadarmu," celoteh Sherina memotongku.]


["Sama saja toh. Memangnya aku bisa membayangkannya bagaimana lagi? Semua musim semi juga sama seperti itu."]


"Salah," kata Lisa membuatku menoleh padanya. "Tempat itu memang penuh dengan bunga rumput tapi pesonanya tidak akan bisa kakak bayangkan."


"Apa? Aah... Cepat beritahu padaku. Jangan membuatku semakin penasaran," rengekku pada Lisa.


"Kau harus bersabar, Rin. Lagi pula musim semi kan tinggal seminggu lagi," ujar Sofia.


"Aku tahu. Jika adikku tidak mau merincikan tempat itu, Mitéra mungkin saja bersedia," aku menoleh pada Mitéra.


"Mitéra, jangan beritahu kak..."


Aku melesat cepat ke arah Lisa dan segera menutup mulutnya. "Aku mohon beritahu aku Mitéra," pintaku dengan sangat pada Mitéra.


"Sejak kapan kau ada disana?"


"Mungkin kau harus memberi tawaran yang menarik agar Mitéra mu mau memberitahu mu," kata bibi Merry memberi saran.


"Em... Sebuah tawaran ya," aku berpikir sesaat. "Aku tahu. Jika Mitéra merincikan tempat itu, aku akan tidur di pangkuan Mitéra dalam wujud serigala."


"Apa?!" Mitéra tampak sedikit terkejut tapi dari raut wajahnya aku bisa tahu kalau ia sangat menginginkan itu.


["Kau ingin berubah lagi?" tanya Sherina.]


["Tidak apa-apa juga, kan?"]


["Memang tidak ada masalah. Sekarang kau kan sudah bisa mengendalikan kekuatan manusia serigala tapi cuman aku ingatkan agar kau jangan terlalu lama dalam wujud ini. Jiwamu masih belum kuat. Kau akan mudah kelelahan."]


["Jika dalam mode bertarung itu mungkin iya, tapi kali ini aku kan cuman berbaring di pangkuan Mitéra."]


["Kau tidur seharian dalam wujud serigala juga silakan saja."]


"Em... Emph..." Lisa berusaha memberi isyarat pada Mitéra agar tidak tergiur dengan tawaranku.


Aku masih mendekap mulut Lisa. "Ayok lah Mitéra. Tidak teringinkah Mitéra mengelus bulu putih saljuku?"


"Tawaran yang cukup menggiurkan," Mitéra terlihat sedang berpikir-pikir terlebih dahulu.


"Jika itu Rin, aku juga mau," ujar bibi Emely.


"Terima saja, Zedna. Bukankah kau sangat merindukan mereka? Aku sering melihatmu melamun memikirkan keadaan Rin dan Lisa sambil menatap keluar jendela," kata bibi Tori.


"Begini saja..." ibu mendekatkan wajahnya ke telinga Mitéra lalu berbisik.


"Apa yang ibu bisikan pada Mitéra?" pikirku.


"Baiklah. Aku terima tawaranmu," kata Mitéra kemudian.


"Apa?! Mitéra..." Lisa berhasil menjauhkan tanganku dari mulutnya.


"Tapi ada syaratnya," sambung Mitéra kemudian.


"Syarat?"


"Kau harus berubah dulu, baru aku akan memberitahu mu."


"Kenapa aku merasa kalau ini sebuah jebakan?"


"Bukan sebuah jebakan, ini cuman agar kau tidak lari dari perjanjian mu," ujar ibu.


"Aku tidak akan lari. Aku akan berubah sekarang."


Aku merubah wujudku ke wujud serigala. Tapi baru menapakan kaki depanku, aku kehilangan keseimbangan dan berakhir terjungkal dengan moncong mendarat duluan.


"Sial! Aku kehabisan tenaga untuk berdiri."


["Aku sudah memberitahu mu. Sudah lebih dari setengah hari ini tubuhmu dalam wujud serigala. Tenagamu terkuras dua kali lipat dari wujudmu sebagai manusia."]


["Ini karna mu juga. Aku kan sudah bilang untuk menggunakan wujud manusia saja tapi kau ngeyel mau mejadi serigala."]


["Maaf."]


Aku berusaha duduk setelah berbaring sesaat. Aku memiringkan kepalaku menatap mereka bingung. Apa ada sesuatu di wajahku sampai mereka melihatku dengan anehnya?


"Kau baik-baik saja?" tanya ibu yang ku balas anggukan.


"Ffttt.... Hahaha.... Rin, kenapa kau bisa jatuh seperti tadi? Kau semakin hari semakin ceroboh tahu," ejek Sofia sambil tertawa.


"Grr... GROARHH ! !" aku menggerap kesal pada Sofia sambil menatap tajam padanya.


"Sudah, sudah. Kakak jangan kesal. Sofia hanya bercanda."


Tiba-tiba Lisa meletakan rangkaian bunga di atas kepalaku. Rangkaian bunga yang cantik penuh dengan kembar berwarna merah diselah-selah warna kuning dan putih. Ternyata sendari tadi ia membuatkan rangkaian bunga untukku.


"Terima kasih," aku menggosokkan kepalaku ke tubuhnya sebagai ucapan terima kasihku.


"Tenagamu masih belum pulih sepenuhnya. Hal yang wajar kalau kau kehilangan seimbangan. Apa lagi sendari tadi kau dalam wujud serigala," kata bibi Emely.


"Hoam... Aku rasa begitu."


Entah mengapa aku merasa ngantuk. Aku melirik Sherina yang sepertinya merasakan hal yang sama. Karna hal itu ia segera kembali ke alam bawah sadar. Aku menghampiri Mitéra lalu membaringkan kepalaku di pangkuannya. Aku tidak bisa menahan mataku untuk terbuka lagi dan akhirnya tertidur.


"Tidurnya cepat sekali," kata Lisa menghampiri setelah memberikan rangkaian bunga pada ibu dan Mitéra. "Kalau seperti ini bagaimana... Oh... Aku mengerti sekarang. Jadi kalian sudah tahu kalau kakak akan tertidur jika ia berubah lagi."


"Aku tahu kalau kau ingin memberi kejutan untuknya. Tidak ada cara lain agar ia tidak ngotot ingin minta rincian dari tempat itu saat ini. Kakakmu ini keras kepala orangnya. Ia bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang di inginkannya," jelas ibu.


"Apa tidak apa dia tertidur dalam wujud seperti ini?" tanya Mitéra sambil mengelus lembut helaian bulu putrinya yang terbaring di pangkuannya.


"Tidak apa-apa, bahkan sampai besok pun juga tak apa. Itu tidak mempengaruhi tubuhnya sama sekali. Aku mau mengantar Mia kembali ke kamar. Ia sudah tertidur sendari tadi," bibi Emely bangkit sambil menggendong Mia yang tertidur.


"Sebaiknya kita semua tidur. Ini sudah larut malam," kata bibi Merry menyarankan.


"Kau benar. Jimmy juga sudah tertidur. Lebih baik aku mengantarnya kembali ke kamar," bibi Tori menggendong putranya dan melangkah keluar mengikuti bibi Emely yang sudah duluan.


"Bagaimana dengan Rin? Dalam wujudnya seperti itu, tidak mungkin kita bisa mengangkatnya," tanya Rosse.


"Aku akan minta ayahnya untuk membawanya kembali ke kamarnya," ibu berdiri lalu berlalu pergi memanggil suaminya.


"Jika kakak tidurnya dalam wujud seperti ini, aku mau tidur di samping kakak," kata Lisa.


"Aku juga mau. Tidur sambil memeluk helaian bulu hangatnya pasti nyaman sekali," Sofia berpendapat sama.


"Hei, aku juga ingin," Rosse mala ikut-ikutan.


"Kalian bertiga ini memang sepemikiran sama seperti saudara," ujar bibi Marry.


"Kami memang bersaudara," Sofia merangkul bahu Rosse dan Lisa. "Rin adalah kakak pertama, aku kakak kedua, Rosse adik ketiga dan Lisa adik keempat. Untuk apapun yang terjadi kami akan saling melindungi, menjaga antara satu sama lain dan saling tolong-menolong."


"Persaudaraan kalian indah. Aku harap hubungan ini terus terjalin selamanya dan tidak akan ada yang bisa merusak nya," kata ayah sambil melangkah masuk.


"Tentu saja tidak ada kecuali maut yang memisahkan."


"Bahkan mautpun tidak boleh," kata ayah pelan sampai tak terdengar oleh yang lain.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε