My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Ternyata kau juga...



Aku dan Onoval cukup kesulitan mencari jalan yang benar-benar sepih dari semua orang. Beberapa kali kami bersembunyi jika ada seseorang yang lewat. Onoval tidak melepaskan tanganku. Rasa dingin begitu menusuk dari tangannya yang pucat. Melihat dirinya seperti ini aku merasa melihat arwah gentayangan, tapi ia nyata. Aku bisa mendengar detak jantungnya walau hanya bergandengan tangan. Onoval mengidap kelainan genetik yaitu kekurangan pigmen warna dalam tubuh atau biasa disebut dengan Albino. Kelainan ini menyebabkan pengidapnya memiliki kulit pucat seperti tidak ada darah dan rambut berwarna putih. Setidaknya itulah yang ia beritahu padaku saat aku bertanya, bagaimana bisa ia memiliki rambut putih keperakan.


"Em... Onoval, apa kau pakai lensa kontak?" tanyaku memecah keheningan diantara kami. Aku sedikit penasaran dengan warna matanya itu. Seingatku mata Onoval berwarna hazel.


"Tidak. Ini warna asli mataku. Selama inilah aku memakai lensa kontak. Aku selalu dibully oleh teman-temanku karna warna mataku ini, dan juga sebagian orang takut ketika melihat mata merahku," jelasnya dengan raut wajah tampak sedih.


"Tapi menurutku warna matamu sangat menawan," kataku membuat langkahnya terhenti. Ia melirik padaku.


"Benarkah?"


"Tentu. Mata terunik yang perna aku lihat," aku berjalan mendahuluinya tampa melepaskan gegaman tangan kami, kini aku yang menariknya.


Malam ini untuk pertama kalinya aku melihat seseorang mempunyai mata berwarna merah dan itu asli bukannya lensa kontak. Aku memang perna dengar kalau orang yang mengidap kelainan genetik Albino kemungkinan mempunyai mata berwarna merah. Ini sangat langkah terjadi. Tunggu, mata merah milik Onoval ini mengingatkanku pada suatu kejadian. Aku mencoba mengingatnya. Ah, iya aku ingat sekarang. Mata merah menawan itu adalah milik dari seseorang yang perna menolongku jatuh disungai. Aku rasa. Aku juga tidak tahu kejadian itu nyata atau tidak. Semuanya terasa seperti mimpi tapi aku ingat jelas dengan mata merah yang menolongku itu. Apa dia adalah Onoval? Aku ingin bertanya padanya tapi... Aku masih ragu akan hal itu.


Dari dinginnya tangan Onoval tersimpan kehangatan dibalik matanya yang terkadang-kadang tertutup helaian rambut peraknya. Aku memalingkan muka saat ia melirikku. Beberapa kali pandangan kami bertemu. Aku sedikit malu ketika aku tertangkap basa sedang memperhatikan wajahnya. Kenapa? Ada perasaan aneh yang muncul dalam benakku. Perasaan ini jauh berbeda disaat aku bersama dengan Perchye. Jelas aku menyukai Perchye dan aku mengakui itu, tapi kenapa bersama dengan Onoval... Aku merasa begitu aman. Ia seperti perisai yang sanggup melindungiku dari segala macam bahaya. Dan juga, aku merasa ketenangan yang damai seperti matahari terbenam yang sering aku abadikan dalam foto. Keindahan potret agar aku bisa menikmatinya lebih lama walau kehangatan yang terpancar sangat berbeda.


Kami berhasil keluar. Sekarang kami ada di dekat parkiran halaman belakang sekolah. Aku menarik tanganku dengan cepat membuat Onoval menoleh dengan tatapan heran.


"Ada apa Rin?"


"Kita sudah keluar. Kau bisa pergi sekarang," aku menatap tajam pada Onoval dengan mata berlinang.


"Apa maksudmu tatapanmu itu?" Onoval mencoba mendekatiku tapi aku segera menghindar.


"Aku sudah melihat semuanya Onoval. Aku ada disana saat ledakan terjadi. Aku melihat sosok hitam dengan mata merah menyala menatap sedih ke arahku," kini aku tidak dapat menahan air mataku lagi.


"Maksudmu, kau berpikir akulah perwujudan dari sosok hitam itu? Percayalah padaku Rin, itu bukan aku."


"Bukan apa?! Kemunculanmu terlalu tiba-tiba disini, perjelasan yang tidak bisa kau berikan dan kenapa kau harus menghindari semua orang? Bagianmana yang harus aku percaya?" nadaku meninggi. Aku mengusap air mataku. Aku juga tidak tahu kenapa aku menangis. Aku ingin sekali percaya kata-katanya, mungkin saja semua ini hanya kebetulan namun ada keraguan menyelimutiku.


"Aku dijebak. Ada seseorang yang memanggilku untuk datang kesini. Jika aku tidak datang maka orang yang aku sayang akan dalam bahaya," jelasnya.


Aku tersentak mendengarnya. Aku tertunduk lesuh. Orang yang ia sayang? Siapa? Kenapa hati ini sakit ketika mendengarnya.


"Aku mohon Rin, percaya padaku."


Onoval menggegam erat kedua tanganku. Tatapan yang ia arahkan membuatku tidak bisa menggerakan bibirku. Apa yang terjadi? Kenapa aku seperti ini? Perasaan begitu aneh ini, kenapa terus menyelimutiku? Cukup lama aku termenung sampai akhirnya aku berkata...


"Aku mungkin akan percaya jika kau berkata jujur."


"Em... Ok. Sebenarnya..." Onoval terlihat begitu sulit mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. Matanya tidak henti-hentinya bergerak kesana-kesini seperti mencari sesuatu. Ia menggaruk kepalanya yang aku bisa pastikan tidak gatal. Onoval menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Baiklah, sebenarnya..."


"Wah... Wah... Kau bisa keluar juga rupanya,"


Seseorang muncul dari kegelapan sambil bertepuk tangan tepat di belakang Onoval. Aku sedikit memiringkan kepalaku melihat siapa itu. Ternyata dia adalah Perchye. Bajunya saat ini sedikit berantakan dengan beberapa aksesoris kostumnya telah hilang. Rambut basa oleh kerigat dan sorot mata tajam. Hm, bagaimana bisa ia muncul dari arah parkiran?


"Kau mengenalnya?" tunjuk Onoval menggunakan jempolnya tanpa melirik Perchye.


"Iya. Dia... Temanku."


"Temanmu?!" raut wajah Onoval terlihat sangat terkejut. "Apa kau tahu, dialah monster yang kau lihat itu."


Aku menaikan sebelah alisku. "Kau bicara apa?"


"Ini memang sulit dipercaya tapi itulah kenyataannya. Kau sudah melihatnya sendiri, bukan? Monster itu benar-benar ada dan orang di depanmu ini adalah salah satu dari mereka!" tegasnya.


"Di depanku? Maksudnya kau?" kataku datar


"Apa?! Bukan aku tapi dia!!" dengan raut wajah kesal Onoval menunjuk Perchye. Matanya yang merah menatapku dengan sungguh-sungguh.


Hihi... Melihatnya kesal begini membuatku sedikit tertawa. Namun apa yang dikatakan Onoval ada benarnya juga. Gelagat Perchye malam ini aneh sekali. Apa mungkin dia sosok hitam yang kulihat itu bukan Onoval? Tidak, aku tidak mau percaya akan hal ini. Aku berharap itu benar-benar bukan Perchye tapi aku juga tidak mau itu adalah Onoval. Hatiku gelisa. Aku menutup wajahku menggunakan kedua tangan sambil menggeleng. Aku berusaha menyakinkan diriku kalau sosok hitam yang kulihat itu bukan salah satu dari mereka.


"Sudahlah kau! Berhenti menakuti pacarku!!" bentak Perchye pada Onoval.


"Pacar?" aku melirik Perchye ketika mendengar kata itu meluncur keluar dari bibirnya. Pacar? Apa ia sedang mengungkapkan perasaannya padaku?


"Pacar? Jika kau memang pacarnya, sebaiknya jangan menutupi identitas aslimu itu!" balas Onoval membentak Perchye.


"Baik. Aku akan mengakuinya," tatapan tajam yang ditujukan Perchye kepada Onoval meredup ketika melihatku. "Maaf Rin. Aku tidak bermaksud menyembunyikan identitasku padamu. Aku takut kau akan menjauhiku, tapi tadi kau telah melihat wujudku. Aku harap kau tidak akan takut setelah melihat ini."


Perchye mengubah posisinya seperti hewan berkaki empat. Ia mulai menggeram kesakitan. Matanya menerang, keringat mengalir di pelipisnya. Sekujur tubuhnya kini mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar berwarna coklat. Wajah Perchye berubah menjadi seperti moncong dengan deretan gigi-gigi putih bertaring. Aku hanya terpaku ngeri melihat perubahan itu. Ini pertama kalinya aku melihat seseorang berubah menjadi serigala pada tahapan belum sempurna. Aku tidak bisa membayangkan diriku juga perna mengalami hal yang sama.


.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε