My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Persiapan



"Selain menjadi manusia serigala, kau juga seorang Necromancy kan?" kata Rosse tampa basa basi.


"Kau saja tidak tahu apa itu Necromancy, kenapa kau berpikiran bahwa aku seorang Necromancy?"


"Cuman menebak. Bukankah waktu itu kau perna menolongku bertemu dengan ayahku?" jawab Rosse.


Ternyata benar pada malam itu aku membantunya. Lebih baik aku pastikan dulu. "Apa kau yakin, Rosse? Kenapa aku tidak ingat kejadian dimana aku menolongmu."


Tiba-tiba Sofia mala menyentuh dahiku seperti mengukur panas tubuh. "Kepalamu tidak terbentur kan Rin? Kau tidak mengalami amnesia lagi kan?"


Aku segera menepis tangan Sofia dari keningku. "Tentu saja tidak."


"Tidak, aku sangat yakin. Aku ingat sekali kalau malam itu bukanlah mimpi. Aku benar-benar bertemu ayah setelah kau menyentuh pundak ku, dan aku tahu hanya kau yang bisa melakukannya," tengas Rosse.


"Kalau boleh tahu setelah itu apa yang terjadi padaku?" tanyaku dengan nada serius.


"Em... Aku kurang tahu juga. Kulihat kau sudah tertidur setelah ayah pergi. Oh, iya. Kau perna membujuk ku untuk merima kado pemberian ayah. Nafasmu terdengar lelah saat itu dan kau sedikit merigis kesakitan."


"Apa?! Merigis kesakitan? Itu tidak mungkin. Memang benar kalau pemberian kekuatan sementara cukup menguras tenaga tapi tidak sampai menimbulkan rasa sakit. Aku..." kata-kataku seketika terhenti saat sadar apa yang baru saja aku katakan. Aku menutup mulutku dan sekilas melirik mereka, tatapan mereka sama padaku.


"O, kau berusaha menyangkalnya tapi mala mengakuinya sendiri," kata Rosse.


"Hehe..." Sofia tertawa kecil ketika melihatku.


"Jadi sebenarnya kau juga seorang penyihir Rin?" tanya Kevin memastikan.


"Tidak bisa disebut sebut penyihir. Aku tidak menggunakan mantra atau simbol lingkaran tertentu," kataku pelan tampa melirik mereka.


"Disisi lain kau seorang Necromancy, dilain waktu kau menjadi manusia serigala. Kemampuan mu banyak juga, Rin?" ujar Nic.


"Wajat saja. Iya mendapat semua kemampuan ini dari ayahnya yang seorang Manusia serigala dan ibunya yang sebagai Necromancy," jelas Sofia.


"Sudahlah kita bahas tentang semua ini nanti. Aku sudah tidak sabar dengan acara pesta kostum malam ini. Bagaimana dengan kalian?" tanya Evan mengalikan pembicaraan.


"Aku juga sudah tidak sabar," kataku.


"Pasti tidak sabar untuk berdansa dengan pangeran mu itu, kan?" ejek Nic.


"Hm!" aku memalingkan muka dengan cemberut. Mereka hanya tertawa melihat reaksi ku. Aku tidak membantah kalau aku memang menyukai Perchye. Ia pria yang tampan, baik dan ramah gadis mana yang tidak suka kalau sudah bertemu dengannya.


"Aku juga sangat menantikan pesta Halloween malam ini, aku sangat penasaran kostum apa yang akan dikenakan Nic nanti," ujar Sofia


"Kalian akan takjub melihatnya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Soreh harinya, di rumah Sofia. Aku, Rosse dan Sofia tentunya sedang bersiap-siap untuk pesta Halloween. Rosse mengenakan pakaian pengantin penuh darah, malam ini ia menjadi hantu La Llorona. Gaun putih panjang dengan tudung pengantin di penuhi bercak darah buatan. Sebagai tambahan ia menghias wajahnya seseram mungkin. Sofia ingin menjadi penyihir malam ini. Gaun hitam panjang dengan hiasan tali berwarna emas dipingangnya, topi kerucut berukuran besar dan sebagai pelengkap ia juga membawa tongkat sihir yang terbuat dari kayu berwarna gelap mengkilat.


"Apa kau mau menggunakan sihir sungguhan Sofia?" tanya Rosse sambil masih merias wajahnya.


"Aku belum perna berpakaian seperti penyihir saat pesta Halloween. Uhu... Akan kumeriakan acara malam ini," Sofia memutar-mutar tongkat sihirnya diantara jarinya. "Hei, Rin. Cepatlah ganti baju."


"Aku tidak yakin akan memakai ini Sofia," aku memperhatikan gaun hitam berlengan panjang dengan rok diatas lutut berenda yang ada ditanganku.


"Jangan banyak pilih, coba dulu," Sofia mendorongku masuk ke ruang ganti secara paksa.


"Baiklah," benar kata Sofia, lebih baik aku coba dulu dan lihat hasilnya. Hm, gaun ini tidak terlalu buruk. Satu yang menjadi pertanyaanku, aku jadi apa? Aku melangkah keluar setelah selesai ganti baju. "Sofia, sebenarnya kostum apa yang kau berikan padaku?"


"Wah sangat pas ditubuhmu. O hampir lupa, kau juga harus mengenakan aksesorisnya."


Sofia mengayunkan tongkatnya dan mengarakannya padaku. Muncul percikan cahaya di ujung tongkat sihir tersebut. Kemudian aku merasakan ada sesuatu yang aneh berubah pada diriku.


"Apa?!"


Mendengar itu aku bergegas menghampiri cermin. Benar ternyata apa yang dikatakan Rosse. Muncul ekor dan sepasang telinga serigala berwarna putih. Sihir apalagi yang Sofia gunakan. Aku meraba telinga serigala itu, itu terasa asli. Aku dapat merasakan sakit dan dapat menggerakannya seperti kemauanku. Ekornya juga dapat kukibas-kibaskan sekehendak hatiku.


"Sofia, apa yang kau lakukan pada tubuhku? Bagaimana bisa aku memiliki ekor dan telinga serigala asli? Aku seperti hewan Hibrida yang kekurangan kekuatan untuk berubah menjadi manusia seutuhnya."


"Ini adalah mantra sihir yang baru aku pelajari beberapa hari lalu. Tidak perlu khawatir, itu akan hilang sendiri setelah 12 jam," jawabnya.


"12 jam, lama juga."


"Itu paling lambatnya. Aku bisa mempertahankannya sampai seminggu jika kau mau," kata Sofia sambil tersenyum.


"Tapi Sofia, ini acara Halloween. Kita diminta berdandan seseram mungkin. Apa menurutmu penampilanku seram?" tanyaku padanya.


"Tidak. Tapi kau terlihat begitu manis."


"Em... Sepertinya ada yang kurang," ujar Rosse kemudian.


"Apa?" Sofia seketika menoleh pada Rosse.


"Ini," Rosse menunjukan semua alat make up ditangannya.


"Ide bagus Rosse," spontan Sofia langsung menyetujuinya.


"Tidak perlu pakai make up selaga. Aku tidak merasa yakin dengan kalian," aku perlahan mundur menjauh.


"Tidak apa Rin. Kami akan mendandanimu secantik mungkin," Sofia mendekatiku dengan alat make up di tangannya.


"Menjauhlah dariku! Senyuman kalian mencurigakan," dengan cepat aku menghindari Sofia dan Rosse yang mengejarku dari sisi berbeda.


"Sangat sulit kalau begini. Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


Lagi dan lagi kenapa selalu aku yang terkena mantra satu ini. Aku meronta-ronta mencoba melapaskan diri, tapi percuma saja. Aku pasra ketika mereka mengoleskan semua make up itu pada wajahku. Cukup lama mereka bermain dengan semua itu di wajahku. Aku harap tidak seburuk apa yang aku pikirkan.


"Sudah selesai," Rosse memberikan cermin padaku.


Aku lihat pantulan wajahku di cermin bundar bergagang itu. Tidak terlalu buruk. Lisptik merah hampir gelap, eyeshadow bergliter berwarna krim di bagian pangkal mata semakin ke ujung mata berwarna merah gelap dan dipertajam dengan eyeliner. Di dahiku ditempeli tiga manik-manik berbentuk tetesan air berwarna merah yang salah satunya lebih besar diletakan ditengah-tengah.


"Bagaimana?" tanya Sofia minta pendapat.


"Lumayan."


"Sudah, sudah. Ayok kita berangkat. Kita akan terlambat nih."


Kami bergegas pergi ke sekolah sebelum benar-benar terlambat ke acara pesta kostum. Dengan terpaksa aku berdandan seperti ini di malam Halloween tahun ini. Tidak ada waktu lagi bagiku berganti kostum yang lebih baik menurutku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε